BAB II. SEJARAH WACANA TRADISI PEMIKIRAN HUBUNGAN
TRADISI PEMIKIRAN KRITIS HUBUNGAN INTERNASIONAL MODERN
III.2. Tradisi Pemikiran Kritis Hubungan Internasional Eropa Kontinental
III.2.1. Wacana Critical International Theory (Critical Theory)
Tradisi pemikiran HI critical international relations theory terbagi menjadi dua versi: Amerika Serikat yang sifatnya eklektik (eclectic) dan Eropa Kontinental yang sifatnya immanent. Tradisi pemikiran Eropa Kontinental dipilah lagi menjadi dua tradisi: Perancis yang mewakili kaum post-modernist/post- strcuturalist dan Jerman mewakili kaum critical theorist/Frankfurt school, karena beberapa keterbatasan dan konsentrasi studi, maka studi bab ini tidak memaparkan secara luas genealogi tradisi critical international relations theory Amerika Serikat dan Perancis. Wacana ini adalah sebagian kecil dari wacana besar critical international relations theory yang sudah dipaparkan di atas. Kemudian, di bab- bab terakhir, sejak awal studi ini sudah dibantu oleh tradisi pemikiran Perancis dari Foucault. Di bagian terakhir tesis ini, melalui studi budaya, kajiannya akan membahas dalam tradisi pemikiran pascakolonialisme. Tradisi pemikiran pascakolonialisme ini berbeda dengan critical international relations theory
Amerika Serikat, sebab wilayah studinya berangkat dari spasial Timur.
Bagian awal dari bab ini akan lebih memfokuskan hanya pada pemaparan tradisi pemikiran Eropa Kontinental, Jerman, Critical international theory/critical theory atau teori internasional kritis/teori kritis. Tradisi pemikiran critical international theory adalah sebuah proyek ambisius para ilmuwan modernis, khususnya dalam SHI untuk mentotalkan apa yang dinamakan sebagai tradisi wacana modernisme. Ilmuwan modernis HI yang cukup peduli terhadap totalitas modernitas adalah Andrew Linklater, sedangkan Rober Cox dan Richard Ashley hanya mengadopsi beberapa tradisi teks pemikiran teori kritis, sehingga posisinya tergantung pada pengadopsian konseptualisasiannya di HI. Walaupun bagian ini akan menyinggung wacana teks dari ilmuwan HI yang mengadopsi beberapa wacana teori kritis, tetapi bagian ini akan lebih memfokuskan lagi pada karya Andrew Linklater, The Transformation of Political Community (1998).
Pertimbangan penulis memilih karya Linklater: pertama, secara konsisten, Linklater berusaha meneruskan tradisi teks pemikiran modern yang memfokuskan pada wacana penerus generasi teori kritis, Jürgen Habermas. Habermas ini merupakan penerus tradisi teks modenisme terakhir, pemikir Frankfurt II setelah kegagalan proyek pertamanya oleh tradisi wacana teks Frankfurt I. kerja ini adalah bagian dari komitmennyaterhadap kritik immanent.Kedua, konsistensi ini membedakan teks pemikiran Cox yang memfokuskan pada pemikiran neo- Marxisme, Gramscianisme dan pemikiran liberal, Karl Polanyi. Analisis Cox juga memfokuskan pada ekonomi-politik sebagai gerakan (kekuatan) sosial baru dan alternatif antara (neo) liberalisme dan (neo) realisme dengan mengamati institusi- institusi kapital, negara dan gerakan-gerakan sosial seperti buruh. Linklater memfokuskan pada analisis masyarakat sebagai manusia yang menyangkut segala aspek kehidupan: budaya, ras, etnis, kumunitas, agama, ekonomi, politik, dll. Linklater mempunyai studi yang lebih kompleks dan luas, dibandingkan dengan Cox. Sedangkan Ashley hanya memfokuskan pada aspek epistemologi tentang klasifikasi rasionalitas dan kritiknya terhadap tradisi wacana modern. Nampaknya Ashley lebih mudah dimasukkan ke dalam tradisi teks pemikiran