• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

3. Sekularisme

Sekularisme di Indonesia menjadi bahan perbincangan terutama di kalangan intelektual muslim sejak dikenalkan Nurcholis Madjid melalui makalahnya yang berjudul ”Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Gagasan sekularisasi yang menurut Nurcholis berbeda dengan istilah sekularisme menunjukkan analogi-analogi pemikiran yang dipengaruhi gagasan sekularisasi Harvey Cox dalam bukunya The Secular City.

Menurut Cox, sekularisasi adalah suatu keharusan dalam Kristen, namun dengan lugas Nurcholis juga menyatakan bahwa sekularisasi adalah keharusan bagi semua agama khusunya Islam. Kemiripan analogi yang digunakan menimbulkan kritik berbagai kalangan karena jelas problem latar belakang sejarah Kristen dan Islam adalah berbeda (Adian Husaini, 2005: 257-265)

Secara bahasa, sekuler berasal dari bahasa latin saeculum yang bermakna ganda yaitu ruang dan waktu. Istilah ruang merujuk pada pengertian dunia atau duniawi sedangkan waktu berarti sekarang atau kini. Kata secular akhirnya berkembang menjadi sebuah istilah yang bermakna duniawi. Sekularisme yang berkembang di dunia Barat pada era modern memisahkan hal-hal yang menyangkut masalah agama dan non-agama. Pemicunya adalah ketidakserasian antara hasil penemuan sains atau ilmu pengetahuan dengan doktrin Kristen (Heri Ruslan, 2012: B1). Sekularisme yang dilahirkan di Barat telah berkembang pesat di negara-negara umat Islam. Ia telah berkembang dalam berbagai bidang termasuk politik, ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, dominasi politik memberikan dampak secara tidak langsung kepada ekonomi dan sosial, maka sekularisme politik dianggap menyeluruh. Pembahasan akan berdasarkan perspektif agama Islam yang berpedoman Al-Qur’an dan Al-Hadist.

commit to user

Ensiklopedi Islam yang dikutip Heri Ruslan dalam Republika (2012: B1) mendefinisikan sekularisme sebagai suatu aliran atau sistem doktrin dan praktik yang menolak segala bentuk yang diimani dan diagungkan oleh agama atau keyakinan harus terpisah sama sekali dari masalah kenegaraan (urusan duniawi). Sedangkan Sayyid Qutub memahami sekularisme sebagai pembangunan struktur kehidupan tanpa dasar agama, sehingga Qutub memandang sekularisme adalah musuh Islam yang paling berbahaya.

Menurut Lutfi Assyaukani dalam Jawa Pos (11 April 2005), Sekularisme adalah sebuah istilah netral untuk merujuk konsep tentang pemisahan agama dan negara. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh George Jacob Holyoake (1817-1906) seorang sarjana Inggris, sebagai sebuah gagasan alternatif untuk mengatasi ketegangan panjang antara otoritas agama dan otoritas negara di Eropa. Dengan sekularisme, masing-masing agama dan negara memiliki otoritasnya sendiri-sendiri: negara mengurusi politik sedangkan agama mengurusi gereja. Dalam perkembangannya, sekularisme menjadi konsep yang efektif, bukan hanya dalam meredam konflik dan ketegangan antara kuasa agama dan negara, tapi juga dalam memberikan landasan pada demokrasi dan persamaan hak. Sebuah demokrasi yang baik hanya bisa berjalan jika ia mampu menerapkan prinsip-prinsip sekularisme dengan benar. Sebaliknya, demokrasi yang gagal atau buruk adalah demokrasi yang tidak menjalankan prinsip-prinsip sekularisme secara benar.

Zia Gokalp, seorang sosiolog terkemuka dan politikus nasional Turki menggulirkan perlunya pemisahan antara masalah ibadah serta keyakinan dan muamalah. Sehingga, terjadi pemisahan antara kekuasaan spiritual Khalifah dan kekuasaan duniawi sultan di Turki Usmani (Heri Ruslan, Republika 2012: B1). Sekularisme semakin meluas di dunia Islam pada era imperialisme atau penjajahan, karena harus berupaya agar mampu bertahan serta menjaga kemerdekaan dari penguasa-penguasa asing. Nurcholis Madjid adalah tokoh sentral dalam perkembangan sekularisme di Indonesia, meskipun Madjid menyebutnya sebagai bentuk sekularisasi bukan sekularisme yang mengubah kaum muslimin menjadi sekularis namun sekularisme berkembang pesat melebihi perkiraannya.

commit to user

Sekularisme di Barat terus berkembang dan disebarluaskan seiring dengan proses penjajahan yang dilakukan. Ide-ide sekularisme terus ditancapkan dan diajarkan kepada generasi muda Islam. Hasilnya, begitu negeri-negeri Islam mempunyai kesempatan untuk memerdekakan diri, bentuk negara dan pemerintahan yang di bangun ummat Islam sepenuhnya mengacu pada prinsip sekularisme dengan segala turunannya. Mulai dari pengaturan pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, termasuk tentunya adalah dalam pengembangan model pendidikannya. Bahkan di lembaga pendidikan formal Islam di dunia Islam-pun tidak luput dari prinsip dan serangan sekularisme. Pada awalnya (di Indonesia tahun 1970-an), pembicaraan mengenai penelitian agama, yaitu menjadikan agama (lebih khusus adalah agama Islam) sebagai obyek penelitian adalah suatu hal yang masih dianggap tabu. Namun, jika diamati perkembangannya, khususnya mengenai metodologi penelitiannya, maka akan terlihat bahwa agama Islam benar-benar telah menjadi sasaran obyek studi dan penelitian. Agama telah didudukkan sebagai gejala budaya dan gejala sosial. Penelitian agama akan melihat agama sebagai gejala budaya dan penelitian keagamaan akan melihat agama sebagai gejala sosial.

Jika obyek penelitian agama dan keagamaan hanya memberikan porsi agama sebatas pada aspek budaya dan aspek sosialnya, maka perangkat metodologi penelitiannya tidak berbeda dari perangkat metodologi penelitian sosial sebagaimana yang ada dalam episthemologi ilmu sosial dalam sistem pendidikan sekuler. Dengan demikian ilmu yang dihasilkannya tidak jauh berbeda dengan ilmu sosial lainnya, kecuali sebatas obyek penelitiannya saja yang berbeda yaitu agama. Oleh karena itu, jika disaksikan dalam sebuah negara yang mayoritas penduduknya muslim, peran agama (Islam) tidak boleh nampak dalam pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara riil, kecuali hanya sebatas spirit moral bagi pelaku penyelenggara negara, sebagaimana terlihat dalam penafsiran Ulil yang dikutip Budi Handrianto (2007: 265) mengenai Islam liberal yang berlandaskan pada keyakinan bahwa memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Islam liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam liberal menentang negara agama (teokrasi).

commit to user

Islam liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak memiliki hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.

Dokumen terkait