BAB II. SEJARAH WACANA TRADISI PEMIKIRAN HUBUNGAN
TRADISI PEMIKIRAN KRITIS HUBUNGAN INTERNASIONAL MODERN
III.3. Problem Modernisme
Walaupun Habarmas dan Linklater berusaha merekonstruksi rasionalitas Eropa dengan teori aksi-aksi komunikasi (dialog komunikatif) dan etika diskursus serta menghadirkan entitas komunitas politik era post-Westphalia, tetapi ruang pengandaian mereka masih partikular di wilayah Eropa kontinental, dan mengandaikan rasionalitas Eropa, etika diskursus sebagai sesuatu yang universal, tunggal dan total. Ontologi komunitas politik, epistemologi rasionalitas Eropa tidak dapat melampaui pengetahuannya sendiri. Dengan kata lain, rasionalitas modern diandaikan seperti katak dalam tempurung yang berputar-putar di
104Ibid. hlm. 156. 105 Hardiman, op.cit. 106 Linklater, op.cit. 107Loc.cit.
dalamnya. Proses ini dapat dinamakan sebagai lingkaran hermenutika yang dialami oleh wacana modernitas.
Epistemologi dan ontologi politik internasional mengalami perubahan. Politik internasional post-modern atau post-Westphalia mengandaikan komunitas politik yang terfregmentasi ke wilayah wacana masing-masing komunitas. Dengan kata lain, politik internasional di panggung duni internasional menjadi sebuah permainan komunitas politik yang plural dan heterogen, tergantung pada pengetahuan komunitasnya sendiri-sendiri. Dunia post-Westphalia mengandaikan relasi antara komunitas politik lokal dengan global, relasi etika partikular dengan etika universal, relasi eksklusif dengan inklusif dan antara universalisme dengan
difference dalam media aksi-aksi komunikasi atau dialog terbuka.
Wacana modernisme adalah suatu paham pemikiran sekaligus ordo diskursif yang muncul di jaman pencerahan (renaissance). Wujud modernisme dapat diketahui melalui kelahiran kapitalisme dan negara bangsa (1648). Kemunculan modernisme merupakan pondasi bagi segala aspek kehidupan yang sekarang secara luas disebut dengan nama modern. Crane Brinton108 melacak istilah dari bahasa latin yang berarti: “just now.” Dalam bahasa Inggris, istilah moderen dikontraskan dengan istilah: “ancient” (kuno). Kesadaran modern terbangun melalui nalar manusia untuk melihat newly. Newly adalah kebaruan yang terjadi alam momen kekinian, yang berjarak dengan ‘nenek moyang’. ‘Nenek moyang’ yang pada saat itu disebut dengan nama ‘nenek moyang.’ Karena kebaruan selalu berjalan dinamis dan terus melakukan perjalanan yang endless.
Kemodernan yang menjadi the way of life disebut dengan modern culture. Menurut Brinton, modern juga dapat dipahami jika dihadapkan medieval. Perbedaan medieval dengan modern ditandai dengan humanisme, reformasi, penemuan geografis, ilmu pengetahuan, penemuan mesin cetak, pendobrakkan atas kuasa gereja. Budi Hardiman melihat modern,109 modernisasi atau modernisme identik dengan Brinton, yakni kesadaran akan kebaruan –kehidupan manusia kekinian dengan menggunakan rasionalisasi. Rasionalisasi merupakan
108 Crane Brinton, The Shaping of The Modern Mind, (USA: The New American Library of World Literature Inc., 1956), hlm. 19-20.
