BAB II. SEJARAH WACANA TRADISI PEMIKIRAN HUBUNGAN
TRADISI PEMIKIRAN HUBUNGAN INTERNASIONAL MODERN
II. 2 1 Wacana Idealisme/Liberalisme
II.2.4. Wacana Saintisme (Strukturalisme)
Sebagai mana disinggung di atas, SHI secara keilmuan sudah menjadi disiplin ilmu dalam ruang lingkup nasional di ilmu sosial dan politik di Wales, Inggris yang memfokuskan pada studi politik internasional. SHI masih memfokuskan pada isu-isu yang sangat terbatas seperti perang-damai, sebab- sebab perang, konvensi internasional, sejarah diplomasi, hubungan antar negara-
53 Scott Burchill, “Realism and Neo-realism,” dalam Theories of International Relations, (London: MacMillan Press LTD, 1996), hlm. 67-73.
bangsa dan politik luar negeri. Implikasinya, SHI menjadi turunan dari disiplin ilmu hukum internasional, disiplin ekonomi internasional, disiplin sejarah internasional, dan disiplin politik (internasional).54 Dengan berjalannya dinamika disiplin ilmunya, ketika konferensi Unesco (1948) berlangsung, SHI dalam cakupan internasional disahkan secara legal-formal institusional dimasukkan sebagai sub dalam ilmu politik. Walaupun pada abad ke-20, di universitas- universitas dunia SHI menyinggung aspek hukum, sejarah dan ekonomi, legalitas SHI sebagai disiplin ilmu sudah jelas masuk pada bagian tubuh ilmu politik.55 Namun sebagai ilmu, SHI masih belum cukup dipahami sebagai ilmu yang ilmiah dan dinamai sebagai ilmu pengetahuan.
Dalam karya Open the Social Science (1996), Immanuel Wallerstein menyoroti lebih mendalam tentang isu perubahan disiplin ilmu sosial. Dengan mengutip Wolf, Wallerstein menyatakan bahwa menjelang PD I, ilmu-ilmu sosial semakin menguat di lima negara: Inggris, Perancis, Italia, Jerman dan AS, sehingga muncul lima studi ilmu sosial: ilmu sejarah, ilmu politik, ilmu ekonomi, antropologi dan sosiologi. Saat itu, sejarah menjadi disiplin ilmu yang mandiri, dan diakui bukan sebagai kajian spekulatif berarti memisahkan diri dari filsafat, tetapi sebagai kajian empiris. Ilmu ekonomi juga merupakan istilah baru di abad ke-19, sebelumnya ekonomi yang dibahas, ketika Adam Smith berupa studi filsafat, moralitas dan ekonomi-politik Inggris. Ilmu sosiologi menjadi sebuah ilmu sosial didisiplinkan sebagai sebuah studi ketika mengadopsi wacana positivisme (Auguste Comte) sebagai pendekatan sekaligus metodenya. Terakhir adalah studi tentang ilmu politik yang pada saat itu masih cenderung belum tegas mengikuti kubu positivisme Auguste Comte secara setengah-setengah. Ilmu tersebut masih menggunakan metode spekulasi dan filsafat, hingga pada akhirnya terjadi perubahan formasi diskursif pasca 1945 di Amerika Serikat. Bermula dari
