• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur Pengelolaan Pengaduan Pengguna Layanan

PONED I SOP Rawat Jalan, terdiri dari

B. Indeks Kepuasan Masyarakat

2.1.2.3. Prosedur Pengelolaan Pengaduan Pengguna Layanan

Puskesmas mempunyai sistim dan prosedur/pola penanganan pengaduan pengguna layanan dengan minimal menyediakan kotak saran beserta alat tulisnya di setiap ruang pelayanan, mengelola pengaduan pengguna layanan dan menindaklanjuti pengaduan yang ada sesuai dengan prosedur yang ada dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2012 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Unit Pelayanan Publik.

Menurut Peraturan Menteri PAN-RB Nomor 13 Tahun 2009 tentang Pedoman Peningkatan Kualitas Pelayanan dengan Partisipasi Masyarakat maka pada standar pengelolaan pengaduan pengguna layanan:

1. Sarana mempunyai kotak pengaduan, jalur/alur pengaduan dan alat tulis. 2. Mempunyai sistim/prosedur pengelolaan pengaduan pengguna layanan.

3. Ada petugas khusus/unit yang menangani pengelolaan pengaduan lisan maupun tertulis.

4. Ada pencatatan dan rencana tindak lanjut terhadap pengaduan.

5. Persentase pengaduan yang masuk dan dapat diselesaikan tinggi/lebih dari 80%. 2.1.2.4. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)

Masyarakat yang menerima pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan dan pengunjung Puskesmas dihadapkan pada risiko terjadinya infeksi, baik karena perawatan atau datang berkunjung ke Puskesmas, oleh karena itu semua fasilitas pelayanan kesehatan harus melaksanakan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi.

Tim PPI yang ditetapkan dengan SK Kepala Puskesmas, bertanggung jawab langsung kepada kepala Puskesmas. Tim PPI terdiri dari:

1. Ketua : Dokter yang telah mengikuti pelatihan PPI

2. Sekretaris : perawat/bidan senior, minimal D3 yang telah mengikuti pelatihan PPI

3. Anggota, dapat terdiri dari : a) Perawat b) Bidan c) Tenaga Laboratorium d) Farmasi e) Sanitasi f) Petugas Kebersihan

Tugas Tim PPI:

1. Melakukan sosialisasi PPI agar kebijakan dapat dipahami dan dilaksanakan oleh petugas Puskesmas.

2. Membuat SOP PPI.

3. Menyusun dan mengevaluasi pelaksanaan PPI dan program diklatnya. 4. Memberikan konsultasi pada petugas Puskesmas.

5. Memberikan masukan yang menyangkut konstruksi bangunan dan pengadaan alat dan bahan kesehatan, renovasi ruangan, cara pemrosesan alat, penyimpanan alat dan linen sesuai dengan prinsip PPI.

6. Melakukan pengawasan terhadap tindakan yang menyimpang dari standar prosedur/monitoring surveilans proses.

7. Melakukan pengamatan PPI Puskesmas dengan menggunakan Daftar Tilik Pemantauan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi.

Kewaspadaan Standar untuk pelayanan semua pasien, meliputi:

1.

Kebersihan tangan/Hand hygiene.

2.

Alat Pelindung Diri (APD) set, terdiri dari sarung tangan, masker, kaca mata goggle (kaca mata pelindung), face shield (pelindung wajah), respirator, gaun/apron, sepatu tertutup.

3.

Peralatan perawatan pasien.

4.

Pengendalian lingkungan.

5.

Penatalaksanaan linen.

6.

Kesehatan karyawan.

7.

Penempatan pasien.

8.

Higiene respirasi/etika batuk dan bersin.

9.

Praktek menyuntik yang aman.

Tabel 2.8. Daftar Kewaspadaan Standar 1. Kebersihan

tangan  Kuku harus selalu terpotong pendek, tidak memakai perhiasan dan tidak boleh memakai kuku palsu, saat merawat pasien.

 Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir harus dilakukan dengan 6 (enam) langkah pada saat:

- Sebelum dan setelah melepas sarung tangan.

- Sebelum tindakan aseptis: pemasangan kateter intravena, kateter urin dan vaskuler perifer.

- Sebelum dan setelah kontak langsung dengan kulit pasien saat merawat.

- Bila tangan beralih dari area tubuh terkontaminasi menuju area bersih, termasuk perawatan pasien yang sama.

- Setelah menyentuh darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi, kulit yang tidak utuh, ganti verband, walaupun telah memakai sarung tangan. - Bila tangan tampak kotor, mengandung bahan berprotein, cairan

tubuh, cuci tangan dengan sabun biasa/antimikroba dengan air mengalir .

- Setelah kontak dengan lingkungan dan benda mati (alat medik, tempat tidur, meja, saklar lampu) di area pasien.

- Setelah makan, minum dan menggunakan toilet. - Setelah menyentuh cairan tubuh pasien.

