BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.2 Saran
Berdasarkan penelitian perancangan sistem informasi ini, saran yang dapat diberikan untuk pengembangan Prototype pada penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan sistem informasi dengan penambahan fitur-fitur untuk menunjang integrasi antar bagian.
2. Pengembangan sistem informasi untuk otomatisasi pembaharuan perencanaan jadwal induk produksi(MPS) dan MRP.
1
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai hal yang melatarbelakangi penelitian ini. Permasalahan yang diidentifikasi, tujuan dilakukannya penelitian serta manfaat yang bisa diperoleh setelah melakukan penelitian ini.
1.1 Latar Belakang
Perkembangan industri semakin populer di kalangan masyarakat. Dewasa ini banyak terdapat industri kecil menengah di Indonesia yang bergerak dalam berbagai bidang. Peningkatan jumlah industri menimbulkan persaingan yang semakin ketat antar industri untuk mempertahankan pangsa pasar dan keunggulan produk masing-masing. Upaya untuk bersaing dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi, efektivitas, produktivitas serta peningkatan kualitas produk, sehingga dapat diperoleh profit maksimal dengan sumber daya seminimal mungkin.
Penyajian data yang cepat, efisien dan kemudahan dalam pencarian informasi sangat dibutuhkan oleh setiap orang dalam perkembangan teknologi informasi saat ini. Perkembangan industri pun tidak lepas dari dukungan teknologi informasi untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi proses bisnisnya. Penerapan teknologi informasi yang baik dapat memberikan efisiensi dan efektivitas dalam melakukan kegiatan produksi. Kelancaran kegiatan produksi dipengaruhi oleh arus informasi, apabila arus informasi baik, maka kegiatan produksi dapat berjalan dengan baik pula. Arus informasi yang baik ditentukan oleh pengelolaan data yang dilakukan dengan cepat, akurat dan tepat. Fasilitas penujang juga diperlukan seperti perangkat komputer sebagai media penyimpana data.
Selain itu, manajemen persediaan merupakan kunci keberhasilan setiap perusahaan, baik bagi perusahaan manufaktur maupun perusahaan dagang. Pengelolaan persediaan yang baik memungkinkan penggunaan sumber daya dan penjadwalan produksi secara efisien. Perusahaan harus memelihara persediaan barang dalam jumlah tertentu selama proses produksi. Tanpa adanya persediaan para perusahaan akan dihadapkan pada risiko bahwa perusahaannya pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan
(Rangkuti, 1995). Oleh karena itu riset dan pengembangan di bidang sistem informasi dan pengelolaan persediaan untuk perusahaan jasa atau manufaktur khususnya pada industri kecil menengah perlu dilakukan, sehingga dapat memberikan kecepatan dan kemudahan dalam proses pengambilan keputusan serta meningkatkan efisiensi perusahaan.
Garmen Jaya Bali merupakan sebuah perusahaan manufaktur yang memproduksi baju kaos, jasa sablon, dan penjualan kain. Garmen Jaya Bali adalah perusahaan yang berbasis make to stock dan make to order. Garmen Jaya Bali dikatakan make to stock ketika memproduksi baju kaos, sedangkan make to order ketika ada pesanan pakaian dari konsumen, seperti pakaian sekolah, pakaian dinas dan lain-lain. Selain itu, Garmen Jaya Bali juga melayani jasa sablon dan penjualan kain kaos. Namun dalam kegiatan produksi, Garmen Jaya Bali lebih banyak melakukan make to stock, dengan dua produk utama, yaitu kaos dewasa dan kaos anak-anak. Kaos dewasa terdiri dari dewasa warna dan dewasa putih. Kaos anak-anak terdiri setelan warna, putih, kombinasi warna dan kombinasi putih. Berikut ini merupakan contoh produk yang diproduksi oleh Garmen Jaya Bali.
Gambar 1. 1 Contoh produk kaos Garmen Jaya Bali
Berdasarkan wawancara dengan pihak perusahaan, perencanaan kuantitas produksi pada Garmen Jaya Bali tidak mempertimbangkan jumlah persediaan yang ada di gudang, hal tersebut menyebabkan Garmen Jaya Bali memiliki persediaan yang banyak. Keputusan untuk memproduksi suatu jenis produk didasarkan atas jumlah penjualan, jumlah persediaan produk yang ada dan ketersediaan bahan baku. Pembelian bahan baku akan dilakukan ketika diperkirakan bahan tersebut habis dan tidak mencukupi untuk melakukan produksi. Setelah proses produksi, produk jadi akan disimpan digudang, sebelum dikirim ke pasar. Pencatatan produk masuk gudang dilakukan dengan pengisian di nota, atau pencatatan dikertas di masing-masing proses. Selama ini, pendataan bahan baku dan produk jadi di gudang masih dilakukan secara manual, dengan cara melihat
3
secara langsung persediaan apa yang ada di gudang untuk membuat keputusan dalam pembelian ataupun keputusan produksi. Tabel 1.1 berikut merupakan data persediaan pada bulan November 2016.