pola berpikir rasional, yakni keberanian manusia untuk menggunakan akalnya– istilah Immanuel Kant dinamakan sapare aude!–beranilah untuk berpikir! Proses modernisasi dunia saat itu merupakan rasionalisasi dunia secara total. Penggunaan rasio mendorong manusia berpijak pada dasar-dasar akalnya seperti kebenaran berdasarkan pada wilayah epistemologi tunggal, standar dengan istilah logika. Pergeseran wacana dapat dilihat pada perubahan wilayah pengetahuan kosmologisme yang tergantung pada alam menuju displacement teosentrisme yang tergantung pada Tuhan atau agama. Kemudian dengan adanya rasionalisasi, wilayah wacana teosentrisme mengalami displacement ke wilayah antroposentrisme, yakni pemikiran yang menekankan ketergantungan pada rasio manusia, biasanya disebut dengan nama humanism (Barat). Humanisme adalah penggunaan logika tunggal untuk menjalani kehidupan di dunia. Lebih jauh Brinton mendeskripsikan humanisme dengan perlawanan rasio manusia masa itu terhadap dogma agama (Vatikan).
Genealogi modernisasi berangkat dari tradisi pemikiran Yunani Kuno. Hassan Hanfi memaparkan sejarah tradisi pemikiran dan budaya barat dengan jelas. Dalam karyanya, Oksidentalisme (2000), Hanafi menjelaskan ajaran nenek moyang pembentukan kesadaran modernitas (Eropa/Barat), Hanafi membagi tiga bagian dalam sub-bab ajaran nenek moyang: ajaran sisa sumber Yunani-Romawi, ajaran Kristen Yunani, dan ajaran Kristen Latin. Ajaran nenek moyang yang dijelaskan oleh Hanafi ini dijelaskan dengan menguak kesadaran Eropa secara menyeluruh, yakni memaparkan akar-akar kesadaran Eropa tanpa adanya keterputusan rangkaiannya sehingga keberlanjutan dari bentuk kesadaran Eropa dapat terlihat. Kesadaran Eropa begitu kuat didominasi oleh wacana teks Perancis dan Jerman. Dalam hal ini, wacana teks Jerman, Hegel merupakan pemikir yang memberikan benang merah tentang kesadaran Eropa.
Hanafi menjelaskan sisa sumber Yunani-Romawi adalah agama paganisme. Agama ini berlangsung selama era Yunani kuno: Hellenic. Kedatangan Kristen yang dibawa oleh al-Masîh saat itu belum sanggup melakukan perubahan terhadap kesadaran Yunani-Romawi yang pagan, yang cukup kuat pengaruh neo-Platonisme. Kebudayan yang di bawa oleh Kristen
masih lemah sehingga tradisi kesadaran saat itu masih didominasi oleh kaum paganis. Era/wacana teks Hellenisme ini kuat juga dipengaruhi oleh aliran Aristotelianisme dan stoicism yang mengusung rasionalitas atau akal kepada kelahiran kedokteran rasional, bukan kedokteran empiris. Kebudayaan pagan Yunani, neo-Platonisme ini menyebar hingga ke daerah Latin. Neo-Platonisme dan ajaran Stoicism cukup kuat mempengaruhi era kebudayaan Yunani-Romawi yang dimanifestasikan dalam sifat spiritual seperti ajaran rendah hati, zuhud, berakhlak sempurna, membersihkan diri, dan menahan hawa nafsu. Ajaran ini cukup kuat mempengaruhi era Romawi. Meskipun Kristen dapat melakukan
epistemological break, tetapi saat itu ajaran baru tersebut belum kuat merubah kesadaran Eropa yang didominasi kebudayaan Yunani-Romawi.
Kuatnya budaya agama pagan ini disebabkan oleh perbaruan dirinya sendiri. Wacana teks Barat bersikap skeptisme dan melakukan pembersihan diri terhadap ajaran-ajaran lama dengan mengatasnamakan ilmu yang anti- dogmatisme. Dengan demikian, ajaran tradisi pagan justru semakin kokoh. Tindakan mereka tidak lebih sebagai tindakan reflektif atau otokritik (self- reflection). Inilah sumber kekuatan wacana Barat. Hanafi menerangkan juga bahwa saat itu, ilmu seperti logika, gramatika, retorika, hitung, teknik arsitektur, astronomi, dan musik telah dipelajari secara teknis oleh mereka. Inilah kedamaian internal kesadaran Eropa yang telah diperoleh. Dengan pemahaman dan kesadaran akan alam, kaum pagan saat itu telah memperoleh kedamaian internal. Dalam hal ini, Hanafi cukup tajam mengatakan bahwa kedamaian internal yang final ini mempunyai sifat negatif dan positif. Sifat yang negatif muncul ketika kesadaran pagan tersebut telah final dan berakhir sehingga mereka tidak mempunyai kesadaran selain kesadaran agama pagan. Sedangkan sifat yang positif muncul ketika mereka menganggap bahwa kedamaian internal yang mereka peroleh bukanlah kesadaran akan sebuah keyakinan final, tetapi awal dari keyakinan agama baru dan keselamatan yang segera datang. Keyakinan agama baru dan keselamatan inilah yang sampai sekarang masih belum diperoleh. Jadi sebuah prosespergerakan becoming Eropa bukan being Eropa.
