• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Komunikasi Pihak Yang Terlibat Dalam KEK Tanjung Lesung Dalam Menghadapi Hambatan Psikologis

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.3 Analisis Data

4.3.2 Proses Komunikasi Pihak Yang Terlibat Dalam KEK Tanjung Lesung Dalam Menghadapi Hambatan Psikologis

Secara psikologis, dampak dari akulturasi adalah stress pada individu-invidu yang berinteraksi dalam pertemuan budaya tersebut. Fenomena ini diistilahkan dengan kejutan budaya (culture shock). Pengalaman-pengalaman komunikasi dengan kontak antarpersona secara langsung seringkali menimbulkan frustasi. Istilah culture shock diperkenalkan oleh seorang antropolog yang bernama Kalvero Oberg pada tahun 1960. Kalvero Oberg memberikan definisi yang detail mengenai fenomena ini dalam paragraf berikut :

Kejutan budaya ditimbulkan oleh rasa gelisah sebagai akibat dari hilangnya semua tanda dan simbol yang biasa kita hadapi dalam hubungan sosial. Tanda dan petunjuk ini terdiri atas ribuan cara di mana kita mengorientasikan diri kita sendiri dalam kehidupan sehari-hari; bagaimana memberikan petunjuk, bagaimana membeli sesuatu, kapan dan di mana untuk tidak berespons. Petunjuk ini dapat berupa kata-kata, gerakan, ekspresi wajah, kebiasaan atau norma, diperlukan oleh kita semua dalam proses pertumbuhan dan menjadi bagian dari budaya kita sama halnya dengan bahasa yang kita ucapkan dan kepercayaan yang kita terima. Kita semua menginginkan ketenangan pikiran dan efisiensi ribuan petunjuk tersebut yang kebanyakan tidak kita sadari.

Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa kejutan budaya adalah rasa cemas dan kaget ketika individu memasuki budaya baru yang berbeda dengan budaya yang sudah melekat pada dirinya. Budaya yang sudah melekat pada diri individu ketika memasuki budaya baru akan tidak efektif karena setiap budaya mempunyai caranya tersendiri.

Hambatan psikologis itu sendiri terjadi karena adanya hambatan yang disebabkan oleh persoalan-persoalan dalam diri individu. Misalnya rasa curiga penerima pada sumber, situasi berduka atau karena gangguan kejiwaan sehingga

dalam penerimaan dan pemberian informasi tidak sempurna. Indicator penelitian dalam menganalisis hambatan psikologis adalah penerimaan informasi di masyarakat, respon masyarakat dan sikap masyarakat.

Forum ulama se-Banten yang dipimpin oleh KH. Yusuf Mubarok menolak keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Tanjung Lesung. Menurutnya, kawasan Tanjung Lesung dipilih karena tanahnya murah, pekerjanya juga murah dan juga karena masyarakatnya berpendidikan rendah sehingga tidak akan menimbulkan protes jika ada kawasan pariwisata di daerahnya. Menurut KH. Yusuf, banyak masyarakat yang belum paham apa itu KEK, fungsi dan tujuan dibuatnya KEK dan hal lain seputar KEK.

“Yang kami tahu para ulama, penyampaian informasi nya tidak menyeluruh. Dari laporan masyarakat ke kita banyak masyarakat yang tidak paham apa itu KEK. Siapa investornya, apa yang diinginkan investor luar negeri di KEK ini dan sebagainya43

Selain itu menurut KH. Yusuf, masyarakat banyak yang menolak namun laporan dari masyarakat tersebut diredam oleh pihak-pihak yang diuntungkan atas keberadaannya KEK. Bentuk penolakan dari masyarakat yaitu berupa surat aduan dan laporan yang dihimpun oleh beberapa LSM yang mengadukan hal ini ke forum ulama se-Banten.

