• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V EVALUASI PENGEMBANGAN USAHA

E. Refleksi

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yag sudah kita lakukan di masa yang lalu. (Nurhadi 2004: 51).

Dari sumber lain mengatakan bahwa refleksi berarti sebuah proses menemukan makna dari pengalaman yang telah dilalui.

Awal munculnya gagasan untuk menjalankan usaha keripik singkong TELA’QU ini adalah ketika saya melihat masyarakat di lingkungan daerah Kulon Progo yang banyak menanam singkong dan hanya digunakan untuk membuat makanan yang terbuat dari singkong itu sendiri seperti, slondok, keripik, gatot, tape, singkong rebus dan goreng bahkan yang lainnya. Saya merasa tertantang untuk membuat singkong atau ubi menjadi produk yang mempunyai nilai lebih. Karena kebanyakan orang menilai singkong atau ubi merupakan bahan yang tidak dapat dikembangkan atau dengan kata lain, tidak memiliki nilai jual. Tidak ada pikiran lain untuk memilih usaha lain yang akan saya jalankan dalam menyelesaikan tugas akhir ini, saya langsung memilih untuk menjalankan usaha keripik singkong ini. Adanya kemantapan dari dalam diri saya untuk menjalankan usaha ini karena usaha ini bersifat “gampang-gampang susah”.

Untuk lebih memantapkan pilihan usaha keripik singkong ini, saya berusaha mencari informasi dan pengetahuan melalui buku-buku maupun internet. Banyak hal yang didapat dari buku-buku tersebut seperti awal menjalankan suatu usaha, cara mengelola suatu usaha yang dijalankan sampai pada mendapatkan hasil dari menjalankan suatu usaha. Teman-teman dan dosen pengajar mata kuliah pun menjadi sumber informasi dan pengetahuan yang baik. Setelah mendapatkan informasi yang cukup, saya mencoba mengamati langsung di lapangan. Saya bertanya langsung kepada orang yang

telah terjun dalam menjalankan usaha sejenis bahwa untuk mendapatkan bahan baku singkong sangat mudah dan harganya pun murah dan terjangkau. Kemudian dari sisi dalam menjalankan usahanya, keripik singkong belum dikenal oleh banyak orang sehingga produk keripik singkong kurang laku di pasarnya dan kalah bersaing dengan makanan cemilan yang lainnya yang lebih berkualitas. Harus dengan modal yang besar maka usaha ini akan tetap bertahan dengan berani melakukan inovasi terhadap singkong ini.

Setelah semuanya yakin untuk dijalankan maka saya meminta bantuan kepada saudara-saudara saya untuk membantu dalam memproduksi keripik singkong karena mereka sudah memiliki keahlian dalam membuat keripik singkong. Tanpa gaji atau upah mereka sanggup membantu saya untuk memjalankan usaha ini. Dengan modal yang pas-pasan sebesar Rp 2.000.000,00 saya memberanikan diri untuk memulai bisnis keripik singkong ini walau dengan pengalaman yang sedikit. Saya berpikir “kalau tidak berani mencoba kapan akan berhasil”.

Setelah semua rencana sudah matang maka saya merencanakan segala hal yang dibutuhkan dalam menjalankan usaha ini. Dari persediaan peralatan yang akan digunakan telah tersedia tetapi belum lengkap, dari sisi produknya, produk berupa keripik singkong yang akan dikemas dengan menarik dan unik yang akan dititipkan di tempat penitipan seperti yang telah direncanakan adalah warnet, burjo, rental ps dan outlet cemilan. Untuk awalnya disetiap tempat dititipkan 10 produk terlebih dahulu guna melihat minat para calon pembeli. Jika ternyata habis maka produk yang dititipkan akan ditambahkan.

Jangka waktu penitipan produk keripik singkong selama 3-5 hari untuk menjaga kualitas

dari produk itu sendiri. Dari sisi promosi, saya akan membuat pamflet yang sederhana untuk lebih memperkenalkan produk ini pada calon konsumen.

Proses produksi mulai saya jalankan dengan menyediakan ubi tanah yamg masih segar, mulus, berukuran sedang yang ditanam kurang lebih 4 bulan. Ubi tanah yang dicabut tadi dikupas, direndam dalam air bersih agar bersih. Kemudian ubi dikupas dan dipotong dan diparut tipis-tipis selanjutnya singkong dirajang, singkong direndam dengan air kapur 3-5 menit agar keripiknya terasa gurih, pemberian bumbu sesuai dengan rasa yang ingin dibuat, perebusan, penggorengan dilakukan dengan sederhana, kemudian dilakukan proses akhir yaitu pengemasan produk dengan plastik. Dalam bulan pertama telah menghabiskan biaya sebesar Rp 196.500,00 yang digunakan untuk pembiayaan bahan baku, proses produksi dan biaya pemasaran. Keuntungan yang diperoleh pada bulan I adalah Rp 203.500,00. Pengeluaran biaya pada bulan ke 2 adalah Rp 306.500,00 dan laba yang didapat Rp 293.500,00. Pengeluaran biaya pada bulan ke 3 adalah Rp 408.500,00 dan laba yang didapat Rp 391.500,00. Pengeluaran biaya pada bulan ke 4 adalah Rp 542.500,00 dan laba yang didapat Rp 457.500,00.

