BAB 4 TINJAUAN KHUSUS DIVISI INDUSTRIAL AFFAIRS
4.4 Plant Logistics Department
4.4.3 Purchasing Department
Selain bagian-bagian di atas, terdapat pula Purchasing Department yang terkait erat dengan divisi Industrial Affairs. Purcashing department dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggung jawab kepada Plant Director dan membawahi dua orang officers. Purchasing department bertanggung jawab terhadap pembelian (barang dan layanan) dan memastikan bahwa proses pembelian sesuai dengan prinsip-prinsip kebijakan perusahaan, peraturan setempat, dan standar etika. Barang-barang yang dibeli oleh purcashing meliputi:
a. Stock Items Industrial Affairs (COGS)
Stock item disebut juga inventory items atau COGS (cost of goods sold).
Yang termasuk kategori barang-barang ini adalah bahan-bahan yang akan digunakan dalam produksi obat di Aventis Jakarta, berupa bahan baku obat dan bahan pengemas. Disebut stock items IA (Industrial Affairs) karena bahan-bahan ini hanya dipergunakan di bagian Industrial Affairs (factory). Dalam pembelian bahan tersebut, Purcashing Department juga bertanggung jawab dalam izin maupun surat impor yang diperlukan. Untuk barang-barang stock items ini proses pengadaannya melalui vendor evaluation dan audit yang dilakukan bersama dengan Quality Assurance. Pembelian barang-barang ini harus mengikuti daftar pemasok resmi yang dikeluarkan oleh Quality Assurance.
b. Non Stock Items IA (non COGS)
Yang termasuk dalam kategori ini adalah barang atau jasa yang diperlukan dalam Industrial Affairs namun bukan merupakan stock items. Contohnya adalah technical and spare parts, project/ machinery, factory and laboratory supplies.
c. Non Stock Items Commercial Operations
Barang dan jasa dalam kategori ini adalah barang yang diperlukan oleh bukan hanya Industrial Affairs Division tetapi juga oleh semua divisi dalam PT Aventis Pharma. Yang termasuk dalam kategori ini adalah barang dan jasa seperti travel dan hotel, stationery, office equipment, motor, dan mobil.
BAB 5 PEMBAHASAN
PT Aventis Pharma yang telah beroperasi di Jakarta dan memproduksi produk-produk farmasi sejak Agustus 1972. PT Aventis Pharma berkewajiban memenuhi ketentuan Cara Pembutan Obat yang Baik (CPOB) yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
43/Menkes/SK/II/1988 tentang Pedoman CPOB dan ditindaklanjuti dengan ditetapkannya SK Dirjen POM No. 05411/A/SK/XII/1989 tentang penerapan CPOB pada industri farmasi. Hal ini bertujuan untuk memberikan jaminan bahwa produk obat yang dihasilkan selalu memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
PT Aventis Pharma Indonesia merupakan bagian dari Sanofi Global. Oleh karena itu, untuk mendapatkan kualitas produk obat yang selalu konsisten PT Aventis Pharma selalu berpedoman kepada Global Quality Standard yaitu standar mutu yang ditetapkan oleh induk perusahaannya secara global dan dikombinasikan dengan standar mutu negara masing-masing. Jika di Indonesia, maka standar mutu yang digunakan adalah Farmakope Indonesia dan ketentuan CPOB. Namun karena beberapa produk yang diproduksi di PT Aventis Pharma ditujukan untuk pasar ekspor, maka terdapat beberapa standar lain, selain Farmakope Indonesia dan ketentuan CPOB. Standar lain yang digunakan antara lain standar yang mengacu pada Euro Pharmacopea dan GMP TGA. Jika terdapat persyaratan negara tujuan yang berbeda dengan Farmakope Indonesia dan ketentuan CPOB, maka PT Aventis Pharma akan menyesuaikan dengan persyaratan yang dimiliki oleh negara tujuan ekspor. Dalam menentukan suatu pabrik memenuhi persyaratan CPOB atau tidak dapat dilihat melalui lima aspek utama yang menjadi pilar CPOB, yaitu:
a. Spesifikasi
Semua peralatan, bangunan, ruangan, bahan baku, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pembuatan obat sampai terbentuk sediaan obat jadi yang siap dipasarkan harus memenuhi kriteria dan persyaratan yang telah ditetapkan.