Dalam studinya, Hanafi menemukan hipotesis bahwa hubungan simbiosis mutualisme antara wacana teks paganisme Yunani dengan Kristen. Hanafi menemukan “formasi palsu”, yakni pemanfaatan arsitektur kebudayaan Yunani dan Romawi oleh Kristen sekedar sebagai bahasa untuk menciptakan kesadaran keimanan baru. Dalam konteks ini, wacana Kristen menjadi substansinya, sedangkan wacana Yunani dan Romawi sebagai bentuk atau bungkusnya saja. Dengan demikian, wacana Kristen mejadi ilmu tujuan, wacana Yunani dan Romawi menjadi teks ilmu perantaranya. Kemungkinan hasil penelitiannya, Hanafi menemukan “substansialisasi palsu,” yakni pemanfaatan Kristen oleh budaya Yunani-Romawi merupakan bahasa baru untuk mengartikulasikan substansi Yunani-Romawi lama. Sedangkan kebudayaan Yunani-Romawi menjadi substansi dan Kristen sebagai bentuk atau bungkusnya sehingga Yunani- Romawi menjadi ilmu tujuan, Kristen menjadi ilmu perantaranya. Dalam konteks dialektika ini, istilah teks substansialisasi palsu dan teks formasi palsu tidak jauh berbeda dengan istilah ‘Tuhan Socrates’ dengan ‘Tuhan al-Masîh.’
Hanafi memaparkan bahwa sumber kesadaran Eropa ini bertujuan untuk membuktikan kemungkinan kedua, yakni “substansialisasi palsu” pada masa terbentuknya ajaran pendeta geraja dari abad ke-1 hingga abad ke-7. Secara gradual “substansialisasi palsu” berubah menjadi “formasi palsu” pada wacana teks Skolastik dari abad ke-8 hingga abad ke-14. Perubahan “formasi palsu” ini mencapai puncaknya pada abad modern ketika aliran idealisme transendental secara substansial kembali ke “khotbah di atas bukit,” meskipun secara formal masih bernuansa Yunani kuno. Melalui Yunani Stoicism, bungkus Kristen mewujudkan substansi pagan Yunani di era Romawi saat itu.
Kronologis abad modern, berawal berjayanya substansialisasi palsu atas formasi palsu, yakni keberakhiran wacana teks Skolastik yang ditandai oleh perubahan dari teologi ke ontologi, filsafat alam ke empirisme, prioritas kehendak Tuhan ke prioritas kehendak manusia, penyatuan kuasa Gereja dengan kuasa negara ke pemisahan kedua kekuasaan: sekulerisme. Inilah tanda kemunculan abad modern. Awal abad ini (masih abad ke-14) di dahului tokoh seperti dens Scot yang berargumen bahwa pengetahuan bersumber dari indra dan alam diatur
oleh hukum sebab-akibat. Eksperiementasi, observasi, dan induksi merupakan ilmu pengetahuan yang berbeda dari mimpi, khurafat, dan ilusi. Wacana ini diusung hingga abad modern yang direproduksi oleh pemahaman wacana Bacon, Mill, Hegel, dan Heidegger. Dalam transisi jaman ini sudah jelas bahwa Hanafi melihat kecenderungan bahwa sedang bergeser dari agama ke ilmu pengetahuan, masa lama ke masa baru, dari teosentris ke antroposentris, dari kuasa gereja ke kuasa akal, dari masa lalu ke masa depan.
