• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sarana dan Prasarana Listrik dan Air Minum

Pada umumnya pembangunan ketenagalistrikan menghadapi beberapa tantangan, antara lain kondisi geografis yang membutuhkan sistem interkoneksi yang hanya dapat dikembangkan secara efisien di pulau-pulau besar dengan penduduk yang padat, lokasi sumber energi yang terpusat seperti di Pulau Jawa, Madura dan Bali. Kepadatan penduduk yang tidak merata merupakan salah satu kendala pengembangan ketenagalistrikan bagi daerah-daerah dengan kepadatan rendah, dan adanya pemberian wewenang yang lebih besar kepada daerah untuk menyusun RUKD.

Di Kabupaten Bangka, pengadaan listrik dikelola oleh PT. PLN (Persero) Cabang Bangka dan Perusahaan/usaha listrik milik masyarakat (swasta). Pada tahun 2005 jumlah produksinya mencapai 195.660.143 KWH dengan daya tersambung 84.564 VA. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai produksi 169.342.552 KWH dengan daya tersambung 21.004.977 VA. Hal yang sama terjadi pada jumlah pelanggan. Pada tahun 2005 banyaknya pelanggan listrik berjumlah 24.029 pelanggan yang terdiri dari rumah tangga sebanyak 22.430 pelanggan, industri 16 pelanggan, dinas/instansi sebanyak 187 pelanggan, sarana ibadah/sosial sebanyak 456 pelanggan, dunia usaha sebanyak 891 pelanggan dan untuk lampu jalan sebanyak 49. Namun dilihat dari distribusinya, pelayanan ini masih terpusat di daerah perkotaan dan kecamatan-kecamatan di sekitarnya.

II - 112

Tabel 2.69. Perkembangan Daya Tersambung dan Jumlah Pelanggan di Kabupaten Bangka Tahun 2004 2005 Jumlah Produksi 169.342.552 KWH 195.660.143 KWH Daya tersambung 21.004.977 VA 84.564 VA Jumlah pelanggan 19.903 24.029 a. rumah tangga 18.553 22.430 b. industri 16 16 c. dinas/instansi 125 187 d. sarana ibadah/sosial 336 456 e. dunia usaha 846 891 f. lampu jalan 27 49

Sumber : Bangka Dalam Angka 2004, 2005

Berdasarkan data tahun 2004, jumlah pelanggan listrik di Kabupaten Bangka mencapai 19.898 pelanggan dan sekitar 93% atau sejumlah 18.573 pelanggan adalah pelanggan rumah tangga (domestik) dengan mengasumsikan jumlah KK di wilayah Kabupaten Bangka adalah 45.941 KK. Dengan membandingkan jumlah yang telah terlayani saat ini dengan jumlah KK yang harus dilayani, maka tingkat pelayanan listrik di wilayah ini relatif masih sangat rendah yaitu hanya sekitar 40,42%. Sedangkan perkiraan kebutuhan listrik 2016 adalah sebesar 361.554 KWH.

Dalam hal pemanfaatan air minum, hingga saat ini, distribusi penggunaan air bersih di Kabupaten Bangka belum merata. Berdasarkan data PDAM Tirta Bangka, menunjukkan bahwa jumlah air minum yang telah disalurkan pada tahun 2005 adalah sebanyak 1.508.792 m3 dengan jumlah pelanggan sebanyak 5.743 pelanggan, yang terdiri dari sosial umum sebanyak 29 pelanggan dengan banyaknya air 9.993 m3, sosial khusus sebanyak 43 pelanggan dengan banyaknya air 8.526 m3 dan rumah tangga sebanyak 5.554 pelanggan.

Tabel 2.70. Jumlah Pelanggan Air Minum, 2005 Tahun 2004 2005 Jumlah tersalur 894.249 m3 1.508.792 m3 Jumlah pelanggan 5.747 5.743 a. sosial umum 31 29 1.845 m3 9.993 m3 b. sosial khusus 46 43 676 m3 8.526 m3 c. rumah tangga 5.602 5554 652.833 m3 1.076.554 m3 d. instansi pemerintah 90 92 77.001 m3 4.178 m3 e. niaga kecil 24 20 3.724 m3 71.961 m3 f. niaga besar 4 5 3.022 m3 3.930 m3 Sumber: PDAM Tirta Bangka

Berdasarkan data tahun 2004, jumlah pelanggan air bersih di Kabupaten Bangka mencapai 6.274 pelanggan dan sekitar 96% atau sejumlah 6.063 pelanggan merupakan pelanggan rumah tangga (domestik). Dengan asumsi 40% penduduknya tinggal di perkotaan dengan jumlah KK yang ada target pelayanan minimum yang tercapai sekitar 80%, maka jumlah pelanggan domestik yang harus dilayani sekitar 14.701 pelanggan domestik.