post-modernism, sebab aktivitas intelektualnya memfokuskan pada penyelidikan kritis dan pembongkaran atas tradisi teks modernisme saja. Kerja ini adalah proses dialektika modernitas saja sebagai kontemplasi HI. Ketiga, Linklater memberikan kontribusi yang konsistensi dalam rangka meneruskan tradisi pemikiran modernisme yang mengacu pada praktik-praktik tradisi Hellenisme, Yunani Kuno. Sebagaimana kita ketahui, tradisi ilmuwan dan pemikir HI juga sebagian besar merujuk pada tradisi teks Yunani seperti Thucidydes, Aristoteles, Plato, Socrates, Heraclitus, dll. Pemikiran Yunani Kuno ini diteruskan dalam bentuk formasi diskursifnya yang unik di awal abad pencerahan Eropa sampai dengan dominasi Amerika Serikat sekarang ini.85
Tokoh wacana critical international relations theory yang pertama, wacana Robert W. Cox yang mengutip Horkheimer dengan mengistilahkan tradisi
85 Hassan Hanafi, Oksidentalisme: Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat, terj (Jakarta: Paramadina, 2000).
pemikiran kritis HI dengan critical international theory. Dari Horkheimer, Cox mengkritik SHI pada aspek metodologi/epistemologi, yakni dilihat dari pernyataan Cox “Theory is always for someone and for some purpose”. Cox menegaskan bahwa semua teori mempunyai pandangan, konsepsi yang ditentukan oleh konteks dan ruang tertentu pada jamannya, terutama konteks politik dan sosial saat itu:
All theories have a perspective. Perspectives derive from a position in time and space, specifically social and political time and space. The world is seen from a standpoint definable in terms of nation or social class, of dominance or subordination, of rising or declining power, of a sense of immobility or of present crisis, of past experience, and of hopes and expectations for the future. Of course, sophisticated theory is never just the expression of a perspective. The more sophisticated a theory is, the more it reflects upon and transcends its own perspective; but the initial perspective is always contained within a theory and is relevant to its explication. There is, accordingly, no such thing as theory in itself, divorced from a standpoint in time and space. When any theory so represents itself, it is the more important to examine it as ideology, and to lay bare its concealed perspective.86
Di atas, Cox mengatakan bahwa semua teori mempunyai perspektif. Bukan teori yang menentukan fenomena, tetapi justru perspektif yang terkondisikan di waktu dan jaman tertentu menentukan teori. Teori hanya merupakan salah satu perwujudan dari perspektif, sehingga teori bukan merupakan bentuk dari dirinya sendiri (das ding an sich).
Dalam penelitiannya tentang aspek epistemologi, Cox membagi dua ketegori tentang teori: problem solving theory dan critical international theory sendiri. Cox mengadopsi konsep traditional theory Horkheimer dengan menggantikan dengan nama problem solving theory di SHI yang tidak lain merupakan sebutan dari wacana HI modern. Cox melihat bahwa problem solving theory itu hanya digunakan secara praktis dalam menguatkan dan memperbaiki sistem status quo
yang rusak atau bocor pada dataran partikular. Hal itu dimaksudkan untuk melancarkan relasi kuasa, distribusi kuasa, dan hubungan antar institusi (agen) dengan struktur dalam system, baik dalam wacana neo-realisme yang
86 Robert W. Cox, “Social Forces, States and World Orders: Beyond International Relations Theory”, dalam Perspectives on World Politics, ed. Richard Littles dan Michael Smith, (London: Routledge, 1991), hlm. 444-448.
