• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.2 Pola Kemitraan

Menurut Undang-Undang No.9 Tahun 1995 pasal 27, pola kemitraan dapat dilaksanakan dalam enam pola, yaitu :

1. Inti-plasma

Pola inti-plasma adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar yang di dalamnya usaha menengah atau usaha besar bertindak sebagai inti dan usaha kecil selaku plasma. Pihak inti melaksanakan pembinaan mulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis, sampai dengan pemasaran hasil produksi.

2 Subkontrak

Pola subkontrak adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar yang di dalamnya usaha kecil memproduksi komponen yang diperlukan oleh usaha menengah atau usaha besar sebagai bagian dari produksinya.

3. Dagang Umum

Pola dagang umum adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar yang di dalamnya usaha menengah atau usaha besar memasarkan hasil produksi usaha kecil atau usaha kecil memasok kebutuhan yang diperlukan oleh usaha menengah atau usaha besar mitranya.

4. Waralaba

Pola waralaba adalah hubungan kemitraan yang di dalamnya pemberi waralaba memberikan hak penggunaan lisensi, merek dagang dan saluran distribusi perusahaannya kepada penerima waralaba dengan disertai bantuan bimbingan manajemen.

5. Keagenan

Pola keagenan adalah hubungan kemitraan yang di dalamnya usaha kecil diberi hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa usaha menengah atau usaha besar mitranya.

6. Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA)

Pola kerjasama operasional agribisnis adalah hubungan kemitraan yang di dalamnya kelompok mitra menyediakan lahan, sarana dan tenaga kerja, sedangkan perusahaan mitra menyediakan biaya/modal atau sarana untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu komoditi pertanian.

3.1.3 Kepuasan

Kepuasan merupakan fungsi dari kinerja dan harapan. Jika kinerja berada di bawah harapan berarti pelanggan tidak puas. Jika kinerja memenuhi harapan berarti pelanggan amat puas atau senang (Kotler 1997, dalam Rangkuti 2008). Konsep kepuasan konsumen dapat dilihat pada Gambar. 1.

Gambar 1. Diagram Konsep Kepuasan Konsumen

Sumber : Rangkuti(2008)

Tujuan Perusahaan

Produk

Nilai Produk Bagi Konsumen Tingkat Kepuasan Konsumen Harapan Konsumen terhadap Produk Kebutuhan dan Keinginan Konsumen

3.1.4 Konsep Kualitas Layanan Jasa

Service atau layanan merupakan suatu kegiatan yang memiliki beberapa unsur ketidakberwujudan (intangibility) yang berhubungan dengannya, yang melibatkan beberapa interaksi dengan konsumen atau dengan properti dalam kepemilikannya dan tidak menghasilkan transfer kepemilikan (Griselda et al.

2007).

Menurut Tjiptono dan Chandra (2007), pengertian kualitas layanan merupakan evaluasi konsumen tentang kesempurnaan kinerja layanan. Kualitas layanan dapat diartikan kepedulian perusahaan terhadap pelanggan. Kualitas layanan bersifat dinamis, yaitu berubah menurut tuntutan pelanggan. Kualitas layanan berpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan.

3.1.5 Dimensi Kualitas Pelayanan

Parasuraman et al. (1985) dalam Tjiptono dan Chandra (2007) mengidentifikasi sepuluh dimensi pokok kualitas jasa yaitu bukti fisik/langsung (tangibles), keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), kompetensi (competence), akses (approachability), kesopanan (courtesy), komunikasi (communication), kredibilitas (credibility), keamanan (security), dan kemampuan memahami pelanggan (understanding the customer).

Dalam riset selanjutnya, Parasuraman et al. (1988) dalam Tjiptono dan Chandra (2007) menemukan adanya overlapping diantara beberapa dimensi di atas. Oleh sebab itu, mereka menyederhanakan sepuluh dimensi tersebut menjadi lima dimensi pokok. Kompetensi, kesopanan, kredibilitas dan keamanan disatukan menjadi jaminan (assurance), sedangkan akses, komunikasi dan kemampuan memahami pelanggan diintegrasikan menjadi empati (empathy).