54 Chris Brown, Understanding International Relations, (London: MacMillan Press LTD, 1999), hlm. 21.
Amerika Serikat, jelasnya University of Chicago, ilmu politik bersama subnya SHI mengadopsi wacana saintisme sebagai pendekatan dan metodenya.56
Pasca PD II, SHI mulai mengalami perubahan formasi diskursif, adanya pernyataan yang menyebutkan bahwa SHI mempunyai dua kelemahan: pertama, semua pendekatan SHI seperti pendekatan sejarah, pendekatan hukum internasional, pemaknaan melalui filsafat dan metode verstehen dalam membaca fenomena politik internasional tidak bebas nilai, objektif dan mempunyai keberpihakan terhadap pihak-pihak tertentu, sehingga ketepatannya dalam membaca dan mendefinisikan realitas politik internasional kurang akurat, tepat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, SHI sebagai disiplin ilmu tidak ilmiah karena bersifat subjektif dan bermuatan nilai. Kedua, dengan semua pendekatan seperti sejarah, hukum internasional, filsafat dan metode
verstehen, para pelajar mengalami kesulitan dalam mempelajari konstelasi politik internasional, sebab semua ketrampilan SHI bukan sesuatu yang mudah dipelajari, ditiru, tetapi lebih sebagai bakat, seni (art) atau ketrampilan yang membutuhkan penjiwaan sepenuh hati. Saat itu, SHI diasosiasikan oleh beberapa ilmuwan yang kritis sedang mengalami krisis metodologi dan krisis epistemologi. Kaum kritis ini berusaha keras untuk melakukan perubahan, diantaranya melakukan revolusi metodologi SHI, di University of Chicago, Amerika Serikat (1945). Hal ini memberikan pengaruh yang cukup kuat kepada pemikir SHI pasca PD II seperti imigran Jerman, Morgenthau. Selain dia, masih banyak ilmuwan seperti Kenneth Waltz, Morton Kaplan, David Singer, Karl Deutsch, John Spanier, Patrick Morgan, Richard Synder, yang gigih memperjuangkan pemikiran tentang dalih- dalih saintisme.
Wacana saintisme di wilayah ilmu politik dilahirkan oleh Charles E. Merriam. Dia merupakan bapak pembabtis para intelektual dari ilmu politik yang percaya dengan dalih-dalih saintisme. Wacana saintisme pada awalnya dinamai dengan wacana behavioralisme, karena kaidah dan dalihnya bersumber dari behavioralisme psikologi, yakni penyelidikan berdasarkan pola perilaku aktor-
56 Immanuel Wallerstein, Open the Social Science, (California: Stanford University Press California), 1996 diterjemahkan oleh Oscar, Lintas Batas Ilmu Sosial, (Yogyakarta: LKiS, 1997).
aktor politik, baik nasional maupun internasional. Dia memulai kariernya di Universitas Chicago Amerika Serikat sebagai ahli ilmu politik Eropa dan Amerika dengan karya pertamanya, Primary Election (1908) sebagai representasi dari wacananya yang bersifat behavioralistik: analitik-empiris. Konferensi nasional tentang ilmu politik diselenggarakan pada musim panas tahun 1923, 1924 dan 1925. konferensi kedua diselenggarakan di Chicago, di bawah pimpinan Merriam dan Leonard White, yang memberikan arah baru bagi ilmu politik. Dalam New Aspects of Polities, Merriam menerangkan dan menganjurkan ilmu politik sebaiknya sebagian besar analisisnya menekankan pada metode, prosedur dan pentingnya mengkuantifikasikan data-data serta penemuan-penemuan yang ada. Pada akhirnya, departemen ilmu politik Universitas Chicago menjadi pusat utama kegiatan-kegiatan akademik, serta berhasil menciptakan ilmuwan-ilmuwan politik terkemuka, seperti: Leonard White, Harold Gosnell, Quincy Wright, Harold Lasswell, Frederich Schuman, V. O. Key Jr, Gabriel Almond, Avery Leiserson, Herbert Simon dan David Truman. Mereka itu merupakan pelopor revolusi behavioralisme dalam ilmu politik. Di bawah pimpinan Hans Morgenthau dan Leo Strauss revolusi behavioral sempat surut, karena kedunya masih