BAB VI PEMBAHASAN
H. Sebaran Patient delay pada Kasus TB BTA (+) Berdasarkan Perilaku Merokok di
2014
Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar patient delay
memiliki riwayat merokok, hanya 6 (35,3%) patient delay yang tidak pernah merokok. Seluruh patient delay yang memiliki riwayat merokok tersebut adalah laki-laki. Hal ini didukung dengan hasil penelitian Riskesdas (2013)
yang menunjukkan bahwa 47,5% perokok setiap hari adalah laki-laki dan
1,1% adalah perempuan.
Selain itu, setiap harinya patient delay merokok rata-rata sebanyak 19 batang atau sekitar 1,5 bungkus. Jumlah rokok yang dihisap paling sedikit
berjumlah 5 batang per hari atau sekitar setengah bungkus dan paling banyak
adalah 36 batang (3 bungkus) per hari. Rata-rata batang rokok yang dihisap
patient delay ternyata melebihi rata-rata jumlah batang rokok yang dihisap per hari per orang di Jakarta yaitu 11,6 batang per hari (Kemenkes, 2013).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok patient delay
memang lebih berat dibandingkan dengan perokok di Jakarta pada umumnya.
Selain jumlah batang rokok yang banyak dikonsumsi setiap harinya,
ternyata merokok sudah menjadi kebiasaan patient delay yang sudah sangat lama. Terbukti bahwa mereka merokok rata-rata selama 22,82 tahun sampai
dengan pertama kali memeriksakan gejala TB yang di alaminya ke
Puskesmas, dengan minimal selama 11 tahun dan maksimal 48 tahun
merokok.
Dengan demikian, tentu saja patient delay sudah terbiasa dengan akibat yang ditimbulkan dari kebiasaan merokoknya termasuk munculnya
yang merokok 2,5 kali berisiko delay dibandingkan dengan yang tidak merokok (Tarimo, 2012). Begitu juga di India, merokok 1,9 kali dapat
meningkatkan patient delay (Mor, 2013). Selain itu, di Nepal, merokok > 5 kali per hari dapat meningkatkan 2,4 kali delay dibandingkan dengan yang tidak merokok (Rajeswari, 2002). Adanya faktor risiko tersebut dikarenakan
patient delay merasa batuk yang dialaminya adalah batuk biasa akibat dari kebiasaan merokoknya.
Oleh karena itu, masyarakat khususnya seseorang yang memiliki
kebiasaan merokok perlu mendapatkan pemahaman dari petugas kesehatan
Puskesmas ataupun kader TB mengenai gejala batuk yang dicurigai TB, yaitu
jika batuk yang di alaminya terus-menerus selama 2-3 minggu beserta
ataupun tidak ada gejala tambahan lainnya, maka perlu waspada dan segera
memeriksakan diri ke Puskesmas agar segera mendapatkan diagnosis dan
penanganan lebih lanjut. Namun, dikarenakan Kecamatan Kramat Jati
merupakan wilayah berisiko tinggi terhadap TB, maka ketika mengalami
batuk walaupun belum 2 minggu segera memeriksakan diri ke Puskesmas.
I. Sebaran Patient Delay pada Kasus TB BTA (+) Berdasarkan Jarak Tempat Tinggal Patient Delay dengan Puskesmas di Wilayah Kerja PKC Kramat Jati Jakarta Timur Tahun 2014
Seluruh tempat tinggal patient delay pada kasus TB BTA (+) di wilayah kerja PKC Kramat Jati tahun 2014 berada dekat dengan pelayanan
kesehatan yang didatanginya pertama kali untuk memeriksakan gejala batuk
yang dialaminya, yaitu <5 Km. Berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya
yang menemukan bahwa pasien yang memiliki jarak >5 Km cenderung lebih
dkk, 2007). Hal ini disebabkan semakin jauh tempat tinggal ke pelayanan
kesehatan, maka semakin lama delay patient delay. Namun, pada penelitian lain ditemukan bahwa pasien yang memiliki jarak rumah ke pelayanan
kesehatan >10 Km cenderung lebih lama delay dibandingkan dengan pasien yang memiliki jarak <10 Km (Mekonnen, dkk, 2014). Ternyata memang
benar, alasan mereka delay bukan karena jarak ke pelayanan kesehatan melainkan mereka merasa batuk yang dialaminya adalah batuk biasa, bukan
batuk yang perlu di waspadai.
Selain itu, ditemukan bahwa patient delay di wilayah Kelurahan Tengah yang terdekat dengan PKL Kampung Tengah berada sekitar 289,63
meter dari puskesmas tersebut, yaitu di wilayah RW 10 Kelurahan Tengah.