Tabel 1. 1
Persediaan Produk pada Bulan November 2016 No Nama Produk
Jumlah Persediaan (Unit)
1 STA Putih 2.085
2 STA Warna 1.547
3 Sparasi Putih Dewasa 4.214 4 Sparasi Warna Dewasa 1.837
5 Batik Putih Dewasa 2.308
6 Batik Warna Dewasa 605
Sumber : Garmen Jaya Bali
Keterangan : STA = setelan anak
Tabel 1.1 menunjukkan persediaan produk pada bulan november 2016, produk STA putih dan Sparasi Putih Dewasa merupakan produk yang memiliki tingkat penjualan tertinggi diantara produk lainnya dan memiliki jumlah persediaan tertinggi. Maka perlu dilakukan pengendalian persediaan yang berfokus pada kedua produk tersebut. Sedangkan untuk persediaan seluruh produk yang ada di Garmen Jaya Bali ditunjukkan pada tabel 1.2 berikut.
Tabel 1. 2
Persediaan Seluruh Produk
No Bulan
Persediaan
Awal Periode Barang Masuk Barang Keluar
Persediaan di Akhir Periode (Unit) 1 Agustus 38.957 22.899 30.189 31.667 2 September 31.667 22.698 30.189 24.176 3 Oktober 24.176 15.225 16.509 22.892 4 November 22.892 29.695 28.650 23.937
Sumber : Garmen Jaya Bali
Proses penjualan produk juga sama, yaitu menggunakan pencatatan transaksi penjualan secara manual dengan nota, yang akan direkap pada periode waktu tertentu. Apabila perusahaan mendapatkan pesanan dari pelanggan, bagian gudang akan mengecek persediaan di gudang terlebih dahulu, sehingga tidak bisa memberikan informasi secara langsung kepada pelanggan. Hal ini menyita banyak waktu, dalam proses pengecekan dan pencarian informasi, mengingat banyak varian produk yang diproduksi oleh Garmen Jaya Bali, selain itu pencatatan dengan menggunakan nota menyebabkan sering terselip bahkan hilang.
Sejauh ini, nota barang masuk dan nota penjualan di Garmen Jaya Bali akan direkap dan diinput ke Microsoft Excel pada periode tertentu, yang kemudian akan di proses lebih lanjut untuk menampilkan informasi. Microsoft Excel adalah aplikasi spreedsheet canggih yang populer serta banyak digunakan untuk membantu menghitung, memproyeksikan, menganalisa dan mepresentasikan data (Syahril, 2009). Microsoft
Excel hanya mencatat unit-unit informasi pada baris dan kolom suatu sel yang disebut worksheet dan tidak terjadi hubungan relational data antar tabel apabila data disimpan
pada dua atau lebih tabel yang berbeda, sehingga perlu menginput data sesuai jumlah tabel yang diinginkan (Fuller & Cook, 2013). Berdasarkan wawancara dengan pihak perusahaan, data persediaan maupun data transaksi akan diinput pada tiga file excel yang berbeda, hal ini dapat menimbulkan data yang dibuat kurang akurat dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk melakukan input data. Hal tersebut terjadi karena pada
Microsoft Excel tidak terjadi relasi antar tabel, sehingga harus dibuat ulang secara manual.
Disamping itu, data yang disimpan dalam Microsoft Excel hanya data jumlah persediaan keseluruhan jenis produk, untuk data jenis dan ukuran produk tidak dibuat secara rinci.