- Bila kontak dengan diduga spora, karena Alkohol, Klorhexidin, Iodofor aktifitasnya lemah terhadap spora

- Sebelum keluar ruangan pasien, setelah melepas dan membuang APD

 Cuci tangan bisa dilakukan dengan sabun dan air mengalir atau dengan alkohol handrub. (Bila tangan tidak tampak kotor)

2. Alat Pelindung Diri (APD) : a. Sarung tangan b. Masker c. Kaca mata pelindung d. Pelindung wajah e. Gaun f. Sepatu tertutup

Gunakan APD sesuai ukuran dan jenis tindakan

Gunakan APD yang sesuai, bila ada kemungkinan terkontaminasi darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi dan bahan terkontaminasi, mukus membran dan kulit yang tidak utuh, kulit utuh yang potensial terkontaminasi

Pakai sarung tangan sekali pakai, saat merawat pasien langsung.

Pakai sarung tangan sekali pakai atau pakai ulang untuk membersihkan lingkungan (bila daur ulang, harus ada tes fungsi sebelum digunakan). Lepaskan sarung tangan segera setelah selesai, sebelum menyentuh

benda dan permukaan yang tidak terkontaminasi, sebelum beralih ke pasien lain.

Jangan memakai sarung tangan yang sama untuk pasien yang berbeda. Gantilah sarung tangan bila tangan berpindah dari area tubuh

terkontaminasi ke area bersih

Pakailah kaca mata goggle untuk melindungi konjungtiva, mukus membran mata, hidung, mulut selama melaksanakan prosedur dan aktifitas perawatan pasien yang berisiko terjadi cipratan/semprotan dari darah, cairan tubuh, sekresi dan ekskresi

Secara umum, dapat digunakan masker bedah untuk mencegah transmisi melalui partikel besar dari droplet saat kontak erat (<3 m) dari pasien saat batuk/bersin. Pakailah selama tindakan yang menimbulkan aerosol walaupun pada pasien tidak diduga infeksi

Kenakan gaun (bersih, tidak steril ) untuk melindungi kulit, mencegah baju menjadi kotor, kulit terkontaminasi selama prosedur/merawat pasien yang memungkinkan terjadinya percikan/semprotan cairan tubuh pasien

Bila gaun tembus cairan, perlu dilapisi apron tahan cairan mengantisipasi semprotan/cipratan cairan infeksius.

Pakailah sepatu boot untuk melindungi kaki dari cipratan/semprotan dari darah, cairan tubuh, sekresi dan ekskresi.

3.Peralatan

perawatan pasien (kategori IB )

Buat Standar Prosedur Operasional untuk menampung, transportasi, pengelolaan peralatan yang mungkin terkontaminasi darah atau cairan tubuh.

Lepaskan bahan organik dari peralatan dengan bahan pembersih yang sesuai sebelum di Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT) atau disterilkan. Tangani peralatan pasien yang terkena darah, cairan tubuh, sekresi,

ekskresi dengan benar sehingga kulit dan mukus membran terlindungi, cegah baju terkontaminasi, cegah transfer mikroba ke pasien lain dan lingkungan.

Pastikan peralatan yang telah dipakai untuk pasien infeksius telah dibersihkan dan tidak dipakai untuk pasien lain. Pastikan peralatan sekali pakai dibuang dan dimusnahkan dengan cara yang benar dan peralatan pakai ulang, diproses dengan benar.

Peralatan yang terkontaminasi didisinfeksi setelah dipakai dan selanjutnya di DTT atau sterilisasi sesuai kebutuhan.

Permukaan peralatan yang besar (X ray), di lap dengan cairan disinfektan, setelah keluar dari ruangan isolasi meskipun tidak tampak kotor.

Bersihkan dan desinfeksi yang benar peralatan terapi pernapasan terutama setelah dipakai pasien infeksi saluran napas, bila perlu memakai sungkup disposable

Alat makan dicuci dengan detergen tiap setelah makan. Benda disposable dibuang ketempat sampah

4.Pengendalian

lingkungan Fasilitas kesehatan harus membuat dan melaksanakan prosedur rutin untuk pembersihan, desinfeksi permukaan lingkungan, tempat tidur, peralatan disamping tempat tidur dan pinggirannya, permukaan yang sering tersentuh dan pastikan kegiatan ini dimonitor (diawasi secara rutin dan berkala).

Pembersihan harus mengawali desinfeksi. Benda dan permukaan tidak dapat didesinfeksi sebelum dibersihkan dari bahan organik (ekskresi, sekresi pasien, kotoran).

Pembersihan ditujukan untuk mencegah aerosolisasi, sehingga menurunkan pencemaran lingkungan.

Fasilitas kesehatan harus mempunyai desinfektan standar untuk menghilangkan patogen secara signifikan, pada permukaan terkontaminasi, sehingga memutuskan rantai penularan penyakit. Desinfeksi adalah membunuh secara fisikal dan kimiawi

mikroorganisme, tidak termasuk spora. Disinfektan yang biasa dipakai:

Na Hipoklorit (Pemutih), Alkohol, komponen Fenol, komponen Ammonium Quarternary, komponen Peroksigen. Ikuti aturan pakai pabrik cairan desinfektan, waktu kontak, dan cara pengencerannya.

