BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
80
Tahun 2011, dilihat dari laporan keuangan BAZNAS Kota Makassar telah menyusun laporan keuangannya sesuai dengan Akuntansi Zakat yaitu PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) No. 109 namun belum secara maksimal. BAZNAS Kota Makassar dalam mempetanggungjawabkan laporan keuangannya telah menyajikan:
1. Neraca (Laporan Posisi Keuangan).
2. Laporan Aktivitas.
3. Laporan Atas Perubahan Aktiva Bersih.
4. Laporan Arus Kas.
5. Catatan Atas Laporan Keunagan.
Laporan Keuangan BAZNAS Kota Makassar telah dibuat dengan 5 komponen laporan keuangan, amil sebagaimana yang diatur oleh PSAK 109.
Hanya saja akun - akun atau pos- pos yang seharusnya disajikan belum disajikan sesuai dengan ED (Exposure Draft) PSAK 109.
B. Saran
1. Badan Amil Zakat Kota Makassar sebaiknya menerapkan perlakuan akuntansi zakat, infak, dan sedekah sesuai dengan PSAK 109 sehingga laporan keuangannya dapat tersaji dengan tepat. Sehingga muzakki tidak lagi merasa khawatir untuk mengeluarkan hartanya dan menyalurkan kepada lembaga-lembaga zakat lainnya terutama kepada Badan Amil Zakat Kota Makassar.
2. Pengadaan perangkat lunak (software) akuntansi, bisa di jadikan sebagai bahan perbaikan dan pertimbangan dalam melaksanakan tugas amil pada Badan Amil Zakat Kota Makassar. Sehingga dapat memberi kemudahan dalam melakukan pencatatan serta laporan keuangan yang di hasilkan
81
tepat. Dengan demikian laporan keuangan yang di hasilkan akan lebih transparan dan akuntabilitas yang bersifat amanah dapat menambah kepercayaan muzakki.
3. BAZNAS Kota Makassar sebaiknya memiliki media cetak khusus untuk pelaporan keuangan zakat, infak/ sedekahnya seperti majalah agar memudahkan para muzakki membaca laporan keuangan BAZNAS Kota Makassar.
82
DAFTAR PUSTAKA
Ar Rahman, S. 2003. 1001 masalah zakat dan solusinya. Pustaka Cerdas Zakat:
Jakarta
Basir, Basri. 2018. Penerapan Nilai-Nilai Tabarru dalam Prinsip Akuntansi Syariah Studi Kasus pada Perusahaan Asuransi Prudential Syariah Tbk. Bongaya Journal for Research in Accounting. Vol. 1 No. 1: 65-71.
Djaelani, Aunu Rofiq. 2013. Tekhnik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif.
Majalah Ilmiah Pawiyatan. Vol. 20 No. 1: 82-92.
Endahwati, Dian Yosi. 2014. Akuntabilitas Pengelolaan Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS). Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Humanika. Vol. 4 No. 1: 1356-1379.
Fadillah, S., Nurleli, Lestari, R., dan Helliana. 2012. Membangun Kepercayaan Konsumen: Faktor Penting pada Lembaga Amil Zakat Seluruh Indonesia.
Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan PKM: Sosial, Ekonomi, dan Humaniora. Vol.3 No.1: 127-137.
Fatmawati, L. (2017). Pengaruh Shariah Compliance, Transparansi, Akuntabilitas Dan Kompetensi Sumber Daya Manusia (Sdm) Terhadap Pengelolaan Dana Zakat (Studi Pada Organisasi Pengelola Zakat Di Kabupaten Sukoharjo). Artikel.
Fardan Ngoyo, M., dan Bulutoding, L. 2015. Kajian Penerapan Akuntansi Zakat, Infaq/Sedekah Berdasarkan PSAK 109 pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar. Artikel: 1-15.
Harahap, N. 2014. Penelitian Kepustakaan. Jurnal Iqra’. Vol.8 No.1: 68-74.
Hasnawati, 2016. Akuntabilitas Pengelolaan Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) Berlandaskan Kearifan Lokal Manuntungi (Studi pada Badan Amil Makassar). Artikel. 1-37.
Hermawan, Sigit dan Restu Widya Rini. 2016. Pengelolaan Dana Zakat, Infaq, dan Shadaqah Perspektif Shariah Enterprise Theory. Riset Akuntansi dan Keuangan Indonesia. Vol. 1 No.1: 13-24.
