BAB 3 KONDISI UMUM SUBSEKTOR PENERBITAN DI INDONESIA
3.5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Penerbitan
Pertumbuhan ekonomi kreatif sangat penting untuk meningkatkan perekonomian nasional dan persaingan global.Ekonomi kreatif berfokus pada penciptaan barang dan jasa dengan mengandalkan keahlian, bakat dan kreativitas sebagai kekayaan intelektual, dan merupakan harapan bagi ekonomi Indonesia untuk tumbuh. Berdasarkan rata-rata pertumbuhan PDB tahunan periode 2002-2006,
industri kreatif memiliki rata-rata pertumbuhan di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,76%. Sedangkan pertumbuhan ekspor industri kreatif tahun 2013 mencapai 119,7 T, meningkat 8% dari tahun 2012 (Merdeka, 2014). Salah satu subsektor potensial dalam industri kreatif adalah penerbitan. Berdasarkan data yang didapat,industripenerbitan termasuk salah satu yang mendominasi industri kreatif. Hal ini dilihat dari peningkatansebesar 4,7% tahun 2011 menjadi 4,86% tahun 2012. Kedua hal ini membuktikan bahwa industri penerbitan berpotensi untuk bersaing dan meraih keunggulan dalam ekonomi global.
Industri penerbitan dan percetakan memiliki posisi yang sangat fundamental, karena industri inilah yang paling bertahan lama dan mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Saat iniindustri penerbitan mengalami perkembangan yang pesat. Dengan luas wilayah 1.910.931 km2 dan besar populasi sebanyak 244,2 juta yang 93,4% penduduknya telah melek huruf. Tabel 3 - 4 Potensi Industri Penerbitan pada Tahun 2012
Luas 1.910.931 km2
Populasi 244,2 juta
Pertumbuhan Populasi 1,31%
Angka Melek Huruf 93,4%
Pengguna Internet 71,19 Juta
Produk Domestik Bruto $878 Milliar
PDB/kapita $3,556.79
Pertumbuhan Ekonomi 6,2%
Angka Pengangguran 6,1%
Sumber: IKAPI (2014)
Dalam perkembangan penerbitan di Indonesia terdapat 1126 Penerbit yang terdaftar di Pulau Jawa sebanyak 1004, berarti sebanyak 122 penerbit tersebar di luar pulau Jawa. Lain dari pada itu penerbit yang ada 60% menerbitan buku teks dan hanya 40% buku umum. Oleh karena itu, dapat dilihat bahwa dalam penerbitan Indonesia mayoritas masyarakat mengkonsumsi buku teks untuk keperluan pendidikan. PT.Gramedia sendiri, selaku penerbit dan distributor buku terbesar menerbitkan 2300 judul perbulannya di tahun 2011. Selain itu terdapat beberapa lembaga yang tidak terdeteksi menerbitkan buku seperti lembaga pemerintah, perusahaan swasta/BUMN, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Self Publisher, komunitas hobi dan Lembaga lainnya. Bila dilihat demikian potensi pengembangan buku memiliki pasar yang sangat besar dan masyarakat memiliki beragam pilihan, sehingga persaingan menjadi ketat.
Pasar penerbitan buku di Indonesia tumbuh sebanyak 6% pertahun (IKAPI, 2014) antara tahun 2007-2012. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi di Indonesia, perkembangan pesat di kelas menengah dan meningkatnya kesadaran akan pendidikan. Pada tahun 2013, ada 33.199.557 eksemplar buku terjual di Indonesia dimana peringkat pertama penjualan dikuasai oleh penjualan buku anak sebanyak 10,9 Juta eksemplar (Tabel.12). Oleh karena itu bila dibandingkan dengan total populasi sebesar 244 juta,2 Juta Jiwa maka produksi buku di Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi maju.
Tabel 3 - 5 10 Buku Terlaris di Indonesia 1 Anak 10,9 Juta 2 Religi 3,7 Juta 3 Sastra/Fiksi 3,6 Juta 4 Sekolah 3,5 Juta 5 Referensi/Kamus 2 Juta 6 Bisnis/Ekonomi 1 Juta
7 Pengembangan Diri 900 Ribu
8 Ilmu Sosial 800 Ribu
9 Masakan 700 Ribu
10 Komputer 700 Ribu
Sumber: IKAPI, 2013
Permasalahan utama yang di hadapi penerbitan Indonesia adalah keberlangsungan penerbitan cetak. Berkembangnya teknologi digital dan internet membuat beberapa penerbitan cetak lokal Indonesia mengalami kebangkrutan. Tetapi hal ini juga dapat dilihat sebagai tantangan untuk menciptakan bisnis model baru pada industri penerbitan. Selanjutnya, akan kita lihat secara mendetil berbagai potensi dan permasalahan industri penerbitan dalam matriks di bawah Tabel 3 - 6 Potensi dan Permasalahan Penerbitan
POTENSI (Peluang dan kekuatan)
PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)
SUMBER DAYA KREATIF
1 Tersedianya pendidikan non-formal yang dilakukan lembaga atau komunitasberkaitan dengan creative writing, design, tata letak, dll.
