• Tidak ada hasil yang ditemukan

aki-laki erempua

6 Rata-rata Kecamata

5.4 Pola Konsumsi Pangan (Kualitas Konsumsi Pangan)

Hasil penelitian kualitas konsumsi pangan di Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara Kota Padangsidimpuan diperoleh pola konsumsi keluarga (kualitas

konsumsi) tidak beragam sebanyak 69 keluarga (62,7%), dan 41 keluarga (37,3%) yang pola konsumsi beragam. Uji statistik Chi Square diperoleh p=0,002 artinya ada hubungan yang signifikan antara kualitas konsumsi pangan dengan status gizi. Hasil analisis multivariat setelah dilakukan uji statistik dengan uji regresi logistik menunjukkan bahwa kualitas konsumsi pangan berpengaruh terhadap status gizi keluarga.

Hasil analisa kualitas konsumsi pangan keluarga di daerah penelitian diukur dari skor mutu pangan, dimana menunjukkan skor mutu pangan yang belum memenuhi pola pangan harapan. Ini berarti secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa komposisi pangan yang diharapkan belum seimbang. Hal ini menunjukkan bahwa hanya sedikit keluarga mengonsumsi pangan yang beragam baik jumlah maupun jenis. Keluarga yang mengonsumsi pangan yang beragam maka energi dan protein yang diperoleh tidak hanya didominasi dari padi-padian dan umbi-umbian, namun juga berasal dari jenis pangan lainnya.

Keragaman konsumsi pangan memberikan mutu yang lebih baik daripada pangan yang dikonsumsi secara tunggal. Hal ini terjadi karena adanya efek saling mengisi yang berarti kekurangan zat gizi suatu pangan dapat dipenuhi oleh kelebihan zat gizi yang bersangkutan dari pangan yang lainnya (Suhardjo, 1992). Pola Pangan Harapan yang merupakan kumpulan beragam jenis dan jumlah kelompok pangan utama yang dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi pada komposisi yang seimbang. Pola pangan ini dapat digunakan sebagai ukuran keseimbangan dan keanekaragaman gizi (Hardinsyah, 2001). Selanjutnya dijelaskan

bahwa dengan terpenuhinya kebutuhan energi dari berbagai kelompok pangan sesuai PPH, secara implisit kebutuhan zat gizi juga terpenuhi kecuali untuk zat gizi yang sangat defisit dalam suatu kelompok pangan. Oleh karena itu, skor PPH mencerminkan mutu gizi konsumsi dan keragaman konsumsi pangan. Disamping itu dalam pembobotan setiap kelompok pangan telah mempertimbangkan kepadatan energi, zat gizi esensial, zat gizi mikro, kandungan serat, volume pangan dan tingkat kelezatan (Riyadi 1996).

Jenis pangan dalam penelitian ini terdiri dari 9 kelompok yaitu padi-padian, umbi-umbian, pangan hewani, minyak dan lemak, buah/biji berminyak kacang-kacangan, gula, sayur dan buah, serta lain-lain. Jenis padi-padian yang dikonsumsi oleh keluarga responden adalah beras dan seluruh keluarga mengonsumsinya setiap hari (100%). Pangan hewani terdiri dari daging (ayam, sapi, itik), telur, ikan segar, ikan asin, cumi-cumi, dan susu. Pada keluarga sampel dalam penelitian ini mengonsumsi ikan segar dan ikan yang telah diawetkan sebanyak 8.3% dari rata-rata sumbangan energi. Hal ini dikarenakan sebagian besar responden merupakan petani atau buruh tani (37% dan 21%) sehingga rata-rata sumbangan energi terbesarnya adalah pada kelompok padi-padian.

Dari hasil food list recall ternyata rata-rata keluarga mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok utama 3 kali sehari. Jagung, roti, dan tepung-tepungan dikelompokkan pada konsumsi yang jarang dikonsumsi, walaupun mie merupakan makanan yang sering dikonsumsi sebagai makanan tambahan dalam susunan makanan sehari-hari. Roti dikonsumsi pada waktu-waktu tertentu saja yaitu pada saat

hari pekan (pasar) yang diadakan sekali seminggu ataupun pada saat diadakannya acara perayaan tertentu di wilayah tersebut. Konsumsi roti dalam bentuk roti kering (biskuit atau crackers) dan berbagai jenis kue-kue basah. Konsumsi mie yaitu mie instant yang direbus atau digoreng.

Konsumsi bahan makanan sumber protein hewani masih belum bervariasi baik dari segi jumlah dan jenisnya. Dari hasil wawancara diketahui bahwa sumber protein hewani yang dikonsumsi setiap hari adalah ikan saleh (ikan yang diawetkan dengan pengasapan) dan ikan asin yang diperoleh dengan cara membeli 1 kali dalam seminggu di pasar mingguan (pekan) dalam jumlah yang diperkirakan cukup untuk kebutuhan anggota keluarga selama satu minggu.

Ikan laut segar yang diharapkan sebagai sumber protein rata-rata dikonsumsi 1-3 kali dalam seminggu, disebabkan ikan laut segar ini hanya dijumpai pada hari pekan saja. Ikan laut segar didatangkan dari luar daerah Kota Padangsidimpuan sehingga harganya relatif lebih mahal daripada ikan asin. Selain masalah tersebut ikan laut segar ini tidak tahan disimpan lebih dari satu hari saja hanya dibeli secukupnya untuk kebutuhan satu hari saja. Ikan air tawar segar seperti ikan mas dan lele lebih sering dikonsumsi dibandingkan dengan ikan laut segar. Harga ikan air tawar yang lebih murah di bandingkan ikan laut segar, karena ikan air tawar merupakan produksi daerah. Daging dan ayam dikategorikan kepada makanan yang jarang dikonsumsi. Dari hasil wawancara diketahui bahwa konsumsi daging ataupun ayam hanya pada saat diadakanny acara keluarga ataupun pesta di daerah tersebut.