b. Prosedur Tetap (Standard Operating Procedure)
Setiap pekerjaan yang dilakukan, yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan proses pembuatan obat, harus dilakukan mengikuti suatu standar tertentu untuk menjamin suatu keseragaman kerja.
c. Validasi
Semua peralatan maupun prosedur tetap yang dipakai harus dapat dibuktikan kebenaran atau kesesuaiannya dengan persyaratan yang telah ditetapkan.
d. Monitoring
Sebelum melakukan proses produksi, harus selalu dilakukan pengecekan secara rutin terhadap semua aspek produksi untuk menjamin proses produksi terlaksana sesuai dengan persyaratan yang ditentukan.
e. Dokumentasi
Semua kegiatan yang dilakukan dalam penerapan CPOB tersebut, harus selalu dicatat atau didokumentasikan sebagai bukti bahwa hal tersebut memang benar telah dilakukan.
PT Aventis Pharma telah memenuhi kelima pilar CPOB tersebut dalam setiap tahapan yang berhubungan dengan proses pembuatan obat. Untuk meyakinkan hal ini maka dapat dilihat secara garis besar melalui aspek hardware, software dan humanware yang tervalidasi dan terkualifikasi. Hardware terdiri dari equipment (peralatan), facility (bangunan), dan utility (air, listrik, AHU system).
Setiap peralatan, bangunan, ruangan, bahan baku, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pembuatan obat telah ditetapkan terlebih dahulu spesifikasi dan persyaratan yang diinginkan sebelum pengadaannya. Indikator dan sensor-sensor yang menjadi parameter pada peralatan, bangunan, dan ruangan telah dikalibrasi secara berkala. Peralatan, bangunan, dan ruangan dipastikan memenuhi persyaratan melalui proses kualifikasi dan validasi, sedangkan bahan baku dipastikan memenuhi persyaratan melalui pengujian di Quality Control.
Hardware ini tidak bisa berjalan apabila tidak ada software sehingga diperlukan adanya software seperti prosedur tetap, manual instruction, dan lain-lain. Selain itu, terdapat humanware yaitu personel atau manusia yang juga harus
dikendalikan agar dapat menjamin kualitas produk tetap dari waktu ke waktu.
Oleh karena itu, industri farmasi harus menyediakan personel yang memenuhi kualifikasi tertentu serta terlatih melalui program pelatihan berkesinambungan dan seluruh prosedur tetap yang berlaku harus dilatihkan terlebih dahulu kepada karyawan. Proses pelatihan, kualifikasi, validasi, spesifikasi dan lainnya yang berkaitan dengan mutu obat didokumentasikan dengan baik dan benar pada departemen Quality Assurance sehingga apabila diperlukan adanya proses investigasi dan penelusuran bukti dokumen dapat mudah dilakukan.
PT Aventis Pharma telah mendapatkan Sertifikat CPOB untuk seluruh produk atau bentuk sediaan yang dihasilkan. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh aspek CPOB yang tertuang di dalam Pedoman CPOB telah dipenuhi oleh PT Aventis Pharma Indonesia. Aspek CPOB ini telah dilakukan secara menyeluruh terhadap setiap tahapan dari proses pembuatan obat mulai dari pemilihan pemasok bahan awal sampai penilaian terhadap distributor yang akan menyalurkan produk PT Aventis Pharma hingga ke tangan konsumen. Berikut ini adalah hasil pengamatan selama Praktek Kerja Profesi Apoteker (9 April - 9 Juni 2012) mengenai penerapan 12 aspek CPOB 2006 di PT Aventis Pharma.
5.1 Manajemen Mutu
Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya dan memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen izin edar (registrasi) serta tidak menimbulkan risiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif.
Manajemen bertanggung jawab untuk mencapai tujuan ini melalui suatu kebijakan, yang memerlukan partisipasi dan komitmen dari semua jajaran di semua departemen di dalam perusahaan, dan pihak ketiga (pemasok) Untuk mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat diandalkan, diperlukan manajemen mutu yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar.
