• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Data Pretes Dan Wawancara Serta Pembahasan

2. Rangkain Paralel

Pada soal no 13 meminta siswa memprediksikan apa yang terjadi pada lampu bila salah satu lampu dicabut dari fitingnya dan bagaimana besar arus pada masing-masing lampu. Skor jawaban benar yang diperoleh siswa adalah sebesar 94,28%. Beberapa siswa dapat mengungkapkan alasannya walaupun tidak lengkap seperti yang diharapkan namun pada umumnya siswa mengungkapkan bahwa lampu tidak akan padam walaupun lampu yang lain dicabut dari fittingnya. Adapun variasi alasan jawaban siswa adalah sebagai berikut :

Tabel no 10. Variasi Jawaban No 13 No

soal Jawaban Variasi alasan jawaban

13 Tetap nyala

1) lampu 1 ga ada hubungannya dengan lampu 2

2) karena Rangkaian paralel yang lain mati yang lain tetap nyala 3) karena lampu L2 tetap menyala karena tetap terkena arus

listrik

padam 1) karena tidak ada arus

Berdasarkan tabel diatas pemahaman konsep siswa ada yang kurang lengkap. Untuk mengetahui lebih jelas pemahaman konsep siswa adalah dengan melihat hasil wawancara dengan siswa kode 30 dibawah ini:

R : oke kita lanjut ke rangkaian parallel, kalau salah satu lampunya dicabut. Lampu yang lain gimana?

P : hidup R : alasannya?

P : karena rangkaian parallel

R : iya kita tahu ini rangkain paralel, tapi kenapa lampu 2 tetap hidup walau lampu 1 dicabut

P : karena lampu 1 ga ada hubungannya dengan lampu 2, jadi lampu 2 tetap nyala.

R : terus lampu 2 ini dapat sumber listriknya darimana?

R : dari baterei kan mba, ne kan ada dua jalur, jadi lampu yang ini tetap nyala.

Dari hasil wawancara dapat diketahui bahwa pemahaman siswa cukup baik, walaupun pada awalnya siswa memberikan alasan hanya karena rangkaian paralel namun setelah beberapa pertanyaan yang diberikan, siswa mampu menjawab bahwa karena lampu 1

tidak saling berhubungan dengan lampu 2 sehingga lampu 2 tetap menyala dan mendapatkan sumber listriknya dari baterei. Disini siswa tidak mengungkapkan dengan lengkap inti pertanyaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pemahaman siswa kurang lengkap.

Selain itu siswa kode 22 mengungkapkan pemahaman yang sama, seperti dibawah ini:

R : Oke, ini rangkaian parallel. Menurut kamu gimana kalau salah satu lampunya dicabut. Lampu yang lain padam atau nyala?

P : Nyala R : Ko bisa

P : karena L1 dan L2 tidak berada di satu tempat R : maksudnya?

P : ga saling berhubungan

Dapat diketahui bahwa siswa mempunyai pemahaman yang cukup baik namun masih sederhana belum bisa mengungkapkan alasan secara lengkap. Begitu pula yang terjadi pada siswa lain mereka juga mengungkapkan alasan yang sama bahwasannya lampu satu dan lampu 2 tidak saling berhubungan jadi tidak akan saling mempengaruhi. Alasan yang diberikan tidaklah salah namun dapat kita ketahui bahwa pemahaman siswa pada umumnya belum lengkap. Sementara hanya ada satu orang yang mengungkapkan jawaban yang berbeda bahwa lampu tidak akan menyala jika lampu yang lain di cabut, hal ini terlihat pada data pretest dan wawancara dengan partisipan kode 32 sebagai berikut :

P : lampu yang lain padam

R : berarti beda ya ama rangkaian seri? P : iya.

R : kenapa ko bisa padam lampunya?. P : karena ga dapat arus.

Partisipan tersebut menganggap bahwa pada rangkain parallel jika salah satu dicabut dari fittingnya maka yang lain akan padam karena tidak mendapatkan arus, penjelasan ini seharusnya untuk rangkain seri. Jelas disini telah terjadi salah konsep pada siswa.

Kemudian soal no 11 menanyakan bagaimana nilai tegangan pada masing-masing ujung lampu dan nilai arus dari masing-masing lampu. Secara keseluruhan siswa memberikan jawaban tanpa memberikan alasan dengan baik. Adapun jawaban dan variasi alasan jawaban adalah sebagai berikut :

Tabel 11. Variasi Jawaban Siswa Soal No 11

No soal Jawaban Variasi alasan jawaban

11a.

11b.

Sama 1) karena rangkaian paralel

2) karena hanya ada satu tegangan (beda potensial) 3) karena hambatannya sama

Tidak sama

Sama 1) karena tegangannya sama

2) karena hambatannya sama dan tegangannya sama 3) karena kedua jarak lampu sama

Berdasarkan tabel di atas pemahaman siswa masih ada yang salah. Untuk mengetahui pemahaman siswa dapat dilihat dari hasil wawancara berikut ini :

Hal ini dapat diungkapkan lebih jelas dengan wawancara dibawah ini :

R : tegangannya sama apa ga? P : sama karena Rnya sama R : kalau Rnya beda?