Bahan makanan sumber protein nabati seperti tempe dan tahu merupakan makanan yang sering dikonsumsi. Tempe dan tahu diolah bersaman dengan protein hewani, sehingga tempe dan tahu merupakan makanan yang dikonsumsi untuk memenuhi kekurangan kebutuhan protein hewani. Tempe dan tahu diolah bukan sebagai bahan makanan sumber protein nabati. Sayuran yang paling sering dikonsumsi adalah daun singkong dimana hampir semua keluarga mengkonsumsinya 4-5 kali dalam seminggu. Sayuran ini diolah satu kali yaitu ada pagi hari dan disediakan untuk konsumsi siang dan malam hari dengan masakan daun ubi tumbuk atau gulai daun ubi. Seringnya keluarga mengkonsumsi sayuran ini disebabkan ketersediaanya yang banyak, mudah didapatkan. Sayuran lain seperti labu siam, kol, bayam, sawi puti, dan selada air jarang dikonsumsi, dan pada waktu hari pekan sayuran tersebut sering dikonsumsi.

Buah-buahan jarang dikonsumsi, jenis buah yang dikonsumsi adalah pepaya dan pisang yang diperoleh dari hasil kebun sendiri ataupun dibeli pada hari pekan.

Pisang di konsumsi pada saat pagi hari, dikonsumsi setelah pisang diolah terlebih dahulu. Pisang yang telah diolah tersedia di kedai-kedai yang menyediakan makanan sarapan pagi.

Skor AKE masih kurang dari yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat pada grafik 4.5. Pada grafik terlihat bahwa hanya tiga kelompok pangan dengan skor AKE diatas kebutuhan yang pada jenis pangan padi-padian, minyak dan lemak serta sayur dan buah. Sementara lima kelompok lainnya masih kurang. Berdasarkan skor PPH, yaitu sebesar 75.11, pangan yang dimakan belum mencukupi harapan dan kurang

beragam. Konsumsi padi-padian, minyak dan lemak serta sayur dan buah telah melebihi konsumsi ideal. Hal ini terlihat dari skor AKE yang telah melebihi skor maksimum, sementara kelompok pangan lain masih kurang dari harapan. Bahan pangan yang perlu dikurangi konsumsinya adalah padi-padian, minyak dan lemak, serta sayur dan buah. Kelompok pangan ini dikonsumsi melebihi konsumsi ideal dengan kelebihan yang besar, sehingga konsumsi harus dikurangi. Sementara itu, bahan pangan yang harus ditingkatkan konsumsinya adalah umbi-umbian, pangan hewani, buah/biji berminyak, kacang-kacangan serta gula.

Disamping itu, walaupun di dapat tingkat konsumsi energi dari kuantitas konsumsi pangan adalah cukup, tetapi jika tidak didukung dengan pengetahuan yang cukup tentang gizi maka mutu (kualitas) yang didapat masih ada yang tidak beragam.

Pengetahuan yang dimiliki keluarga khususnya ibu yang berperan dalam mengatur makanan dalam rumah tangga terlihat bahwa rata-rata pengetahuan ibu tentang gizi relatif sama antara pengetahuan ibu yang rendah sebesar 42 keluarga, pengetahuan ibu tentang gizi yang sedang sebesar 38 keluarga dan pengetahuan ibu tentang gizi yang baik sebanyak 30 keluarga. Begitu juga dengan tingkat pendidikan, dimana pendidikan dapat berhubungan dengan pengetahuan (gizi), yang akhirnya berperan terhadap konsumsi pangan. Menurut Sanjur (1982), dalam teorinya mengatakan bahwa peran pendidikan / pengetahuan gizi sangat penting artinya bagi keluarga khususnya ibu rumah tangga. Tujuan pendidikan gizi adalah mempengaruhi perilaku sehingga menerapkan pengetahuan gizi dalam kebiasaan makan sehari-hari.

Kontribusi sumbangan energi dari sembilan kelompok pangan di daerah penelitian, secara umum memperlihatkan kontribusi energi untuk kelompok pangan sumber karbohidrat diatas standar anjuran WNPG (2004) 50% padi-padian, hal ini menggambarkan kondisi ketersediaan energi berdasarkan standar kecukupan energi sebesar 2.200 kkal per kapita/hari (WNPG, 2004), dan kontribusi energi dalam ketersediaan pangan (%AKE) sudah kelebihan (kuantitas), sedangkan berdasarkan keseimbangan gizi yaitu skor PPH per kelompok pangan belum ideal.

Menurut Khumaidi (1994) tidak ada satu jenis makanan yang lengkap mengandung seluruh jenis zat gizi yang diperlukan tubuh. Menurut Depkes (1995) apabila konsumsi makanan sehari-hari kurang beraneka ragam, maka akan timbul ketidakseimbangan antara masukan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat dan produktif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Tambunan (2010), di Kecamatan Pintupohan Meranti Kabupaten Toba Samosir, bardasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti, pembelian bahan pangan keluarga dilakukan sekali dalam seminggu yaitu pada setiap hari Kamis. Bahan pangan yang dibeli cenderung lebih memilih bahan pangan yang tahan lama seperti ikan asin, telur dan makanan lain yang mempunyai daya tahan simpan yang lebih lama, dan dalam jumlah yang terbatas.

5.5 Hubungan Pola Konsumsi Pangan dan Ketersediaan Pangan dengan Status