BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI
C. DAS Brantas Hilir
3.11 PROGRAM TERKAIT DAS BRANTAS YANG DILAKSANAKAN JASA TIRTA
merupakan sumber air yang cukup penting bagi kota Surabaya dan sekitarnya. Air dari Kali Surabaya digunakan untuk berbagai keperluan seperti irigasi, air minum, air industri dan penggelontoran. Kali Surabaya di daerah Wonokromo kembali terpecah menjadi dua yaitu Kali Mas yang membelah kota Surabaya serta Kali Wonokromo. (Sumber: http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-15568-3107205714-Chapter1.pdf, diakses tanggal 22 Juni 2012)
Produksi kelimpahan gula dan tembakau dari Lembah Brantas telah menyebabkan lahirnya lembaga ekonomi modern, seperti bank, asuransi, dan ekspor-impor perusahaan. Aktivitas potensial dan ekonomi yang tinggi di kota membuat pendatang asing lebih tertarik untuk memulai bisnis atau bekerja, dan kemudian menetap di Kota Surabaya.
(Sumber: http://www.surabaya.go.id/profilkota/index.php?id=81, diakses tanggal 22 Juni 2012)
Hunian liar merupakan rumah kumuh yang dibangun di atas tanah yang tidak diperuntukkan untuk bangunan (misalnya daerah bantaran sungai). Lokasi hunian liar di Kota Surabaya di antaranya terdapat di bantaran sungai Kalimas, daerah Benowo dan Rungkut yang didominasi oleh perindustrian. Perumahan kumuh di daerah slum, penanganan dilakukan dengan memberikan stimulan pada masyarakat dalam upaya perbaikan lingkungan jika kawasan itu berpotensi untuk kawasan komersial. Disamping itu juga dilakukan secara persuasif dan bertahap dengan berorientasi pada upaya resettlement bagi masyarakat setempat untuk perumahan kumuh pada kawasan bantaran sungai atau saluran, tepi rel kereta api dan tempat-tempat yang belum termanfaatkan lainnya.
Pengamanan daerah aliran sungai di Surabaya adalah terkait dengan Sungai Surabaya, dan Sungai Kali Mas. Sungai-sungai yang mengalir mempunyai fungsi yang cukup penting antara lain sebagai air baku bagi PDAM, penyalur banjir dan pengisi air tanah. Mengingat fungsinya tersebut maka perlu untuk dipertahankan kondisi fisiknya. Dengan demikian sempadan sungai harus bebas dari permukiman sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung bahwa untuk sungai di kawasan permukiman sempadan sungai diperkirakan cukup dibangun jalan inspeksi berkisar 10 sampai dengan 15 meter.
3.11 PROGRAM TERKAIT DAS BRANTAS YANG DILAKSANAKAN JASA TIRTA
Dalam melakukan sebagian tugas pengelolaan sumber daya air (SDA) yang meliputi pemeliharaan prasarana SDA, Perum Jasa Tirta I berpedoman pada konsepsi pengembangan wilayah sungai yang telah disusun, yaitu sebagai berikut:
KAJIAN ANALISA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI EKOSISTEM DAS DALAM MENUNJANG KETAHANAN AIR DAN KETAHANAN PANGAN
3
Sumber:http://www.jasatirta1.co.id/wilker.php?subaction=showfull&id=1335365364&archive=&start_from=&ucat=6& (diakses tanggal 27 Juni 2012)
Gambar 3. 41 Konsep Pengembangan Wilayah Sungai Kali Brantas
Wilayah Sungai Brantas memiliki 5 Waduk Tahunan yaitu Waduk Sutami, Waduk Lahor, Waduk Wonorejo, Waduk Selorejo dan Waduk Bening. Ketersediaan air di Wilayah Sungai Kali Brantas sangat dipengaruhi oleh kondisi tampungan air di Waduk waduk tersebut. Berikut adalah program terkait DAS Brantas yang dilakukan oleh Jasa Tirta: (sumber: http://www.jasatirta1.co.id, diakses tanggal 27 Juni 2012)
3.11.1 Pengerukan Sedimentasi
Akibat sedimentasi pada Waduk Sengguruh dan Sutami, tampungan efektif kedua waduk tersebut dapat semakin berkurang. Bila berlarut, fungsi Waduk Sengguruh dan khususnya Waduk Sutami sebagai pengendali pasokan air DAS Brantas untuk pengendalian banjir, pembangkitan energi, irigasi, air baku industri/domestik dan lain lain akan terganggu. Hal ini dapat mengancam pertumbuhan ekonomi di DAS Brantas, bahkan Provinsi Jawa Timur.
