ABSTRAK
Negara RRC memiliki peran strategis dalam perkembangan ekonomi dunia di masa mendatang. Tahun 2017 Nominal PDB AS mencapai US$
18,6 triliun, sedangkan China berada di urutan kedua, sebesar US$ 11,4 triliun. Total PDB dunia tercatat US$ 75,2 triliun, dan Pertumbuhan ekonomi China 6,6% sedangkan AS adalah 1,6%. Kerjasama Strategis yang menyangkut Sawit antara lain adalah bidoesel B-5 dan juga upaya meningkatkan ekspor CPO ke China. Tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis potensi kerjasama bidang sawit di masa mendatang, mengingat kedudukan Indonesia sebagai produsen sawit dan sekaligus membantu mengurangi defisit neraca perdagangan RI-China. Kebijakan lobby internasional ke negara China merupakan salah satu yang diperlukan. Hal lain yang perlu memerlukan kajian yang lebih mendalam di masa mendatang adalah masalah trade balance yang defisit dengan RRC. Tahun 2015, defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China mencapai 14,18 Milyar USD, tahun 2016 sebesar 13,89 milyar USD dan tahun 2017 menurun menjadi 12,96 milyar USD, atau lebih kurang Rp 170 Trilyun. Perkembangan 3 tahun terakhir ini menunjukkan Indonesia berhasil mendorong ekspor ke China. Peran ekspor CPO salama ini cukup besar dengan rata-rata kontribusi USD 3,25 milyar per tahun. Dengan kata lain, kontribusi ekspor CPO dalam membantu defisit neraca perdagangan Indonesia adalah cukup besar, yakni 28,78 persen (PASPIN2018). Atau dalam bahasa yang sederhana, sekitar sepertiga ekspor Indonesia ke China adalah CPO. Posisi Indonesia yang defisit juga menjadi kajian penting, agar tidak dijadikan faktor untuk memudahkan China dalam mengakuisisi perusahaan-perusahaan Indonesia. Oleh sebab itu, kemitraan sawit Indonesia – China memiliki nilai srategis di masa mendatang.
Keywords : kemitraan sawit, defisit neraca perdagangan, biodiesel, nabati
*) Dimuat pada PASPI Monitor, Volume IV No. 12/2018
Pendahuluan
Negara RRC memiliki peran strategis dalam perkembangan ekonomi dunia di masa mendatang. Tahun 2017 Nominal PDB AS mencapai US$ 18,6 triliun, sedangkan China berada di urutan kedua, sebesar USD 11,4 triliun. Total PDB dunia tercatat USD 75,2 triliun, dan Pertumbuhan ekonomi China 6,6% sedangkan AS adalah 1,6%.
Saat ini China sedang tumbuh menjadi sebuah ekonomi raksasa dunia, dan sebelum 2030 diperkirakan China akan menduduki peringkat PDB terbesar atau urutan ke-1 dunia, dan menempatkan China menjadi sebuah negara pemimpin ekonomi dunia. Sisi lainnya, China juga strategis di masa mendatang, karena pada saat pelantikan Presiden Xi Jinping untuk periode kedua pada 18 Maret 2018 lalu, beliau ditetapkan menjadi presiden seumur hidup, untuk meneruskan keberhasilan pembangunan RRC yang begitu pesat dalam dua dekade terakhir. Hal ini akan berdampak bagi kebijakan jangka panjang negara China di masa mendatang, dan terkait dengan keberlanjutan kerja sama negara-negara luar dengan China.
Peran strategis tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi Indonesia untuk mengimplementasikan kerja sama ekonomi yang sudah dirintis dalam kerjasama bilateral antar kedua negara (G to G). Pada tahun 2017 Presiden Jokowi bersama Presiden Xi Jinping telah menyaksikan penandatanganan tiga dokumen kerja sama, yang salah satunya adalah pelaksanaan Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-Tiongkok pada 2017-2021 yang
Potensi Strategis Kemitraan Sawit Indonesia - China 2093
ditandatangani oleh Menlu Retno bersama dengan Menlu China Wang Yi.
Kerjasama Strategis yang menyangkut Sawit antara lain adalah bidoesel B-5 dan juga upaya meningkatkan ekspor CPO ke China.
Tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis potensi kerjasama bidang sawit di masa mendatang, mengingat kedudukan Indonesia sebagai produsen sawit dan sekaligus membantu mengurangi defisit neraca perdagangan RI-China.