Unsur dasar manajemen mutu adalah suatu infrastruktur atau sistem mutu yang tepat mencakup struktur organisasi, prosedur, proses dan sumber daya. Tindakan yang sistematis diperlukan untuk mendapatkan kepastian dengan tingkat
kepercayaan yang tinggi sehingga produk yang dihasilkan akan selalu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pengamatan selama PKPA, PT Aventis Pharma telah menerapkan aspek manajeman mutu yang meliputi pengawasan dan pemastian mutu dengan konsep dasar CPOB. Dalam struktur organisasi PT Aventis Pharma, terdapat IQC Departement yang bertanggung jawab terhadap pengendalian mutu menyeluruh dalam arti pengendalian mutu terhadap produk yang dihasilkan sejak bahan awal, produk setengah jadi (termasuk In Process Control/IPC), sampai dengan produk jadi yang siap digunakan, termasuk didalamnya penilaian terhadap pemasok dan distributor.
5.2 Personalia
Industri farmasi hendaklah memiliki personel yang terkualifikasi dan berpengalaman praktis dalam jumlah yang memadai sehingga tiap personel tidak dibebani tanggung jawab yang berlebihan untuk menghindari resiko terhadap mutu obat. Industri farmasi juga harus memiliki struktur organisasi dengan pembagian tugas spesifik dan kewenangan dari masing-masing personel sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam penerapan CPOB. Berdasarkan CPOB, personalia dalam industri farmasi harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sesuai dengan tugasnya, juga memiliki kesehatan mental dan fisik yang baik sehingga mampu melaksanakan tugasnya secara profesional. Selain itu mereka harus mempunyai sikap dan kesadaran tinggi untuk mewujudkan CPOB.
Dalam melaksanakan sistem manajemen mutu, PT. Aventis Pharma didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai. SDM dikelompokkan dalam bidang-bidang tertentu dan memiliki tugas serta tanggung jawab masing-masing.
Dari struktur organisasi dapat dilihat bahwa Production Departement dan IQC Departement masing-masing dipimpin oleh apoteker yang berbeda dan tidak saling bertanggung jawab satu dengan yang lain dan memiliki wewenang serta tanggung jawab yang penuh dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.
Seluruh personalia yang langsung ikut serta dalam kegiatan pembuatan obat dan yang karena tugasnya mengharuskan mereka masuk ke daerah pembuatan obat hendaklah dilatih mengenai kegiatan tertentu yang sesuai dengan
tugasnya maupun mengenai prinsip CPOB. Pelatihan tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan dengan frekuensi yang memadai untuk menjamin agar personalia terbiasa dengan persyaratan CPOB yang berkaitan dengan tugasnya.
Catatan pelatihan personalia mengenai CPOB harus disimpan dan efektivitas program pelatihan harus dinilai secara berkala. Dan setelah mengadakan pelatihan, prestasi personalia perlu dinilai untuk menentukan apakah mereka memiliki kualifikasi yang memadai untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Pelatihan personel yang dilakukan oleh PT Aventis Pharma secara garis besar terdiri dari dua jenis, yaitu:
a. Pelatihan umum CPOB
Pelatihan ini mencakup teori dan praktek CPOB secara umum, pengenalan mikroorganisme, HSE, personnel hygiene, safety awareness dan prosedur.
b. Pelatihan khusus CPOB
Pelatihan ini diberikan sesuai dengan tugas spesifik yang diberikan pada personalia tersebut untuk dilaksanakan dalam area spesifik seperti area bersih, dan area steril, dll. QA Unit bertanggungjawab untuk memastikan bahwa program pelatihan yang disiapkan sesuai dengan persyaratan dari pemerintah ataupun Global Quality Standard dan juga memonitor pelaksanaan dari pelatihan tersebut selalu memenuhi persyaratan. Frekuensi pelatihan tergantung pada setiap departemen. Departemen harus yakin bahwa setiap karyawan mengerti mengenai ketentuan-ketentuan CPOB. Apabila terdapat perubahan prosedur tetap atau adanya prosedur tetap baru, maka pelatihan tambahan harus diatur oleh departemen yang bersangkutan. Para partisipan yang terlibat dalam prosedur, dilatih oleh supervisor divisi yang bersangkutan.
5.3 Bangunan dan Fasilitas
PT Aventis Pharma telah ditunjang oleh gedung, sarana dan fasilitas yang memadai. Bangunan di PT Aventis Pharma didesain berdasarkan Sanofi Global Quality Standard dan Sanofi Global Engineering yang terdiri dari pabrik, kantor, gudang, dan laboratorium. Bangunan ini telah memiliki desain, ukuran dan letak yang memudahkan pelaksanaan kerja, pembersihan dan pemeliharaannya.