Dengan membandingkan antara jumlah pelanggan domestik saat ini dengan jumlah pelanggan yang harus dilayani oleh PDAM, maka tingkat pelayanan air bersih baru mencapai 41,26%. Kebutuhan prasarana air bersih 49.887.138 li/hr

1.1) Permasalahan

Permasalahan umum yang dihadapi Kabupaten Bangka dalam kaitannya dengan penyediaan sarana dan prasarana adalah:

(1) Belum terpenuhinya kebutuhan masyarakat di bidang perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya secara memadai, layak huni dan terjangkau oleh masyarakat.

II - 114

(2) Penyediaan prasarana dan sarana pendukung yang belum merata di setiap wilayah terutama untuk daerah-daerah terpencil.

(3) Belum tersedianya prasarana dan sarana pendukung di bidang pendidikan yang memadai dan berkualitas, baik dalam pendidikan formal maupun informal. Penyediaan prasarana dan sarana pendidikan tersebut juga belum dapat mencakup seluruh wilayah.

(4) Belum tersedianya prasarana dan sarana di bidang kesehatan yang memadai diantaranya adalah:

a. Jumlah jaringan serta kualitas puskesmas yang belum memadai khususnya di daerah/pulau terpencil dan terisolir.

b. Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan yang belum memadai.

c. Belum adanya kesadaran masyarakat yang tinggi akan pentingnya menciptakan lingkungan yang sehat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

(5) Prasarana dan sarana perhubungan yang telah ada di Kabupaten Bangka, belum memadai baik dari segi jumlah maupun kualitasnya untuk mengakomodasi perkembangan daerah dan peningkatan jumlah penduduk.

a. Prasarana dan sarana perhubungan khususnya perhubungan laut (pelabuhan) masih minim dan belum optimal. Padahal prasarana dan sarana perhubungan laut sangat penting guna menunjang perdagangan baik ekspor komoditas unggulan ke wilayah lain atau impor barang dari daerah lain.

b. Di bidang transportasi darat, pada umumnya Kabupaten Bangka masih menghadapi kondisi jalan yang kurang mendukung. Salah satu faktor penyebab kerusakan jalan di wilayah Kabupaten Bangka adalah kelas jalan yang tidak sesuai dengan beban kendaraan terutama truk-truk yang mengangkut kelapa sawit.

c. Selain kerusakan jalan, penanganan sarana jaringan jalan dan fasilitas penunjang transportasi darat lainnya juga belum optimal, terutama dalam rangka meningkatkan kelancaran mobilitas arus barang, jasa dan penumpang.

(6) Penyediaan prasarana dan sarana umum belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama bagi penduduk miskin yang tinggal di wilayah/pulau-pulau terpencil dan tertinggal. Bidang pelistrikan

misalnya, bagi penduduk di wilayah/pulau-pulau terpencil dan tertinggal belum dapat menikmatinya. jika membandingkan jumlah yang telah terlayani listrik saat ini dengan jumlah KK yang harus dilayani, maka tingkat pelayanan listrik di Kabupaten Bangka relatif masih sangat rendah.

(7) Belum tersedianya prasarana dan sarana di bidang telekomunikasi dan informasi.

(8) Pembangunan prasarana dan sarana publik belum memperhatikan tata ruang wilayah yang baik, seperti pembangunan infrastruktur yang belum mempertimbangkan keterkaitan antara pusat-pusat pelayanan dengan wilayah-wilayah lainnya.

(9) Penyediaan prasarana dan sarana yang belum memadai dalam menunjang pengembangan pemukiman penduduk.

(10) Dalam hal pemanfaatan air minum, hingga saat ini, selain distribusi penggunaan air bersih di Kabupaten Bangka belum merata, tingkat pelayanan air bersih juga relatif masih rendah.

(11) Jaringan infrastruktur penunjang kegiatan produksi di kawasan pedesaan belum memadai sehingga menyebabkan belum dapat menggali potensi di kawasan pedesaan secara optimal.

(12) Besarnya dana yang dibutuhkan untuk membangun sarana dan prasarana fisik berbagai kebutuhan masyarakat.

1.2) Capaian Keberhasilan

Indikator capaian keberhasilan penyediaan sarana dan prasarana antara laian adalah semakin bertambahnya luas jalan yang dibangun, bertambahnya arus barang dan penumpang, pengembangan dermaga dan berbagai fasilitas kebutuhan masyarakat. Secara umum beberapa keberhasilan yang telah dicapai dalam pembangunan sarana dan prasarana Kabupaten Bangka adalah:

1) Terealisasikannya pembangunan beberap ruas jalan baru maupun rehabilitasi jalan-jalan yang telah ada. Selain itu dari sisi pemanfaatan jalan juga sudah semakin mengalami peningkatan.