“Masyarakat menolak, tapi ya tetap saja yang kebagian jatah mah

nerima-nerima aja. Coba silahkan di cek sama mahasiswa. Yang menerima keberadaan KEK Cuma segelintir orang. Paling pemilik tanah, orang kaya nya, calo-calo nya. Masyarakat awam nya yang tidak tahu apa-apa hanya jadi penonton. Paling mentok jadi pekerja kasar44

43

Wawancara KH. Yusuf Mubarok, ketua forum ulama se-Banten, 4 Agustus 2016

44

Sebagai masyarakat yang religious, keberadaan ulama di lungkungan masyarakat di Banten menjadi pokok. Ulama tidak hanya menjadi sosok yang memimpin ibadah kerohanian tetapi juga hal-hal yang sifatnya social dan kemasyarakatan. Termasuk pada kasus KEK ini, menurut penulis keberadaan ulama menjadi hal yang diperhitungkan oleh masyarakat yang tidak setuju dengan keberadaannya KEK tersebut. KH. Yusuf membenarkan hal itu dan menurutnya masyarakat masih menunggu instruksi ulama untuk sikap dan bentuk penolakannya seperti apa.

“Masyarakat yang menolak menunggu intruksi dari ulama. Kalo

kata ulama kita demo ya mereka siap. Tapi kita tidak mau begitu lah. Kita mau menggunakan cara-cara konstitusi. Saya sudah mengumumkan di hadapan pers bahwa kami para ulama menolak KEK. Lalu kita juga memberikan surat kepada Presiden Jokowi sebanyak 3 kali sebagai bentuk penolakan ulama terhadap pembentukan KEK45

Menurut analisa penulis, hal yang terjadi pada forum ulama se-Banten adalah karena adanya kecemasan. Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau disertai perubahan fisiologis dan psikologis.

Dalam analisa penulis, kecemasan yang muncul dari ulama se-banten merupakan kecemasan fundamental. Kecemasan fundamental merupakan suatu pertanyaan tentang siapa dirinya, untuk apa hidupnya, dan akan kemanakah kelak hidupnya berlanjut. Kecemasan ini disebut sebagai kecemasan eksistensial yang mempunyai peran fundamental bagi kehidupan manusia.

45

Namora Lumongga Lubis46 menjelaskan bahwa kecemasan adalah tanggapan dari sebuah ancaman nyata ataupun khayal. Individu mengalami kecemasan karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang. Kecemasan dialami ketika berfikir tentang sesuatu tidak menyenangkan yang akan terjadi. Nevid Jeffrey S, Rathus Spencer A, & Greene Beverly memberikan pengertian tentang kecemasan sebagai suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas sebabnya.

Kecemasan yang dialami oleh forum ulama se-Banten atas dasar pengaduan dari masyarakat juga diakui oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pandeglang. BAPPEDA selaku pihak pertama yang datang ke masyarakat sebelum peresmian KEK ini juga mengaku ada pro dan kontra di masyarakat.

“Pro dan kontra ada di awal proses sosialisasi, ada semacam

pemahaman yaitu jika wisata berkembang maka kemaksiatan berkembang. Padahal tidak seperti itu semua nya tergantung Pemda. Makanya di kita ada kerjasama antara Pemda dengan BWJ. Disitu kita masukan regulasi apa yang boleh dan apa yg tidak boleh dibuat di Tanjung lesung ini. Termasuk ijin minuman beralkohol. Di kita ijin itu tidak keluar47

Namun menurut BAPPEDA, pro dan kontra tersebut dapat diselesaikan dengan cara bersosialisasi di masyarakat. Dimulai dari sosialisasi dengan masyarakat desa, lintas kecamatan dan juga sosialisasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang lain.

46

Namora L Lubis, Pengantar Psikologi untuk kedokteran, 2009 hal 14

47

“Sosialisai pertama kita ke masyarakat di kampong CIkadu,

kemudian sosialisasi di tingkat kecamatan. Tokoh masyarakat, tokoh agama, aparatur desa. Lalu ada juga sosialisasi di tingkat kabupaten. Tempatnya di aula sekda. Di tahun 2014 dibuat RAD (rencana aksi daerah) untuk mendukung Tanjung Lesung48

Dari sosialisasi yang dilaksanakan beberapa kali tersebut, BAPPEDA menilai sudah terlihat hasil yang memuaskan dan juga dukungan nyata dari masyarakat kawasan Tanjung Lesung itu sendiri.