Melihat kenaikan laba yang diperoleh dari tiap bulannya, saya kagum atas hasil yang didapat. Untuk mendukung usaha ini terus berkembang saya membuat sebuah pamflet sederhana yang membantu dalam hal pemasaran. Selain melalui pamflet, pemasaran juga dilakukan melalui mulut ke mulut walau tidak seberapa hasilnya.Untuk tempat penitipannya, saya mencari tempat penitipan yang biasanya ramai didatangi para pengunjungnya. Dapat diketahui hasil penjualan tiap bulan sebagai berikut:

Bulan I = Rp 400.000,00. Bulan II = Rp 600.000,00. Bulan III = 800.000,00. Bulan IV = 1.000.000,00.

Sebuah kepuasan tersendiri yang saya rasakan karena selama 4 bulan usaha ini berjalan dapat menghasilkan keuntungan yang memuaskan. Ini dapat saya jadikan acuan dan pembelajaran dalam membangun sebuah usaha yang lebih besar dan maju lagi dengan pengalaman yang saya dapatkan. Usaha keripik singkong ini hanya berjalan 4 bulan saja karena saya terkendala oleh kerja sampingan sehingga waktu yang tidak cukup untuk menjalankan usaha ini. Setelah menyelesaikan kuliah nanti, saya berencana untuk melanjutkan usaha ini yang tidak hanya memproduksi keripik singkong saja tetapi dari bahan bahan baku ubi dapat menghasilkan beberapa produk yang baik dan berkulitas.

Dari usaha keripik singkong ini, banyak hal yang dapat saya ambil. Tanggungjawab atas keputusan yang diambil karena semua keputusan yang diambil harus memiliki rasa tanggungjawab yang besar agar apa pun yang dikerjakan dapat berhasil dan dapat membahagiakan orang lain. Selain itu, untuk menjalankan suatu usaha harus percaya diri agar tidak gampang dipengaruhi oleh hal-hal negatif yang dapat merusak usaha kita.

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan rencana pengembangan usaha yang dibuat selama 4 bulan Januari-Mei 2011, usaha keripik singkong TELA’QU ini layak untuk dikembangkan walaupun keuntungan yang diterima kurang stabil atau tidak sesuai dengan proyeksinya yang sesuai dengan estimasi laporan keuangannya. Di mana tiap bulan ada kenaikan maupun penurunan dan juga keuntungan yang diterima hanya sedikit. Berdasarkan perencanaannya, barang yang ditawarkan ke konsumen selalu terjual habis sehingga usaha ini layak untuk dikembangkan.

B. Saran

Untuk membuat usaha ini menjadi lebih berkembang, pemilik harus mengikuti keadaan pasar dan harus kreatif dalam pembuatan produk maupun dalam hal penawaran produk secara offline dan online. Selain itu, pemilik juga harus mengetahui selera konsumen agar produk yang ditawarkan sesuai dengan apa yang diminati oleh para konsumen.

79

DAFTAR PUSTAKA

Marah Maradjo. 1997. Aneka Keripik Ubi. PT Karya Nusantara, Jakarta

Mowen and Hansen.Manajemen Sumbner Daya Manusia. Penerbit Salemba empat :Jakarta,2009

Rahmat Rukmana.1997. Ubi Jalar, Budi Daya dan Pascapanen. Kanisius, Yogyakarta

Thomas W. Zimmerer. Kewirausahaan & Manajemen Bisnis Kecil, edisi 4 th 2005

Tony Luqman Lutoni.1992. “Komoditi Keripik Ubi Berpeluang untuk Diekspor”.dalam: Pikiran Rakyat , 6 Juni.

80

LAMPIRAN

Tempat Penitipan Cemilan Keripik Singkong

Gbr.1 Burjo Pak Roni Gbr.2 Burjo Karisma

Gbr.3 Burjo Pojok Gbr.4 Burjo Pamungkas

Gbr.5 Warnet Cheetos Gbr.6 Warnet Prayan

Gbr.7 Rental PS Gbr.8 Rental PS Inzomnia

Gbr.9 outlet cemilan Sarah&Snack Gbr.10 Outlet cemilan Jogja Snack

LAMPIRAN PAMFLET

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 92-0)