Biodiesel
Perkembangan produksi bidoesel China dibandingkan dengan USA, Uni Eropa, China dan Indonesia disajikan
China dan sejumlah negara negara di Uni Eropa, jauh lebih awal mengembangkan biodiesel. Pada tahun 2006, produksi biodiesel Indonesia hanya 44.000 ton pada tahun 2006, dan tahun 2016 mencapai 2,5 juta ton. Saat ini Indonesia memiliki share 3% dari total poduksi dunia.
Growth perkembangan produksi bodiesel Indonesia mencapai 84.3 % per tahun. Perkembangan ini berhasil menarik perhatian dunia, salah satunya negara RRC yang mulai mengembangkkan B-5 dengan kerja sama dengan Indonesia.
Salah satu keterlambatan RRC dalam produksi biodiesel adalah faktor ketersediaan bahan baku, sehingga upaya RRC untuk mengimplementasikan kebijakan energi yang dapat diperbaharui tidak mudah dilaksanakan.
Disamping itu, kebijakan transportasi sebagian besardiarahkan pada penggunaan energi listrik. Baik mobil maupun sepeda. Dengan kebijakan ini, permintaan biodiesel tidak melonjak dengan pesat dan terbatas pada berusaha menyesuaikan pasokan yang tersdua. Namun masalahnya adalah, tingkat kebutuhan biodiesel China dengan penduduk 1,4 milyar akan membawa China pada excess demand biodiesel di masa mendatang. Dalam konteks inilah kerjsama sawit, khususnya biodiesel diperlukan dengan Indonesia, untuk memasok bahan baku CPO. Pengembangan produksi sawit di begaraRRC sangat sulit dilakukan, mengingat wilayah RRC berada pada wilayah sub tropis. Pelung kerja sama sawit RI China lebih mengarah pada PMA Perkebunan Kelapa Sawit China di Indonesia. Dalam jangka panjang, riset penanaman kelapa sawit di beberapa provinsi di Wilayah Selatan memiliki peluang untuk dikembangkan di China, dengan pemilihan bibit yang sesuai.
Potensi Strategis Kemitraan Sawit Indonesia - China 2095
Pemerintah China menegaskan keputusan negara untuk membatasi semua penggunaan biji-bijian dan minyak nabati untuk biofuel, alkohol dan tujuan non-pangan/ pakan lain. Kebijakan ini bertujuan untuk melindungi pasokan domestik produk pangan pokok untuk konsumsi manusia dan hewan. Sejalan dengan itu, terdapat 5 kebijakan China sepanjang 2009-2014 yang menyang-kut biodiesel (B-5), yakni dengan melakukan kebijakan pengenaan tarif. Hal ini menunjukan bahwa kebijakan nabati China saat ini masih lebih dominan pada kebijakan pangan dan diikuti energi.
Untuk mengatasi hal itu, dalam Sidang APEC 2013, China meminta agar Perdagangan bebas dibuka, agar China bisa mengimpor CPO – tanpa pengenaan pungutan ekspor. Menurut Direktur Utama China National Cereals, Oils and Foodstuffs Corp (COFCO) Frank Ning Gao Ning, ekonomi China dari sektor energi sangat bergantung dari minyak kelapa sawit Indonesia. Negara China saat ini mengembangkan energi terbarukan. Salah satu energi yang digemari masyarakat China adalah Bahan Bakar Nabati (BBN) dari minyak kelapa sawit. Oleh sebab itu, China memohon agar pemerintah Indonesia membuka perdagangan bebas. Hal itu bertujuan agar COFCO bisa mengambil minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) sebanyak-banyaknya dari Indonesia. (PASPI, 2016)
Konsumsi Minyak Nabati China
Dalam perdagangan global, China memiliki kedudukan penting. Saat ini, penduduk Negara China mencapai 1,4 milyar jiwa, atau hampir seperlima dari penduduk dunia (7,2 milyar jiwa) (UN, 2016). Salah satu keberhasilan
China adalah keberhasilan China dalam mengatasi kebutuhan pangan. Sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar, maka juga China berupaya memproduksi pebutuhan pangannya dan juga termasuk negara produsen utama dunia, khususnya dalam memenuhi konsumsi domestiknya. Tahun 2016, China termasuk produsen utama minyak kedelai dunia, dengan produksi sebesar 16,85 juta ton (naik 8,1 persen diabnding tahun sebelumnya) dan memiliki share 30% dari total produksi dunia, diikuti negara USA, dengan produksi 10,28 juta ton (atau 18,18%). Pada tahun 2017, China juga termasuk negara produsen kedua terbesar rapeseed oil, dengan produksi sebesar 6,78 juta ton (24% dari total produksi rapeseed dunia). Produsen utama rapeseed dunia adalah EU-27, dengan pangsa 36,4%.