“Responnya positif sih, terlihat dari adanya gerai 2 buah yang

dijadikan kampong wisata. Gerainya difasilitasi Pemda tapi diatas lahan masyarakat. 2 gerai itu untuk salak pirus dan kerajinan tangan termasuk kerajinan membatik dengan nama motif Cikadu dengan 20 motif yang juga difasilitasi oleh BWJ. Sebenarnya bukan hanya wisatanya saja tapi juga unsur pendidikan dan kesehatannya. Nanti rencananya ada 1.000 homestay, ada rumah sakit juga, ada hotel, apartemen, cottage dan sebagainya. Ada yang dikembangkan juga masyarakatnya49

Administrator KEK sendiri yang langsung turun ke masyarakat untuk sosialisasi juga mengatakan hal yang sama dengan BAPPEDA. Mereka juga mengakui bahwa pro dan kontra juga ada di masyarakat saat awal-awal mereka sosialisasi seputar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung.

Respon awalnya memang ada pro dan kontra. Tapi selama ini tidak ada masalah sepengetahuan saya. Kalau masyarakat butuh informasi atau sesuatu bisa langsung datang ke kita untuk tanya-tanya. Daripada turun ke jalan kan kurang etis juga50

Teddy selaku sekretaris administrator KEK Tanjung Lesung juga mengaku bahwa hingga saat ini tidak ada protes yang datang ke administrator KEK sendiri dari masyarakat. Menurutnya sosialisasi yang saat ini dilakukan sudah maksimal.

“Selama ini belum ada protes. Dari kemarin sosialisasi yang

dilakukan sejauh ini sudah cukup. selama bisa komunikasi dengan baik. Kan masyarakat juga tetap diberdayakan, bisa sebagai karyawan dan

48

Wawancara Abdul Aziz, Kasie Sumberdaya Buatan BAPPEDA Pandeglang, 26 Juli 2016

49

Wawancara Abdul Aziz, Kasie Sumberdaya Buatan BAPPEDA Pandeglang, 26 Juli 2016

50

lain-lain. Kalau tempat untuk umkm sudah disiapkan untuk masyarakat sekitar51

Teddy juga menjelaskan bahwa pernah terjadi sebuah kasus di Tanjung Lesung ketika ada pihak yang mengajukan ijin pendirian lahan bangunan namun di kawasan Tanjung Lesung tersebut dihambat oeh masyarakat sekitar dan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan oleh masyarakat. Menurut Teddy, hal seperti itu sebenarnya menjadi tugas dari pengelola yaitu Banten West Java.

“Selama ini tidak ada masalah. Tapi memang ada yang datang ke

kita mau mengajukan perijinan tapi terhambat perlakuan. Dan kita bukannya tidak mau membantu. Tapi itu tupoksi nya pengelola yaitu BWJ52

KH. Odon selaku ulama yang menerima keberadaan KEK Tanjung Lesung menganggap bahwa tidak ada hambatan psikologis yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, pro dan kontra merupakan hal biasa yang terjadi ketika akan muncul hal yang baru. Selain itu, menurutnya juga pro dan kontra di masyarakat terjadi karena kesimpangsiuran informasi yang terjadi. Namun setelah pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang dan pihak Banten West Java langsung berkomunikasi dengan masyarakat maka pro dan kontra tersebut dapat diselesaikan.

“Penerimaan informasinya bagus sih, meski awalnya banyak yang

tidak tahu dan menanyakannya ke saya. ya buktinya kan masyarakat langsung tergerak. Ada yang buka warung, ada yang rumahnya di renovasi dan dijadikan homestay, dan banyak lagi lah. Artinya dari sisi ekonomi masyarakat tergerak untuk berubah53

Menurut Kyai Odon, hambatan psikologis tidak terjadi di masyarakat. Yang terjadi adalah dorongan psikologis. Dimana masyarakat tergerak secara

51

Wawancara Teddy, sekretaris Administrator KEK, 28 Juli 2016

52

Wawancara Teddy, sekretaris Administrator KEK, 28 Juli 2016

53

psikologis untuk merubah hidup menjadi lebih baik lagi. Hal tersebut menunjukkan bahwa respon masyarakat dan sikap masyarakat Tanjung Lesung terhadap keberadaan KEK Tanjung Lesung ini begitu tinggi.