mengagungkan studi sejarah filsafat. Namun tahun 1950an, perkembangan ilmu politik behavioral mendapat dukungan keras terutama oleh berbagai donatur seperti, institusi Carnegie, Rockefeller dan Ford. Yayasan-yayasan tersebut juga mendirikan program-program besar, seperti penelitian yang dilakukan secara analitik-empirik di Michigan. Wacana behavioralisme dapat diinterpretasikan sebagai timbulnya wacana baru guna mengembalikan aspek-aspek ilmiah ilmu politik secara serius. Wacana ini mempunyai fondasi berdasarkan pada dalih-dalih ilmu alam dan biologi serta sejalan dengan perkembangan baru yang terjadi dalam bidang psikologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya–sosiologi. Perilaku yang merupakan sesuatu yang dapat diamati dan dipelajari secara objektif, benar-benar tengah menjadi fokus perhatian yang semakin besar bagi semua ilmuwan sosial yang ilmiah.57 Dalam hal ini, dalih-dalih saintisme awal atau pendekatan behavioralisme dalam SHI dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). SHI tidak jauh
berbeda dengan teori politik yang mengutamakan kalkulasi terhadap fenomena agar mudah diketahui hasilnya. 2). SHI didominasi oleh praktik-praktik tradisi ilmu alam atau pendekatan saintifik dengan menghapus pendekatan sejarah dan filsafat. 3). Dengan tidak ada kaitannya sama sekali dengan sejarah dan filsafat, karena dengan tradisi saintifik, SHI justru memotong tali penyambung antara sejarah-filsafat dengan tradisi pemikiran saintisme.
Genealogi kuasa intelektual behavioralisme amatlah kompleks. Leluhur dari wacana ini merujuk pada otoritas teks skeptis dan empiris David Hume. Pelopor wacana ini di Amerika adalah pragmatismenya William James (1842- 1910), yang menekankan pada empirisme, voluntarisme, tindakan-tindakan invidual dan hubungan antara kesadaran dan tujuan. Perhatian seperti ini cocok untuk prinsip-prinsip individualisme John Locke untuk menerangkan perilaku individu. Pelopor yang lain adalah, Charles S. Pierce (1839-1914) yang menciptakan pragmatism. John Dewey (1859-1952) yang merupakan pelopor filsafat praktis mengenai kebenaran yang tidak berdasarkan pada prinsip-prinsip ideal (ide), melainkan pada pengalaman-pengalaman observasi. Perubahan umum atas proses belajar yang berkaitan dengan filsafat yang memunculkan disiplin ilmu psikologi dan dengan penekanan ini, filsafat menjadi “scientific” atau
“observational persuit:” observasi perilaku manusia. Istilah behavioralisme dicetuskan oleh John B. Watson (1878-1958), ahli psikologi menganggap proses belajar terjadi sebagai hasil dari pengamatan antara rangsangan dan respon. Nampaknya filsafat dan sejarah merasa ganjil dengan metode eksperimetal. Kalaupun mereka tertarik pada pertanyaan-pertanyaan filsafat, ilmuwan behavioralis lebih melihat para filsuf ilmu seperti, Alfred North Whitehead, Rudolf Carnap dan Carl Hempel. Tujuannya adalah menenggelamkan wacana tradisional dan meningkatkan pamor wacana saintisme: logical-empirism. Dengan mendukung mengadopsi wacana ilmu alam (saintisme), kaum behavioralis terkait dengan jaring kuasa pengetahuan positivisme Saint Simon yang menekankan metode ilmiah.58
58 David E. Apter, Introduction to Political Analysis, (Cambridge: Massachusetts, Winthrop Publishers, Inc., 1977), hlm. 216-217.
Akumulasi kuasa pengetahuan untuk terus menciptakan kebenaran- kebenran baru dilakukan secara intens atau regular (1952) dan oleh kaum behavioralis dalam sebuah perkumpulan yang dinamai dengan “Komite Ilmu Tingkah-Laku” (Committee on Behavioural Science) di Universitas Chicago, Amerika Serikat. Mekanisme kuasa pengetahuan diformulasikan dalam diskusi reguler yang menyangkut persoalan: bagaimana mengilmiahkan ilmu politik?