Data persediaan bahan baku dan produk jadi secara rinci sangat penting diketahui oleh seluruh bagian perusahaan untuk memberikan kemudahan informasi baik bagi pihak internal perusahaan maupun pelanggan, serta tidak terjadi kelebihan produksi maupun kelebihan persediaan bahan baku. Untuk itu, maka diusulkan untuk merancang sistem informasi pengelolaan persediaan menggunakan database. Database adalah sekumpulan
file yang saling berhubungan dan terorganisasi atau kumpulan record-record yang
menyimpan data dan hubungan diantaranya. Sedangkan pengendalian persediaan adalah untuk menjaga persediaan pada tingkat yang optimal sehingga diperoleh penghematan-penghematan untuk persediaan tersebut (Ristono, 2009). Pengendalian persediaan bahan baku dan produk jadi untuk memberikan persediaan yang optimal dapat dilakukan dengan
Material requirement planning (MRP). Tujuan dari MRP adalah untuk menentukan
berapa banyak komponen yang dibutuhkan dan kapan dibutuhkannya,sehingga biaya kelebihan persediaan dapat dihindari (Rangkuti, 1995).
Pada penelitian ini akan dibuat sistem informasi pengendalian persediaan. Sistem informasi ini bisa diakses oleh semua bagian terkait di Garmen Jaya Bali, sehingga antara bagian pemotongan kain, bagian sablon, bangian penjualan, dan pemilik dapat mengetahui apa yang dibutuhkan oleh satu sama lain. Hal ini dapat mempercepat keputusan dan ketepatan jenis barang yang akan diproduksi, serta data akan tersimpan aman, tanpa perlu khawatir akan terselip atau hilangnya nota. Pembuatan sistem
5
perencanaan produksi ini akan menggunakan bantuan Microsoft Access. Microsoft Access adalah aplikasi sistem basis data yang tepat ditujukan untuk kebutuhan rumahan dan perusahaan kecil menengah (Wasito, 2010). Dalam pengelolaan database, penggunaan
Microsoft Acces memiliki keunggulan yaitu data antar tabel dapat memiliki hubungan
relational ketika data yang sama tersimpan dalam dua tabel, sehingga input data hanya perlu dilakukan satu kali saja (Fuller & Cook, 2013). Pada Micrososft Access rumus hanya dibuat sekali, namun dapat menampilkan hasil otomatis sejumlah data yang diinput baik melalui tabel maupun form. Keunggulan lainnya adalah proses pencarian data pada
Microsoft Access lebih cepat dibandingkan dengan Microsoft Excel.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka pengendalian persediaan dan pengembangan sistem informasi yang berfokus pada pengelolaan persediaan produk jadi di Garmen Jaya Bali perlu dilakukan untuk meminimumkan jumlah persediaan dan mempercepat proses pengambilan keputusan oleh bagian terkait, mengingat data persediaan bahan baku dan produk jadi perlu diketahui untuk menentukan jenis produk yang akan di produksi. Pengembangan sistem informasi akan dilakukan dengan Microsoft
Acces dan VBA.
1.2 Identifikasi masalah
Berasarkan uraian latar belakang yang dijelaskan pada sub bab sebelumnya, terdapat beberapa masalah di Garmen Jaya Bali, yaitu:
1. Aliran kas tidak lancar dan terjadi penurunan kualitas produk yang diakibatkan oleh lamanya produk berada di gudang penyimpanan. Hal ini karena persediaan terus bertambah, sedangkan penjualan tidak terlalu banyak.
2. Sulitnya mencari data persediaan setiap jenis dan ukuran produk serta sulit untuk melakukan pembaharuan persediaan secara cepat. Hal tersebut karena penyimpanan data dilakukan secara keseluruhan produk dan tidak terperinci per jenis dan ukuran produk. Hal ini menyulitkan bagian potong, bagian jahit, dan bagian penjualan untuk mengambil keputusan.
3. Penyimpanan data pada Microsoft Excel dilakukan pada tiga file yang berbeda, dibuat terpisah secara manual satu per satu dengan format berbeda tiap file hal ini memerlukan waktu cukup lama dan dapat menimbulkan ketidakakuratan data..
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang dijelaskan pada sub bab sebelumnya, dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimana pengendalian persediaan dengan MRP dapat mengoptimalkan jumlah persediaan bahan baku?
2. Bagaimana membangun sistem informasi pengelolaan persediaan menggunakan
software database untuk mengoptimalkan integrasi seluruh bagian perusahaan?
3. Bagaimana hasil pengujian terhadap rancangan prototype sistem informasi manajemen persediaan yang telah dibuat?
1.4 Batasan Penelitian
Batasan masalah dari penelitian tugas akhir adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian persediaan hanya dilakukan pada produk make to stock kaos sparasi dewasa dan kaos anak putih di Garmen Jaya Bali.