Desain dan tata letak ruang produksi dibangun dengan mengelompokkan kegiatan produksi sesuai jenis produk, sehingga dapat menghindari terjadinya kesalahan dan pencemaran silang yang mempengaruhi mutu obat, keselamatan dan kesehatan kerja. Selain itu, kegiatan produksi dapat berlangsung tanpa harus berhubungan dengan daerah di luar kegiatannya sehingga seluruh karyawan dan arus kerja dapat berjalan lancar, komunikasi dan pengawasan dapat berjalan secara efektif. Hal ini telah sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan dalam CPOB. Gedung produksi dan gudang dibuat terpisah tetapi terdapat beberapa akses keluar masuk yang ketat dari gudang ke ruang produksi dan sebaliknya.
Area penyimpanan barang di gudang dikelompokkan berdasarkan status material yang bersangkutan (quarantine, released, atau rejected), suhu penyimpanan, dan tipe material (bahan baku, produk jadi, bahan pengemas). Ruangan gudang terdiri dari area penerimaan, pengeluaran, karantina, penyimpanan material (packaging material, raw material, semifinished product, dan finished product) dan ruang administrasi.
Persyaratan ruang produksi meliputi kebersihan ruangan (terhadap partikel dan cemaran mikroba), suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan perbedaan tekanan udara. Pada ruang produksi PT Aventis Pharma, permukaan lantai, dinding, langit-langit dan pintu dibuat kedap air, tidak terdapat sambungan untuk mengurangi pelepasan atau pengumpulan partikel dan mencegah pertumbuhan mikroba. Lantai tersebut dilapisi dengan cat epoksi agar mudah dibersihkan dan untuk mencegah terjadinya perembesan air tanah. Lantai harus dijaga agar tidak tergores dan rusak karena dapat mengurangi fungsinya dan dapat menjadi tempat akumulasi debu serta kotoran. Untuk menghindari kerusakan pada lantai maka seluruh personalia yang berada di ruang tersebut harus menggunakan sepatu khusus yang beralaskan karet. Bentuk-bentuk sudut pada dinding, langit-langit maupun lantai dihilangkan dan menggantinya menjadi bentuk lengkungan untuk mencegah akumulasi debu dan kotoran serta memudahkan pembersihan.
Area di PT Aventis Pharma terbagi menjadi tiga kelas, yaitu ruang kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Ruang kelas 3 di PT Aventis Pharma lebih bersih dibanding ruang kelas 2, demikian pula ruang kelas 2 lebih bersih dibanding ruang kelas 1.
Ruang kelas 3 setara dengan kelas kebersihan E yang digunakan sebagai ruang
produksi (processing) dan pengemasan primer (primary packaging). Sementara itu, ruang kelas 2 yang setara dengan kelas kebersihan F merupakan ruang pengemasan sekunder (secondary packaging), dan ruang kelas 1 diperuntukkan untuk gudang. Pada ruang-ruang tertentu, terdapat airlock yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi silang antar ruangan, seperti di ruang granulasi, tabletting, penyalutan, serta ruang antara gudang dan processing.
Untuk proses pengolahan obat yang berbahaya, disediakan peralatan dan perlakuan khusus tersendiri. Contohnya adalah pada proses cetak tablet Rovamycine digunakan turret karena Rovamycine termasuk dalam kategori OEB (Occupational Exposure Band) 4. Selain itu, saat pengolahan Rovamycine, operator juga harus mengenakan pakaian khusus yang dapat melindungi dari pengaruh buruk Rovamycine yang sesuai dengan persyaratan HSE.
Antara gudang dan area produksi terdapat ruang transit untuk memindahkan barang atau suplai bahan. Hal ini bertujuan untuk menghindari penyebaran debu dari gudang ke area produksi. Selain itu, terdapat gowning area untuk meminimalkan terjadinya pengotoran oleh partikel debu yang terbawa oleh karyawan. Di area produksi terdapat empat ruang transit, yaitu:
1. Ruang transit 1 untuk mengirim bahan baku dari gudang ke bagian processing yang ada di area kelas 3.
2. Ruang transit 2 untuk mengirim produk ruahan dan primary packaging material dari gudang ke bagian pengemasan primer yang ada di area kelas 3.