Arsitektur modernitas dapat dilihat melalui arsitektur teks pemahaman tentang Misa ala Romawi paganis yang sebenarnya merupakan ritus agama Romawi dan upacara kekaisaran yang ditransformasikan ke dalam “perjamuan Kudus” dalam agama baru dan yang mengakibatkan terhapusnya syi’ar agama tersebut harus mengakhiri aktivitasnya dan digantikan oleh kesakralan non Romawi yang sederhana dan didasarkan pada kegiatan pemikiran, kontemplasi dan doa-doa. Bahasa Latin yang dianggap sakral diganti dengan bahasa Jerman dan Perancis. Nasionalisme seperti Jerman lebih diunggulkan daripada ritus agama. Di tangan Luther, Perjanjian Lama dirubah bahasanya dari Latin ke bahasa Jerman. Luther menolak peran gereja sebagai mediator yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. Luther berargumen keselamatan manusia hanya dapat dicapai dengan iman bukan dengan amal perbuatan, rahasia, dan ritus-ritus. Argumen berikutnya menyebutkan bahwa rahmat Tuhan yang didapat manusia tidak melalui Geraja, tetapi dapat terjadi langsung dari Tuhan ke manusia. Jadi Gereja diperuntukan untuk jiwa bukan raga. Hakekat agama dibangun langsung dari injil, bukan dari Gereja. Luther sepakat dengan teori hukum alam, kecenderugan humanisme, dan perdagangan bebas. Tokoh lainnya seperti Zwingli dan Calvin berpendapat bahwa Tuhan hadir dalam setiap benda dan dosa asal itu ada. Ketentuan medahului kehendak Tuhan dan mereka berpendapat bahwa dosa dapat dihapus melalui cara pertukaran. Calvin adalah aliran Kristen Protestan yang menyuarakan kebutuhan kelas elit terhadap pemikiran baru dan mewakili borjuisme masa itu. Kemunculan Calvinisme ini muncul ketika era awal kapitalisme. Max Weber merupakan penganut Calvinisme yang karyanya, “Etika
Protestan” meneguhkan bahwa zuhud, taqwa, dan akhlak mulia mendorong kapitalisme modern Barat. Inilah sebuah perjalanan awal dari alam modernitas.
Masa modern (kebangkitan) merupakan mata rantai sesungguhnya yang menghubungkan (patahan/diskontinuitas) abad pertengahan kesadaran Eropa dengan abad modern. Masa ini sebagai bagian dari sejarah Eropa, sebagai perwujudan revolusi terhadap masa lalu, sebagai pertanda bagi kemunculan masa datang, dan sebagai zaman humanisme Barat. Masa kebangkitan dapat diartikan sebagai kemampuan Eropa dalam memperoleh temuan-temuan di bidang kemanusiaan, alam, dan agama dengan mengandalkan upaya akal dan kemampuan melihat alam. Pada masa ini yang memicu ke ranah perkembangan ilmu pengetahuan modern Barat adalah lima aliran pemikiran: Lorenzo Falla, Picco della mirandolla, Utopianisme, dan ilmu empiris baru yang berhasil menciptakan ilmu astronomi, kedokteran, psikologi, dan fisika yang jauh dari apriori dan yang memberikan ciri khusus kepada abad modern sebagai abad ilmu pengetahuan. Dari ilmu pengetahuan melebar ke ilmu politik yang didasarkan pada penolakan terhadap kekuasaan agama, perlunya pemisahan Gereja dan Negara: sekulerisme, dan perlunya pembangunan masyarakat sipil sekuler yang modern: civil society. Munculnya Lorenzo Valla yang mengedepankan kebebasan kehendak (free will). Dari sini, menguatlah kaum reformis yang menginginkan pembangunan masyarakat sipil (civil society) berdasarkan kebebasan kehendak rakyat (free will of civilian), dan saat itu Suarez adalah tokoh yang terberani –yang kembali membentuk aristotelianisme Kristen. Suarez berargumen bahwa esensi fisika bersifat tunggal bukan karena bentuk atau materinya, tetapi karena satuan-satuan universalnya. Ruh merupakan dasar yang penting bagi kehidupan seluruh makhluk biologis, baik secara empiris maupun secara rasional. Suarez menyimpulkan bahwa kehendak adalah keinginan akal dan kebebasan yang dipilih
(free will). Karenanya manusia harus bertanggung jawab atas perbuatanya. Dalam bidang politik, Suarez menentang hak-hak ketuhanan bagi raja. Pemikiran politiknya banyak mempengaruhi Descartes, Spinoza, Leibniz dan Schopenhauer. Pemikiran politik masa kebangkitan mengambil dua bentuk: realis (realpolitik)
yang diwakili oleh Machiavelli dan Utopis yang diwakili oleh Thomas More dan Campanella.