Menurut Parasuman et al. (1998) dalam Lupiyoadi dan Hamdani (2006) kelima dimensi kualitas layanan jasa tersebut dijabarkan dalam penjelasan di bawah ini:

1. Wujud Fisik (tangible)

Kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik

perusahaan yang dapat diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti nyata yang dapat diberikan oleh pemberi jasa.

2. Kehandalan (reliability)

Kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya.

3. Daya Tanggap (responsiveness)

Suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) serta tepat kepada pelanggan, dengan penyampaian informasi yang jelas. Membiarkan konsumen menunggu merupakan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan.

4. Jaminan dan Kepastian (assurance)

Pengetahuan terhadap produk secara tepat, kesopan santunan karyawan dalam memberi pelayanan, keterampilan dalam memberi informasi serta kemampuan dalam memberi keamanan dan kemampuan dalam menanamkan kepercayaan, keyakinan pelanggan terhadap perusahaan.

5. Empati (empathy)

Memberikan sikap yang tulus dan bersifat individual atau pribadi kepada pelanggan. Dimensi empati ini adalah dimensi kelima dari kualitas pelayanan, dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.

3.1.6 Penilaian Tingkat Kepuasan

Menurut Supranto (2006) ada beberapa teknik mengukur kepuasan konsumen yaitu indeks kepuasan, analisis kesenjangan, Importance Performance Analysis, benchmarking, analisis diskriminan, analisis klaster, structural equation modeling dan lain-lain. Pengukuran kepuasan sangat penting dilakukan oleh perusahaan.

a. Indeks Kepuasan

Cara paling sederhana untuk mewakili skor kepuasan pelanggan atau konsumen terhadap suatu produk adalah dengan merata-ratakan semua skor kinerja tiap atribut produk tersebut. Kelemahan rata-rata ini adalah bahwa setiap atribut kinerja dianggap memiliki nilai atau bobot (tingkat kepentingan)

yang sama. Keunggulan dari indeks kepuasan adalah perusahaan dapat mengetahui tingkat kepuasan secara keseluruhan dari atribut-atribut suatu produk. Interpretasi nilai indeks kepuasan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Kriteria Nilai Customer Satisfaction Index (CSI)

No Nilai CSI Kriteria CSI

1. 0,81 – 1,00 Sangat puas

2. 0,66 – 0,80 Puas

3. 0,51 – 0,65 Cukup Puas

4. 0,35 – 0,50 Kurang Puas

5. 0,00 – 0,34 Tidak Puas

Sumber : Ihsani dalam Oktaviani dan Suryana (2006)

Kelemahan indeks kepuasan adalah nilai indeks kepuasan hanya dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan secara keseluruhan dari kinerja suatu produk. Perusahaan tidak dapat membuat perumusan strategi yang tepat hanya dari nilai indeks kepuasan.

b. Analisis Gap (Kesenjangan)

Analisis kesenjangan dilakukan dengan membandingkan nilai kepentingan dan kinerja tiap atribut sehingga diperoleh nilai selisih (kesenjangan). Jika nilai kinerja lebih kecil daripada nilai kepentingan berarti perusahaan tidak dapat memuaskan konsumennya dan sebaliknya. Semakin besar nilai kesenjangan menandakan konsumen semakin tidak puas.

