Kesimpulan Terakhir
3.10 Jadwal Penelitian
4.1.11 Profil Jakarta Pusat
Gambar 4.1
(Sumber: Gambar Peta Jakarta, 2016)
Provinsi DKI Jakarta terdiri dari lima (5) wilayah Kota Administrasi dan satu Kabupaten Administrasi. Lima wilayah Kota Administrasi yaitu Kota Administrasi Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat dan Jakarta Timur. Sedangkan satu (1) Kabupaten Administrasi yaitu Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu yang terletak di sebelah utara Jakarta Utara.
Pemerintahan Povinsi DKI Jakarta merupakan Daerah khusus Ibukota (DKI) karena tidak hanya sebagai daerah otonom pada tingkat Provinsi tetapi juga karena fungsinya sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini tertuang dalam Pasal 4 UU No 29 tahun 2009 tentang fungsi rangkap Jakarta sebagai Provinsi dan sebagai Ibukota NKRI. Perangkat Daerah Provinsi DKI Jakarta terdiri dari beberapa perangkat pemerintahan yaitu Sekretariat Daerah (Sekda), Sekretariat DPRD, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Kota Administrasi/Kota Administrasi, Kecamatan dan Kelurahan.
Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat sendiri merupakan Perangkat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dalam tugas sehari-harinya dipimpin oleh Walikota yang sekarang sedang menjabat yaitu, Drs. Mangara Pardede, M.Si yang bertanggung jawab penuh kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah (Sekda). Tugas dari Walikota tersebut itu adalah melaksanakan tugas umum pemerintahan dan melaksanakan sebagian tugas pemerintah yang diberikan oleh Gubernur. Jadi di sini kita harus membedakan antara DKI Jakarta dengan Jakarta Pusat, DKI Jakarta dipimpin oleh seorang Gubernur sedangkan Jakarta Pusat dipimpin oleh Walikota.
Jakarta Pusat adalah kota administrasi terkecil di Provinsi DKI Jakarta dibandingkan dengan Kota Administrasi yang lain seperti Kota Administrasi Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat atau Jakarta Timur. Pada zaman Hindia Belanda Jakarta Pusat disebut dengan nama Batavia Centrum atau Batavia Pusat. Pusat pemerintahan Kota Administrasi Jakarta Pusat ini terletak di Menteng.
Karena wilayahnya yang sangat strategis di jantung ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka Kota Administrasi Jakarta Pusat memiliki kekhususan tersendiri dibandingkan dengan wilayah lainnya, salah satunya banyak terdapat kantor pemerintahan baik kantor pemerintahan dalam negeri maupun luar negeri atau kantor perwakilan pemerintah asing. Untuk itu Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat secara terus-menerus melakukan pembenahan, baik dari segi aspek fisik, sosial maupun perekonomian agar semakin cantik dilihat oleh dunia.
Jakarta Pusat terletak di tengah-tengah alias dikelilingi oleh Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat dan Jakarta Timur dengan luas wilayah 50.2 km persegi. Secara astronomis atau secara sistem koordinat, posisi Jakarta Pusat terletak di Koordinat: 6°12'-46.91" Lintang Utara dan 106°50'-26.4" Bujur Timur. Jakarta Pusat dibelah secara simetris (pas di tengah-tengah) oleh Kali Ciliwung mulai dari Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi DKI Jakarta 2013). Di Lokasi ini memang terdapat pintu air Manggarai. Pintu air Manggarai ini merupakan bagian dari pengendalian banjir Kali Ciliwung dengan membelokan
atau mengalihkan sebagian aliran Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Barat yang bermuara di daerah Pluit. Sebagian aliran lagi masih mengalir melewati Kota Jakarta Pusat. Tempat-tempat di Jakarta Pusat yang dilalui Kali Ciliwung ini antara lain RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Planetarium Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Masjid Istiqlal, Pasar Baru, dan sepanjang jalan Gunung Sahari menuju utara sampai akhirnya bermuara di Ancol (Laut Jawa).
Menyoroti kota administrasi yang menjadi pusat pemerintahan di DKI Jakarta adalah Kota administrasi Jakarta Pusat yang mempunyai luas 47,90 km2. Jumlah penduduk pria berjumlah 458.287 jiwa, wanita 459.467 jiwa, dan total keseluruhan adalah 917.754 jiwa. Di antara total keseluruhan penduduk Jakarta Pusat, 33% di antaranya adalah usia anak (0 - 18 tahun) berjumlah 272.249 jiwa, wanita 132.301 jiwa, dan pria berjumlah 139.948 jiwa.
Dengan jumlah delapan Kecamatan yaitu Kecamatan Senen memiliki 6 Kelurahan, Gambir memiliki 6 Kelurahan, Tanah Abang memiliki 7 kelurahan, Menteng memiliki 5 Kelurahan, Cempaka Putih memiliki 3 Kelurahan, Kemayoran memiliki 8 Kelurahan, Johar Baru memiliki 4 Kelurahan, dan Sawah Besar memiliki 5 Kelurahan . Total Kelurahan di masing-masing Kecamatan ada 44 Kelurahan (Dinas Penduduk dan Catatan Sipil DKI Jakarta 2016). Berikut daftar nama-nama Kelurahan di setiap Kecamatan yang ada di Jakarta Pusat.
