BAB III. DINAMIKA BATIK GAYA YOGYAKARTA
C. Proses Pembelajaran Djogo Pertiwi Dalam Membatik
Ketrampilan membatik tidak hanya dikuasai oleh perempuan-perempuan dari kraton tetapi perempuan dari luar kraton pun juga mempunyai andil.8 Antara kraton dengan rakyat itu yang muncul terlebih dahulu adalah rakyatnya, karena tidak mungkin pihak raja beserta keluarganya dapat menyediakan kebutuhan pakaiannya sendiri. Peran perempuan di luar kraton tidak bisa diabaikan begitu saja. Bisa saja mereka yang lebih dahulu menemukan motif-motif klasik yang sudah ada. Tetapi raja merupakan penguasa terbesar, bisa saja mengklaim motif klasik itu buatan wanita kraton selama dia masih memerintah.9 Raja-raja Jawa pada zaman dahulu memang
8
Lihat N. Tirtaamidjaja. Batik: Pola dan Tjorak, Jambatan, hlm. 4. Kita tidak bisa mengabaikan daya cipta yang dihasilkan oleh masyarakat yang berada di luar kraton.
9
Wawancara dengan Ibu Larasati Suliantoro, Ketua Paguyuban Batik Sekar Jagad, 75 tahun, tanggal 1 November 2009.
61
terkenal sebagai penguasa atas tanah dan segala yang ada di atasnya. Seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, posisi raja sangat berkuasa sehingga sah-sah saja bila misalnya, motif parang rusak itu dibuat oleh raja dan diperuntukkan bagi raja. Jadi masyarakat tetap bisa menikmati kain batik dengan motif yang lebih beragam.
Ketika meletus perang Diponegoro pada tahun 1830, banyak para anggota keluarga baik dari kalangan bangsawan maupun abdi dalem yang mengungsi. Hal ini mengakibatkan ketrampilan membatik yang dimiliki oleh mereka menyebar ke beberapa wilayah. Para pegawai kerajaan atau abdi dalem, umumnya berasal dari luar kraton. Mereka nantinya mempunyai istri yang berasal dari kalangan kraton. Ketika para pegawai tersebut ditugaskan bekerja di luar kraton, maka istrinya akan ikut menemani suaminya. Dalam waktu luangnya, seorang istri di samping mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya juga membuat batik. Dari awal itulah, keahlian membatik bisa dikuasai oleh perempuan-perempuan dari luar kraton. Seorang istri yang ikut suaminya bekerja di luar kraton berinteraksi dengan masyarakat di sekitar tempat suaminya bekerja dan mulai mengajarkan mereka tentang cara membatik.
Salah satu penduduk Dusun Pajimatan, berhasil menguasai ketrampilan membatik. Dia adalah Djogo Pertiwi. Menurut Sardjuni, Djogo Pertiwi lahir pada tahun 1910.10 Djogo Pertiwi mulai mempelajari seni membatik sekitar tahun 1920,
10
Wawancara dengan Ibu Sarjuni, penerus usaha batik Djogo Pertiwi, 63 tahun, tanggal 30 Oktober 2009.
dan ketika itu beliau berumur 9 tahun.11 Menurut Sarjuni, Djogo Pertiwi memang sudah belajar membatik di umurnya yang masih sangat muda, 8-9 tahun. Ketrampilan ini didapat secara turun temurun. Dahulu, ibu dari ibunya, tepatnya nenek dari Djogo Pertiwi adalah seorang pembatik. Ibunya Djogo Pertiwi yang bernama Dayat Atmojo, juga merupakan pembatik di daerahnya. Sehingga keluarga Djogo Pertiwi dapat digolongkan menjadi keluarga pembatik. Mereka juga dulunya tergolong sebagai juragan besar batik. Proses pembuatan kain batik dari awal sampai akhir dikerjakan sendiri.
Pada usia itu Djogo Pertiwi mulanya belajar secara sederhana, yaitu dengan menggoreskan pola atau motif di atas telapak tangannya. Lalu kemudian membatik diatas kain dengan mengikuti pola yang sudah digambarnya. Ketika melihat wanita-wanita di lingkungannya membatik, membuat Djogo Pertiwi ingin mencoba membatik. Pada saat itu ketrampilan membatik sedang ditekuni oleh para wanita di Dusun Pajimatan.