Lebih tepatnya, bagaimana ilmu politik memiliki kesepakatan tentang sifat, ruang- lingkup, metode ilmu politik yang sama. David Easton merupakan salah satu dari pemikir behavioralis pertama yang menggunakan wacana saintisme, yakni analisis sistem dalam ilmu politik, dalam karyanya Political System (1953). Analisis sistem ini, pada akhirnya diterapkan di dalam SHI seperti juga dalam ilmu politik untuk membuat deskripsi yang lebih ilmiah dan bermetode induktif, serta pembuatan generalisasi dengan dasar pengetahuan kumulatif untuk membuat teori. Kaum behavioralis memberi penekanan pada ketelitian dan operasionalisasi konsep daripada intuisi dan pengertian tentang konsep sejarah masa lalu yang
immanent. Kaum behavioralis sangat kuat dengan pandangan bahwa teori-teori harus dijauhkan dari ideologi apapun atau pre-konsepsi normatif. Analisa sistem dalam HI disebarluaskan secara luas oleh ilmuwan seperti Morton Kaplan, Karl Deutsch, Stanley Hoffman dan Charles McClelland. Mereka meyakini bahwa dalam kenyataannya SHI tidak dapat dipelajari secara terpisah dengan ilmu politik.59
Kaum behavioralis mempunyai formasi diskursif: konseptualisasi ilmu sosial, kuantifikasi variabel-variabel, pengujian hipotesis formal dan membangun model-model kausalitas. Kaum behavioralis merupakan embrio positivisme dalam ilmu politik. Formasi diskursif wacana ilmiah ini dapat diketahui melalui penjelasan dalih-dalihnya: 1). Pembentukan hipotesa yang dapat diuji. 2). Pengujian hipotesa. 3). Pengumpulan, perbandingan dan pengintegrasian penemuan dari berbagai pengujian dan berbagai hipotesa.60 Mengembangkan
59 Varma, op.cit., hlm. 313-314.
60 Mas’oed, op.cit., hlm. 65-67.Lihat juga penjelasan Nicholson yang mengilustrasikan wacana behavioralisme sebagai pendekatan yang seringkali menggunakan data statistik dan metode statistik. Lebih luas, mereka seringkali mengacu pada positivisme, lebih tepatnya dinamakan
teori-teori hubungan internasional yang general dapat mengkonstruksikan diri pada masalah-masalah tingkat menengah (intermediate level/middle range-theory) yang sekedar mempertautkan dan menghubungkan beberapa variabel yang secara
sengaja dipilih. Harapan para ilmuwan HI saintis adalah secara bertahap dan kumulatif mampu mencapai sekumpulan teori-teori parsial dan middle range yang konsisten serta bisa bertahan terhadap pengujian verifikasi empiris, sehingga dapat terus digunakan untuk membaca dan mendefinisikan konstelasi politik internasional.
Wacana saintifik ini dapat dilihat dalam rumusan teori lama menjadi rumusan teori baru model Morton Kaplan, “Balance of Power” dalam karyanya,
System and Process in International Politics (1957). Model ini membuahkan sumber data dan seri-seri sejarah baru (new historical database and time-series) untuk menenggelamkan wacana tradisional seperti sejarah diplomasi. Wacana saintifik J.D Singer melalui proyek persatuan ‘Correlates of War’ di Ann Arbor, Michigan (1979) terkait dengan model matematika, “Teori Permainan” (Game Theory) dan “Teori Pengambilan Keputusan” (Rational Choice Theory) dan terus diproduksi kembali oleh oleh Thomas Schelling di Universitas Harvard (1960). Model state-centric dalam semua SHI merupakan kreasi teori sosial baru yang dikerjakan oleh John Burton (1972), Kenneth Boulding (1962) dan Johann Galtung (1971).61
Pendekatan behavioralisme di awal SHI cenderung mengadopsi positivisme (klasik dan positivisme logis),62 tetapi teori sistem yang dijadikan
sebagai empirisis. Mereka memusatkan perhatian pada dunia sosial yang dapat diuji dengan fakta- fakta. Teori yang berhasil, adalah teori yang sesuai maupun selaras dengan kenyataan dan juga dapat menjelaskan seperti kejadian sebab-sebab perang. Teori yang semacam inilah yang boleh dikatakan sebagai teori yang memberikan sebuah kebenaran (tell the truth). Dalam Michael Nicholson, International Relations: a Concise Introduction, (London: MacMillan Press LTP, 1998), hlm. 110.
