• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip, Skala, dan Strategi Kesantunan .1 Prinsip Kesantunan

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

A. KAJIAN TEORI 1. Penerjemahan

2. Teori Linguistik 1 Seputar Pragmatik

2.4 Prinsip, Skala, dan Strategi Kesantunan .1 Prinsip Kesantunan

Dalam komunikasi sehari-hari, penggunaan bahasa lazim diwujudkan dalam dua bentuk penggunaan praktis berbahasa yakni bahasa lisan dan tulisan. Dalam ranah pragmatik, aktifitas penggunaan bahasa lisan dan tulis ini tergolong ke dalam wujud retorika, yang dikenal sebagai Retorika Antarpribadi (Interpersonal Rhetoric) dan Retorika Tekstual (Textual Rhetoric). Leech (1983: 15) menyebutkan bahwa retorika merupakan seni keterampilan berbahasa “….rhetoric has been understood, in particular historical traditions, as the art of using language skillfully for persuasions, or for literary expression, or for public speaking”. Selain itu, Ia menganggap retorika sebagai sebuah upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk menyampaikan suatu maksud tertentu baik dalam bentuk lisan maupun tulisan “…rhetoric is the focus it places on a goal-oriented speech situation, in which s uses language in order to produce a particular effect in mind of h.”

Sopan santun atau etika berbicara dalam kegiatan percakapan sehari-hari merupakan salah satu prinsip yang termuat dalam Retorika Antarpribadi bersamaan dengan dua prinsip lain, yakni Prinsip Kerjasama dan Prinsip Ironi. Ketiga prinsip ini memiliki peranan penting dalam percakapan dan senantiasa menjadi aturan main berjalannya sebuah percakapan. Leech (1983: 132) merumuskan beberapa Prinsip Sopan Santun (PS) yang seyogyanya dipatuhi oleh pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah percakapan. Berikut penjelasan singkat mengenai rumusan-rumusan kesantunan tersebut:

Tabel 2.7 Prinsip Sopan Santun menurut Leech (1983: 132) No Maxim Kesantunan Prinsip Dasar Penjelasan 1 Tact Maxim (in

(in impositives and (a) minimize benefit to

self [(b) maximize Maksim Kedermawanan:

buatlah keuntungan diri

commisives) benefit to other] sekecil mungkin, buatlah rasa antipasti antara diri dan lain sekecil mungkin, tingkatkan rasa simpati sebanyak-banyaknya.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip kesantunan sebagaimana tertuang dalam rumusan PS di atas, derajat atau tingkat kesantunan sebuah tuturan dapat diukur.

Dalam kaitannya dengan penelitian penerjemahan ini, sebuah tindak tutur memerintah (commanding) berpenghalusan tuturan dalam BSu dapat diukur derajat atau tingkat kesantunannya untuk kemudian dibandingkan dengan terjemahan dalam BSa-nya apakah terjadi pergeseran derajat atau tidak.

2.4.2 Skala Kesantunan

Untuk mengetahui derajat atau peringkat kesantunan sebuah tuturan, dalam hal ini tindak tutur memerintah (commanding) sebagai sebuah impositif, skala-skala kesantunan sebagaimana dikemukakan oleh Leech (1983) dapat diterapkan dengan tetap mendasarkan pada rumusan PS sebagaimana telah disebutkan di atas. Leech (1983: 123-126) menetapkan beberapa skala kesantunan yang dapat dijadikan patokan untuk mengukur derajat atau peringkat kesantunan sebuah tuturan. Berikut peneliti gambarkan skala-skala kesantunan tersebut dalam tabel berikut ini:

Tabel 2.8 Skala Kesantunan Leech (1983: 123-126)

No Skala Penjelasan

1 Cost-benefit scale:

Representing the cost or benefit of an act to speaker and hearer

Skala untung rugi ini bertumpu pada seberapa besar atau kecilnya kerugian dan keuntungan yang ditimbulkan oleh sebuah tindak tutur pada sebuah tuturan. Semakin rugi penutur dalam sebuah tuturan maka akan semakin santunlah tuturan tersebut. Sementara itu, semakin untung penutur dalam sebuah tuturan maka semakin tak santunlah tuturan tersebut.

2 Optionally scale:

Indicating the degree of choice permitted to speaker and or hearer by a specific

Semakin banyak pilihan yang dapat digunakan oleh pelibat dalam sebuah petuturan, maka akan semakin santunlah petuturan tersebut. Pun sebaliknya, semakin sedikit pilihan dalam sebuah petuturan maka akan dianggap semakin tak santun.

Semakin tak langsung sebuah tuturan, maka semakin santunlah tuturan tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin langsung sebuah tuturan maka akan diangap semakin tak santun.

4 Authorithy scale:

Representing the status relationship between speaker and hearer.