Demikian pula kondisi Waduk Selorejo, Wlingi, Lodoyo dan Wonorejo. Perubahan tata guna lahan pada daerah tangkapan air menyebabkan terjadi sedimentasi lebih cepat dari rencana. Saat ini kapasitas tampungan Waduk Selorejo sebesar 339,59 juta m3 (63,5% dari kapasitas tampungan awal; data pengukuran tahun 2009), Waduk Wlingi sebesar 4,49 juta m3 (18,7% dari kapasitas tampungan
awal; data pengukuran tahun 2010), Waduk Lodoyo sebesar 2,66 juta m3 (51,2% dari
kapasitas tampungan awal; data pengukuran tahun 2010), dan Waduk Wonorejo sebesar 109,62 juta m3 (89,8% dari kapasitas tampungan awal; data pengukuran tahun 2008).
KAJIAN ANALISA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI EKOSISTEM DAS DALAM MENUNJANG KETAHANAN AIR DAN KETAHANAN PANGAN
3
3.11.2 Kegiatan Penanaman Vegetasi
Pertambahan jumlah penduduk berserta perkembangan aktifitas didalamnya turut mendorong terjadinya penurunan luasan hutan serta peningkatan luasan tanah yang berpotensi menimbulkan erosi dan sedimentasi. Kerusakan hutan dan lahan juga menyebabkan peningkatan jumlah DAS kritis di Indonesia yang pada akhirnya akan mempengaruhi ketahanan pangan nasional. Sesuai data dari Dinas Kehutanan Prop. Jawa Timur (2007) untuk DAS Brantas luas lahan kritis aktual di luar kawasan hutan (Prioritas 1) adalah 86.320 ha.
PJT I melakukan kerjasama dengan instansi pemerintah yaitu Dinas Kehutanan Kabupaten Malang, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Mojokerto, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota dan instansi lainnya. Dengan institusi pendidikan dan LSM diantaranya adalah Unibraw Malang, Universitas Muhammadiyah, Universitas Negeri Malang dan perguruan tinggi lainnya. Selama kurun waktu 2011 PJT I telah melakukan kegiatan penghijauan dengan penanaman sebanyak 1.377.728 bibit yang dilakukan baik internal PJT I maupun kerja sama dengan pihak eksternal.
3.11.3 Pembibitan (Laboratorium Kultur Jaringan)
Laboratorium KulturJaringan, kebun bibit dan tanaman botani merupakan sarana yang dimiliki Perum Jasa Tirta I untuk penyediaan bibit dalam rangka pelestarian daerah aliran sungai dan sekaligus fasilitas edukasi lingkungan bagi kalangan pelajar. LKJ dan kebun bibit berada di Jalan Bendungan Sengguruh Malang No.32 dengan luas area sekitar 6.000 m2. LKJ berfungsi untuk memproduksi bibit dalam jumlah besar dengan menerapkan proses bioteknologi pada lingkungan aseptik, selanjutnya untuk mengembangkan aspek pendidikan lingkungan sejak usia dini, pada tahun 2005 dibuka
Taman Botani. Untuk Tanaman Botani berada pada tanah seluas 1.000 m2 dan
berlokasi di jalan Bendungan Wonogiri Malang.
3.11.4 Penyuluhan dalam Kegiatan JKPKA
PJT I melakukan pendekatan pengelolaan lingkungan dengan mengajak para pendidik untuk mengajarkan pendidikan lingkungan di kalangan siswa melalui kegiatan Jaring jaring Komunikasi Pemantauan Kualitas Air (JKPKA) yang terbentuk pada tanggal 24 Juni 2007. Pada awalnya JKPKA terdiri dari 28 SMU di DAS Kali Brantas. Pada tahun 2011 anggota JKPKA untuk DAS Kali Brantas telah mencapai 85 SMU.
KAJIAN ANALISA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI EKOSISTEM DAS DALAM MENUNJANG KETAHANAN AIR DAN KETAHANAN PANGAN
3
Kegiatan JKPKA adalah sebagai berikut:
Pelatihan Guru dalam rangka mengintegrasikan materi pendidikan lingkungan hidup pada mata pelajaran di sekolah.
Wisata Bloassement yang dilakukan di sekolah-sekolah anggota JKPKA.
Menyusun Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yaitu petunjuk kegiatan yang berisi langkah langkah dalam melakukan pemantauan kualitas air untuk mata pelajaran biologi, kimia, ekonomi dan geografi.
Mengadakan lomba pelestarian SDA seperti lomba KTI, Pemantauan kualitas air,
lomba poster, lomba fotografi lingkungan, lomba kreasi lingkungan, lomba maskot JKPKA dll.
Kegiatan Temu Ilmiah yaitu pertemuan rutin untuk membahas program dari
kegiatan JKPKA.
Kegiatan penghijauan di sekolah dan di sekitar lingkungan sekolah.
KAJIAN ANALISA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI EKOSISTEM DAS DALAM MENUNJANG KETAHANAN AIR DAN KETAHANAN PANGAN