Husain, S. dan Abdullah, W. (2015). Metafora Amanah Pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK) Sebagai Penopang Asset Perbankan Syariah Ditinjau dari Aspek Trilogi Akuntabilitas (Studi Kasus Pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Makassar). Iqtisaduna. Vol. 1 No. 2: 40-64.
Hutapea, P., dan Thoha, N. 2008. Manajemen sumber daya manusia. Edisi revisi.
Bumi Aksara: Jakarta.
Idat, G. (2003). Bank dan lembaga keuangan Indonesia. Bandung: Jemmars
83
Kalbarini, R.Y., dan Suprayogi, N. 2014. Implementasi Akuntabilitas dalam Konsep Metafora Amanah di Lembaga Bisnis Syariah (Studi Kasus:
Swalayan Pamella Yogyakarta). Jestt. V o l. 1 No.7: 506-517.
Karmila, A.T., dan Darlis, E. 2013. Pengaruh kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi informasi, dan pengendalian intern akuntansi terhadap keterandalan pelaporan keuangan Pemerintah Daerah (Studi pada Pemerintah Provinsi Riau). Jurnal Sorot. Vol. 9 No. 1: 25-42.
Kholmi, M. 2012. Akuntabilitas dan Pembentukan Perilaku Amanah dalam Masyarakat Islam. Jurnal Salam. Vol.15 No.1: 1-18.
Megawati, Devi dan Fenny Trisnawati. 2014. Penerapan PSAK 109 Tentang Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah pada BAZ Kota Pekanbaru. Jurnal Penelitian sosial keagamaan. Vol. 17 No. 1: 40-59.
Mu’is, Fahrur. 2011. Zakat A-Z Panduan Mudah, Lengkap, dan Praktis tentang Zakat. Tinta Medina: Solo.
Nainggolan, Pahala. 2005. Akuntansi Keuangan Yayasan dan Lembaga Nirlaba Sejenis. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Nurhayati, N., Fadilah, S., Iss, A., dan Lestira, M.O. 2014. Pengaruh kualitas informasi akuntansi, akuntabilitas dan transparansi pelaporan keuangan terhadap tingkat penerimaan dana zakat pada badan amil zakat (BAZ) di Jawa Barat. Prosiding SNAPP 2014 Sosial, Ekonomi, Dan Humaniora.
Vol.4 No.1: 577-584.
Rahayu, Nurul Widyawati Islami. 2014. Lembaga Amil Zakat, Politik Lokal, dan Good Governance di Jember. Karsa. Vol. 22 No. 2: 1-17.
Rahman, Taufikur. 2015. Akuntansi Zakat Infak dan Sedekah (PSAK:109) Upaya Peningkatan Transaparansi dan Akuntabilitas Organisasi Pengelola Zakat OPZ). Jurnal Muqtasid. Vol. 6 No. 1: 141-164.
Nurhasanah, S. (2018). Akuntabilitas Laporan Keuangan Lembaga Amil Zakat dalam Memaksimalkan Potensi Zakat. Akuntabilitas: Jurnal Ilmu Akuntansi.
Vol.11 No.2: 327-348.
Rahmadani, F., Karamoy, H., dan Affandi, D. (2018). Analisis Penerapan Akuntansi Zakat, Infaq/Sedekah pada Badan Amil Zakat Nasional Kota Kotamobagu. Jurnal Riset Akuntansi Going Concern. Vol.13 No.4: 85-93.
Rahmadhita. (2012). Optimalisasi peran lembaga amil zakat dalam kehidupan sosial. Jurisdictie, Jurnal Hokum dan Syariah. Vol.3 No.1: 24-34.
Rasul, S. 2003. Pengintegrasian sistem akuntabilitas kinerja dan anggaran dalam perspektif UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara. PNRI: Jakarta.
Rizky. 2013. Akuntabilitas dan transparansi lembaga pengelola zakat dan
84
pengaruhnya terhadap kualitas lembaga amil zakat (pandangan muzakki dan amil zakat). UNDIP: Semarang.
Salle, I.Z. 2015. Akuntabilitas Manuntungi: Memaknai Nilai Kalambusang pada Lembaga Amil Zakat Kawasan Adat Ammatoa. Jurnal Akuntansi Multiparadigma. Vol.6 No.1: 28-37.