Tabel 4.1
Daftar Kelurahan dan Kecamatan di Jakarta Pusat Tahun 2016
Kel Kec
GAMBIR TANAH ABANG
MENTENG SENEN KEMAYORAN SAWAH BESAR CEMPAKA PUTIH JOHAR BARU 1 Gambir Bendungan Hilir (Benhil)
Menteng Senen Gunung Sahari Selatan
Pasar Baru Cempaka Putih Timur Galur 2 Kebon Kelapa Karet Tengsin Pegang- Saan
Kwitang Kemayoran Gunung Sahari Utara Cempaka Putih Barat Tanah Tinggi 3 Petojo Selatan Kebon Melati
Cikini Kenari Kebon Kosong Mangga Dua Selatan
Rawasari Kampung Rawa
4 Duri Pulo Kebon Kacang
Kebon Sirih Paseban Harapan Mulya Karang Anyar Johar Baru 5 Cideng Kampung Bali Gondang- Dia
Kramat Cempaka Baru Kartini
6 Petojo Utara
Petamburan Bungur Utan Panjang
7 Gelora Sumur Batu
8 Serdang
(Sumber: Dinas Penduduk dan Catatan Sipil DKI Jakarta 2016)
Deskripsi data penelitian merupakan penjelasan mengenai data yang telah didapatkan dari hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, selama proses penelitan berlangsung. Dalam penelitian mengenai Evaluasi Peraturan Gubernur Nomor 196 Tahun 2015 Tentang Ruang Publik Terpadu Ramah Anak di Jakarta Pusat menggunakan Teori Evaluasi Kebijakan menurut James Anderson (dalam Winarno 2008: 230), yang meliputi:
1. Fungsional 2. Fokus 3. Sistematis
Adapun data yang peneliti dapatkan lebih banyak berupa kata-kata, kalimat, dan pembangunan RPTRA di kota administrasi Jakarta Pusat, baik dari hasil wawancara dengan informan penelitian, hasil observasi di lapangan, catatan lapangan penelitian, atau hasil dokumentasi lainnya yang relevan dengan fokus penelitian ini. Proses pencarian dan pengumpulan data yang dilakukan peneliti secara investigasi, dimana peneliti melakukan wawancara dengan sejumlah informan yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian ini, sehingga peneliti mendapatkan informasi sesuai dengan yang diharapkan. Peneliti telah menentukan informan dari awal dengan menggunakan teknik Purposive. Walaupun demikian dalam pelaksanaan penelitian di lapangan nanti, tidak menutup kemungkinan peneliti nanti juga akan menggunakan teknik Snowball,
yaitu jumlah informan akan bertambah sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian. Penggunaan teknik tersebut disesuaikan dengan kondisi atau situasi yang ada di lapangan.
Data-data yang peneliti dapatkan adalah data yang berkaitan dengan evaluasi pembangunan dan pelaksanaan RPTRA di Jakarta Pusat, dimana segala peraturan tentang pembangunan dan pelaksanaanya tertera di Peraturan Gubernur Nomor 196 Tahun 2015. Hasil yang diperoleh dari wawancara, observasi lapangan, dan kajian pustaka kemudian dibentuk secara tertulis dengan dibentuk pola serta dibuat kode-kode pada aspek tertentu berdasarkan jawaban-jawaban yang sama dan berkaitan dengan pembahasan, permasalahan penelitian serta dilakukan kategorisasi. Dalam menyusun jawaban hasil wawancara, peneliti memberikan kode-kode sebagai berikut:
1. Kode Q untuk menunjukan item pertanyaan 2. Kode A untuk menunjukan item jawaban
3. I1 untuk menujukan Gubernur DKI Jakarta selaku pembuat dan penanggungjawab kebijakan Peraturan Gubernur
4. I2-1 untuk menunjukan Tim Penggerak Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi DKI Jakarta selaku Tim Pembina RPTRA
5. I2-2 untuk menujukan Sudin Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Kota Administrasi Jakarta Pusat selaku Tim Pengelola RPTRA
6. I2-3 untuk menunjukan Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Pusat selaku anggota Tim Pengelola RPTRA
7. I2-4 untuk menunjukan Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Administrasi Jakarta Pusat selaku anggota Tim Pengelola RPTRA
8. I2-5 untuk menunjukan Suku Dinas Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Pusat selaku anggota Tim Pengelola RPTRA
9. I2-6 untuk menunjukan Suku Dinas Komunikasi Informasi Masyarakat Kota Administrasi Jakarta Pusat selaku anggota Tim Pengelola RPTRA
10.I2-7 untuk menunjukan Suku Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Administrasi Jakarta Pusat selaku anggota Tim Pengelola RPTRA
11.I2-8 untuk menunjukan Suku Dinas Perumahan dan Gedung Pemda Kota Administrasi Jakarta Pusat selaku anggota Tim Pengelola RPTRA
12.I3-1a - I3-1h untuk menunjukan masyarakat (orangtua/anak-anak/tokoh masyarakat/tokoh agama) sekitar di Kelurahan Jakarta Pusat yang sudah dibangun RPTRA
13.I3-2a - I3-2h untuk menunjukan pengelola RPTRA di Kelurahan Jakarta Pusat yang sudah dibangun RPTRA
14.I3-3a , I3-3c, I3-3f, I3-3h untuk menunjukan staff kelurahan pengelola RPTRA di Kelurahan Jakarta Pusat yang sudah dibangun RPTRA
15.I4-1a – I4-1d untuk menunjukan staff kelurahan di Jakarta Pusat yang belum dibangun RPTRA
16.I5-1 untuk menunjukan Yayasan Sahabat Anak selaku komunitas yang bergerak dibidang anak