• Tidak ada hasil yang ditemukan

Politik Luar Negeri Indonesia Bebas dan Aktif

Dalam dokumen Pedoman PLPG PKn SMA-MA Tahun 2008 (Halaman 141-146)

BAB II HUBUNGAN INTERNASIONAL

9. Politik Luar Negeri Indonesia Bebas dan Aktif

Pada tahun-tahun pertama berdirinya negara Republik Indonesia, kita dihadapkan pada kenyataan sejarah, yaitu munculnya dua kekuatan besar di dunia. Satu pihak Barat (Amerika) dengan ideologi liberal dan di pihak lain Blok Timur (Uni Soviet) dengan ideologi komunis.

Kenyatan dengan demikian sangat berpengaruh terhadap usaha-usaha bangsa Indonesia untuk konsolidasi demi kelangsungan hidup negara. Pengaruh lain adalah adanya ancaman dari Belanda yang ingin kembali menjajah bangsa Indonesia. Kondisi itulah kemudian menguatkan tekad bangsa Indonesia untuk merumuskan politik luar negerinya.

Pada tanggal 2 September 1948, Pemerintah segera mengumumkan pendirian politik luar negeri Indonesia di hadapan Badan Pekerja Komite Nasional Pusat yang antara lain berbunyi :

... tetapi mestilah kita, bangsa Indonesia, yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara kita hanya harus memilih memilih antara Pro-Rusia atau Pro-Amerika ? Apakah tak ada pendirian lain yang harus kita ambil dalam mengejar cita-cita kita.

Pemerintah berpendapat, bahwa pendirian yang harus kita ambil adalah pendirian untuk tidak menjadi objek dalam pertarungan politik internasional, tetapi harus tetap menjadi subjek yang berhak menentukan sikap sendiri dan memperjuangkan tujuan sendiri, yaitu Indonesia merdeka seluruhnya.

Perjuangan kita harus dilakukan di atas dasar semboyan kita yang lama, yaitu percaya akan diri sendiri dan berjuang atas kesanggupan kita sendiri. Dedngan semboyan ini kita menjalin hubungan dengan negara-negara lain di dunia.

Keterangan inilah yang kemudian menjadi dasar pertimbangan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Sudah seharusnya

4-15 Hubungan, Sistem Hukum, dan Organisasi Internasional

kita tetap mempertahankan politik luarnegeri bebas aktif itu agar kita tidak hanyut dalam arus pertentangan negara-negara besar.

Yang menjadi landasan bagi pelaksanaan politik luar negeri Indonesia adalah berikut :

a. Landasan Ideal : Pancasila

b. Landasan Konstitusional : UUD 1945.

Sifat politik luar negeri adalah sebagai berikut:

a. Bebas aktif, anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala hal bentuk manifestasinya dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

b. Mengabdi kepada kepentingan nasional dan amanat penderitaan rakyat.

Politik luar negeri Indonesia, antara lain bertujuan seperti berikut: a. Pembentukan satu negara Republik Indonesia yang berbentuk

negara kesatuan dan negara kebangsaan yang demokratis dengan wilayah kekuasaan dari Sabang sampai Merauke.

b. Pembentukan satu masyarakat yang adil dan makmur material dan spiritual dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

c. Pembentukan satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara di dunia, terutama sekali dengan negara-negara Afrika dan Asia atas dasar bekerja sama membentuk satu dunia baru yang bersih dari imperialisme dan kolonialisme menuju kepada perdamaian dunia yang sempurna.

Mengenai tujuan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, Drs. Muhammad Hatta dalam bukunya Dasar Politik Luar Negeri Republik Indonesia, merumuskan sebagai berikut:

a. Mempertahankan kemerdekaan bangsa dan menjaga keselamatan negara.

b. Memperoleh barang-barang yang diperlukan dari luar untuk memperbesar kemakmuran rakyat apabila barang-barang itu tidaka ada atau belum dapat dihasilkan sendiri.

c. Meningkatkan perdamaian internasional karena hanya dalam keadaan damai, Indonesia dapat membangun dan memperoleh syarat-syarat yang diperlukan untuk memperbesar kemakmuran rakyat.

d. Meningkatkan persaudaraan segala bangsa sebagai pelaksaan cita-cita yang tersimpul di dalam Pancasila, dasar dan filsafat negara kita.

Pedoman perjuangan politik luar negeri yang bebs aktif berdasarkan pada faktor-faktor berikut:

a. Dasa Sila Bandung yang mencerminkan solidaritas negara-negara Asia dan Afrika, dan perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, serta mengandung sifat non intervensi (tidak turut campur tangan negara lain).

b. Prinsip bahwa maslah Asia hendaknya dipecahkan oleh bangsa Asia sendiri dengan kerja sama regional.

c. Pemulihan kembali kepercayaan negara-negara/bangsa-bangsa lain terhadap maksud dan tujuan revolusi Indonesia dengan cara memperbanyak kawan dari pada lawan, menjauhkan kontradiksi dengan mencari keserasian yang sesuai dengan falsafah Pancasila.

d. Pelaksanaan dilakukan dengan keluwesan dalam pendekatan dan penanggapan sehingga pengarahannya harus dilakukan untuk kepentingan nasional terutama kepentingan ekonomi rakyat.

Berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh pemerintah pada tanggal 2 September 1948 dihadapan Badan Pekerja Komite Nasional Pusat, dapat kita temukan pokok-pokok yang menjadi dasar politik luar negeri Indonesia, antara lain sebagai berikut:

4-17 Hubungan, Sistem Hukum, dan Organisasi Internasional

a). Negara kita menjalankan politik damai.

b). Negara kita bersahabat dengan segala bangsa atas dasar saling menghargai dengan tidak mencampuri soal susunan dan corak pemerintahan negeri masing-masing.

c). Negara kita memperkuat sendi-sendi hukum internasional dan organisasi internasional untuk menjamin perdamaian yang kekal.

d). Negara kita berusaha mempermudah jalannya pertukaran

pembayaran internasional.

e). Negara kita membantu pelaksanaan keadilan sosial internasional dengan berpedoman pada piagam PBB.

f). Negara kita dalam lingkungan PBB berusaha menyokong perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang masih dijajah sebab tanpa kemerdekaan, persaudaraan dan perdamaian internasional itu tidak akan tercapai.

Pemerintahan Orde Baru telah berhasil menetapkan kembali kebijaksanaan Politik Luar Negeri kita pada tahun 1966, dengan dikeluarkannya Ketetapan MPRS No.XII/MPRS/1966. ketetapan MPRS inilah yang menjadi pedoman pelaksanaan pemerintah yang selanjutnya dijabarkan lebih lanjut dalam ketetapan-ketetapan MPR (GBHN tahun 1973-1998).

Pengalaman masa Orde Lama dengan politik luar negeri yang membentuk poros Jakarta-Pyongyang-Peking, sangat tidak sesuai dengan jiwa dan kepribadian yang tercermin dalam pembukaan UUD 1945.

Dalam rangka menciptakan perdamaian dunia yang abadi, adil dan sejahtera, negara kita harus tetap melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif.

a). Bebas, artinya kita bebas menentukan sikap dan pandangan kita terhadap masalah-masalah internasional dan terlepas dari ikatan kekuatan-kekuatan raksasa dunia yang secara ideologis

bertentangan (Timur dengan komunismenya dan Barat dengan liberalnya).

b). Aktif, artinya kita dalam politik luar negeri senantiasa aktif

memperjuangkan terbinanya perdamaian dunia. Aktif memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan, aktif memperjuangkan ketertiban dunia, dan aktif ikut serta menciptakan keadilan sosial dunia.

Politik luar negeri yang bebas aktif diabdikan kepada kepentingan nasional, terutama untuk kepentingan stabilitas dan kelancaran pembangunan di segala bidang. Perwujudan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, dapat kita lihat pada contoh berikut :

1). Penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika pada tahun1955, yang melahirkan semangat dan solidaritas negara-negara Asia-Afrika yang kemudian melahirkan Dasa Sila Bandung.

2). Keaktifan Indonesia sebagai salah satu negara pendiri Gerakan Non-Blok tahun 1961 yang berusaha membantu dunia internasional untuk meredakan ketegangan Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur.

3). Indonesia juga aktif di dalam merintis dan mengembangkan organisasi di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

4). Ikut aktif membantu penyelesaian konflik di Kamboja, perang saudara di Bosnia, pertikaian dan konflik antara pemerintah Filipina dan bangsa Moro, dan masih banyak lagi yang lainnya.

C. Latihan

1. Jelaskan hubungan antara politik luar negeri dan hubungan internasional!

2. Siapakah yang dinamakan perwakilan negara itu?

4-19 Hubungan, Sistem Hukum, dan Organisasi Internasional

4. Kapan perang dapat digunakan sebagai alat dalam hubungan internasional?

5. Bagaimana peran Indonesia dalam hubungan internasional?

D. Lembar Kegiatan

Kembangkan materi pembelajaran tentang hubungan internasional yang didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan SMA/SMK dengan menggunakan bahan dari surat kabar! Sajikan dalam bentuk guntingan berita atau gambar dan disertai beberapa pertanyaan yang menghubungkan berita atau gambar tersebut dengan kompetensi dasar.

E. Rangkuman

Pengertian hubungan internasional sering disamakan dengan pengertian “hubungan antar negara”, “politik internasional”, “politik multinasional”, “politik luar negeri”, dan “hubungan global”. Dalam hubungan internasional sangat dipengaruhi oleh politik internasional dan hokum internasional. Secara umum ada dua sarana untuk melaksanakan hubungan internasional, yakni perjanjian internasional dan perwakilan Negara.

Dalam dokumen Pedoman PLPG PKn SMA-MA Tahun 2008 (Halaman 141-146)