terkondisikan anarkhi maupun wacana neoliberalisme yang terkondisikan kooperatif. Kondisi seperti itu hanya melihat dunia dalam konteks kekinian atau aktual (present) saja, yakni kerusakan apa yang harus diperbaiki agar tatanan
(order) bisa stabil kembali. Problem solving theory ini memberikan kemampuan untuk membatasi masalah dan menyelesaikannya. Dalam sistem tersebut problem solving theory menciptakan hukum-hukum dan regularitas serta memunculkan generalisasi umum yang valid dan yang berkaitan langsung dengan keberlangsungan institusi dan struktur.Sedangkan critical international theory
memberikan kemampuan untuk merekonstruksi akhir dari kegagalan teori modern HI. Teks teori ini menjelaskan perubahan wacana (sistem) secara menyeluruh atau bisa dikatakan perubahan sistem yang bersifat revolusiner-radikal. Perubahan itu menciptakan teks rasio baru, intertektualitas baru, tindakan baru dan tatanan yang baru juga. Jadi sistem lama dibongkar, lalu dikonstruksikan pada pola-pola wacana yang lebih emansipatoris, egaliter, otonom, berkeadilan sosial, dan humanis. Perubahan ini didahului dengan teks wacana rasio praxis, yakni kesadaran emansipatoris etis yang tidak lagi membedakan atau memisahkan antara wilayah teori dan wilayah aksi konkrit agen atau aktor dalam perubahan tatanan hubungan internasional. Wacana tersebut dapat tercipta melalui kesadaran diri tentang keterlemparannya di dunia (being-in-the world/being there) dalam wilayah kewajiban-kewajiban moral Kantian. Kesadaran itu bisa didapat pada kesadaran sejarah kritis meliputi segala aspek kehidupan dalam hidup keseharian
(everyday life). Jadi cukup berbeda dengan problem solving theory yang memberikan solusi-solusi pasti dan konkrit dan teknis dalam hidup yang selalu rasional dan analitis. Critical international theory hanya menginspirasikan banyak alternatif bagi setiap aktor dunia untuk sadar-diri (refleksi diri), sehingga mempertanyakan kembali pengandaian-pengandaian moral dan etika dirinya menuju pada tatanan yang lebih inklusif dan universal atau kosmopolitan.
Dalam merealisasikan metodologi/epistemologi di atas, Cox mengadopsi konsep hegemoni sebagai pijakan awal mengembangkan wacananya di dalam SHI. Dalam karyanya, “Gramsci, Hegemony and International Relations: an Essay
in Method,”87 Cox menjabarkan tentang wacana Neo-Marxisme model Gramsci di SHI yang berasumsi bahwa semua realitas adalah konstruksi dari negara hegemon. Negara ini mengkonstruksi seluruh aspek kehidupan yang dihegemoni– kebudayaan. Awalnya Cox mengatakan bahwa konsep awal Gramsci adalah berpijak pada sejarah–atas dasar refleksi sejarah pada masanya. Selain itu, Gramsci juga mendasari dengan sejarah pengalaman pribadinya tentang konteks perjuangan sosial dan politiknya, yang sangat membantu Gramsci untuk menjelaskan dengan jelas kondisi masa sekarang. Menurutnya, wacana Gramsci selalu terkait dengan sejarah konteks perjuangannya. Wacana Gramsci dapat dipakai bukan pada dataran teori, tetapi dataran kontektual, yakni perubahan atas sejarah material. Pijakan sejarah material ini dikonstruksikan dengan konsep hegemoni. Kritik hegemoni, pertama mengarah pada hegemony of the proletarit
dengan dictatorship of the proletariat. Kritik ini sebenarnya ingin menjelaskan bahwa negara akan bermakna jika menekankan pada struktur politik dalam wadah masyarakat sipil. Berdasarkan pijakan sejarah, Gramsci melihat relasi antara ikon gereja, sistem pendidikan, media massa, dan semua institusi yang mengkreasi diskursus dan tindakan-tindakan semua orang serta ekspektasi konsisten semua orang atas tatanan hegemoni.