61 Brown, op.cit., hlm. 36.
62 Sejarah positivisme digambarkan sangat jelas oleh Steve Smith di dalam ilmu sosial. Ada tiga pokok varian kronologi positivisme dalam sejarah ilmu sosial (juga cukup relevan dalam studi hubungan internasional): Perkembangan positivisme oleh Auguste Comte dan positivisme logis serta varian yang lebih ekstrim lagi yaitu harus sesuai dengan prinsip-prinsip fisika, yang dibagi empat varian: logisme; verifikasionisme empiris; perbedaan teori dan observasi; teori Humean sebab-akibat. Lihat Steve Smith, “Positivism and Beyond,” dalam International Theory: Positivism and Beyond, diedit oleh Steve Smith, Ken Booth dan Marysia Zalewski, (Britain: Cambridge University Press, 1996).
turunan atau ontologis kaum behavioralis belum cukup kuat untuk mencitrakan pendekatan sistem. Sebaliknya Kanneth Waltz adalah ilmuwan HI yang sangat kuat menekankan pada epistemologi rasionalisme dan ontologi sistem. Menurut Waltz, politik internasional seharusnya dilihat dari pendekatan sistemik sehingga sifatnya tidak reduksionis, yakni menggunakan kasus-kasus tertentu untuk membangun teori umum (grand theory). Waltz mengomentari wacana sistem yang dihasilkan oleh kaum behavioralisme seperti David Easton. Menurut Waltz, wacana sistem para behavioralis hanya sampai pada tahapan pembentukan sistem berupa perilaku atau tindakan politik para aktor internasional saja. Sedangkan wacana sistem yang berupa struktur sendiri belum dapat dijelaskan oleh kaum behavioralis. Menurut Waltz, wacana sistem kaum behavioralis ini belum dikatakan sebagai teori. Waltz meneruskan kerja teoritis dalam karyanya, Theory of International Politics (1979). Waltz merupakan orang pertama yang merumuskan teoritisasi sistemik dengan nama: neo-realism/structuralism realism. Wacana ini bergulir pada tahun 1970an bersamaan dengan kemunculan wacana lain yang sejenis dengannya seperti neo-liberalism dan neo-marxism. Mereka semua merupakan kaum strukturalis yang saintistifik. Dalam memahami kaum strukturalis ini, penulis hanya menunjukkan karyanya Kenneth Waltz saja. Pertimbangan penulis: pertama, munculnya kaum neo-liberal dan neo-marxis ternyata tidak jauh berbeda tatanan wacananya dengan Kenneth Waltz yang disebut dengan neo-realisme. Ketiganya menggunakan pendekatan sistem dan epistemologi rasionalisme. Kedua, pada tahun 1990an, Ole Waever, Naumann dan Robert Keohane membagi dua kutub ekstrim yang saling berseturu: antara kubu kaum rasionalis yang terdiri dari kamu neo-realis, noe-liberalis dan neo-marxis dengan kubu kaum refleksionis yang terdiri dari kaum post-modernist, post- structuralist dan kaum feminist. Berpijak dari posisi ini, penulis dapat melihat dengan jelas bahwa kaum yang disebut juga kaum “neo-neo” merupakan kubu rasionalisme. Ketiga, karya Waltz merupakan karya awal HI yang berusaha secara serius merumuskan teori positivistik di HI. Waltz pun mengklaim dirinya telah melakukan revolusi saintifik seperti apa yang dilakukan oleh Copernicus dalam merubah secara revolutif pemikiran awal abad pencerahan tentang tatanan tata
surya. Jadi tidak ada satupun ilmuwan HI yang cukup mapan dan pantas selain Waltz yang memasukkan pendekatan strukturalisme dan epistemologi rasionalisme. Karya Waltz tersebut juga mempunyai kedekatan dengan pemikirannya Karl R. Popper. Atas dasar ini, di bawah ini, penulis akan menjelaskan pemikiran Kenneth Waltz dalam karyanya, Theory of International Politics (1979).