2. Rekayasa sistem informasi yang dibuat hanya sebatas prototype. 3. Penelitian tidak membahas mengenai keamanan sistem informasi ini.
1.5 Asumsi-Asumsi
1. Tidak terjadi perubahan biaya bahan baku.
2. Selama penelitian berlangsung, tidak terjadi perubahan aliran informasi.
1.6 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Membuat sistem informasi pengendalian persediaan produk make to stock menggunakan MRP untuk mengoptimalkan jumlah persediaan.
2. Membuat sistem informasi yang dapat meningkatkan integrasi antara bagian pemotongan kain, bagian sablon, bagian penjualan, bagian jahit, dan bagian gudang. 3. Melakukan pengujian terhadap hasil rancangan sistem informasi pengelolaan
persediaan.
1.7 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat memberikan informasi mengenai kebutuhan bahan baku dan produk jadi untuk memenuhi permintaan pelanggan.
2. Sistem informasi yang dibangun dapat memberikan kemudahan akses informasi persediaan yang ada di gudang bagi bagian yang membutuhkan.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka merupakan studi literatur yang dibuat untuk mendapatkan data teori yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan, dengan harapan studi literatur dapat digunakan sebagai penunjang dalam pelaksanaan penelitian.
1.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian terkait dengan perkembangan sistem informasi perusahaan pernah dilakuakan sebelumnya.
a. Opeyemi (2013), melakukan penelitian untuk mendesain sistem informasi manajemen pada supermarket. Penelitian ini menggali tantangan yang dihadapi oleh sistem pengelolaan persediaan secara manual pada supermarket. Permasalahan yang terjadi adalah supermarket masih menggunakan metode manual dari pemesanan, pembayaran dan penyimpanan, sehingga sering terjadi kesalahan, ketidaklengkapan, dan tidak cukup data untuk analisis pengambilan keputusan. Hasil yang didapatkan untuk perbaikan adalah dengan membuat sistem informasi berbasis komputer untuk memastikan level persediaan sehingga memudahkan manajemen untuk pengambilan keputusan. Pengembangan sistem informasi ini dirancang menggunakan Microsoft
Access dan Visual Basic for Application.
b. Amelia (2013), melakukan penelitian terkait perancangan sistem basis data persediaan bahan baku dengan metode EOQ. Hasil dari penelitian tersebut adalah penghematan biaya produksi sebesar 4,39% per tahun, dan perancangan sistem basis data untuk mempercepat proses pengambilan keputusan.
c. Astuti (2016), melakukan penelitian mengenai pengembangan sistem informasi basis data dengan menggunakan Microsoft Access untuk perencanaan produksi yang dapat mengintegrasikan departemen terkait di perusahaan pengolahan jamur dan untuk mengefisienkan waktu proses pesanan pelanggan.
1.2 Penelitian Saat Ini
Penelitian saat ini, penelitian yang akan dilakukan sekarang adalah perancangan sistem informasi pengendalian persediaan pada Garmen Jaya Bali. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pengendalian terhadap jumlah persediaan bahan baku, yang akan memberikan jumlah persediaan produk jadi yang optimal. Penelitian ini juga dibuat untuk memberikan kemudahan akses informasi bagi pihak yang terkait, agar semua pihak dapat menggunakan aplikasi dan tidak terjadi kemacetan informasi. Pengembangan sistem informasi pada penelitian ini adalah menggunakan bantuan Microsoft Access.
Beberapa penelitian yang telah dijelaskan diatas merupakan referensi awal untuk membantu penulis dalam melakukan perancangan sistem informasi kedepannya. Secara singkat perbandingan penelitian di atas dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2. 1
Perbandingan Penelitian Terdahulu dan Penelitian Saat Ini
Peneliti Objek Penelitian Metode Tools Hasil Opeyemi
(2013)
Supermarket Prototyping Microsoft
Access
Membuat sistem informasi basis data untuk memastikan level persediaan sehingga memudahkan manajemen untuk pengambilan keputusan Amalia (2013) PT. Malindo Intima Raya EOQ dan prototyping Microsoft access
penghematan biaya produksi sebesar 4,39% per tahun, dan perancangan sistem basis data untuk mempercepat proses pengambilan keputusan Astuti (2016) PT. Agaricus Sido Makmur Sentosa Prototyping Microsoft Access
Membuat sistem informasi untuk mengintegrasikan departemen terkait di perusahaan pengolahan jamur dan untuk mengefisienkan waktu proses pesanan pelanggan Penelitian saat ini Garmen Jaya Bali MRP & Prototyping Microsoft Access
Membuat sistem informasi untuk pengendalian persediaan, pencatatan data persediaan bahan baku, produk jadi, data penjualan, serta untuk memudahkan proses pengambilan keputusan oleh bagian terkait.