Keunggulan dari analisis kesenjangan adalah analisis ini relatif mudah diaplikasikan dan hasil analisisnya dapat digunakan untuk melengkapi hasil analisis IPA. Kelemahan analisis kesenjangan adalah tidak dapat mengetahui atribut apa saja yang perlu dipertahankan dan atribut apa yang kinerjanya dianggap berlebihan oleh konsumen.

c. Importance Performance Analysis

Analisis Importance-Performance adalah analisis yang membandingkan antara tingkat kepentingan dan kinerja dari atribut suatu produk menggunakan gambar yang terdiri dari empat kuadran. Keunggulan dari

membuat perumusan strategi yang tepat untuk memperbaiki kinerja produknya.

d. Alat Analisis Lain yang Dapat Digunakan

Alat analisis lain yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan konsumen antara lain analisis diskriminan, benchmarking, analisis klaster,

structural equation modeling dan lain-lain.

Kegunaan pengukuran kepuasan antara lain untuk mengevaluasi posisi perusahaan saat ini dibandingkan dengan pesaing dan pengguna akhir. Kemampuan memahami kepuasan pelanggan dan memenuhi harapan pelanggan dapat meningkatkan penjualan sehingga dapat meningkatkan loyalitas pelanggan (Rangkuti 2008).

3.2 Kerangka Pemikiran Oprasional Penelitian

Salah satu kegiatan kemitraan yang dilakukan di Kabupaten Bogor adalah kegiatan kemitraan yang dilakukan petani padi sehat Desa Ciburuy dengan Lembaga Pertanian Sehat Dompet Dhuafa Replubika. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak tahun 2002. Kegiatan kemitraan yang berlangsung merupakan kegiatan dalam pengadaan produk berbasiskan pertanian sehat, yaitu beras SAE (Sehat, Aman dan Enak).

Namun dalam pelaksanaannya, masih dijumpai kendala-kendala yang diakibatkan karena masing-masing pihak belum memenuhi hak dan kewajibannya. Pada kesepakatan tertulis berupa MOU, LPS-DDR memesan beras SAE per bulan sebanyak 8–10 ton untuk memenuhi kebutuhan konsumennya, tetapi pihak petani padi sehat Desa Ciburuy melalui kelembagaan Koperasi Kelompok Tani (KKT) Lisung Kiwari kadang tidak dapat menyediakan beras SAE sejumlah yang disepakati di MOU, pihak LPS-DDR juga sering terlambat dalam melakukan pembayaran, selain itu pihak KKT Lisung Kiwari terkadang belum memenuhi kesepakatan dalam standarisasi kualitas beras.

Dengan adanya kendala-kendala tersebut akan berpengaruh terhadap kegiatan kemitraan yang berlangsung. Oleh kerena itu, diperlukan evaluasi mengenai kegiatan kemitraan antara petani padi sehat Desa Ciburuy dengan LPS- DDR. Evaluasi kegiatan kemitraan dan analisis tingkat kepuasan petani mitra terhadap kegiatan kemitraan perlu dilakukan. Hal ini untuk mengetahui seberapa

jauh masing-masing pihak yang bermitra melakukan perannya sesuai hak dan kewajibanya, mengetahui apa saja yang menjadi kendala dalam kegiatan kemitraan, serta menganalisis sejauh mana kemitraan yang dilakukan memberikan kepuasan terhadap petani mitra. Melalui evaluasi dan analisis kepuasan tersebut masing-masing pihak diharapkan dapat menilai dan mengkoreksi kegiatan kemitraan yang telah terjalin yang nantinya digunakan untuk meningkatkan kinerja dari kemitraan dan lembaga-lembaga yang terkait dengan kemitraan tersebut.

Untuk melakukan evaluasi pelaksanaan kemitraan dimulai dengan mendeskripsikan pelaksanaan kemitraan antara petani, kelembagaan sebagai wadah petani dan perusahaan mitra. Melalui analisis terhadap aspek pelaksanaan kemitraan maka akan diketahui bagaimana pelaksanaan kemitraan yang dilakukan pihak petani dengan LPS-DDR, petani dengan Gapoktan Silih Asih, petani dengan KKT Lisung Kiwari, serta pelaksanaan kemitraan antara kedua lembaga gapoktan dan koperasi dengan LPS-DDR, pelaksanaan hak dan kewajiban oleh masing– masing pelaku kemitraan serta kendala–kendala dalam pelaksanaan kegiatan kemitraan.

