ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.3 Analisis Data
4.3.4 Proses Komunikasi Pihak Yang Terlibat Dalam KEK Tanjung Lesung Dalam Menghadapi Hambatan Budaya
Hambatan budaya ialah hambatan yang terjadi disebabkan karena adanya perbedaan norma, kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pihak-pihak yang terlibat dalam berkomunikasi.
Selain sebagai identitas sosial, komunikasi antarbudaya berfungsi sebagai integrasi sosial. Dalam kasus komunikasi antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya antara komunikator dengan komunikan maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi.
Pada kasus Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung, hambatan budaya menjadi hal yang sangat diperhatikan oleh semua pihak baik dari pengelola, Pemerintah Kabupaten Pandeglang dan juga para ulama. Semuanya terfokus pada perhatian terhadap kearifan local masyarakat Cikadu. Pada hambatan budaya, indicator analisisnya adalah budaya masyarakat, penerimaan budaya baru dan juga akulturasi. Akulturasi menjadi sebuah tujuan jika masyarakat dengan budaya lama nya dapat menerima budaya baru yang muncul.
Kekhawatiran muncul dari forum ulama se-Banten. Kekhawatiran tersebut adalah jika masyarakat Tanjung Lesung terbawa dengan budaya baru dan kemudian melupakan budaya dan kearifan lokalnya.
“Saya ingin orang-orang investor asing itu mengikuti kearifan local, jangan memaksakan kehendak. Jangan sampai ketika ada perusakan kearifan local, jangan sampai masyarakat tidak dilindungi. Saya ini bergerak atas dasar laporan dari masyarakat. Dan banyak itu laporannya, dari nelayan, masyarakat biasa banyak itu. Jangan sampai masyarakat tidak tahu apa itu KEK sebenarnya73”
73
Budaya baru yang dimaksud oleh Kyai Yusuf adalah maraknya kemaksiatan yang dibawa oleh wisatawan dengan beragam bentuk. Seperti terbukanya aurat, minuman keras, perjudian dan lain sebagainya.
“Itu tadi, mudharatnya adalah akan ada perjudian, perzinahan,
trafficking wanita, pembuatan gereja illegal, pornografi. Kan tidak menutup kemungkinan ada bule jalan-jalan keliling Tanjung Lesung pake bikini. Apa mau warga Banten yang katanya kota santri, seribu kyai sejuta santri ada yang begitu di Banten74”
Menurut Kyai Yusuf, kekhawatiran tersebut bukanlah tanpa alasan. Menurutnya, dia tidak memiliki kepentingan apapun jika KEK Tanjung Lesung tetap berjalan. Tetapi yang dikahwatirkannya adalah anak cucu masyarakat Tanjung Lesung dan moral masyarakatnya itu sendiri.
“Yang saya khawatirkan adalah anak cucu kita, lalu masyarakat
Tanjung Lesung itu sendiri secara moral dan akidah. Siap atau tidak menyaksikan kemaksiatan. Bagaimana jika masyarakat malah diam saja bahkan mendukung kemaksiatan. Akan rusak moral orang Banten ini jadinya75”
Teddy selaku administrator KEK menganggap bahwa ketakutan-ketakutan yang dilontarkan oleh ulama Banten sudah menjadi kerangka acuan perjanjian antara Pemerintah Daerah dengan pihak pengelola yaitu Banten West Java.
“Dari kita dan para stake holder yang lain hal itu akan menjadi warning agar apa yang dikahwaitrkan ini tidak terjadi. Aturan-aturan seperti ketakutan banyak yang memakai bikini dan lain-lain itu saya 2 tahun disana belum pernah lihat. Yang penting kan wisatawan nyaman dan masyarakat juga tidak resah76”
Termasuk untuk urusan masyarakatnya, menurutnya masyarakat tidak perlu khawatir karena sudah dalam perjanjiannya bahwa masyarakat tidak akan dikesampingkan dan akan tetap dipekerjakan sesuai dengan kebutuhan.