3. Ruang transit 3 untuk mengirim secondary packaging material dari gudang ke bagian pengemasan sekunder di area kelas 2.
4. Ruang transit 4 untuk mengirim finished product dari bagian packaging di area kelas 2 ke bagian gudang untuk disimpan.
Seluruh bangunan PT Aventis Pharma terawat dengan baik, senantiasa dalam keadaan rapi dan bersih serta dilengkapi dengan peralatan dan utilitas untuk menunjang pelaksanaan kegiatan dengan memprioritaskan pada terciptanya sanitasi, higiene, keamanan dan keselamatan kerja serta kelestarian lingkungan sekitar. Selain itu, setiap bangunan PT Aventis Pharma dilengkapi dengan pintu
emergency untuk keadaan darurat. Pintu ini selalu ditutup rapat untuk mencegah pencemaran. Pintu emergency pada PT Aventis Pharma tidak dikunci dan tidak boleh ada barang-barang yang menghalangi pintu, sehingga pada keadaan darurat pintu ini dapat langsung dibuka. Untuk menjamin keamanan, maka pada setiap pintu emergency diberi segel berupa stiker, sehingga jika pintu pernah dibuka, segel akan rusak.
5.4 Peralatan
Semua peralatan di PT Aventis Pharma memiliki dokumen kualifikasi, prosedur tetap untuk operasional, pembersihan dan pemeliharaan, serta log book untuk kalibrasi dan pemakaian alat. Peralatan-peralatan tersebut ditempatkan dengan benar sehingga memudahkan pembersihan, perawatan dan perbaikan.
Peralatan dipilih dan diletakkan sesuai dengan fungsinya. Peralatan juga dibersihkan secara teratur, sesuai prosedur pembersihan alat yang dirinci dalam prosedur tetap, untuk mencegah kontaminasi yang dapat merubah identitas, kualitas atau kemurnian suatu produk. Untuk proses pembersihan alat-alat produksi, dilakukan sendiri oleh operator alat tersebut. Pada pembersihan ruangan, PT Aventis Pharma melakukan kerja sama dengan perusahaan out source cleaning service.
Validasi pembersihan dilakukan pada setiap peralatan yang critical untuk menyediakan verifikasi bahwa prosedur pembersihan tersebut reprodusibel. Tiap peralatan utama diberi nomor identifikasi. Nomor tersebut dipakai pada semua instruksi kerja dan pada catatan pengolahan dan pengemasan bets yang menunjukkan bahwa alat tersebut digunakan pada proses tertentu. Seluruh peralatan utama dan kritis yang digunakan harus dikualifikasi terlebih dahulu meliputi kualifikasi instalasi, kualifikasi operasional, dan kualifikasi kinerja. Cara kualifikasi di PT. Aventis Pharma telah diuraikan dalam prosedur tetap kualifikasi peralatan. Setiap peralatan yang digunakan selalu dilengkapi catatan yang menerangkan pemeliharaan, penggunaan, kalibrasi, dan perbaikan dalam satu kesatuan pencatatan. Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji, dan mencatat selalu diperiksa ketelitiannya secara teratur dan dikalibrasi berdasarkan jadwal dan prosedur tetap kalibrasi. Setiap peralatan yang akan
digunakan untuk pengujian harus dipastikan bahwa jadwal kalibrasi peralatan tersebut masih berlaku, sehingga hasil yang diperoleh dari pengujian menggunakan peralatan tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan menunjukkan hasil yang sebenarnya. Untuk peralatan yang digunakan untuk proses produksi obat, sebelum digunakan harus dipastikan terlebih dahulu bahwa alat tersebut telah dibersihkan sebelumnya dan telah diberi label “BERSIH”. Hal ini bertujuan untuk menghindari kontaminasi produk oleh produk yang dibuat sebelumnya
5.5 Sanitasi dan Higiene
Sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam CPOB, PT Aventis Pharma menerapkan tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi, meliputi personalia, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi dan setiap hal yang dapat merupakan sumber pencemaran produk. Mutu produk harus dijaga agar terbebas dari kontaminasi akibat pengaruh lingkungan maupun karyawan. Oleh karena itu, penerapan sanitasi dan higiene karyawan mutlak diperlukan dalam proses pembuatan obat.