Selanjutnya, dilakukan penilaian kualitas pelayanan yang diberikan perusahaan kepada petani mitra. Kualitas pelayanan ini diukur melalui pengukuran tingkat kepuasan petani terhadap pelaksanaan kegiatan kemitraan. Berdasarkan pelaksanaan kemitraan di lapangan dan perjanjian kontrak kemitraan yang ada, dapat diketahui atribut-atribut yang berpengaruh terhadap kegiatan kemitraan. Dalam pelaksanaanya masih terdapat perbedaan pendapat mengenai kerjasama ini, apakah merupakan bentuk kegiatan pemberdayaan seperti yang diakui oleh LPS-DDR ataukah hal ini merupakan kegiatan kemitraan yang berorientasi bisnis seperti yang dikemukakan oleh pihak petani mitra. Pengukuran untuk atribut kepuasan diukur menggunakan atribut kemitraan. Atribut-atribut yang perlu dikaji adalah kemudahan dalam mendapatkan sarana produksi, harga sarana produksi, bantuan biaya garap, penyediaan sewa lahan, frekuensi pembinaan, pelayanan dan materi pembinaan, kemampuan pendamping untuk cepat tanggap dalam menghadapi permasalahan petani, pendamping mudah ditemukan dan dihubungi untuk berkonsultasi, pengetahuan dan kecakapan

pendamping dalam memberikan pelayanan terhadap petani, respon terhadap segala keluhan, harga beli gabah, ketepatan dalam memberikan bantuan biaya garap, dan ketepatan membayar hasil penjualan gabah kepada petani.

Kajian mengenai evaluasi kemitraan ini akan menggambarkan mengenai kegiatan kemitraan yang berlangsung, pelaksanaan hak dan kewajiban masing- masing pelaku, kendala-kendala yang dialami dalam pelaksanaan kemitraan, serta kepuasan petani yang dapat diukur menggunakan Importance Performance Analysis (IPA) dan Customer Satisfaction Index (CSI). Metode IPA digunakan untuk menunjukkan tingkat kepentingan dan kepuasan masing-masing atribut yang berhubungan langsung dengan pelayanan kegiatan kemitraan. Dengan metode ini, dapat ditentukan prioritas masing-masing atribut, yang nantinya digunakan untuk meningkatkan kinerja masing-masing atribut dari pelayanan kemitraan. Metode CSI dapat mengukur secara keseluruhan kepuasan petani terhadap pelayanan kegiatan kemitraan yang berlangsung.

Tingkat kepuasan petani merupakan salah satu indikator keberhasilan dari kegiatan kemitraan. Kajian tentang kemitraan ini diharapkan dapat menjadi masukan terhadap kemitraan yang telah dilaksanakan selama ini, serta dapat membantu pihak–pihak yang terlibat dalam melakukan evaluasi dan tindakan korektif yang harus diambil. Kerangka pemikiran oprasional penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional Upaya Peningkatan Kualitas Kemitraan

Wadah Petani

1.Gapoktan Silih Asih

• Mengelola pembinaan

2.Koperasi Kelompok Tani Lisung Kiwari

• Mengelola penyediaan input

• Pemasaran hasil

Lembaga Pertanian Sehat Dompet Dhuafa

Replubika

1. Menyediakan input

2. Menampung hasil

3. Pembinaan

4. Pendampingan

Analisis Deskriptif IPAdanCSI

Petani Padi Desa Ciburuy 1. Produsen padi bebas pestisida 2. Menjual hasil panen Evaluasi Kemitraan Pelaksanaan kemitraan : 1. Realisasi Hak dan Kewajiban 2. Kendala-Kendala

 

Evaluasi atribut kepuasan petani :