Poin penting bagi Cox: Pertama, hegemoni ini menjembatani antara negara- pasar dengan tambahan elemen masyarakat sipil sebagai peyeimbang dan sebagai elemen idealisme. Kedua, Gramsci mengalihkan konsep power politik Machiavelli pada power hegemonik budaya-politik (political culture). Dengan hegemoni, maka cara-cara politis seperti kekerasan, koersif, dapat dirubah dengan cara-cara kultural seperti penciptaan citra yang pro, konstruksi image kesadaran
melalui media–TV, Koran, internet, dll. Semua hal tersebut dengan lembut, tanpa sadar menginternalisasi ke dalam kesadaran individu-individu yang menempati suatu wilayah atau negara-bangsa tertentu. Di dalam hegemoni, kaum intelektual sangat berperan penting dalam proses pembentukan proses penyadaran individu atau internalisasi nilai-nilai hegemon.
87 Robert W. Cox, “Gramsci, Hegemony and International Relations Method”, dalam Gramsci,
Historcal Materialism and International Relations, edit: Stephen Gill, (UK: Cambridge University Press, 1993), hlm 49.
Wacana critical international theory kedua, Richard Ashley secara sistematis dan komprehensif mengadopsi wacana pengetahuan Jürgen Habermas. Ashley lebih mengkaji pada aspeks metodologi dan epistemologi SHI dengan mengidentifikasi tiga pengandaian pengetahuan (ilmu) yang bermuatan kepentingan: “knowledge-constitutive interests” atau kepentingan kognitif sebuah teori atau bisa juga disebut dengan teori pengetahuan:88 1). The practical cognitive interest atau kepentingan kognisi praktis, yakni pengetahuan yang bertujuan pada bentuk pemahaman inter-subjektif, serta saling pengertian lebih lanjut. Pengetahuan ini mengarahkan kita pada pengembangan “interpretasi yang bisa berorientasi pada bentuk aksi-aksi tradisi bersama.” Kepentingan ini sebagai kepentingan konstitutif yang berasal dari pengetahuan sejarah dan budaya. Metode yang dipergunakan adalah cara-cara hermeneutika, semiotika, dan permainan bahasa (language games). Metode ini tidak membutuhkan dan menggunakan cara-cara verifikasi dan falsifikasi. 2). The technical cognitive interest atau kepentingan kognisi teknis yakni pengetahuan yang berbasis pada peningkatan kontrol objek oleh subjek dalam rangka menguasai alam (termasuk dominasi strategis terhadap manusia lain). Sedangkan dalam aktivitas penelitian, kontrol objek mengacu pada manipulasi data, informasi dan sumber-sumber yang akan dirasionalisasikan oleh subjek pengetahuan peneliti, sehingga bisa menegaskan atau mengukuhkan sekaligus meruntuhkan teori. Sebuah pengetahuan untuk memperoleh informasi tentang penyebarluasan atas kekuasaan kontrol teknis. Kepentingan ini dipahami sebagai kepentingan kognitif atas ilmu- ilmu analitik-empiris, yakni aktivitas kaum saintis, wacana neo-realisme, filsafat positivisme (seperti aliran lingkaran Vienna, Carnap dan Nagel) dan rasionalisme kritis (seperti Popper, Lakatos dan Albert) dengan penggunaan metode induksi (verifikasi) dan deduksi (falsifikasi). (3) The emancipatory cognitive interest atau kepentingan kognisi emansipatoris, yakni perolehan pengetahuan dalam hal menjaga kebebasan diri (ilmu&ulmuwan) dari kekuatan injeksi kemandegan dan kondisi distorsi komunikatif (seperti ideologi ilmu). Kepentingan ini berakar dari
88 Richard K. Ashley, “Political Realism and Humant Interests”, International Studies Quarterly 25 (1981), hlm. 208.
kapasitas manusia untuk menjalankan komunikasi pemikiran yang reflektif dalam menjernihkan kebutuhan, pengetahuan dan aturan-aturan; mengarahkan prinsip- prinsip pengetahuan pada kemandirian dan pemahaman terhadap diri sendiri (self- understanding) dengan membawa kesadaran, terutama yang sebelumnya difahami sebagai proses pembentukan diri (self-formative). Kepentingan ini mengacu pada pengetahuan yang berorientasi pada keseluruhan pengetahuan secara kritis.