Septiarini, F. D. (2011). Pengaruh transparansi dan akuntabilitas terhadap pengumpulan dana zakat, infaq dan shodaqoh pada LAZ di Surabaya.
Jurnal Akuntansi. Akrual 2 (2) (2011): 172-199 e-ISSN: 2502-6380.
Triyuwono, Iwan. 2000. Organisasi dan Akuntansi Syari’ah. LkiS: Yogyakarta.
Triyuwono, Iwan. 2006. Akuntansi Syari’ah: Menuju Puncak Kesadaran Ketuhanan Manunggaling Kawulo-Gusti. Pidato Pengukuhan Guru Besar Akuntansi Syari’ah di Gedung PPI Universitas Brawijaya 2 September 2006.
Purbasari, Indah. 2015. Pengelolaan Zakat oleh Badan dan Lembaga Amil Zakat di Surabaya dan Gresik. Jurnal Mimbar Hukum. Vol. 27 No. 1: 68-81.
Widialoka, W., Hidayat, A.R., dan Azib. 2015. Analisis pengaruh kepatuhan syariah (syariah compliance) terhadap dana pihak ketiga pada bank umum syariah di indonesia periode tahun 2010-2015. Prosiding keuangan dan perbankan Syariah.
Winidyaningrum, C., dan Rahmawati. 2010. Pengaruh kapasitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi informasi terhadap keterandalan dan ketepatwaktuan pelaporan keuangan pemerintah daerah dengan variabel intervening pengendalian intern akuntansi. Simposium Nasional Akuntansi XII: Purwokerto.
85
L A M
P
I
R
A
N
86
Lampiran 1: Informasi Informan
INFORMASI INFORMAN
Data Informan Pegawai BAZNAS Kota Makassar
Nama H. Katjong Tahir, SH
Jenis Kelamin Laki- laki
Umur 65 Tahun
Jabatan Sekretaris BAZNAS Kota Makassar Lama Bekerja 4 Tahun
Alamat BTN Pesona Barombong
Telp +62811463568
Waktu Wawancara 29 Agustus 2019
87
Lampiran 2: Format Wawancara
Wawancara dilakukan pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar. Wawancara dilakukan dengan 1 orang informan yaitu Sekretaris BAZNAS atas nama Bapak H. Katjong Tahir, SH. yang bertempat di Kantor BAZNAS Kota Makassar Jl. Teduh Bersinar No. 5 Komp. Kantor Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan Kota Makassar. Wawancara ini juga didukung dengan adanya Laporan Tahunan BAZNAS Kota Makassar yang sudah diaudit yang diperoleh di bagian keuangan BAZNAS Kota Makassar. Penelitian ini dilakukan dalam rentang waktu Agustus sampai dengan September 2019. Wawancara dengan informan bapak H. Katjong Tahir dilaksanakan pada tanggal 29 Agustus 2019 dengan durasi waktu 1 jam dengan 17 pertanyaan.
1 Bagaimana cara penghimpunan dana zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional BAZNAS) Kota Makassar?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Cara penghimpunan dana zakat di BAZNAS Kota Makassar itu ada 2 yaitu:
1. Penghimpunan zakat Perorangan yaitu Amil langsung menyetor kapada pengelola BAZNAS tidak ada perantara.
2. Penghimpunan zakat Badan yaitu melalui kerjasama dengan UPZ
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Pengukuran zakat telah diatur dalam Al-Quran takarannya dinilai 2,5%
dari harta/penghasilan muzakki. Pengakuannya apabila muzakki telah mengaku bahwa harta/penghasilannya telah memenuhi unsur mengeluarkan zakat maka penghasilannya dikali 2,5%.
88
3 Bagaimana bentuk penyajian dana zakat, dana infak/sedekah, dana amil, dan dana nonhalal pada laporan keuangan zakat di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Dana Zakat, infak/sedekah, dana amil dan dana nonhalal disajikan secara terpisah. Ada 3 jenis laporan:
1. Laporan Zakat yaitu zakat harus habis minimal 80% tersalurkan ke-8 asnaf. Disalurkan dalam bentuk dana konsumtif.
2. Laporan Infak minimal 75% harus tersalurkan, tetapi tidak harus ke 8 asnaf. Dilihat dari tingkat kebutuhan kaum dhuafa atau
mustahik, biasanya disalurkan dalam bentuk dana bergulir dan dana produktif (bantuan modal usaha, pelatihan menjahit, dan produksi makanan).