2) Demikian juga untuk pemanfaatan sarana perhubungan lainnya, seperti bandara dan dermaga

II - 116

4) Terealisasikannya beberapa kegiatan penunjang perhubungan seperti halte dan penyiapan pembangunan terminal

2) Analisis

2.1) Proyeksi peluang

Beberapa proyeksi peluang yang akan memberi dukungan bagi keberhasilan pembangunan di Kabupaten Bangka, secara umum adalah sebagai berikut: (1) Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dalam upaya memelihara

dan meningkatnya jumlah dan kualitas sarana dan prasarana umum yang dibutuhkan, seiiring dengan meningkatnya pendidikan masyarakat. (2) Adanya otonomi daerah dan desentralisasi bidang pekerjaan umum, yang memberi peluang bagi Kabupaten Bangka untuk mengembangkan sistem sarana dan prasarana sesuai dengan karakteristik wilayah. (3) Besarnya potensi sumber-sumber ekonomi di wilayah Kabupaten Bangka

yang masih dapat dikembangkan dan dimanfaatkan.

2.2) Proyeksi Ancaman

Beberapa ancaman yang diproyeksikan akan dihadapi oleh Kabupaten Bangka dalam penyediaan sarana dan prasarana umum adalah sebagai berikut:

(1) Jumlah penduduk dan kepadatan penduduk yang cenderung masih meningkat, menyebabkan tuntutan penyediaan sarana dan prasarana fisik semakin meningkat, terutama meningkatnya lalu lintas angkutan jalan raya yang merupakan sarana angkutan utama di wilayah Kabupaten Bangka.

(2) Perkembangan kegiatan perdagangan dan jasa seiiring dengan semakin meningkatnya pembangunan ekonomi.

(3) Disparitas antar kecamatan dalam penyediaan sarana dan prasaran yang berpotensi menimbulkan konflik dalam masyarakat.

2.3) Proyeksi Permasalahan

Proyeksi permasalahan yang mungkin dihadapi Kabupaten Bangka dalam 20 tahun ke depan di bidang penyediaan sarana dan prasarana, secara umum adalah:

(1) Kualitas dan kuantitas SDM yang kurang mampu mengimbangi kebutuhan yang berkembang di masyarakat, sebagai akibat dari karakteristik wilayah yang dimiliki.

(2) Rendahnya kesadaran masyarakat dalam upaya pemeliharaan fasilitas umum yang dimiliki Kabupaten Bangka.

(3) Lemahnya kinerja kelembagaan seperti yang diinginkan, walaupun proses penataan kelembagaan terus dilakukan.

(4) Masih kurangnya kenyamanan penggunaan fasilitas umum terutama dalam hal pemanfaatan angkutan umum.

2.4) Proyeksi Keberhasilan

(1) Dukungan political will dari pemerintah daerah dan DPRD dalam pengembangan penyediaan sarana dan prasarana umum

(2) Adanya dukungan dana, seiring dengan semakin luasnya pengembangan potensi ekonomi yang dimiliki Kabupaten Bangka

(3) Adanya upaya penyusunan berbagai program yang berkaitan dengan peningkatan penyediaan sarana dan prasarana maupun pemanfaatannya.

3) Output

Di bidang sarana dan prasarana, diprediksikan untuk 20 tahun ke depan akan terjadi peningkatan tuntutan pemenuhan fasilitas ini baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, seiring dengan terjadinya peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan atau pertumbuhan ekonomi. Secara teoritis semakin meningkatnya pemenuhan fasilitas ini akan memberi efek yang lebih besar bagi pencapaian pertumbuhan ekonomi berikutnya.

Semakin meningkatnya dan semakin meratanya fungsi pelayanan umum di Kabupaten Bangka dalam 20 tahun ke depan, pada gilirannya akan semakin meluasnya pemenuhan kebutuhan masyarakat dengan harga yang terjangkau di semua kecamatan yang ada, melancarkan distribusi barang dan jasa sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah terpencil, yang pada akhirnya mampu mempercepat pengembangan wilayah kecamatan dan mempererat hubungan antar kecamatan.

II - 118

2.1.6. Pemerintahan Umum

1) Input

Lembaga pemerintahan merupakan institusi yang menyiapkan aturan main

(rules of the game) atau prosedur untuk mengatur antar masyarakat dan

organisasi serta mengimplementasikan aturan-aturan tersebut dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Titik berat otonomi berkaitan dengan lembaga pemerintah yaitu yaitu: pertama, kemampuan dalam hal memenuhi kebutuhan keuangan daerah baik untuk pembiayaan rutin pemerintahan maupun untuk pembangunan. Kedua, kemampuan dalam mengelola kehidupan masyarakat melalui berbagai peraturan yang mengikat. Ketiga, kemampuan membagi dan mengalokasikan sumber-sumber untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan masyarakat.

Keempat, kemampuan masing-masing lembaga pemerintah dalam

melaksanakan fungsi-fungsinya.

Lembaga di lingkungan pemerintahan daerah dan dalam berbagai harapan yang muncul dari masyarakat pada umumnya. Sementara ketidakpastian tercermin dari keraguan di banyak kalangan atas kelancaran proses pengalihan wewenang, personil, aset dan uang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan keraguan atas kemampuan pemerintahan di daerah untuk menghasilkan “good governance and clean government”.