Ketiga kepentingan di atas mempunyai dasar pengetahuan dalam menentukan keilmiahan SHI sebagai sebuah disiplin ilmu. Ashley berusaha menampilkan SHI sebagai sebuah kajian yang mempunyai pengandaian kritis (reflektif) atas dirinya dan juga berimplikasi pada tatanan praktis analisisnya (merubah dunia). Dalam hal ini, Ashley hanya menekankan pada SHI yang menggunakan pengetahuan kritis (reflektif), yakni pengetahuan yang bertujuan pada kognisi emansipatoris, pembebasan kesadaran atas sebuah fenomena tertentu. Konsekwensinya, SHI tidak serta merta sebagai alat bagi para penguasa, ilmuwan, praktisi, dan para aktor dunia untuk mereplikasi dunia, menguasai dunia, atau mengendalikan, mengontrol dunia, tetapi juga sebagai alat bagi dirinya sendiri untuk refleksi diri sekaligus refleksi diri orang lain (menggugah kesadaran), sehingga membebaskan setiap orang pada aras emansipasi diri: humanisme. Dalam konteks ini pengetahuan tidak sekedar alat saja, tetapi pengetahuan merupakan bagian dari dirinya dalam mengemban visi pembebasan diri, humanisme dan keadilan sosial.
Wacana ketiga dari varian teori internasional kritis merupakan karya pertama Linklater, Beyond Realism and Marxism: Critical Theory and International Relations (1990). Dalam karyanya, Linklater mengadopsi teks rasionalisme Habermas:89 1). Technical-instrumental-rationalization: kontrol terhadap alam. 2). Strategic-instrumental-rationalization: manipulasi dan control manusia atas manusia lainnya di bawah kondisi aktual atau potensial konflik. 3).
Moral-practical-rationalization: konstruksi (perubahan) tatanan global dan konsensus sosial dalam ruang publik (public sphere). Moral-practical-
89 Andrew Linklater, Beyond Realism and Marxism: Critical theory and International Relations, (London: MacMillan Press LTD, 1990).
rationalization dibagi lagi menjadi dua bagian:90 pertama, moral-co-existence- rationalization. Rasionalitas ini adalah nalar moralitas co-existence yang dipahami dengan hubungan antara individu dan masyarakat dunia yang egaliter, yakni memandang diri masing-masing sebagai dirinya yang bebas mengekspresikan dirinya sendiri. Semacam dialog yang membebaskan. Dengan kata lain, dialog ini lebih pada dialog kebudayaan atau peradaban yang berbeda. Dalam kerangka Wilhelm Dilthey,91 konteks dialognya bukan pada dataran analitis (erklären), tetapi dalam konteks saling memahami (sinnverstehen) satu dengan yang lainnya, sehingga tercipta kehidupan yang berdampingan. Kedua, universal moral code- rationalization. Rasionalitas ini adalah nalar moralitas universal. Nalar moralitas ini merupakan proses sekaligus hasil dari konsensus-konsensus bersama yang telah disepakati dari sekian banyak aktor internasional. Aksi-aksi di tatanan internasional ini tidak hanya negara saja, tetapi siapapun (human race) bisa mengeksprsikan diri dan ikut dalam wilayah konsensus itu.
90 Richard Devetak, “Critical theory”, dalam Theories of International Relations, ed. Scott Burchill dan Andrew Linklater, (London: MacMillan Press LTD, 1996), hlm. 162-163. 91 Wilhelm Dilthey, seorang neo-Kantian meneruskan ide Windelband tentang pembagian ilmu antara nomothitic sciences—menghasilkan hukum (nomos) dan ideographic sciences—melukiskan
(graphein), keunikan (ideos). Dia mengistilahkannya dengan geisteswissenschaften dan
naturwissenschaften. Perbedaan keduanya dapat signifikan dalam konteks relevansi nilai
(wertbeziehung), yakni perdebatan nilai (wertulteilsstreit). Dia membuka Habermas jalan untuk refleksi historis dengan menunjukkan berakarnya ilmu pengetahuan pada konteks kehidupan konkrit manusia. Dia memberikan refleksi historis bagi Habermas di bidang interaksi atau tindakan komunikatif manusia—intersubjektif. Pemikirannya yang terkenal: philosophie des lebens, yakni filsafat yang merefleksikan kehidupan sebagai keseluruhan produk manusia seperti seni, pranata- pranata, agama, dan ilmu pengetahuan termasuk di dalamnya, karenanya, ilmu pengetahuan alam juga memiliki kedudukan dalam konteks kehidupan dan tidak terpisah dari kehidupan itu. Perbedaan epistemologi sangat kental dalam ilmu budaya dan ilmu alam, yakni bagaimana subjek melihat objek dan sikapnya terhadap objek. Jika ilmu alam mengkonstruksi pengalaman:
menyusun teori untuk antisipasi peristiwa alamiah; ilmu budaya mentransposisi pengalaman: memindahkan objektivasi-objektivasi mental kembali ke dalam pengalaman reproduktif atau membangkitkan kembali pengalaman-pengalaman secara bersamaan. Dia menekankan pada pemaknaan terhadap karya pengarang sebagai struktur-struktur simbolis (proses karya itu dibuat), bukan struktur-struktur psikis (keadaan psikis tokoh sejarah). Metodenya adalah empati. Oleh sebab itu penelitian model ini mengandaikan analisis kekinian menggunakan cara empati terhadap penghayatan orang-orang masa lalu. Unit analisisnya melihat subjek peneliti dan objek yang diteliti sebagai makluk atau entitas historis. Ketika dia terjebak pada objektivitas, maka dia mengkaitkan ilmu budaya dengan hermenutika dalam studi otobiografi. Singkatnya dia berusaha menunjukkan ilmu histris-hermenutika dengan praxis hidup manusia sehari-hari dengan menghasilkan pengetahuan yang secara praktis bersifat efektif. Lihat F. Budi Hardiman, Kritik Ideologi: pertautan pengetahuan dan kepentingan, (Yogyakarta: Kanisius, 1993).
Berpijak pada klasifikasi rasionalitas ini, Linklater pun berusaha merubah tatanan tatanan dunia yang statis, penuh keterasingan, marginalisasi dan penuh ketimpangan menjadi tatanan dunia yang lebih humanis, komunikatif dan transformatif. SHI berusaha didobrak kebekuannya dari ortodoksi pengetahuan SHI. Oleh karena itu, Linklater secara langsung pun mengkritik realitas politik internasional yang menyebutkan dunia internasional itu terkondisikan anarkhis dan selalu menghadirkan dirinya dalam wajah seram seperti perang, dan kepercayaan terhadap state-centric, yakni negara sebagai unitary actor merupakan suatu unit yang selfish dalam aktivitas perang, atau dalam konstruksi ortodoksi (neo) liberal menampilkan ‘wajah manis’ seperti hubungan interdependensi kompleks, kerjasama hubungan internasional yang otonom, adanya pengusaha atau industrialis yang berperan sebagai ‘santa claus’ dunia dengan membagi- bagikan dana bantuan atau dana hibah dan rejeki internasional, atau pandangan yang semacamnya. Dalam hal ini, Linklater tidak jauh berbeda dengan wacana Ashley yang berusaha menggunakan pengetahuan moral-practical-rationalization
sebagai pengetahuan kritis (reflektif), refleksi diri dalam mengimbangi pengetahuan destruktif: rasio penguasaan alam (sifatnya instrumental) dan rasio penguasaan manusia (sifatnya strategis). Dengan demikian, teks Liklater juga berkepentingan membebaskan setiap individu sebagai warga dunia internasional pada aras emansipasi diri: humanisme nilai-nilai kebebasan dan nilai-nilai keadilan social dunia internasional.