1. Kemudahan dalam mendapatkan sarana produksi

2. Harga sarana produksi

3. Bantuan biaya garap

4. Ketepatan waktu pemberian bantuan biaya garap

5. Penyediaan lahan sewa

6. Frekuensi pembinaan

7. Pelayanan dan materi pembinaan

8. Kemampuan pendamping untuk cepat tanggap dalam menghadapi

permasalahan petani

9. Pendamping mudah ditemui dan dihubungi

10. Pengetahuan dan kemamuan komunikasi pendamping

11. Respon terhadap keluhan

12. Harga beli gabah

13. Ketepatan pembayaran hasil penjualan gabah kepada petani.

Permasalahan:

1. Pemasaran tidak sesuai MoU

2. Keterlambatan pembayaran

IV METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor dengan responden petani padi sehat di Desa Ciburuy yang menjalin kerjasama dengan Lembaga Pertanian Sehat Dompet Duafa Replubika. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa petani padi sehat di Desa Ciburuy telah berhasil dalam mengembangkan pertanian sehat di Kabupaten Bogor, sedangkan Lembaga Pertanian Sehat Dompet Duafa Replubika merupakan salah satu mitra dari yang melakukan kegiatan kemitraan dengan memberdayakan petani di Desa Ciburuy dan menjadikan kemitraan dengan petani padi sebagai pilot project-nya. Penelitian lapang dilakukan selama dua bulan (Maret - April 2011) untuk pengumpulan dan analisis data.

4.2 Metode Penentuan Sampel

Populasi penelitian ini adalah para petani padi anggota Gapoktan Silih Asih Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang tergabung dalam kemitraan dengan LPS-DDR. Data populasi diperoleh dari administrasi Gapoktan Silih Asih .

Tidak seluruh petani padi sehat di Desa Ciburuy yang merupakan anggota kemitraan dengan LPS-DDR, ada 50 petani saja yang tergabung dalam kemitraan ini. Pemilihan petani responden dilakukan dengan metode sensus, yaitu menganalisis seluruh populasi (petani mitra) yang dimiliki untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

4.3 Desain Penelitian

Prosedur dan teknik penelitian menggunakan metode kasus. Metode ini merupakan suatu pendekatan penelitian yang bersifat kasus sehingga hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan. Penggunaan metode ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara rinci tentang kemitraan yang terjadi antara petani padi sehat Desa Ciburuy dengan LPS-DDR. Cara kerja metode ini memungkinkan peneliti memiliki kebebasan melakukan penelitian eksplorasi yang sangat mendalam sehingga akan diketahui sebab dan akibat dari proses yang ada hingga

dapat diketahui pula bagaimana cara mengatasi fenomena yang ada (Soekartawi 2002).

4.4 Data dan Instrumentasi

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data sekunder diperoleh dengan cara mempelajari buku-buku yang relevan dengan topik yang diteliti. Pengambilan data sekunder diperoleh juga dari literatur-literatur, baik yang didapat di perpustakaan maupun dari tempat lain berupa hasil penelitian terdahulu mengenai kajian kemitraan dan kepuasan pelanggan, baik dari media cetak (tabloid dan majalah), maupun media elektronik (internet). Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan LPS-DDR dan petani di lokasi masing-masing dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah disediakan.

4.4.1 Uji Validitas dan Reliabilitas

Kuesioner yang dibuat diharapkan mempunyai reliabilitas/keandalan dan validitas sehingga bebas dari varian kesalahan acak karena kesalahan acak menurunkan keandalan pengukuran. Sebelum dilakukan penelitian maka diadakan uji reliabilitas dan validitas terhadap atribut-atribut tersebut. Validitas berkaitan dengan kemampuan alat ukur untuk mengukur secara tepat apa yang harus diukur, validitas dalam penelitian kuantitatif ditunjukkan oleh koefisien validitas. Uji validitas digunakan untuk mengetahui seberapa kuat suatu alat tes melakukan fungsinya sebagai alat ukur.