Pembersihan area sekitar pasien:

Pembersihan permukaan horisontal sekitar pasien harus dilakukan secara rutin setiap hari dan lebih teliti setiap pasien pulang.

Untuk mencegah aerosolisasi patogen infeksi saluran napas, hindari sapu, tapi gunakan cara basah (kain basah).

Ganti cairan pembersih, lap kain, kepala mop setelah dipakai (terkontaminasi)

Peralatan pembersih harus dibersihkan, dikeringkan tiap kali setelah pakai. Mop dicuci, dikeringkan tiap hari sebelum disimpan dan dipakai kembali.

Untuk mempermudah pembersihan bebaskan area pasien dari benda-benda/peralatan yang tidak perlu.

Jangan lakukan fogging dengan disinfektan, tidak terbukti mengendalikan infeksi, dan bisa berbahaya.

Pembersihan dapat dibantu dengan vacuum cleaner (pakai filter, HEPA). Jangan memasang karpet.

5. an Linen

Penanganan, transportasi dan proses linen yang terkena darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi harus dilakukan dengan prosedur yang benar untuk mencegah kulit, mukus membran terekspos dan terkontaminasi linen, atau terjadi transfer mikroba ke pasien lain, petugas dan lingkungan.

Buang terlebih dahulu kotoran (misal: faeces), ke toilet dan letakkan linen dalam kantong linen.

Hindari menyortir linen di ruang rawat pasien. Jangan memanipulasi linen terkontaminasi untuk hindari kontaminasi terhadap udara, permukaan dan orang.

Cuci dan keringkan linen sesuai SOP. Dengan air panas 70oC, minimal 25 menit. Bila dipakai suhu < 70oC pilih zat kimia yang sesuai.

Pastikan kantong tidak bocor dan lepas ikatan selama transportasi. Kantong tidak perlu ganda.

6. Kesehatan

karyawan  Setiap petugas harus waspada dalam bekerja, untuk mencegah terjadinya luka/cedera saat melakukan tindakan menggunakan jarum, scalpel dan alat tajam lain, setelah melakukan prosedur, saat membersihkan instrumen dan saat membuang jarum.

Jangan tutup/recap jarum yang telah dipakai, memanipulasi jarum dengan tangan, menekuk jarum, mematahkan, melepas jarum dari spuit. Buang jarum, spuit, pisau scalpel, dan peralatan tajam habis pakai kedalam wadah tahan tusukan/safety box sebelum dibuang ke insinerator.

Pakai mouthpiece, resusitasi bag atau peralatan ventilasi lain pengganti metoda resusitasi mulut ke mulut.

Jangan mengarahkan bagian tajam jarum ke bagian tubuh, selain akan menyuntik.

7.Penempatan

Pasien Tempatkan pasien yang potensial mengkontaminasi lingkungan atau yang tidak dapat diharapkan menjaga kebersihan kedalam ruang rawat yang terpisah.

Bila ruang isolasi tidak memungkinkan, upayakan agar prinsip pemisahan tetap terjadi.

Cara penempatan sesuai jenis kewaspadaan terhadap transmisi infeksi 8.Hygiene respirasi

/Etika batuk Mengendalikan penyebaran patogen dari pasien yang terinfeksi untuk transmisi kepada kontak yang tidak terlindungi. Untuk penyakit yang ditransmisikan melalui droplet besar dan atau droplet nuklei maka etika batuk harus diterapkan kepada semua individu dengan gejala gangguan pada saluran napas.

Pasien, petugas, pengunjung dengan gejala infeksi saluran napas harus: Menutup mulut dan hidung dengan lengan atas saat batuk atau bersin. Pakai tisu, saputangan, masker kain/medis bila tersedia, buang ke tempat

sampah (yang terlebih dahulu dilapisi kantong plastik) tertutup. Lakukan cuci tangan sesuai standar.

Manajemen fasilitas kesehatan harus promosi higiene respirasi/etika batuk: Promosi kepada semua petugas, pasien, keluarga dengan infeksi saluran

napas dengan demam.

Edukasi petugas, pasien, keluarga, pengunjung akan pentingnya kandungan aerosol dan sekresi dari saluran napas dalam mencegah transmisi penyakit saluran napas

Menyediakan sarana untuk kebersihan tangan (alkohol handrub, wastafel-antiseptik, tisu towel, terutama area tunggu harus diprioritaskan 9. Praktek

menyuntik yang aman

Pakai jarum yang steril, sekali pakai tiap kali penyuntikan untuk mencegah kontaminasi pada peralatan injeksi dan terapi.

Bila memungkinkan gunakan juga vial sekali pakai walaupun multidose. Jarum atau spuit yang dipakai ulang untuk mengambil obat dalam vial multidose dapat menimbulkan kontaminasi mikroba yang dapat menyebar saat obat dipakai untuk pasien lain