1 Masih mahalnya biaya pendidikan non- formal untuk melatih keahlian orang kreatif penerbitan
2 Semua tingkat dan jalur pendidikan dari TK sampai perguruan tingggi mengajarkan anak untuk menggali imajinasi,
menggambar, menulis danmenganalisa
2 Institusi pendidikan memperbolehkan siswa dan pengajar untuk menggunaan buku-buku bajakan di dalam proses belajar mengajar
3 Tersedianya orang kreatif yang memiliki minat menulis
3 Masih jarangnya institusi pendidikan yang membuat ekstrakulikuler untuk melatih cara menulis dan membaca siswa 4 Sudah adanya penulis-penulis Indonesia
yang diakui karyanya di Internasional ( Go- Internasional)
4 Mundurnya penggunaan bahasa penulisan karya kreatif menggunakan bahasa baku (KBBI)
POTENSI (Peluang dan kekuatan)
PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)
5 Masih jarangnya pelaku kreatif penerbitan yang memiliki link and match dunia pendidikan dan dunia usaha
6 Belum terhubungnya dunia pendidikan dengan dunia usaha penerbitan 7 Belum banyaknya beasiswa yang
mendukung kreativitas penulis /orang kreatif penerbitan
8 Hilangnya kualitas gaya dan kemampuan penulis ataupun penyunting
9 Rendahnya pemahaman penulis dalam pengelolaan Hak Kekayaan Intelektual yang masih rendah
10 Kesejahteraan tenaga kerja penerbitan dan percetakan yang masih rendah
SUMBER DAYA PENDUKUNG
1 Penggunaan kertas-kertas daur ulang untuk pencetakan karya tulis
1 Masih rendahnya pengarsipan terhadap karya-karya budaya bangsa.
2 Tersedia banyak sumber daya budaya yang dapat menjadi identitas Penerbitan dan Percetakan Indonesia.
2 Kurangnya penelitian terkait sumber daya pembuatan kertas produksi dalam negeri. Kertas masih impor
3 Karya kreatif yang bernilai budaya Indonesia
3 Invasi budaya-budaya negara lain seperti korea, jepang yang lebihdiminati pembaca 4 Penggunaan karya-karya penerbitan untuk
pengembangan karya subsektor ekonomi kreatif lainnya
4 Karya-karya budaya / sastra/ sejarah yang kurang peminat atau mulai ditinggalkan pembaca(terancam punah)
5 Kurangnya penelitian terkait sumber daya budaya oleh peneliti Indonesia
INDUSTRI
1 Tersedianya wirausaha kreatiflokal yang banyak
1 Masih rendahnya wirausaha kreatiflokal yang menembus pasar internasional 2 Jumlah usaha penerbitan cetak sudah
banyak
2 Masih rendahnya jejaring dan kerjasama di tingkat lokal, nasional maupun global 3 Tumbuh dan berkembangnya model bisnis
baru seperti pengembangan konten, self publisher dan digital publisher
3 Kesiapan industri untuk memenuhi permintaan pasar masih kurang
4 Sudah ada beberapa usaha kreatif yang mengembangkan karya kreatif untuk alih media oleh industri kreatif lain seperti film, seni pertunjukan, animasi dll
4 Pemahaman penulis dan penerbit dalam pengelolaan Hak Cipta yang masih rendah
5 Tumbuh dan berkembangnya self publisher 5 Penyebaran usaha kreatif belum merata di seluruh Indonesia (penerbit terpusat di kota besar)
POTENSI (Peluang dan kekuatan)
PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman) 6 Kualitas dan keragaman beberapa karya
kreatif hasil Penerbitan dan Percetakan Indonesia sudah diakui oleh pasar internasional.
6 Belum adanya pemetaan tentang penerbit mandiri dan penerbit digital yang berkembang saat ini
7
Terdapat karya-karya tulis Penerbitan dan Percetakan produknya sudah dipasarkan ke luar negeri seperti pesona edu, gagas media dll.