3. Laporan nonhalal yaitu digunakan untuk biaya operasional BAZNAS.
Misalnya biaya akomodasi pimpinan, pengadaan sarana dan prasarana, biaya penunjang kelancaran laporan BAZNAS Kota Makassar
4 Hal apa saja yang menjadi wajib untuk di ungkapkan didalam laporan keuangan zakat dan infak/ sedekah?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Yang wajib diungkapkan pada laporan keuangan zakat dan infak/sedekah yaitu:
1. Penerimaan dan sumbernya yakni berapa jumlah muzakki yang membayar zakat dan seberapa banyak jumlah zakat dan infak/sedekah yang berhasil dihimpun.
2. Pendistribusian zakat dan infak/sedekah yakni berapa jumlah mustahik yang menerima zakat dan infak/sedekah.
5 Bagaimana sistem pencatatan apa yang digunakan dalam pelaporan keuangan, apakah menggunakan akrual basic atau cash basic?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Sistem pencatatan yang digunakan oleh BAZNAS kota Makassar adalah menggunkan Cash Basic. Ketika ada uang kas baru dicatat/dibukukan, dipisahkan antara dana zakat dan dana infak/sedekah.
89
6 Bagaimana cara penyajian laporan keuangan yang dilakukan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar? Apakah disajikan secara tahunan?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Laporan keuangan BAZNAS Kota Makassar dilaporkan 2 kali/ tahun yakni per semester/ per 6 bulan dan per Tahunan kepada BAZNAS Pusat dan BAZNAS Provinsi lewat Pemerintah Kota.
7 Media apa saja yang digunakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar untuk menyajikan laporan keuangannya?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Media yang digunakan BAZNAS Kota Makassar saat ini yaitu media elektronik, setiap tahun akan diaudit oleh akuntan publik. Laporan keuangan BAZNAS Kota Makassar akan dilaporkan kepada BAZNAS Pusat dan BAZNAS Provinsi. Media cetak yang digunakan adalah media cetak harian surat kabar. Untuk saat ini belum ada media cetak yang secara khusus dimiliki BAZNAS Kota Makassar.
8 Seberapa penting penerapan PSAK 109 penyusunan laporan keuangan infak/ sedekah bagi amil dan bagi para muzakki?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Penerapan PSAK 109 sangat penting sekali karena dalam setahun dana zakat biasanya dibagi habis. Sehingga harus diketahui berapa muzakki yang membayar dan seberapa banyak mustahik yang menerima zakat dan berapa banyak amil yang mengelola zakat. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat bahwa BAZNAS Kota Makassar telah pengelola dan mendistribusikan zakat secara tepat.
10 Apa peluang dan tantangan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar dalam mengimplementasikan Akuntansi Zakat PSAK 109?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Sejauh ini tidak ada, karena selalu merevisi. Agar masyarakat lebih mengerti. Serta selalu melakukan komunikasi dan secara terbuka kepada BAZNAS Pusat dan BAZNAS Provinsi tentang laporan keuangan.
11 Apakah pedoman Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar dalam menyusun laporan keuangan?
90
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
BAZNAS Kota Makassar berpedoman kepada Undang- Undang No. 23 tahun 2011. Format laporan keuangan berdasarkan dari format laporan keuangan BAZNAS Pusat.
12 Bagaimana cara pendistribusian zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Pendistribusian dana zakat, infak/ sedekah oleh BAZNAS Kota Makassar yaitu:
1. Pendistribusian secara langsung.
2. Pendistribusian bulanan.
3. Pendistriibusian 1 kali setahun.
4. Pendistribusian salam bentuk barang.
5. Pendistribusian dalam bentuk pembinaan.
13 Dalam bentuk apa pendistribusian dana zakat Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Ada 2 macam bentuk pendistribusiaanya yaitu:
1. Konsuntif: dalam bentuk sembako atau uang.
2. Produktif: dalam bentuk program jangka pangjang yaitu masyarkat miskin diubah pola pikirnya dengan cara dibina dalam bidang keagamaan, diberi modal dan dibina dalam bentuk bidang usaha sepeti menjahit, produksi makanan, dll. Sesuai dengan tujuan BAZNAS pengurangan kemiskinan.