Meskipun China sebagai produsen utama dunia, khususnya pada minyak kedelai dan rapeseed, namun China merupakan negara net importir, konsumsinya jauh melebihi poduksi domestiknya. Konsumsi minyak kedelai China pada tahun 2017, mencapai 17,4 juta ton (defisit 555.000 ton), dan konsumsi rapeseed oil mencapai 8,1 juta ton (defisit 1,31 juta ton). Demikian halnya dengan sumber minyak nabati lainnya, seperti sunflower, China juga mengimpor 750,000 ton, dimana jumlah konsumsi mencapai 1,23 juta ton, dan produksi domestik hanya terpenuhi 450,000 ton.
Potensi Strategis Kemitraan Sawit Indonesia - China 2097
Gambar 12.1 Konsumsi Minyak Nabati China 1965-2017 (Sumber: USDA, 2018)
Gambar di atas menunjukkan pola konsumsi minyak nabati China. Sejak tahun 2000, Konsumsi minyak kedele China meningkat pesat hingga mencapai 17,4 juta ton pada tahun 2017, diikuti minyak rapeseed 8,1 juta ton dan CPO mencapai 4,9 juta ton dan minyak bunga matahari mencapai 1,4 juta ton.
Rata-rata pertumbuhan produksi minyak nabati domestik adalah 5,27% per tahun, sedangkan konsumsi bertumbuh 8.65 % per tahun. Sehingga, kondisi yang terjadi adalah cenderung semakin melebar (widening gap) (PASPI, 2016)
Proses widening gap antara produksi dan konsumsi minyak nabati di China mulai terlihat jelas sejak tahun 2000, seiring dengan semakin meningkatnya ekspor CPO di pasar dunia.
4.9 17.4
8.1
1.4
-5 0 5 10 15 20
1965 1980 1990 2000 2010 2015 2016 2017
Juta Ton
CPO SBO RSO SFO
Gambar 12.2 Produksi dan Konsumsi Minyak Nabati di China, 1965-2017 (USDA, Mundi, 2017) Tabel 12.2 Rata-rata Poduksi, Konsumsi dan Impor
Minyak Nabati di China, 1974-2016 (000 ton per tahun)
Tahun Produksi Konsumsi Impor %
1974-80 725 827 108 13.1
1980-85 1787 1861 119 6.4
1985-99 3885 5907 2240 37.9
2000-10 11084 17351 6267 36.1
2011-17 20927 28590 7663 26.8
Pada tahun 1980, rata-rata produksi CPO China masih di bawah 1 juta ton. Namun konsumsi domestik China telah mencapai 1,97 juta ton, dan 13,1% konsumsi minyak nabati China dipenuhi oleh impor. Pada kurun waktu 1980-1985, rata-rata produksi CPO China telah mencapai rata-rata 1,79 juta ton per tahun, namun konsumsi domestik China telah mencapai 1,86 juta ton, dan 6,4%
24.22 31.79
0 5 10 15 20 25 30 35
1965 1980 1990 2000 2010 2015 2016 2017
Juta Ton
Produksi Konsumsi
Potensi Strategis Kemitraan Sawit Indonesia - China 2099
konsumsi minyak nabati China dipenuhi oleh impor. Pada kurun waktu 1985-1990, produksi CPO China telah mencapai rata-rata 3,9 juta ton per tahun, namun konsumsi domestik China telah mencapai 5,9 juta ton, dan proporsi impor mencapai 37,9% dari total konsumsi. Hal ini menunjukkan, produksi nabati China hanya mampu memenuhi dua per tiga dari total konsimsi nabati. Pada kurun waktu 2000-2010, produksi CPO China telah mencapai rata-rata 11,08 juta ton per tahun, namun konsumsi domestik China telah mencapai 17,35 juta ton.
37% konsumsi minyak nabati China dipenuhi oleh impor.
Tahun 2011-16, konsumsi nabati China meningkat pesat, hingga mencapai rata-rata 20,36 juta ton, sedangkan produksi domestik mencapai 28,04 juta ton, dan volume impor nabati mencapai rata-rata bertambah sekitar 8 juta ton per tahun.