Semakin jauh jarak peringkat status sosial antara penutur dan mitra tutur, tuturan yang dipakai akan semakin santun. Begitupun sebaliknya, semakin dekat jarak peringkat status sosial maka akan semakin tak santunlah sebuah tuturan.

5 Social distance scale:

Indicating the degree of familiarity between speaker and hearer.

Semakin dekat jarak hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur, semakin kurang santun tuturan yang digunakan. Pun sebaliknya, semakin jauh jarak sosial, maka akan semakin santun tuturan yang digunakan.

Secara konkrit, Leech (1983) memberikan contoh penerapan skala kesantunan di atas pada sebuah ilokusi. Kesantunan sebuah ilokusi impositif, seperti halnya tindak tutur memerintah (commanding) dalam kategori direktif, dapat diketahui melalui penerapan prinsip-prinsip kesantunan sebagaimana telah dikemukakan pada bagian sebelumnya. Dapat digambarkan bahwa sebuah ilokusi impositif bertumpu pada tindakan yang dilakukan oleh petutur t sebagaimana dikehendaki oleh penutur n.

Tindakan yang dilakukan oleh petutur, dinotasikan sebagai A. Merujuk pada Prinsip Kearifan, tindakan A dapat dinilai berdasarkan anggapan anggapan n apakah tindakan tersebut menguntungkan atau merugikan t. Sebagai contoh, mari kita cermati empat buah ilokusi impositif berikut ini:

[1] “Answer the phone.”

[2] “I want you to answer the phone.”

[3] “Will you answer the phone?”

[4] “Can you answer the phone?”

Ketaklangsungan Kurang sopan

Lebih sopan Dengan menerapkan Prinsip Kearifan serta Skala Untung Rugi yang termuat di dalamnya, empat buah contoh ilokusi di atas dapat kita anggap sebagai sebuah ilokusi yang memilki maksud serta tujuan sama namun memilki derajat atau peringkat kesantunan yang berbeda. Tuturan [1] dianggap sebagai ilokusi impositif

paling langsung. Tuturan ini tak memberikan keuntungan bagi t karena t tak memilki pilihan lain selain melakukan A. Sementara itu, tuturan [2] sedikit berbeda. Tuturan tersebut merupakan wujud tak langsung dari tuturan [1]. Dalam tuturan [2], n mengurangi kerugian terhadap t karena t tak serta merta harus melakukan A secara langsung karena tuturan [2] merupakan sebuah pernyataan atau proposisi. Namun demikian, tuturan [3] dan [4] dapat kita anggap sebagai tuturan yang lebih sopan daripada tuturan [1] dan [2] karena bentuk pertanyaan memberikan kebebasan bagi t untuk mengatakan ya atau tidak atas apa yang dikehendaki oleh n. Dapat kita simpulkan bahwa semakin tak langsung sebuah tuturan maka akan semakin santunlah tuturan tersebut.

2.4.3 Strategi Kesantunan

Dalam komunikasi interpersonal, face atau muka seseorang diibaratkan berada dalam keadaan terancam. Untuk menghindari kondisi pengancaman muka tersebut perlu dilakukan sebuah upaya penyelamatan muka. Upaya inilah yang dikenal sebagai strategi kesantunan. Dengan mengacu pada pandangan Brown dan Levinson (1987), Yule (1996: 66) menggambarkan strategi tersebut sebagai berikut:

How to get a pen from someone else

Say something say nothing

On record off record (“I forgot my pen”)

Face saving act bald on record

Positive politeness Negative politeness

(“How about letting me use your pen?”) (“Could you lend me a pen?”)

Gambar 2.2 How to get a pen from someone else (Yule, 1996: 66)

Pada gambar 2.2 di atas, dapat kita lihat bahwa untuk menyampaikan sesuatu pada orang lain kita dihadapkan pada berbagai cara. Cara pertama yang paling mungkin dilakukan adalah dengan mengatakan sesuatu dan pilihan selanjutnya adalah dengan tidak mengatakan sesuatu sama sekali. Dalam bentuk pengungkapan dengan mengatakan sesuatu, ada dua strategi yang bisa diterapkan yakni dengan mengatakannya secara langsung (on record) dan dengan mengatakan sesuatu hal yang seolah-olah tak berhubungan sama sekali tetapi mengandung makna yang sama, yakni dengan tak langsung (off record). Hal yang menarik di sini ialah, ketika kita memutuskan untuk mengungkapkannya secara langsung (on record), ada dua strategi yang bisa kita terapkan, yakni dengan melakukan upaya penyelamatan muka (face saving act) atau dengan tuturan yang betul-betul langsung (bald on record). Dalam strategi penyelamatan muka (face saving act), sebuah tuturan langsung akan dikemas menjadi sebuah tuturan yang lebih tak langsung, baik dalam bentuk positive politeness maupun negative politeness (Yule, 1996: 59-64).