14 Kepada siapa saja pendistribusian dana zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar disalurkan?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Pendistribusian dana zakat, infak, dan sedekah oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar disalurkan kepada 8 asnaf sebagimana dalam Al-Qur’an dalam surah At-Taubah ayat 103 dengan dibagi 5 golongan:
1. Bidang Sosial 2. Bidang Pendidikan
91
3. Bidang Ekonomi 4. Amil
5. Dakwah dan Advokasi
Hanya saja zaman sekarang kepada gharimin atau orang yang terlilit hutang itu harus benar- benar dikalrifikasi dia berutang untuk kebutuhan hiudp keluarga atau hanya sekedar keinginan si gharimin tersebut.
15 Pengelolaan zakat memerlukan sumber daya manusia (amil) yang berkualitas. Untuk meningkatkan kualitas SDM, apakah telah dilakukan pelatihan pengembangan SDM pengelola zakat?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Dalam pengelolaan Zakat seorang amil harus memiliki kemampuan yaitu kemampuan dalam hal berkomunikasi begitu pula kemampuan IT atau kemampuan menjalan aplikasi dalam komputer. Untuk mencapai hal tersebut ketika ada pelatihan-pelatihan amil di ikutkan.
16 Untuk mendapatkan SDM yang berkualitas, adakah persyaratan khusus yang harus dipenuhi bagi calon amil?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Persyaratan khusus seorang amil harus memiliki pengetahuan tentang Zakat, selebihnya dikembangkan ketika sudah di dalam BAZNAS itu sendiri.
17 Bagaimanakan peran serta pemerintah dalam kegiatan pengelolaan dana zakat?
Informan: Bapak H. Katjong Tahir
Peran pemerintah kota makassar melakukan pembinaan terkait BAZ serta memberikan anggaran kepada BAZNAS Kota Makassar dalam hal pembangunan Gedung.
92
Lampiran 3 Dokumentasi
Wawancara dengan Bapak H. Katjong Tahir
93
Lampiran 4
Peta Lokasi BAZNAS Kota Makassar
94
Lanpiran 5
Laporan Keuangan BAZNAS Kota Makassar
Laporan Auditor Independen
95
Surat Pernyataan Pengurus
96
Laporan Posisi Keuangan
97
Laporan Aktivitas
98
Laporan Perubahan Aktiva Bersih
99
Laporan Arus Kas
100
Catatan Atas Laporan Keuangan
101
Catatan Atas Laporan Keuangan
102
Catatan Atas Laporan Keuangan
103
Catatan Atas Laporan Keuangan
104
Lampiran 6
Surat Telah Melakukan Penelitian
105
RIWAYAT HIDUP
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Saya bernama Irman Syah, atau yang akrab dipanggil Irman, lahir di Bulukumba, 05 Juli 1996 M / 18 Safar 1417 H tepatnya di Provinsi Sulawesi Selatan. Sebagai anak tunggal yang lahir dari pasangan suami istri Bapak Tinggi dan Ibu Juhadi.
Menempuh pendidikan dasar di TK Aisyiah Mustanul Athfal pada tahun 2003, lulus Pendidikan dasar di SD Negeri 31 Bontomacinna (Sekarang SD Negeri 31 Bontoraja) tahun 2009, lanjut dan lulus dari sekolah menengah pertama di SMP Negeri 5 Gantarang (Sekarang SMP Negeri 7 Bulukumba) tahun 2012, kemudian lanjut dan lulus dari sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Bulukumba tahun 2015. Pada tahun 2015 pula penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi (S1) Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar dan lulus tahun 2020. Selama menempuh pendidikan di Makassar, penulis aktif dalam berbagai organisasi Internal maupun Eksternal Kampus diantaranya: Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai Departemen (2016-2017), Sekretaris Bidang (2017-2018), dan Ketua Bidang (2018-2019), masing-masing di Bidang Media dan Komunikasi di PIKOM IMM FEB UNISMUH Makassar. Anggota Divisi WEB (MEDITEK) LSO DPD IMM Sul-Sel (2016-2020).
Himpunan Mahasiswa Akuntansi sebagai Sekretaris Bidang Kesekretariatan (2018-2019), serta pernah di BEM Fakultas Ekononi dan Bisnis.