Data di atas, menunjukkan bahwa konsumsi minyak nabati China secara cenderung meningkat setiap tahun (growth 9%/tahun). Pemerintah China terus berupaya meningkatkan produksi domestik (8.5%/thn). Laju konsumsi meningkat dengan laju yang lebih besar, sehingga terjadi widening gap atau kesenjangan yang semakin melebar antara produksi dan konsumsi sekitar 0.5% per tahun. Hal ini sekaligus berdampak pada kebutuhan impor minyak nabati dengan volume yang semakin besar setiap tahun.
Pada kurun waktu 2000-2017, proporsi impor CPO telah mencapai separoh dari total impor nabati China, sementara impor minyak kedelai/SBO semakin menurun menjadi 33%, sedangkan RSO adalah 16%. Pada kurun waktu 2000-2010, proporsi impor CPO naik dan mencapai 69%, impor minyak kedelai/SBO semakin menurun
sebesar 21%, diikuti RSO adalah 7% dan SFO sebesar 3%.
Kondisi terakhir menunjukkan, pada kurun waktu 2011-2016, proporsi impor CPO masih tetap tinggi, yakni 69%, sedangkan impor minyak kedelai/SBO kembali semakin kecil, yakni 13%, dan selebihnya bersumber dari RSO 11%
dan SFO sebesar 7%.
Pada periode 2000-2017 (Gambar 12.3), sumber utama konsumsi nabati di China semakin didominasi impor CPO, sedangkan share impor kedelai semakin menurun. Sumber impor minyak rapeseed (RSO) dan bunga matahari bersifat komplementer dengan share masing masing sekitar 11 dan 2%. Hal ini menunjukkan adanya demand yang sangat tinggi pada impor CPO, yang dapat diimpor dari Indonesia dan Malaysia.
Gambar 12.3 Proporsi Impor China Terbesar Adalah CPO Kesimpulan
Mencermati perkembangan di atas, ada dua hal yang menonjol dan sekaligus menjadi peluang kerjasama Indonesia - China di masa mendatang dalam rangka kerja sama Sawit antara China dan Indonesia, yakni kerja sama
80 72
63 58 65
20 28 37 42
35
00 20 40 60 80 100
2000 2010 2015 2016 2017
CPO non CPO
Potensi Strategis Kemitraan Sawit Indonesia - China 2101
Indonesia – China untuk memenuhi kebutuhan CPO China untuk energi (biodiesel) dan untuk pangan. Secara empiris, China memerlukan CPO yang cukup besar untuk biofuel dan untuk pangan.
Negara China merupakan salah satu pengimpor terbesar kedua CPO Indonesia. China merupakan konsumen terbesar minyak sawit ketiga di dunia dengan pangsa 11.5%. Sedangkan urutan pertama adalah Indonesia 15.8% dan kedu adalah India sebesar 14.9%.
Jika dikaitkan dengan kedudukan China sebagai negara berpenduduk terbesar dunia, maka negara China memiliki potensi pasar yang paling besar di dunia. Oleh sebab itu, kebijakan lobby internasional ke negara China merupakan salah satu yang diperlukan, karena berhadapan dengan raksasa ekonomi dunia ini bukanlah hal yang mudah dilakukan. Disamping itu, China sadar akan kedudukannya sebagai salah satu negara konsumen utama dunia, maka China juga meminta banyak kemudahan hingga pembebasan tarif pajak ekspor. Hal lain yang perlu memerlukan kajian yang lebih mendalam di masa mendatang adalah trade balance yang defisit dengan RRC.
Tahun 2015, defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China mencapai 14,18 Milyar USD, tahun 2016 menurun menjadi 13,89 milyar USD dan tahun 2017 menurun menjadi 12,96 milyar USD, atau lebih kurang Rp 170 Trilyun. Perkembangan 3 tahun terakhir ini menunjukkan Indonesia berhasil mendorong ekspor ke China. Peran ekspor CPO salama ini cukup besar dengan rata-rata kontribusi USD 3,25 milyar per tahun. Dengan kata lain, kontribusi ekspor CPO dalam membantu defisit neraca perdagangan Indonesia adalah cukup besar, yakni 28,78 persen (PASPI 2018). Atau dalam bahasa yang sederhana,
sekitar sepertiga ekspor Indonesia ke China adalah CPO.
Posisi Indonesia yang defisit juga menjadi kajian penting, agar tidak dijadikan faktor untuk memudahkan China dalam mengakuisisi perusahaan-perusahaan Indonesia.
Oleh sebab itu, kemitraan sawit Indonesia – China memiliki nilai srategis di masa mendatang.
PASPI Monitor, Volume 1 No. 24/2015