Uji validitas dilakukan dengan mengkorelasikan skor yang diperoleh dari jawaban masing–masing pertanyaan dengan skor total (Item Total Correlation). Skor total adalah skor yang diperoleh dari hasil penjumlahan semua skor pertanyaan.

Angka korelasi yang diperoleh harus dibandingkan dengan angka kritik tabel korelasi r.

1. Jika r hitung > r tabel, maka dapat dikatakan bahwa alat pengukur tersebut valid.

2. Jika r hitung < r tabel, maka dapat dikatakan bahwa alat pengukur tersebut tidak valid.

Apabila dalam pengujian ini terdapat butir-butir yang tidak valid maka butir-butir yang tidak valid dikeluarkan, kemudian proses analisis diulang untuk butir pertanyaan yang valid saja.

Uji reliabilitas mempunyai pengertian apakah sebuah instrumen dapat mengukur sesuatu yang diukur secara konsisten dari waktu ke waktu (Nugroho 2005). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliable jika memberikan nilai cronbach Alpha > 0,60 (Nugroho 2005).

Adapun atribut pre sampling kuesioner pertama yang digunakan sebanyak 13 atribut, hasil pengujian menunjukkan data reliabel tetapi ada 1 atribut yang tidak valid dan hanya 12 atribut yang valid, kemudian dilakukan pengujian terhadap 12 atribut dengan menghilangkan atribut yang mempunyai nilai

Corrected Item-Total Correlation negatif. Hasil pengujian 12 atribut menunjukkan data telah valid dan reliable. Atribut pre sampling kuesioner pertama yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5, sedangkan hasil uji pre sampling hingga menemukan data yang valid dapat dilihat pada Lampiran 2.

Dari hasil uji validitas (Lampiran 2) menunjukkan bahwa atribut-atribut untuk menguji kinerja pelayanan kemitraan adalah valid dengan nilai Corrected Item-Total Correlation antara 0,5026 sampai dengan 0,8625, lebih besar dari angka kritik tabel ( r tabel 0,496) dengan N=10 dan tingkat kepercayaan 95% (df=

5%). Uji reliabilitas juga menunjukkan bahwa data reliabel. Hal ini ditunjukkan dengan nilai cronbach Alpha > 0,60 yaitu sebesar 0,8791.

Tabel 5. Atribut Pelayanan Kemitraan

No. Atribut Atribut

Tangible

1 Kemudahan dalam mendapatkan sarana produksi 5 Penyediaan lahan sewa

Reliability 2 Harga sarana produksi 3 Bantuan biaya garap

6 Frekuensi pembinaan 7 Pelayanan dan materi pembinaan 11 Harga beli gabah

Responsiveness 4 Ketepatan waktu pemberian biaya garap

8* Kemampuan pendamping untuk cepat tanggap dalam menghadapi permasalahan petani.

11 Respon terhadap keluhan

13 Ketepatan pembayaran hasil penjualan gabah ke petani Assurance

10 Pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi pendamping Empathy

9 Pendamping mudah ditemui dan dihubungi *Atribut yang dihilangkan.

4.5 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi wawancara mendalam serta observasi lapang. Penelitian ini menggunakan bantuan kuesioner dan daftar pertanyaan wawancara untuk memperoleh data secara utuh yang dapat menggambarkan fenomena yang terjadi di lapangan.

Wawancara dilakukan dengan pihak perusahaan yaitu divisi yang berhubungan dengan kegiatan kemitraan dan dengan pihak kelembagaan pertanian di Desa Ciburuy yaitu dengan ketua Gapoktan Silih Asih, ketua kelompok- kelompok tani di Desa Ciburuy, ketua KKT Lisung Kiwari Desa Ciburuy.

Selain itu kuesioner digunakan untuk mendapatkan data dari petani mitra mengenai kepuasan pelayanan kemitraan. Dalam setiap pengisian kuesioner

peneliti melakukan pendampingan untuk mengantisipasi adanya kesulitan atau kesalahpahaman dalam mengartikan pertanyaan kuesioner. Pendampingan yang dilakukan dalam setiap pengisian kuesioner juga dimaksudkan untuk mencari informasi lain yang lebih mendalam yang belum tercakup dalam kuesioner.