Pada masa kebangkitan ini, ilmu pengetahuan menjadi aliran utama. Kehadiran ilmu pengetahuan memberikan bungkus teoritis alternatif dan untuk menguasai realitas dengan teori-teori yang lebih akurat dari pengetahuan lama yang secara empiris telah terbukti kesalahannya. Jadi argumennya adalah hanya manusialah yang mempunyai kehendak untuk berteori bukan Gereja atau agama. Dengan adanya kemunculan Pompanazzi yang melakukan pembacaan kembali Aristotelianisme secara materialistik, yang berlawanan dengan filsafat Skolastik. Adanya kemunculan Telesio yang meneguhkan kembali paham materialisme. Munculnya astronomi modern yang diciptakan oleh Copernicus dan pendukungnya Giordano Bruno dan sepemikiran dengan Nicolas de Cusa. Penutupan inovasi ilmu pengetahuan diakhiri oleh Kepler yang bertema matematika dan Galileo yang mengedepankan keilmiahan, mengubah ilmu menjadi matematika, dan ide tentang pemisahan antara teologi dan ilmu. Masa kebangkitan merupakan keberakhiran satu fase sekaligus dimulainya fase lain dalam kesadaran Eropa. Akhir fase pendasaran dan awal fase keterbentukan. Masa kebangkitan telah berhasil menciptakan keterputusan antara masa lalu dengan masa sekarang; mengubah masa lalu menjadi masa depan; melakukan kritis dan membebaskan diri dari pengaruh pengetahuan lama yang selama itu menjadi sumber ilmu dan standar perilaku; teosentrisme berubah menjadi antroposentrisme; pembahasan tentang keabadian ruh menjadi pembahasan tentang kareakteristik dan pembentukan raga (materialistik). Sebuah masa kelahiran fisiologi, biologi, anatomi, dan ilmu kedokteran modern. Kesadaran Eropa dapat melakukan inovasi baru setelah meninggalkan pengetahuan lama. Realitas dapat dilihat secara transparan. Bungkus teori yang selama ini menghalangi pandangan ego terhadap alam telah disingkirkan. Bungkus teori baru modern ini telah merubah secara radikal bangunan Gereja dengan bangunan baru negara-bangsa yang bersandar dengan prinsip-prinsip ilmiah.