74
Wawancara KH. Yusuf Mubarok, ketua forum ulama se-Banten, 4 Agustus 2016
75
Wawancara KH. Yusuf Mubarok, ketua forum ulama se-Banten, 4 Agustus 2016
76
“Intiya jangan sampai dikesampingkan. Kita menjamin dengan keharusan di regulasi itu. Jadi masyarakat tidak perlu takut seharusnya. Sebenarnya kekhawatiran pasti ada, Cuma mungkin bentuknya kecil dan lebih besar rasa penasarannya menunggu ini berjalan. Dan sampai saat ini responnya masih positif77”
Namun Teddy juga mengakui keterbatasan tugas dan fungsi administrator KEK. Menurutnya administrator hanya bisa menjamin agar regulasi berjalan dengan baik dan membuat ijin bagi investor yang ingin membuka usaha di wilayah Tanjung Lesung.
“Administrator paling hanya bisa mensupport. Karena itu tidak
hanya kewenangan kami tapi semua SKPD. Termasuk di Bappeda ada pendampingan masyarakat. Karena kami tidak diharuskan terjun langsung78”
BAPPEDA Pandeglang juga mengatakan hal yang sama dengan administrator KEK. Menurutnya semua kekhawatiran itu tergantung dari regulasinya. Dan di Pandeglang sendiri regulasinya dibuat sangat ketat oleh BAPPEDA Pandeglang.
“Sebenarnya tergantung kitanya bagaimana kita bisa membatasi
agar hal-hal yang dikhawatirkan atau dianggap maksiat itu bisa kita tahan dan tidak muncul di daerah wisata. Dari tahun 2013 itu sudah kita buat TPM (tenaga pengerak masyarakat) yang seluruhnya lulusan STKS (s.T Kes.sos) itu yang kita amanahkan untuk mengembangkan masyarakat sekitar Tanjung Lesung79”
Kekhawatiran tersebut menurutnya, sudah teratasi dan juga sudah dituangkan dalam bentuk badan hukum berupa perjanjian antara Pemda dengan BWJ.
“Sebenarnya kehkawatiran itu sudah kita pikirkan dan sudah kita
tuangkan dalam bentuk hukum berupa perjanjian antara BWJ dengan Pemda. Semuanya tertuang disitu. Di perjanjian itu tertera, pasal
77
Wawancara Teddy, sekretaris Administrator KEK, 28 Juli 2016
78
Wawancara Teddy, sekretaris Administrator KEK, 28 Juli 2016
79
berapanya saya lupa bahwa kewajiban pihak BWJ : menjaga dan melestarikan adat istiadat serta budaya dan agama dan juga kearifan local80”
Salah satu upaya nyata yang dilakukan oleh BAPPEDA menurut Abdul Aziz adalah tidak mengeluarkan ijin minuman beralkohol di surat perjanjian antara Pemda dengan BWJ.
“Makanya di kita ada kerjasama antara pemda dengan BWJ.
Disitu kita masukan regulasi apa yang boleh dan apa yg tidak boleh dibuat di Tanjung lesung ini. Termasuk ijin minuman beralkohol. Di kita ijin itu tidak keluar. Karena tentu bertentangan dengan adat dan budaya serta kearifan local masyarakatnya81”
Kyai Odon membenarkan pendapat Abdul Aziz dan juga Teddy, menurutnya segala kekhawatiran akan adanya perjudian, perdagangan minuman keras dan sebagainya sudah diantisipasi oleh Pemerintah Kabupaten Pandeglang dalam surat perjanjian dengan pengelola.
“Iya yang saya tahu, semua kekhawatiran itu sudah ada di
perjanjian antara Pemda dengan BWJ. Karena isi perjanjian itu kan kalau tidak salah adalah hasil dari musyawarah tokoh masyarakat saat sosialisasi KEK di tingkat kecamatan dan Kabupaten. jadi tidak perlu khawatir itu, tenang saja. Berjalan saja belum sudah banyak keraguan. Biar nanti kalau sudah berjalan kita evaluasi82”
Kyai Odon juga beranggapan bahwa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) ini hanya mempengaruhi masyarakat dari unsur ekonomi bukan dari unsur budaya. sehingga masyarakat bisa tetap melakukan kebiasaan mereka sehari-hari dan bisa mempertahankan kearifan local.