“Respon masyarakat sebagian besar positif. Ada yang merantau ke Jakarta akhirnya karena di kampungnya ada potensi wisata dia kembali ke Cikadu sini dan memulai usaha karena melihat peluang. Banyak sih, selain homestay tadi juga kan masyarakat mau membuat kerajinan batik yang difasilitasi BWJ. Ya pokoknya seperti yang abah sudah jelaskan ya selebihnya bisa dilihat sendiri lah. Ya itu tadi, banyak yang ekonominya tergerak. Awalnya homestay Cuma 2 lho sekarang kan sudah banyak. Perantau pada pulang dan membuka usaha itu kan hal yang bagus juga. Ya kalau tidak ada KEK belum tentu seperti ini. Anggap saja ini barokah, jangan dianggap mudharat terus nanti kapan maju nya54

Dzaenuddin, Tokoh masyarakat Desa Cikadu juga mengatakan hal yang sama, menurutnya ketakutan yang muncul di masyarakat pada awal wacana KEK adalah seputar kemaksiatan, ketakutan tidak mendapatkan pekerjaan hingga ketakutan mengenai ekosistem alam.

“Awalnya banyak yang tidak setuju. Alasnnya macam-macam lah ada yang takut banyak maksiat, ada yang takut tidak mendapat pekerjaan karena KEK, ada yang takut masalah kehidupan nelayan ada juga yang tidak setuju karena tidak mendapatkan peran apa-apa di KEK ini. Tapi ya lama kelamaan kan ada sosialisasi, ada banyak informasi yang masuk dan sebagian besar sudah setuju sekarang55

Respon masyarakat yang beragam tersebut menurutnya dapat diatasi oleh pihak Pemda Pandeglang dan pihak pengelola yaitu BWJ. Sehingga respon masyarakat tersebut dapat menjadi dasar aturan dalam perjanjian antara Pemerintah daerah yang menjadi perwakilan masyarakat dengan pihak pengelola KEK Tanjung Lesung yaitu PT. Banten West Java.

54

Wawancara KH. Odon Firdaus, Pengasuh PP. As-Syifa, 7 Agustus 2016

55

“Respon awalnya ya itu tadi, beragam ya. Tapi kan karena pihak

pengelola dan Pemda Pandeglang juga dating kesini dengan baik-baik dan musyawarah dengan masyarakat disini lalu sudah ada perjanjian antara BWJ dengan Pemda barulah masyarakat setuju56

Dzaenuddin juga menjelaskan seputar sikap masyarakat baik yang menerima Tanjung Lesung sebagai Kawasan EKonomi Khusus (KEK) ataupun juga yang menolak Tanjung Lesung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

“Untuk sikap masyarakat tentu beragam. Tapi untuk yang

menerima peresmian KEK ini kan mereka berusaha. Ada yang buka warung, buka homestay dan lain-lain banyak lah. Tapi yang kita urus ini kan yang tidak setuju. Kalau hanya tidak setuju dan tidak berbuat apa-apa sih tidak masalah. Ini ada yang tidak setuju tapi provokasi yang lain dan terkadang ada prilaku premanisme ke mobil proyek BWJ yang lewat57

Dari kelima informan diatas dan berdasarkan indicator dari hambatan psikologis yaitu penerimaan informasi di masyarakat, respon masyarakat dan sikap masyarakat penulis dapat menyimpulkan bahwa hambatan psikologis terjadi di awal wacana pembentukan KEK Tanjung Lesung. Namun dengan komunikasi yang intens dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang melalui administrator KEK dan BAPPEDA Pandeglang serta dari pihak pengelola yaitu Banten West Java kepada masyarakat buffer zone yaitu masyarakat di Kampung Tanjung Jaya Desa Cikadu membuat masyarakat sedikit demi sedikit dapat menerima keberadaan KEK di Tanjung Lesung.

4.3.3 Proses Komunikasi Pihak Yang Terlibat Dalam KEK Tanjung