1.3 Manajemen Persediaan
Menurut Ristono (2009) inventory atau persediaan adalah suatu teknik untuk manajemen material yang berkaitan dengan persediaan. Manajemen material dalam inventory dilakukan dengan beberapa input yang digunakan yaitu : permintaan yang terjadi (demand) dan biaya-biaya yang terkait dengan penyimpanan, serta biaya apabila terjadi kekurangan persediaan (shortage). Secara teknis, inventory adalah suatu teknik
9
yang berkaitan dengan penetapan terhadap besarnya persediaan bahan yang harus diadakan untuk menjamin kelancaran dalam kegiatan operasi produksi, serta menetapkan jadwal pengadaan dan jumlah pemesanan barang yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan. Penetapan jadwal dan jumlah pemesanan yang harus dipesan merupakan pernyataan dasar yang harus terjawab dalam pengendalian persediaan.
Pengendalian persediaan adalah aktivitas mempertahankan jumlah persediaan pada tingkat yang dikehendaki. Pada produk barang, pengendalian persediaan ditekankan pada pengendalian material. Beberapa istilah dalam manajemen persediaan antara lain :
a. Lead time adalah tenggat waktu antara pemesanan sampai barang tiba di gudang. b. Reorder point adalah batasan jumlah stock dimana pengambil keputusan harus
memesan barang ke pemasok.
c. Safety stock adalah persediaan pengaman apabila penggunaan persediaan melebihi perkiraan.
1.3.1 Tujuan Pengelolaan Persediaan
Menurut Ristono (2009), terdapat lima tujuan pengelolaan persediaan, antara lain : a. Dapat memnuhi kebutuhan atau permintaan konsumen dengan cepat.
b. Untuk menjaga kontinuitas produksi atau menjaga agar perusahaan tidak mengalami kehabisan persediaan yang mengakibatkan terhentinya proses produksi.
c. Untuk mempertahankan dan bila mungkin meningkatkan penjualan dan laba perusahaan.
d. Menjaga agar pembelian secara kecil kecilan dapat dihindari, karena dapat mengakibatkan ongkos pesan menjadi besar.
e. Menjaga agar penyimpanan dalam emplacement tidak besar-besaran,karena akan mengakibatkan biaya menjadi besar.
2.3.2 Peramalan
Peramalan adalah melakukan estimasi kemungkinan yang terjadi terhadap ketidakpastian kejadian dimasa yang akan datang. Dalam proses produksi, peramalan penting dilakukan untuk menjadikan operasi produksi berjalan lebih lancar. Peramalan dapat memberikan informasi yang memudahkan pihak manajemen untuk mengambil keputusan terkait aktivitas dimasa yang akan datang yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi (Kumar & Suresh, 2009).
2.3.2.1 Metode Peramalan
Terdapat berbagai macam metode untuk melakuakan peramalan. Pemilihan metode yang akan digunakan tergantung pada pengambil keputusan. Metode peramalan dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu (Kumar & Suresh, 2009):
1. Metode kualitatif
Peramalan dengan metode kualitatif menggabungkan faktor seperti intuisi, emosi, pengalaman pribadi, dan sistem nilai pengambil keputusan untuk meramal. Peramalan kuantitatif menggunakan model matematis yang beragam dengan data masa lalu dan variabel sebab akibat untuk meramalkan permintaan.
2. Metode deret waktu atau kuantitatif
Model deret waktu membuat prediksi dengan asumsi bahwa masa depan merupakan fungsi masa lalu. Dengan kata lain, metode deret waktu melihat apa yang terjadi selama kurun waktu tertentu, dan menggunakan data masa lalu tersebut untuk melakukan peramalan. Metode deret waktu mempunyai empat komponen (Kumar & Suresh, 2009), yaitu:
a. Tren, merupakan pergerakan data sedikit demi sedikit meningkat atau menurun. b. Musim, adalah pola data yang berulang pada kurun waktu tertentu seperti hari,
minggu, bulan, atau kuartal.
c. Siklus, adalah pola dalam data yang terjadi setiap beberapa tahun. Siklus ini biasanya terkait pada siklus bisnis dan merupakan satu hal penting dalam analisis dan perencanaan bisnis jangka pendek.
d. Variasi acak, merupakan satu titik khusus dalam data, yang disebabkan oleh peluang dan situasi yang tidak biasa. Variasi acak tidak mempunyai pola khusus, jadi tidak dapat diprediksi.