Dapat dikatakan bahwa Kenneth Waltz merupakan pelopor neo- positivisme dalam pendekatan (metodologi) hubungan internasional yang merubah formasi diskursif wacana behavioralisme dan sekaligus tatanan formasi diskursif realisme yang menurutnya bukanlah sebuah teori HI secara radikal, tidak berfungsi sebagai disiplin yang ilmiah dan tidak dapat memprediksi fenomena politik internasional. Waltz mempunyai wacana tersendiri yang ternyata menenggelamkan wacana status quo saat itu. Tatanan pengetahuan saat itu sedang dituntut untuk mengendalikan fenomena politik internasional yang susah dipahami dan dikendalikan. Melalui gagasan wacananya Waltz, maka pendekatan HI yang selama ini tidak jelas dapat mempunyai formasi diskursif yang jelas batasan, ukuran, dan struktur keilmiahannya. Misalnya, konsep power dan konsep
balace of power realismenya Morgenthau yang masih susah dipahami oleh para akademisi lainnya. Karena lemahnya epistemologi dan metodologi, maka Kenneth Waltz berusaha mengadopsi neo-positivisme ke dalam HI dengan menjelaskan bahwa konsep power dan balance of power sangat berkaitan dengan struktur internasional. Dengan kata lain, konsep power dan dan balance of power di sini dipahami melalui koridor siapa yang mengendalikan dan menempati posisi struktur internasional paling tinggi dalam susunan hierarchy of power dengan mekanisme distribusi kapabilitas.
Revolusi tatanan wacana tahun 1970an ini terdiri dari disposisi dataran metodologi dan ontologi sistemik, yaitu pengetatan aspek epistemologi dan ontologi realisme ke dalam cara-cara positivistik. Epistemologi dapat dilihat dalam wacana Waltz tentang pemaparannya tentang definisi teori. Sedangkan aspek ontologi, Waltz berusaha melakukan penyederhanaan realitas politik internasional, yaitu memfokuskan pada sistem internasional yang melihat bahwa
struktur internasional menentukan (determinan) unit negara, bukan sebaliknya. Kekuasaan (power) bergerak bukan berasal dan ditentukan dari unit negara– sebagaimana formasi diskursif wacana kaum realis dan behavioralis, tetapi tergantung pada konteks struktur internasionalnya dalam kerangka distribusi kapabilitas. Pokok wacana pemikiran Kenneth Waltz dalam penjabarannya, dibagi menjadi dua bagian di bawah ini: menjelaskan pengertian teori menurut Waltz dan mendeskripsikan pendekatan Waltz lebih mendalam tentang teori sistem.