PT Aventis Pharma sangat memprioritaskan kesehatan dan keselamatan kerja karyawan dan lingkungannya agar terhindar dari paparan produk yang berbahaya. Untuk itu, PT Aventis Pharma melaksanakan seluruh kegiatannya menggunakan standar yang ditetapkan oleh HSE dengan berpedoman kepada Global HSE Standard, yaitu suatu standar yang bertujuan untuk meminimalkan bahaya paparan produk terhadap karyawan dan lingkungan.
Tindakan nyata yang telah dilaksanakan oleh HSE adalah pelatihan yang menyangkut kesehatan, keselamatan kerja, dan lingkungan. Program sanitasi dan higiene personalia yang diterapkan antara lain program pemeriksaan kesehatan, dan penerapan kebersihan perorangan seperti cuci tangan sebelum memasuki ruang produksi, penggunaan pakaian bersih, serta kebiasaan higienis seperti dilarang makan dan minum di ruang produksi. Di bidang kesehatan, setiap tahun dilaksanakan pemeriksaan kesehatan pada seluruh personalia untuk mengetahui hubungan antara jenis kegiatan yang dilakukan dengan perkembangan kesehatannya. Selain itu, PT Aventis Pharma juga menyediakan dokter umum pada setiap hari kerja, sehingga karyawan PT Aventis Pharma yang mengalami
gangguan kesehatan dapat memeriksakan kesehatan dirinya sehari-hari. Evaluasi hasil pelaksanaan program HSE berdasarkan pada laporan terjadinya kecelakaan kerja. Sejak tanggal 1 September 2003 sampai 24 Mei 2012, processing telah bekerja selama 2513 hari, tanpa hilang hari kerja dan 2513 hari tanpa cedera, sedangkan unit packaging sejak tanggal 24 Agustus 2004 sampai 24 Mei 2012, telah bekerja selama 2783 hari, tanpa hilang hari kerja dan 4732 hari tanpa cedera.
Di dalam ruang loker pria/wanita (berlokasi di lantai pertama), semua personel melepaskan pakaian dan sepatu yang dipakainya sejak dari rumah dan menyimpannya di dalam loker pakaian dan loker sepatu individual. Pada ruang loker melalui ruang pencucian, dimana mereka diharuskan untuk mencuci tangan mereka. Bagi pengunjung yang tidak memiliki baju dan sepatu individual, maka disediakan baju disposable dan shoe cover yang dibuang setiap kali dipakai.
Untuk menjamin keamanan karyawan dan untuk menjamin perlindungan terhadap produk dari pencemaran, maka karyawan menggunakan pakaian pelindung badan yang bersih, dan juga alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan dan kacamata. Masker, sarung tangan, dan kaca mata yang digunakan memiliki spesifikasi yang berbeda-beda untuk setiap produk. Spesifikasi perlengkapan pelindung diri untuk setiap produk yang sedang diproduksi pada suatu rungan tertentu tercantum pada bendera produksi yang ditempel di depan ruang produksi produk tersebut. Personel yang bekerja pada bagian processing menggunakan pakaian seragam (biru muda) sedangkan personel yang bekerja di ruang packaging menggenakan seragam kerja (biru tua). Perlengkapan ini dikenakan di gowning room sebelum karyawan memasuki daerah produksi atau laboratorium. Pada gowning room di daerah produksi terdapat wastafel untuk mencuci tangan.
Kegiatan makan dan minum tidak boleh dilakukan di daerah produksi dan laboratorium. Bagi karyawan yang ingin makan dan minum dapat melakukan kegiatan makan dan minum di kantin. Personel yang hendak meninggalkan area pekerjaannya, seperti makan siang, mereka harus mengganti pakaiannya dengan pakaian yang mereka pakai dari rumah dengan mengikuti prosedur kebalikan dari prosedur di atas. Ruangan-ruangan dan lemari untuk menyimpan pakaian bekerja yang bersih termasuk sepatu diatur sesuai dengan prosedur tetap yang ada.
Di PT Aventis Pharma, bangunan dilengkapi dengan toilet, tempat cuci tangan dalam jumlah yang cukup dan letaknya terjangkau dari tempat kerja
Di PT Aventis Pharma, bangunan dilengkapi dengan toilet, tempat cuci tangan dalam jumlah yang cukup dan letaknya terjangkau dari tempat kerja