7 Masih kurangnya kesempatan alih media terhadap karya-karya tulis Indonesia 8 Monetisasi yang merugikan penulis dan
penerbit
9 Perusahaan Penerbitan dan Percetakan lokal masih susah bersaing dengan internasional di negeri sendiri 10 Kesiapan industri untuk memenuhi
permintaan pasar masih kurang 11 Serapan industri terhadap hasil-hasil
kompetisi rendah
12 Kualitas karya kreatif penulisan Indonesia masih rendah
PEMBIAYAAN
1 Penyewaan lisensi asing untuk pasar global
1 Belum adanya alternatif pembiayaan terkait pengembangan bisnis baru dalam industri penerbitan dan percetakan. Khususnya karya penulisan seperti sastra / sejarah yang kurang diminati pasar
2 Tidak adanya informasi terkait sumber pembiayaan untuk produksi penerbitan dan percetakan
3 Pembajakan karya tulis 4 Pembajakan karya tulis PEMASARAN
1 Besarnya potensi perkembangan produk penerbitan lokal
1 Adanya kesepakatan pasar bebas pada tahun 2015, sementara Indonesia belum siap untuk menghadapi hal tersebut. 2 Potensi pasar domestik(pasar pemerintah
dan pasar swasta) dan pasar internasional
2 Karya-karya tulis/komik (produk) internasional yang lebih diminati masyarakat
3 Pertumbuhan konsumsi Indonesia bertambah sehingga dapat menambah peluang bagi Penerbitan dan Percetakan untuk memasarkan produknya
3 Penyediaan ruang promosi dan pameran nasional dan internasional yang masih sangat mahal
4 Besarnya potensi penggunaan produk- produk penerbitan padasemua sektor seperti : pendidikan,komunikasi, kesehatan,ekonomi kreatif, dan pariwisata
4 Belum banyaknya pameran yang diadakan di tingkat internasional
POTENSI (Peluang dan kekuatan)
PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman) 5 Adanya media sosial seperti Facebook,
Twitter, dan Instagram untuk membantu perluasan pasar hingga internasional
5 Belum banyaknya pameran yang diadakan di tingkat internasional
INFRASTRUKTUR DAN TEKNOLOGI
1 Banyaknya jumlah Perpustakaan yang perlu direvitalisasi berbasis kemajuan
1 Pengangkutan / distribusi yang memakan waktu tidak singkat ke daerah pelosok
2 Perkembangan teknologi internet
memunculkan pengembangan model bisnis baru, konten penulisan untuk alih media, kemudahan informasi dan publikas karya
2 Mesin-mesin teknologi tinggi untuk pencetakan yang masih mahal
3
Berkembangnya teknologi digital dan multimedia membuat proses kreasi Penerbitan dan Percetakan lebih mudah dan cepat
3 Teknologi mengganggu kestabilan karya kreatif cetak penerbitan dan percetakan 4 Teknologi mengganggu kestabilan karya
kreatif cetak penerbitan dan percetakan KELEMBAGAAN
1 Sudah ada regulasi terkait kebebasan informasi danperpajakan produk penerbitan yang berkaitan dengan pendidikan
1 Belum adanya regulasi terkait penciptaan nilai kreatif (creative chain) dan penataan industri kreatif dan industri pendukung penciptaan nilai kreatif (backward and forward linkage)
2 RUU Perbukuan yang sedang diajukan IKAPI 2 Belum adanya kebijakan terkait perluasan karya ekspor Penerbitan dan Percetakan 3 Adanya insentif keringanan pajak untuk
pelaku penerbitan buku/produk pendidikan
3 Belum adanya regulasi
terkaitpengembangan dan penyediaan teknologi dan infrastruktur pendukung industri kreatif, terutama distribusi produk Penerbitan dan Percetakan di Indonesia 4 Sudah ada regulasi terkait HAKI bagi karya
Penerbitan dan Percetakan.
4 Belum adanya ketegasan sanksi plagiarisme terhadap karya kreatif Penerbitan dan Percetakaner di Indonesia Permasalahan HAKI
5 Kerjasama pemangku kepentingan dalam membangun even-event internasional
5 Potensi komunitas terkait industri penerbitan yang tersebar dan tidak terdata
6 Eksistensi komunitas-komunitas berkaitan dengan industri penerbitan dan percetakan yang banyak dan merata
6 Tempat umum yang masih jarang
dalammerepresentasikan karya Penerbitan dan Percetakan Indonesia
7 Berkerjasama dan bermitra dengan komunitas-komunitas yang tersebar di seluruh Indonesia
7 Belum adanya peningkatan diplomasi secara bilateral, regional dan multirateral mengenai karya-karya penerbitan Indonesia
POTENSI (Peluang dan kekuatan)
PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman) 8
Sudah ada beberapa program untuk mengembangkan unit usaha Penerbitan dan Percetakan dari pemerintah
8 Kurangnya apresiasi/ penghargaan terhadap karya kreatif penerbitan dan percetakan
9 Kurangnya literasi masyarakat terhadap orang/karya/wirausaha/usaha kreatif lokal dan konsumsi karya kreatif lokal
10 Masih rendahnyaminat baca masyarakat 11 Belum adanya lembaga kritik, komite
ataupun dewan buku yang berstandar sehingga karya penulis indonesia menjadi tidak berkualitas
12 Pembajakan karya kreatif yang cukup banyak
13 Masih rendahnya akses dan distribusi terhadap informasi/pengetahuan terhadap sumber daya alam dan sumber daya budaya lokal
14 Kurangnya apresiasi masyarakat untuk mendukung produk penerbitan nasional