Antroposentrisme adalah kesadaran pagan Eropa. Kesadaran pagan ini merupakan payung dari ilmu pengetahuan (sains), dominasi akal dari mitos dan agama, dan seluruh bentuk kebudayaan yang berkaitan dengan proyek pencerahan: modernitas. Dengan perjanjian politik maka terbentulah EU, berawal dari Congress of Europe berlangsung (1948), Churchill mengingatkan akan masa depan benua Eropa yang hancur akibat perang dan menyampaikan visinya akan
European Dream –sebuah perasaan yang hadir pada setiap orang masyarakat Eropa untuk mengatakan “here I am at home” di Eropa. Pembentukan Treaty of Rome (1957) memulai mengingatkan kembali perasaan ke-Eropa-an mereka secara struktural dan legal-formal dalam formulasi European Community. Di Eropa sendiri diadakan survey oleh World Economic Forum terhadap para pemimpin Eropa bahwa ternyata 92 persen dari mereka melihat lebih melihat wajah Eropa dari pada wajah kenegaraan mereka.110 Perjanjian dalam penguatan formulasi EU terus berlangsung seperti berlangsungnya Maastricht Treaty (1992),
Amsterdam (1997), Nice (2001), Konvensi Eropa (2002) hingga peristiwa kegagalan referendum konstitusi EU di Perancis dan Belanda. Namun terlepas dari berbagai macam konflik kepentingan di dalam EU dan masyarakatnya, EU sebagai sebuah integrasi regional telah berdiri. Proses panjang ini hanyalah wajah dari formasi nostalgia konflik kepentingan jaman Hellenic dalam wacana demokrasi. Bagi artikel ini, EU sudah berjalan sebagai sebuah katakan saja romantisme demokrasi Hellenisme.
Problem modernisme terjadi ketika landasan yang prinsipal berupa rasio manusia menggerakkan bangsa Eropa saat untuk menaklukkan alam dan manusia non-Eropa.111 Perkembangan ini berkembang semakin jauh dengan bercirikan totalitas, yakni penyeragaman (uniformities) atau homogenisasi atas realitas. Oleh sebab itu, pemahaman tentang makna realitas bagi kaum rasionalis adalah kebenaran yang objektif –kebenaran yang satu. Dalam tataran praktis, pergerakan sejarah dunia umat manusia –budaya, hubungan sosial, politik, dan komunikasi
110 Leonard Hutabarat, “Kegagalan Referendum Konstitusi Eropa: ‘Quo Vadis’ Uni Eropa?” dalam Jurnal Global, Vol. 8, No. 1, November 2005.
111 Milton J. Belasco & Patricia R. Reilly, Basic World History, (Inggris: Cambridge Book Company), hlm. 127-143.
dalam bentuk dan wadah yang sama dan satu. Jadi totalitas ini akan membentuk konvergensi budaya modern dunia internasional.112 Kritik kaum post-modernist
terhadap wacana modernitas memberikan sebuah kehancuran diri sendiri (self- destruction). Kritik atas Rasionalitas Eropa (Barat) mengalami nihilisme, karena melampaui rasionalitas merupakan hal yang mustahil bagi teoritisasi Barat. Salah satu penginspirasi post-modern, Nietzsche sudah mengumandangkan kematian Tuhan, kematian ilmu pengetahuan dan kematian bahasa, sehingga dia berbelok ke mitos pagan Persia.113
Problematika wacana modernisme ini berusaha dipecahkan oleh kaum
post-modernist dan post-structuralist lainnya. Mereka berusaha memaparkan kondisi dunia post-modern. Dunia ini menampilkan sebuah fenomena dunia internasional yang absurd sekaligus reasonable, real sekaligus hiper-real, ada sekaligus tiada, us sekaligus liyan (otherness). Mereka berusaha menampilkan relasi oposisi biner114 yang berlangsung dalam satu dunia. Pemaparan ini diungkapkan agar bisa keluar dari kerangka oposisi biner yang tengah menjebak dunia internasional, sehingga implikasinya menciptakan dunia wilayah pemahaman: Negara Utara sekaligus Negara Selatan, Negara terbelakang sekaligus Negara Maju dan Negara Imperial sekaligus Negara Kolonial, Barat sekaligus Timur, Oriental sekaligus Oksidental.
Jean-Francois Lyotard, dalam karyanya yang kontraversial di kalangan ilmuwan Amerika dan Perancis, “The Postmodern Condition: A Report on Knowledge” (1992) menjelaskan bahwa dalam menghadapi narasi besar – istilahnya metanarrative atau grand narrative atau master-narrative, kita harus menciptakan atau memunculkan wacana narasi kecil –istilahnya smallnarrative. Sebenarnya Jean-Francois Lyotard sudah sejak tahun 1980 menyeru tentang
“incredulity toward metanarratives”, yakni ketidakpercayaan terhadap narasi
112 Tradisi pemikiran ini adalah khas Kantian dan Hegelian yang merupakan salah satu dari pelopor teori kritis. Sebelumnya sudah penulis jabarkan di sejarah teori kritis.