“KEK ini kan hanya masuk ke masyarakat dari unsur ekonomi,
bukan unsur budaya. Jadi masyarakat menurut saya tetap bisa beribadah,
80
Wawancara Abdul Aziz, Kasie Sumberdaya Buatan BAPPEDA Pandeglang, 26 Juli 2016
81
Wawancara Abdul Aziz, Kasie Sumberdaya Buatan BAPPEDA Pandeglang, 26 Juli 2016
82
bisa bekerja dan berkehidupan seperti biasanya tanpa perlu merasa resah ada gangguan atau ancaman dari wisatawan83”
Kyai odon juga berpendapat bahwa para wisatawan Tanjung Lesung berkunjung untuk menikmati suasana pantai nya bukan untuk merusak budaya masyarakat sekitar. Menurutnya, selama para wisatawan itu bersikap baik ke masyarakat maka masyarakat harus bersikap baik juga kepada pengunjung.
“Selama tamu nya baik dan mengikuti aturan, ya kita ikuti saja.
Tidak perlu harus ekstrim lah. Yang wisata juga kan niatnya berlibur. Jadi tidak perlu dipaksa untuk mengikuti kegiatan-kegiatan masyarakat84”
Dzulkarnaen selaku tokoh masyarakat menganggap bahwa nilai budaya masyarakat tidak akan hilang karena mayoritas pengunjung merupakan warga Negara Indonesia dan mayoritasnya adalah umat muslim yang juga sama dengan penduduk asli Tanjung Lesung. Sehingga menurutnya perbedaan budaya nya tidak terlalu jauh.
“Ya budaya Indonesia kan karena mayoritas islam tidak jauh beda
lah menurut saya. Wisatawan juga kan yang solat mah solat, yang tidak mah tidak. Yang penting kan kita sudah mengingatkan. Untuk peredaran narkoba dan lain-lainnya saya rasa tidak akan terjadi karena daerah sini kan dijaga polisi. Jadi jika ada yang mencurigakan, bisa langsung lapor Polsek Panimbang85”
Tokoh masyarakat juga menganggap, pandangan bahwa jika KEK ini berjalan maka akan mengundang perjualan alcohol dan apalagi gereja illegal merupakan pemikiran yang terlalu ekstrim. karena jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan akan langsung diproses oleh pihak yang berwenang.
“Tidak akan ada itu, apalagi yang namanya gereja illegal. Alcohol saja tidak dijual disini. Dan jika tertangkap membawa akan dipolisikan.
83
Wawancara KH. Odon Firdaus, Pengasuh PP. As-Syifa, 7 Agustus 2016
84
Wawancara KH. Odon Firdaus, Pengasuh PP. As-Syifa, 7 Agustus 2016
85
Jadi tidak perlu khawatir lah. Masyarakat disini juga tidak mau daerahnya menjadi daerah maksiat86”
Menurut tokoh masyarakat juga, budaya masyarakat tidak akan hilang dan justru akan semakin berkembang karena nantinya akan banyak diadakan festival-festival dalam rangka promosi Tanjung Lesung. Festival tersebut menurutnya merupakan hasil dari budaya masyarakat sehingga wisatawan akan tertarik dan melihat budaya masyarakat sekitar Tanjung Lesung.
“Nanti akan ada festival-festival. Dan festival itu kan munculnya dari budaya masyarakat. Jadi tidak perlu khawatir kalau budayanya akan hilang karena KEK ini. Justru malah KEK ini adalah momentum untuk mengembangkan budaya dengan kegiatan-kegiatan promosi wisata seperti festival atau perayaan lainnya87”
Menurut analisa penulis dari semua data diatas, hambatan budaya dan juga kekhawatiran menghilangnya budaya dan kearifan masyarakat sekitar sudah diantisipasi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang dengan cara membuat sebuah paying hokum berupa perjanjian-perjanjian yang mengatur jalannya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung ini. Dalam perjanjian tersebut juga diatur bahwa pengelola harus mengedepankan kearifan local masyarakat dan juga memberdayakan masyarakat sekitar dalam hal promosi wisata dan juga sebagai petugas pengelola Tanjung Lesung. Selain itu juga akandiadakan festival-festival yang bertujuan mengangkat promosi wisata Tanjung Lesung dan juga promosi budaya masyarakat sekitar.
86
Wawancara Dzulkarnaen, tokoh masyarakat Cikadu, 7 Agustus 2016
87
BAB V