Ketrampilan ini tidak lepas dari peranan ibunya yang juga mempunyai keahlian membatik. Telah menjadi adat kebiasaan yang turun temurun bahwa ibu dan bapak-lah yang bertanggung jawab atas segala hal ikhwal kehidupan anaknya.12
11
Wawancara dengan Ibu Sarjuni, 63 tahun, tanggal 30 Oktober 2009. Lihat juga dalam Sugiyamin, Seni Kerajinan Batik Tradisional Imogiri Yogyakarta, Program Pascasarjana UGM, Yogyakarta 2002, hlm. 156.
12
Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta, Departemen Pendididkan dan Kebudayaaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1976/1977, hlm. 227.
63
Orang tua sangat besar peranannya dalam mendidik putra-putrinya. Keberhasilan seorang anak dapat dicapai apabila mendapat dukungan dari orang tua.
Ketika sudah dewasa, kira-kira pada tahun 1927, Djogo Pertiwi tergerak untuk mengembangkan bakatnya dalam membatik. Saat itu Djogo Pertiwi berusia 17 tahun, yang bagi seorang perempuan pada umumnya, sudah bisa mulai bekerja. Djogo Pertiwi menjadi seorang buruh batik di Yogyakarta. Dia pergi ke kota untuk bekerja sekaligus belajar membatik di toko batik Tjokro Soeharto.13 Selain sudah mendapat ilmu membatik dari ibunya, Djogo Pertiwi juga menimba ilmu membatik di sana. Pada saat itu Tjokro Soeharto sudah menjadi toko seorang juragan batik besar di Yogyakarta. Kemampuannya dalam membatik telah meningkat sedikit demi sedikit, maka Djogo Pertiwi ingin mempertahankan eksistensinya sebagai pembatik dengan mengajarkan batik di daerahnya, Dusun Pajimatan.
Setelah memperoleh ilmu dan pengalaman yang cukup, Djogo Pertiwi mulai membuat usaha membatik di rumahnya. Berbekal pengalamannya, Djogo Pertiwi berhasil membuat pesanan yang berasal dari masyarakat sekitar. Saudara-saudara terdekatnya juga meminta Djogo Pertiwi untuk membuatkan kain batik dengan motif-motif yang sudah dipelajarinya.14 Dalam perkembangan berikutnya, Tjokro Soeharto juga memesan batik buatan Djogo Pertiwi.15 Toko-toko batik lainnya yang ada di Yogyakarta juga menjadi tempat untuk menyetorkan kain batik buatan Djogo Pertiwi.
13
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0212/02/opi03.html 14
Wawancara dengan Ibu Sarjuni, 63 tahun, tanggal 30 Oktober 2009. 15
Menurut Sarjuni dalam wawancaranya, mengatakan bahwa keluarga kraton Yogyakarta ikut memesan batik, tetapi motif-motifnya juga motif tertentu, motif kraton, sesuai dengan pesanan.
Djogo Pertiwi menikah kira-kira tahun 1927. Ketika itu, perempuan desa pada umumnya sudah menikah diumur sekitar 17 tahun. Dia, yang aslinya bernama Salasatun16, kemudian menikah dengan seorang abdi dalem yang bernama Suhadi. Ketika menjadi abdi dalem, nama itu diganti dengan nama Paringan Dalem17 yaitu Djogo Mustopo. Atas jasanya dalam mengabdikan diri menjadi abdi dalem, nama Paringan Dalem itu berganti menjadi Djogo Pertiwi.18 Wanita yang sudah menikah biasanya akan dipanggil dengan menggunakan nama suaminya.19 Akhirnya Salawatun lebih dikenal dengan nama Djogo Pertiwi. Djogo Pertiwi meninggal pada usia 93 tahun pada tahun 2003.
Zaman dahulu, seorang perempuan mempunyai kewajiban untuk mempelajari beberapa ketrampilan yang mendidik mereka ketika sudah memasuki usia dewasa. Mulai pada usia 7 tahun, perempuan tidak diperkenankan untuk keluar rumah. Hal ini biasa disebut dengan pingitan. Mereka dipersiapkan untuk menjadi istri yang baik bagi suaminya kelak. Perempuan diharapkan agar dapat macak (berhias atau
16 Ibid. 17
Paringan Dalem berarti pemberian dari Kraton Yogyakarta. 18
Wawancara dengan Ibu Sarjuni, 63 tahun, tanggal 30 Oktober 2009. 19
Tri Subagya, The Javanese Notions of Human Labor and Productivity, Retorika, No. 2, Th. I, Januari-April, 2002, hlm. 82.
65
mempercantik diri), manak (melahirkan), masak (memasak), serta dapat menguasai ketrampilan seperti membatik, menenun dan menganyam. Ketrampilan ini juga harus dikuasai oleh para perempuan di dalam kraton.