113 Robinson, op.cit.
114 Semua pemikiran post-structuralist dan post-modernist mengarah pada penjelasan opisisi biner sebagai kerangka modernisme dan keluar dari modernisme yang berarti keluar dari oposisi biner. Lihat karya Yasraf Amir Piliang, Hiper-Realitas: Kebudayaan, (Yogyakarta: LKiS, 1999) di dalam karyanya ini, Yasraf memaparkan konsep dan istilah kaum post-modernist dan post- structuralist, khususnya konsep oposisi biner.
besar. Menurut Lyotard, ketidakpercayaan tersebut merupakan produk kemauan pengetahuan ilmiah.115 Hal tersebut merupakan dasar dari ketidakpercayaan itu. Untuk lepas dari ‘lingkaran setan’ itu, alternatif penjelasan terakhir Lyotard adalah menggunakan analisis bahasa (intertektualitas) sebagai salah satu cermin dunia. Lebih tepatnya adalah permainan bahasa116 yang dipraktekkan oleh komunitas kecil –kepastian lokal (local determinism) seperti komunitas lokal.
Wacana metanarrative terdiri dari tradisi pemikiran modernitas dan anti modernitas. Bagian ini akan dipaparkan lebih jelas dalam kasus wacana perlawanan (anti-modernitas/anti-globalisasi) atas metanarrative modernitas (globalisasi/kapitalisme) yang diwujudkan oleh sebuah gerakan perlawanan terhadap metanarrative modernitas. Kondisi dramatis perlawanan terhadap
metanarrative modernitas terjadi di Genoa (2001), Quebec City (2001), Prague (2000), Seattle (1999).117 Narasi metanarrative anti-modernitas terhadap
metanarrative modernitas terlihat secara empirik bercerita tentang aktivisme berbagai negara sebagai warga dunia dalam mengkritik World Trade Organization
(WTO). Semua gerakan resistensi partikular yang bersatu sebagai metanarrative
anti-modernitas ini mengagendakan penghapusan rejim internasional di level global, karena jika tidak dihapus, maka dunia akan digadaikan kepada para kaum kapitalis atau borjuis liberalis atau sistem kapitalisme. Namun narasi-narasi tersebut seringkali berakhir dengan bentrok, anarkhisme dan kondisi chaos. Contoh narasi lainnya, Geneva pada tanggal 29 November 1999—massa protes, termasuk di Perancis yang dipimpin oleh presiden Jacques Chirac dalam melawan globalisasi, WTO, dan putaran millennium negosiasi perdagangan. Sekitar 20,000 orang berdemontrasi di Paris dengan ikon "against the logic of WTO" dan ikon
"the world is not a commodity." Di New Delhi sekitar 300 representatif orang asli
115 Semenjak era filsuf Rene Descartes, Pasca-Copernicus sampai dengan tatanan ilmu pengetahuan positivisme, tradisi Kantian, Hegelian, dan proyek modernitas puncak yang ditindaklanjuti oleh kaum teori kritis dari mazhab Frankfurt Jerman.
116 Lihat beberapa karya Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Tractatus Logico-Philosophicus dan
Philosophical Investigations. buku pertamanya menjelaskan tentang pentingnya logika bahasa. Struktur logika bahasa menentukan struktur realitas dunia. Karya keduanya melanjutkan karya pertamanya dengan menekankan tentang tata permaian bahasa dan kontektualisasinya pada realitas. Setiap realitas dan konteks mempunyai tatanan permainan bahasanya sendiri. 117 Robin Broad, Global Backlash: Citizen Initiatives for A Just World Economy, (Oxford: Rowman&Little Publishers Inc, 2002), hlm. 2.
India –tepatnya Sentral Indian State of Madhya Pradesh memprotes Bank Dunia dan WTO. Selain gerakan itu, representasi dari gerakan National Alliance of