4.6 Metode Pengolahan Data

Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara dan observasi selama penelitian. Sedangkan data kuantitatif diperoleh berupa data produktivitas tanaman pangan Departemen Pertanian, data anggota dan produksi padi Gapoktan Asih dan data penilaian kepuasan petani mitra.

Analisis data dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan pelaksanaan kemitraan, pelaksanaan hak dan kewajiban oleh masing-masing pelaku kemitraan, serta kendala yang dihadapi selama berlangsungnya kegiatan kemitraan, sedangkan analisis kuantitatif dalam penelitian ini meliputi analisis kepuasan petani terhadap jalannya kemitraan. Data yang diperoleh dari kuesioner akan diolah menggunakan

software komputer Microsoft Excel dan SPSS.

4.6.1 Analisis Deskriptif

Dalam menggambarkan pelaksanaan kemitraan digumakan analisis deskriptif yang didukung oleh data-data kuantitatif dengan demikian dapat dijelaskan bagaimana pelaksanaan kerjasama kemitraan yang telah dilakukan petani padi sehat Desa Ciburuy dengan Lembaga Pertanian Sehat Dompet Dhuafa Replubika.

4.6.2 Penilaian Tingkat Kepuasan

4.6.2.1 Metode Importance Performance Analysis ( IPA )

Metode Importance Perfomance Analysis (Analisa Tingkat Kepentingan dan Kinerja) adalah alat analisis yang menggambarkan kinerja sebuah merk yang dibandingkan dengan harapan konsumen akan kinerja yang seharusnya (Supranto 2006). Metode ini dapat pula digunakan untuk menilai kinerja atribut kepuasan petani mitra dalam pelaksanaan kegiatan kemitraan. Selain itu, metode

ini akan menggolongkan atribut–atribut tersebut pada skala prioritas tertentu. Oleh karena itu, memungkinkan menyusun rekomendasi untuk meningkatkan kinerja atribut-atribut untuk meningkatkan kepuasan dari kegiatan kemitraan. Dalam penelitian ini, penentuan atribut berdasarkan pelaksanaan kemitraan di lapangan, hak dan kewajiban yang tercantum pada kontrak kemitraan, wawancara pendahuluan dengan eksekutif perusahaan dan studi literatur.

Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu nilai kepuasan petani mitra atas kinerja kemitraan (dinotasikan X) dan tingkat kepentingan (harapan) petani (dinotasikan Y). Kedua variabel tersebut diukur menggunakan skala likert dengan empat kategori. Skala likert seperti yang di tunjukan pada Tabel 6 digunakan untuk mengurangi subjektivitas responden.

Tabel 6. Skala Likert Pengukuran Tingkat Kepentingan dan Kinerja Petani Mitra

Kategori Skor

Tingkat Kepentingan Tingkat kinerja

Sangat Penting Sangat Puas 4

Penting Puas 3

Tidak Penting Tidak Puas 2

Sangat Tidak Penting Sangat Tidak Puas 1

Penggunaan skala likert ini digunakan untuk menghindari kecenderungan responden memilih nilai tengah dalam menilai atribut kepuasan petani terhadap pelayanan kemitraan (Aritonang 2005 dalam Oktaviani & Suryana 2006).

Dalam penelitian ini variabel yang diukur adalah penilaian petani terhadap kinerja atribut pelayanan kemitraan. Indikator atribut yang diukur dalam penelitian dapat dilihat pada Lampiran 3.

Setelah mengetahui skor penilaian dari masing-masing variabel, tahapan selanjutnya adalah mengolah data dengan metode Importance Performance Analysis (IPA). Adapun rumus yang digunakan adalah :

Yi  Xi  % 100 × Tki =

Keterangan: