Dian Emma Chaifa S.Pd., M.Pd.
SMPN 2 Mande Kab. Cianjur, Jawa Barat [email protected]
Abstrak
Penelitian bertujuan untuk mengetahui epistemic belief (EB) peserta didik SMP. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dilakukan pada bulan juli hingga september 2016. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VIII SMP di kota Tangerang yang dipilih secara purposif sampling. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tes pada peserta didik serta wawancara. Hasil penelitian menggambarkan pada indikator simple knowledge, lebih dari 48% peserta didik memiliki keyakinan bahwa pengetahuan dibangun dari kebenaran yang sederhana dan pengetahuan terkait secara sederhana; pada indikator Certain knowledge, lebih dari 45 % peserta didik percaya pengetahuan bersifat pasti. Pada indikator Omnicient, 58% peserta didik meyakini bahwa pengetahuan berasal dari orang yang lebih tahu. Pada indikator Innate Ability, sebanyak lebih dari 50% peserta didik kurang atau tidak setuju jika kecerdasan disebabkan oleh faktor keturunan.
Kata kunci : epistemic belief; peserta didik SMP
Pendahuluan
Proses belajar merupakan sebuah inti dari seluruh kegiatan pendidikan di sekolah bahkan dalam kehidupan manusia secara umum. Menurut Brunner Setiap orang lebih membangun pengetahuannya dengan aktivitas yang kreatif, dibanding menerima pengetahuan dari orang lain (Cam & Omer, 2011). Berkaitan dengan proses belajar ini ternyata berbagai penelitian menemukan bahwa pengetahuan pada individu sangat berkaitan dengan kepercayaan, khususnya kepercayaan epistemologi atau epistemic beliefs (Schommer, 1990; PISA, 2015). Epistemic belief (EB) ini dapat memfasilitasi atau menghambat pemahaman, penalaran, berfikir dan belajar serta prestasi peserta didik (Hofer dan Pintrich, 2001; Conley, Pintrich, Vekiri, dan Harrison, 2004).
Hofer dan Pintrich (2002), menggambarkan kepercayaan epistomologi dalam psikologi pendidikan berkaitan dengan bagaimana pengetahuan pada individu terbentuk, seberapa banyak pengetahuan didapat dan bagaimana pengetahuan dikontruksi serta dievaluasi. Menurut Hofer dan Pintrich, keyakinan tentang pengetahuan dan mengetahui adalah bagian dari proses pembelajaran, dan bagaimana keyakinan ini mempengaruhi atau
107
mengakuisisi pengetahuan dan proses konstruksi pengetahuan. Pengetahuan Apa yang dipikirkan peserta didik dan bagaimana mereka berfikir dan mengetahui, menjadi komponen penting dari pemahaman belajar peserta didik.
Dalam beberapa penelitian telah diketahui bahwa EB memiliki peran dalam belajar, motivasi dan hasil belajar. Misalnya konsepsi peserta didik tentang pengetahuan dan mengetahui terkait dengan berbagaiaspek pembelajaran, seperti penggunaan strategi kognitif dan metakognitif (Hofer, 2004) atau keterlibatan kognitif (Debacer & Crowson, 2005), berfikir kritis (Hyytinena, Holmab, Tooma, Shavelsonc & Ylänne, 2014), pemahaman konseptual (Rebello, Siegel, Witzing, Freyermuth & McClure, 2012), self-efficacy (Nietfeld & Enders, 2003), dan self-regulation selama pemecahan masalah (Muis, 2008).
Pengukuran EB pada peserta didik telah banyak dilakukan dengan berbagai indikator. Harteis, Gruber & Hertramph (2010) mengukur EB dengan 4 indikator yaitu: (a) omniscient authorities, keper- cayaan bahwa pendapat orang yang lebih tahu tidak akan diragukan (misalnya: "Orang tidak harus meragukan guru”). (b) certain knowledge, kepercayaan bahwa penge- tahuan sifatnya pasti (misalnya; "apa yang benar hari ini akan menjadi kenyataan pada esok hari"). (c) quick learning keyakinan bahwa pembelajaran harus terjadi dengan cepat (misalnya "Jika anda tidak belajar sesuatu dengan cepat, anda tidak akan pernah belajar"). (d) simple knowledge, pengetahuan selalu dapat digambarkan dalam bentuk sederhana (misalnya: "Terlalu banyak teori dapat merumitkan"). (e) innate ability, pengetahuan terhubung dengan kemampuan bawaan (misalnya: "potensi intelektual seseorang tetap sejak lahir").
Bendixen, Schraw & Dunkle mengukur EB menggunakan 32 item pernyataan pada 5 skala likert (Wang dkk, 2013), dengan indikator sebagai berikut: (a) simple knowledge: menilai dari pengetahuan terkotak sebagai bit terisolasi hingga pengetahuan sangat terintegrasi dan terjalin. (b) certain knowledge: menilai antara pengetahuan mutlak hingga pengetahuan terus berkembang; (c) innate ability: menilai dari kemampuan untuk belajar bersifat genetik hingga kemampuan untuk belajar diperoleh melalui pengalaman; (d) omniscient authority : menilai dari pengetahuan berasal dari orang yang lebih tahu hingga pengetahuan berasal dari proses berfikir melalui cara objektif dan subjektif (e) quick learning : menilai dari belajaran cepat atau tidak sama sekali hingga belajar sebagai proses bertahap. Kuhn dan Weinstock (2002) mengukuran EB secara deskripsi kualitatif berdasarkan kepada empat indikator yaitu; penegasan, realitas, pengetahuan, dan berfikir kritis, yang selanjutnya
108
menggolongkan EB ke dalam empat level: (1) Realis, (2) Absolut, (3) Multipist, (4) Evaluativist.
Conley dkk (2004), menemukan adanya perbedaan tingkat prestasi pada peserta didik yang memiliki epistemik lebih maju. Berkaitan dengan hal tersebut peran EB sangat strategis karena berkaitan dengan proses pembelajaran dan bagaimana pengetahuan dikontruksi peserta didik. Namun pembelajaran yang terjadi terkadang cendrung abai dengan proses internal termasuk EB peserta didik, pembelajaran juga cendrung menitikberatkan pada hasil belajar. Pembelajaran pada umumnya bertujuan untuk mengkontruksi pengetahuan secara aktif, peserta didik hendaknya hendaknya diajarkan cara berpikir, bekerja, bersikap ilmiah dan mengomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup.
Belum adanya data EB siswa SMP di kota Tangerang menyebabkan pentingnya dilakukan penelitian guna mengeksplorasi EB peserta didik SMP.
Metode
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 23 Kota Tangerang, pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII.
Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena apa adanya tanpa memberi perlakuan tertentu terhadap objek penelitian (Sukmadinata, 2011).
Teknik pengambilan data adalah dengan purposif sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes epistemik belief yang terdiri dari 16 pernyataan dengan 5 skala likert yang diadopsi dari Kusmana (2015) dan pedoman wawancara.
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik tes dan wawancara. Data wawancara digunakan untuk mengkroscek dengan data kuantitatif yang diperoleh melalui tes. Data yang terkumpul kemudian dianalisis. Data yang telah dianalisis selanjutnya dijadikan sebagai dasar dalam penelitian lebih lanjut.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa epistemic belief peserta didik pada setiap indikator tidak terlalu bervariasi.
109
Gambar 1. Sebaran jawaban peserta didik pada indikator Simple knowledge
Hasil analisis indikator simple knowledge, pada pernyataan 1 dan 2, 51,61 % dan 48,39% peserta didik setuju pengetahuan dibangun dan terkait secara sederhana. Pada pernyataan 3 dan 4 peserta didik kurang setuju jika terkait secara rumit. Pada pernyataan 1, sebagian besar peserta didik berpendapat bila pengetahuan dibangun dari kebenaran yang sederhana, namun ada beberapa peserta didik (12,9%) yang kurang setuju akan hal ini. Menurut Bendixen, Scraw & Dunkle peserta didik yang percaya bahwa pengetahuan adalah sederhana akan kurang bersedia berfikir atau mengeksplorasi mengenai solusi kompleks dalam permasalah moral, atau mereka cendrung menata ulang masalah itu dalam tatanan yang lebih sederhana. Bendixen, Scraw & Dunkle berpendapat bahwa ada kaitannnya antara umur, pendidikan dan kemajuan epistemic belief. Berdasar hasil penelitian pendapat peserta didik yang menyatakan pengetahuan dibangun dari kebenaran yang sederhana mungkin dikarenakan faktor umur dan tingkat pendidikan. Hal ini dapat saja berpengaruh karena penelitian ini dilakukan pada peserta didik sekolah menengah pertama. Pada pernyataan 2, hanya sebagian yang kurang setuju bila pengetahuan satu dan yang lainnya terkait secara sederhana (35,48%). Berkaitan dengan hal ini guru dapat merangsang peserta didik dengan berbagai strategi pembelajaran inkuiry agar peserta didik dapat memahami bahwa pengetahuan dibangun dari kebenaran yang sederhana hingga rumit dan terdiri dari konsep yang dapat saling terkait.
Hasil tes pada indikator certain knowledge, 45,16% peserta didik setuju jika kebenaran hari ini akan berlaku selamanya. Sebanyak 61,29% peserta didik setuju jika pengetahuan yang ada hari ini akan berlaku di masa yang akan datang. Berikut ini adalah sebaran jawaban peserta didik pada indikator certain knowledge.
110
Gambar 2. Sebaran jawaban peserta didik pada indikator Certain Knowledge
Sebanyak 50% lebih dan 35 % lebih peserta didik menyatakan kurang setuju jika pengetahuan dan kebenaran yang ada hari ini tidak berlaku di masa yang akan datang. Hasil test menggambarkan bahwa secara umum peserta didik belum menyadari bahwa pengetahuan dapat berubah, walau banyak yang menyadari adanya perbedaan pendapat.
Hasil test untuk indikator Omnicient, pada pernyataan “Kita akan mengetahui suatu hal jika ada yang membimbing” memperlihatkan sebaran jawaban 12,9% peserta didik sangat setuju, 70,97% peserta didik setuju, 16,13% peserta didik kurang setuju. Pada pernyataan 2, sebanyak 29,03 % peserta didik sangat setuju jika orang yang lebih berpengalaman memiliki pengetahuan lebih banyak, 58,06% menyatakan setuju, 12,90% menyatakan kurang setuju. Pada pernyataan 3 dan 4, sebanyak 29% dan 26% peserta didik kurang setuju jika pengetahuan dapat dipelajari dan dialami sendiri. Berikut hasil tes pada indikator Omnicient.
Gambar 3. Sebaran jawaban peserta didik pada indikator Omniscient
Menurut Ghufron (2009), peserta didik yang percaya bahwa pengetahuan berasal dari orang yang mempunyai otoritas tidak akan terlalu banyak bertanya guna memahami materi
111
belajar dan pada akhirnya hanya terikat pada memori atau penghafalan konsep dan cendrung membangun pengetahuannya secara pasif. Hasil test menggambarkan peserta didik masih cendrung bergantung pada orang yang mempunyai otoritas atau pengalaman.
Berdasarkan hasil tes pada indikator Innate Ability sebanyak 29,03% peserta didik kurang setuju bahwa kecerdasan tidak dipengaruhi oleh proses belajar. Berdasarkan hasil test pada pernyataan 1, 2, 3 dan 4 peserta didik percaya bahwa kecerdasan dipengaruhi oleh proses belajar disamping faktor gen atau bawaan. Hal ini terlihat dari pernyataan 3 dan 4, sebagian besar peserta didik kurang setuju jika kecerdasan berasal dari orang tua dan ada sejak manusia dilahirkan. Berikut hasil tes pada indikator Innate Ability.
Gambar 4. Sebaran jawaban peserta didik pada indikator Innate Abilityt
Hal ini merupakan sebuah potensi yang ada pada peserta didik yang percaya bahwa pengetahuan dapat dibangun dari sebuah proses belajar. Hal ini sejalan dengan teori teori belajar yang di usung oleh Piaget bahwa belajar adalah sebuah proses konstruktif (Woolfolk, 2009). Berdasarkan hasil tes tersebut guru dapat terus menanamkan keyakinan peserta didik dan memfasilitasi pembelajaran dengan merangsang keaktifan serta memberikan reward terhadap peserta didik atas kemajuan yang mereka raih dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan indikator simple knowledge, sejumlah besar peserta didik yakin bahwa pengetahuan terdiri dari bagian bagian yang sederhana, dan bukan merupakan berbagai konsep yang terkait rumit. Berdasarkan indikator certain knowledge, hanya sedikit peserta didik yang memahami bahwa pengetahuan merupakan sesutu yang tidak pasti, dapat berubah dan berkembang. Hasil ini menjadi acuan untuk guru dan pendidik agar memberikan strategi pembelajaran yang mengangkat konsep-konsep yang berkaitan atau saling bertentangan
112
sehingga peserta didik dapat memahami bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang terkait dan bersifat tidak pasti.
Pada indikator Omnicient, secara umum peserta didik percaya bahwa pengetahuan berasal dari orang yang lebih tahu atau berpengalaman atau orang yang mempunyai otoritas dalam menyampaikan pengetahuan. Menurut Ghufron (2009), peserta didik yang percaya bahwa pengetahuan berasal dari orang yang mempunyai otoritas tidak akan terlalu banyak bertanya guna memahami materi belajar dan pada akhirnya hanya terikat pada memori atau penghafalan konsep. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa peserta didik memiliki EB bernilai rendah yang dan cendrung membangun pengetahuannnya secara pasif. Untuk mengatasi ketergantungan peserta didik, guru dapat berusaha menyuguhkan strategi pembelajaran seperti inquiry yang merangsang agar peserta didik membangun pengetahuannya secara aktif. Brunner berpendapat bahwa pada dasarnya seseorang cendrung membangun pengetahuannya dengan aktivitas yang kreatif, dibanding menerima pengetahuan dari yang lainnya (Cam & Geban, 2011).
Conley, Pintrich, Vekiri dan Harisson (2001), menemukan bahwa adanya perbedaan tingkat prestasi pada peserta didik yang memiliki epistemik lebih maju, namun perbedaan status sosial dan jenis kelamin serta etnis peserta didik tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan kemajuan epistemik belief. Berkaitan dengan proses pembelajaran, guru perlu mengetahui kondisi EB peserta didik hingga dapat berkonsentrasi membuat kemajuan EB pada semua peserta didik dengan menggunakan strategi yang tepat dalam proses belajar. Berdasarkan penelitian sebelumnya EB peserta didik dari waktu ke waktu dapat berubah positif, hal ini memberikan ruang untuk guru memajukan EB peserta didik sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Simpulan
Epistemic Belief berkaitan dengan bagaimana ilmu pengetahuan di kontruksi oleh peserta didik. Hasil penelitian mengungkap bahwa epistemic belief berkaitan dan menjadi dasar untuk proses pembelajaran selanjutnya. Pentingnya peran psikologi pendidikan hendaknya dimaksimalkan untuk memberikan pelayanan dan memfasilitasi kebutuhan peserta didik.
113
Sukmadinata, N.S. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosadakarya
DeBacker, T. K., & Crowson, H. M. (2006). Influences on Cognitive Engagement: Epistomological beli efs and need for closure. Britis jurnal of Psychology, (Online), 76: 535-551.
Cam’, A., Omer, G. (2011). Effectiveness of Case-Based Learning Instruction on Epistemological Beliefs and Attitudes Toward Chemistry. Journal Science Education Technology, (Online), 20: 26-32.
Conley, A. M., Pintrich, P. R., Vekiri, I., Harrison, D. (2004). Changes in epistemological beliefs in elementary science students. Contemporary Educational Psychology, (Online), 29 : 186 - 204.
Gufron, M., N. (2009). Hubungan antara Kepercayaan Epistemologi dan Pendekatan Belajar: Studi Metaanalisis. Jurnal Psikologi (36): 130-143.
Harteis, C., Gruber, H., & Hertramph, H. (2010). How Epistemic Beliefs Influence E-Learning in Daily Work-life. Journal of Educational Technology and Society. (Online), 13 (3):201 -211. (http://www.sciencedirect.com), diakses 20 Januari 2016.
Hofer, B.K., & Pintrich, P.R. (2002). Personal Epistomology: The Psychology of Beliefs about Knowledge and Knowing, Mahwah. NJ: Lawrence Erlbaum Associates. Hofer B.K. (2004). Epistomological Understanding as a metacognitive process.
Educational Psychologist, 39(1), 43-55.
Kuhn, D. Cheney, R., Weinstock, M. (2000). The Development of Epistemological Understanding. Cognitive Development 15: 309-328. Elsevier.
Joyce, B., Marsha, W., & Emily, C. (2009). Models of Teaching. Terjemahan Ahmad Fawaid & Ateilla, M. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
PISA. (2015). Assessment and Analytical Framework: Science, Reading, Mathematic and Financial Literacy, PISA, OECD Publishing, Paris
114
Rebello, C. M., Siegel, M. A., Witzig, S. B., Freyermunth, S. K., & McClure, B. A. (2012). Epistemic Beliefs and Conceptual Understanding in Biotechnology : A case Study. Science Education, (Online), 42: 353-371,
Rizk, N., Jaber, L., Halwany, S. & Boujaoude S. (2012). Epistemological Beliefs in Science: An Exploratory. Study of Lebanese University Students’ Epistemologies. International Journal of Science and Mathematics Education . (Online), (http://www.springer.com), 10: 473. diakses 20 Januari 2016.
Schommer, M. (1990). Effect of Beliefs About The Nature of Knowledge on Comprehension. Journal of Educational Psychology, 82(3); 498-504
Wang, X., Zhang, Z., Zhang, X., Hou, D. (2013). Validation of Chinese Version of The Epistemic Beliefs Inventory Using Confirmatory Factor Analysis. International Education Studies 6(8): 98-111.
Woolfolk, Anita. (2009). Education Psychology. Terjemahan Helly Prajitno S dan Sri Mulyantini S. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
115