Pembagian di atas dijabarkan sebagai berikut: pertama, pemikiran Waltz tentang teori. Namun sebelumnya, kita perlu ketahui profilnya. Kenneth Waltz dilahirkan tahun 1924, ketika kuliah di Universitas Columbia tahun 1950, dia memperoleh gelar master of art. Pada tahun 1954, Waltz mendapat gelar doctoral, di mana desertasinya yang diterbitkan pada tahun itu mendapat pujian yang besar, karyanya, Man, the State and War merupakan sebuah penelitian hebat dalam sejarah pemikiran mengenai sebab-sebab perang antar negara-bangsa melalui uji verifikasi secara sistematis jawaban-jawaban yang diberikan para filsuf, negarawan, sejarawan dan para ilmuwan politik terhadap persoalan mendasar: apa penyebab perang? Menurut Waltz terdapat dua kubu dalam menjawab pertanyaan tersebut: kaum pesimis dan kaum optimis. Akar pemikiran kedua kubu itu dilacak melalui tiga hal: konsepsi sifat dasar manusia, sistem ekonomi politik domestik negara dan politik internasional yang anarkhis tanpa adanya kuasa negara yang sifatnya otoritatif. Menurut Waltz yang mengevaluasi hubungan antara hal yang empiris dengan intuisi (imaji) menegaskan argumennya bahwa ketiganya tidak perlu diberatkan atau mempunyai kecenderungan pada salah satu hal tersebut. Hal ketiga mejelaskan kontelasi politik internasional, tetapi tanpa adanya dua yang lainnya, maka pengetahuan terhadap kekuatan-kekuatan untuk menentukan kebijakan tidak terpenuhi, demikian pula sebaliknya. Ketiga hal tersebut harus mempunyai porsi yang sama dalam mendekati fenomena politik internasional. Waltz menulis beberapa artikel penting mengenai manfaat bipolar versus multipolar antara negara adidaya. Pada tahun 1967, Waltz menerbitkan sebuah buku yang membandingkan kebijakan luar negari AS dan kebijakan luar negeri Inggris dengan melihat perbedaan sistem politik domestiknya. Pada tahun 1979,
malam pemilihan Ronald Reagan dan saat détente antara negara adidaya memberi jalan pada ketegangan fase baru antara AS dan Uni Soviet, Waltz menerbitkan buku yang disebut-sebut sebagai sumbangan SHI yang sangat ilmiah: Theory of International Politics (1979). Karyanya ini berisi kurang lebih: Pembelaan Waltz atas dominasi berkelanjutan negara adidaya sebagai penjaga terbaik bagi tatanan dan stabilitas politik dunia, dan berisi tentang argumen Waltz bahwa dia telah mencapai ‘revolusi Copernicus’ dalam bidang politik internasional dengan mengurai masalah level analisis yang telah dikemukakan pada tahun 1950an. Konsekwensi karyanya mengkonsepsikan balance of power adalah sebuah teori yang patut dipertahankan.63 Pembelaan semacam ini dan rasionalisasi yang dibuat oleh Waltz merupakan penampilan wacana sebagai pengetahuan sangat erat dengan kekuasaan. Karya Waltz adalah legitimasi untuk mengkonstruksi dan menaklukkan terhadap spatial kancah politik internasional. Waltz sebagai pengarang memberikan penjelasan atas disiplin ilmu HI bersama negara tempat dia tinggal sebagai institusi legitimasi juga terhadap dirinya. Antara pengarang, disiplin ilmu HI dan institusi saling memberikan legitimasi agar proses konstruksi dan penaklukan atas manusia di muka bumi ini dapat dinormalisasikan, dinetralkan dan disifatkan alamiah. Padahal sesungguhnya hal tersebut adalah kolonialisme wacana lain dan penindasan, marginalisasi kebebasan setiap manusia untuk bersuara melalui cara mereka sendiri-sendiri. Adanya disiplin ilmu HI, maka pengarang dalam tradisi keilmuan HI akan mengklaim terlebih dahulu karyanya, lalu secara tidak langsung melakukan penaklukan dan kontrol atas realitas yang ada. Jadi formasi diskursif Waltz ini membawa arus pada wacana pengetahuan untuk mengkonstruksi wacana kita dengan terpatri anggapan bahwa penaklukan AS dan Soviet terhadap negara-negara kecil seperti Vietnam, Korea, dll dalam kancah politik internasional merupakan suatu kewajaran, normal, alamiah dan lazim.
Di sini penulis memaparkan pemahaman Waltz tentang teori. Pemahaman ini merupakan mekanisme pengetahuan dan power beroperasi. Dalam prosedur ilmu pengetahuan (sains) yang diadopsi oleh ilmu sosial, kita sebatas bisa
membuktikan kebenaran metodis, yakni kebenaran yang diciptakan oleh beberapa prosedur ilmiah. Kebenaran metodis ini pun secara ontologis tidak seutuhnya