P : tegangannya juga beda. (kode 28)

Hal yang sama juga diungkapkan oleh siswa kode 32, kode 22, dan kode 4. Berdasarkan hal diatas siswa menganggap bahwa nilai tegangan pada ujung-ujung lampu pada rangkain parallel bergantung pada nilai hambatan yang dimiliki lampu tersebut. Jika nilai hambatannya sama maka besar tegangan lampunya juga akan sama sebaliknya jika nilai hambatannya beda maka besar tegangan lampunya juga akan beda. Disini jelas terlihat bahwa siswa mengalami miskonspsi dan menggunakan pemikiran sebab akibat yang tidak saling berkaitan. Selain itu beberapa partisipan lain tidak mampu mengungkapkan alasannya dan mengaku bingung dalam menjawab.

Kemudian mengenai besarnya arus pada rangkain parallel, pada umumnya siswa menjawab bahwa besarnya arus sama namun alasan atas jawaban yang diberikan ada yang benar dan ada yang salah. Adapun jawaban yang diberikan benar dengan alasan yang

benar adalah bahwa kuat arusnya sama karena hambatannya sama dan jika beda maka kuat arusnya pun ikut berbeda selain itu juga ada yang menganggap bahwa kuat arusnya beda karena tegangan yang dihasilkan beda sehingga berpengaruh pada hal tersebut. seperti kutipan wawancara berikut dengan siswa kode 32 berikut ini :

R : kalau nilai arus masing masing lampu gimana? P : arusnya sama

R : alasannya?

P : karena nilai tegangannya sama.

R : jadi nilai arus bergantung pada nilai tegangan? P : iya

Hal yang sama juga diungkapkan oleh siswa kode 22. Selain itu juga ada yang menganggap bahwa posisi lampu dari baterei juga mempengaruhi kuat arus. Seperti kutipan wawancara dengan siswa kode 28 berikut ini :

R : jadi tegangan bergantung pada R? P : iya mba.

R : kalau nilai arusnya gimana? P : nilai arusnya berbeda R : kenapa?

P : karena jarak kedua lampu berbeda R : maksudnya?

P : jarak kedua lampu ke baterei

Pada soal no 12 menanyakan tentang hubungan arus yang masuk dan arus yang keluar pada titik percabangan. Prosentase skor yang diperoleh pada soal ini adalah sebesar 94,27% dengan

menjawab bahwa arus yang masuk sama dengan arus yang keluar. Adapun variasi jawaban dari siswa adalah sebagi berikut:

Tabel 12. Variasi Jawaban Soal No 12

No Jawaban Variasi alasan jawaban

12 Sama 1) karena arus yang masuk pad atitik cabang A akan

dibagikan pada kedua lampu 2) letak lampu sejajar

Tidak sama Karena lintasan kedua lampunya beda

Kebanyakan siswa tidak bisa menjabarkan jawabannya pada rangkain. Dapat diketahui bahwasannya siswa asal menjawab sehingga mengaplikasikannya ke dalam rangkain seperti apa menjadi bingung. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara siswa kode 30 sebagai berikut :

R : Menurut kamu, bagaimana hubungan antara arus yang masuk pada titik percabangan dengan arus yang keluar dari titik cabang pada rangkaian parallel?

P : Sama mba

R : Oke jika seperti ini (gambar) arus I1 sama ga ama arus I2 P : Beda mba, yang sama arus I3 dan I2

R : kenapa arus I3 dan I2 bisa sama? P: karena panjangnya sama

Di sini jelas sekali siswa mengalami miskonsepsi, alasan yang diungkapkan tidak bisa menjawab persoalan yang ada malah menimbulkan permasalahan yang baru dengan menganggap besarnya arus tergantung panjang lintasan atau panjangnya kabel.

Selain itu partisipan lain mengungkapkan alasan yang berbeda, yaitu seperti kutipan wawancara dengan siswa kode 22 sebagai berikut :

P : arus yang masuk sama ga dengan arus yang keluar pada titik cabang? R : iya sama

P : pada gambar ini mana aja yang sama R : I1 dan I 4

P : kalau i2 dan I3? R : I2 sama dengan I3 P : alasannya ?

R : karena I2 dan I3 berada di dalam sedangkan I1 dan I4 berada di luar, jadi sama.

Di sini siswa menganggap bahwa arus yang yang sama adalah arus yang sama-sama berada di lintasan luar dan sama-sama berada di lintasan dalam. Jelas terjadi miskonspesi dan pemikiran siswa yang kacau.

Pada soal no 15 meminta siswa untuk menyelesaikan soal persamaan matematis. Soal ini hendak mengukur konsep awal siswa tentang hambatan pengganti pada rangkain parallel. Pada umumnya siswa tidak bisa mengerjakannya, mereka hanya menulis kembali apa yang diketahui dari soal tersebut tapi untuk persamaan matematis dan penyelesainya dibiarkan kosong. Hal ini dapat disimpulkan bahwa konsep awal siswa tentang persamaan matematis untuk rangkain parallel belum diketahui. Dan berdasarkan hasil wawancara pun hampir semua siswa mengakui bahwa tidak tahu atau lupa tentang persamaan tersebut.