Tabel 2. 2 Metode Peramalan
Komponen data Metode yang dipakai
1. Acak Simple average
Moving average
Single exponential smoothing 2. Trend dan acak Double exponential smoothing
Holt Winter
3. Seasonal dan acak Moving average with index seasonal, Multiplikatif winter, dekomposisi
4. Trend, seasonal, dan acak Sumber : (Lindawati, 2003)
11
2.3.3 Material requirement planning (MRP)
Material Requrement Planning (MRP) adalah suatu sistem perencanaan dan
penjadwalan kebutuhan material untuk produksi yang memerlukan beberapa tahapan proses/fase atau dengan kata lain adalah suatu rencana produksi untuk sejumlah produk jadi yang diterjemahkan ke bahan mentah (komponen) yang dibutuhkan dengan menggunakan waktu tenggang, sehingga dapat ditentukan kapan dan berapa banyak yang dipesan untuk masing-masing komponen suatu produk yang akan dibuat (Rangkuti, 1995). 2.3.3.1 Tujuan Material requirement planning
Menurut Rangkuti (1995) tujuan dari penerapan MRP adalah sebagai berikut : 1. Pengurangan Jumlah Persediaan
MRP menentukan berapa banyak komponen yang dibutuhkan dan kapan dibutuhkannya, sehingga MRP membantu manajer untuk menyediakan komponen saat dibutuhkan sehingga biaya kelebihan persediaan dapat dihindari.
2. Pengurangan Produksi dan Tenggang Waktu Pengiriman
MRP mengidentifikasi jumlah material yang dibutuhkan, waktunya, ketersediaan, perolehannya dan produksi untuk menyelesaikan pada waktu yang dibutuhkan untuk dikirim.
3. Meningkatkan Efisiensi
MRP menyediakan koordinasi yang dekat antara bermacam-macam divisi kerja (work center) yang terlibat dalam proses produksi. Akibatnya produksi dapat berjalan lebih efisien karena keterlibatan secara tidak langsung dengan karyawan dapat dikurangi dan kegiatan interupsi produksi tanpa rencana dapat dikurangi.
2.3.3.2 Input dan Output Material Requirement Planning
MRP memiliki tiga input informasi yang diperlukan yaitu (Nasution & Prasetyawan, 2008) :
1. Bill of material (BOM)
Bill of material (BOM) merupakan daftar seluruh kebutuhan material dan komponen yang
diperlukan untuk menyusun satu produk jadi. BOM merupakan daftar item yang diperlukan untuk membuat atau merakit satu unit produk jadi. BOM berisi penjelasan yang lengkap atas produk, tidak hanya mencantumkan data mengenai bahan baku dan item tetapi juga mencantumkan mengenai urutan-urutan produksi. Informasi dalam BOM penting untuk diketahui untuk menentukan kebutuhan kotor dan kebutuhan bersih suatu produk. Tabel 2.3 dan gambar 2.1 merupakan contoh BOM table dan BOM tree.
Contoh Bill of material Table
Sumber : (Kumar & Suresh, 2009)
Gambar 2. 1 Contoh bill of material tree
Sumber : (Kumar & Suresh, 2009)
2. Jadwal Induk Produksi
Jadwal induk produksi didasarkan pada peramalan atas permintaan independen dari setiap produk akhir yang akan dibuat. Hasil peramalan (perencanaan jangka panjang) dipakai untuk membuat rencana produksi agregat (jangka menengah), yang pada akhirnya dibuat rencana detail (jangka pendek) yang menentukan jumlah produksi yang dibutuhkan untuk setiap produk akhir beserta periode waktunya untuk suatu jangka perencanaan.
3. Informasi Persediaan
Informasi persediaan menggambarkan status semua item yang ada dalam persediaan. Setiap item persediaan harus didefinisikan untuk menjaga kekeliruan perencanaan. Sedangkan untuk output dari MRP adalah sebagai berikut:
1. Memberikan catatan tentang penjadwalan pesanan yang harus dilakukan atau direncanakan baik dari pabrik sendiri maupun dari supplier
2. Memberikan indikasi untuk pembatalan atas pesanan 3. Memberikan indikasi untuk keadaan persediaan.