Penjelasan lebih dalam dan detil wacana teori internasional kritis, Linklater terdapat dalam karyanya, The Transformation of Political Community
(1998). Linklater menciptakan wacana yang cukup berbeda dengan wacana
mainstream—(neo) realisme dan (neo) liberalisme dalam membentuk arsitektur tatanan hubungan internasional. Wacana Linklater merupakan pemahaman kritis atas epistemologi neo-realisme sebagai salah satu pendekatan HI yang belum dapat menciptakan tatanan hubungan internasional baru seperti tatanan hubungan yang berwajah komunitas politik internasional. (Neo) realisme masih terkonstruksi dalam wacana inter-state: state is unitary actor and structure determined agens in the anarchical system.
Poin kritis Linklater terhadap wacana neo-realisme: pertama,
merekonstruksi teks negara modern dan teks sistem internasional untuk beralih pada perkembangan level universalitas yang lebih tinggi berupa aras komunitas antara lain etnis, suku, agama, kelokalan, dll –pemahaman multikultualisme. Kedua, mentransformasikan teks komunitas politik yang eklusif menuju tatanan inklusif, sehingga terjadi formasi orde: hormat menghormati antar budaya, antar pemikiran, dan antar tradisi dan sejarah yang berbeda-beda dalam kondisi dunia yang sifatnya universal dan kosmopolitan. Dengan kata lain, bayangan Linklater terhadap dunia internasional atau relasi dalam politik internasional adalah kondisi yang dialektis antara yang particularis (eksklusif) dan yang universalis (inklusif) dalam pertentangan yang konstruktif untuk membangun tatanan keharmonisan dan humanisme dunia internasional yang semakin baik (better world).92Tentunya, secara logis, hal tersebut berkebalikan dengan pemahaman pemikiran HI sebelumnya: kaum (neo) realis yang masih mempercayai monopoli negara atas
power atau monopoli sistem terhadap power dalam menentukan unit negara beserta isinya; kaum (neo) liberalis yang cenderung mempercayai interdependesi kompleks atau rejim internasional sebagai satu-satunya pemegang power; kaum (neo) marxis yang mempercayai buruh atau gerakan sosial, gerakan anti- globalisasi/anti-modernitas sebagai pengandaian kepemilikan power dunia; kaum konstruktivis yang masih memeprcayai negara sebagai subjek perubah sejarah yang konstruktif dan progresif untuk tujuan-tujuan perdamaian dan keamanan dunia internasional.93
Pemikir HI London School of Economy, Martin Wight menjelaskan bahwa SHI adalah ilmu survival, sehingga teorinya pun sangat kompleks dan berusaha terus berubah untuk merubah dunia –sebagai mana prinsip Darwinisme sosial:
survival for the fittes. Pemikir HI Eropa mempunyai kemiripan, sehingga Wight dan Linklater tidak jauh berbeda gagasannya. Linklater berusaha mengkonstruksi
92 Andrew Linklater, The Transformation of Political Community, (UK: Polity Press, 1998), hlm. 16.
93 David A. Baldwin, “Neoliberalism, Neorealism, and World Politics,” dalam Neorealisme and
Neoliberalisme: the Contemporary Debate, diedit oleh David A. Baldwin, (New York: Columbia University Press, 1993). Lihat juga tema-tema yang lainnya seperti pada bab II tentang “Neoliberal Challenge and Neorealist Respon.”
ulang dan memperjuangkan kembali tradisi HI Eropa melalui penjelaskan tentang
the survival of political community. Dalam karya International Theory: the Three Traditions, Wight mengutip gagasannya Bodin untuk menjelaskan tradisi pemikiran Eropa.94 Tidak jauh berbeda dengan Wight, Linklater pun berhutang pada Bodin. Bodin menjelaskan bahwa pertalian sosial antara warga negara dan negara sendiri justru tidak akan menghasilkan keterasingan. Komunitas politik