Sedangkan patient delay yang berada di wilayah Batu Ampar yang terdekat dengan PKL Batu Ampar adalah 132,85 meter dari PKL Batu Ampar dan
patient delay di kelurahan Balekambang yang memiliki jarak terdekat dengan PKL Balekambang berjarak 156,91 meter.
Meskipun seluruh patient delay berada dekat dengan Puskesmas, namun jarak secara keruangan dengan menggunakan analisis spasial ini
diukur dengan menarik garis lurus antar titik koordinat rumah patient delay
dengan titik koordinat Puskesmas, sehingga untuk mengakses Puskesmas
sebenarnya dapat melebihi jarak secara keruangan yang dihasilkan pada
penelitian ini. Walaupun sebenarnya lebih jauh jaraknya untuk mengakses
Puskesmas, namun patient delay dapat dengan mudah mengakses Puskesmas tersebut karena tersedia alat transportasi umum menuju ke empat Puskesmas
tersebut (PKC Kramat Jati, PKL Kampung Tengah, PKL Batu Ampar dan
PKL Balekambang).
Oleh karena itu, untuk menurunkan angka patient delay diperlukan edukasi lebih dini kepada masyarakat mengenai TB oleh petugas kesehatan
dari Puskesmas dan juga kader TB agar mereka lebih waspada terhadap TB,
tidak menganggap remeh dan segera memeriksakan diri ke Puskesmas jika
mengalami batuk, terlebih sudah selama 2-3 minggu mengingat akses menuju
Puskesmas dapat dicapai dengan mudah. Dengan demikian, petugas
Puskesmas bekerja sama dengan kader TB setempat dan juga tokoh
masyarakat untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terlebih dahulu
yang tinggal di wilayah RW 10 Kelurahan Kampung Tengah, RW 03
Kelurahan Batu Ampar dan RW 02 Kelurahan Balekambang. Diharapkan
masyarakat yang memiliki jarak tempat tinggal dengan Puskesmas yang lebih
dekat akan lebih segera pula dalam memeriksakan diri ke Puskesmas saat
mengalami gejala batuk meskipun tidak mencapai 2-3 minggu.
J. Sebaran Patient Delay pada Kasus TB BTA (+) Berdasarkan Dukungan Kader TB di Wilayah Kerja PKC Kramat Jati Jakarta Timur Tahun 2014
Sebagian besar kasus TB terlambat ditemukan (patient delay) bahkan sebanyak 1/3 kasus TB masih belum terlaporkan, sehingga mempengaruhi
keberhasilan pengobatan. Hal ini dikarenakan saat dilakukannya pemeriksaan
dan penegakkan diagnosis, kondisi umum pasien sudah parah bahkan bakteri
TB telah resisten di dalam tubuhnya. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat
untuk memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan atau mencari pengobatan
diperlukan peran serta masyarakat dan organisasi kemasyarakatan seperti,
LSM, organisasi berbasis komunitas, organisasi berbasis agama, organisasi
pasien dan mantan pasien, organisasi profesi, tokoh masyarakat maupun
kader TB, (Kemenkes, 2014).
Kader TB di masyarakat mempunyai peran yang besar dalam
pencegahan dan pengendalian TB, yaitu memberikan informasi tentang TB,
penemuan suspek, mengantarkan suspek ke pelayanan kesehatan, sebagai
Pengawas Menelan Obat, memantau pengobatan pasien TB dan melakukan
pencatatan dan pelaporan (Aisyiyah, 2015). Memberikan informasi tentang
TB dan mengantarkan suspek ke pelayanan kesehatan merupakan bentuk
dukungan kader TB kepada suspek TB di masyarakat. Kedua peran ini sangat
penting dilakukan oleh kader TB dalam menurunkan angka patient delay
karena dapat meningkatkan kesadaran masyarakat atau suspek TB tersebut
untuk memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan lebih dini.
Berdasarkan hasil penelitian ini, diketahui bahwa 100% patient delay
pada kasus TB BTA (+) di wilayah kerja PKC Kramat Jati tahun 2014 tidak
mendapat dukungan kader TB di wilayah tempat tinggalnya. Selain itu,
ditemukan bahwa di wilayah Kelurahan Kampung Tengah, seluruh patient delay mengenal dan mendapat dukungan kader TB saat sudah dinyatakan positif menderita TB, seperti mengawas menelan obat, memberikan edukasi
agar tidak putus obat dan mengantarkan ke puskesmas jika pasien TB
membutuhkan bantuan kader. Sedangkan saat masih menjadi suspek, mereka
tidak mendapat dukungan kader TB bahkan tidak tahu adanya kader TB di
masyarakat dalam pencegahan masih belum dilakukan dengan maksimal,
melainkan lebih maksimal dilakukan dalam bentuk kuratif dan rehabilitatif.
Informasi lain yang peneliti temukan di lapangan adalah dalam
pencatatan dan pelaporan suspek oleh kader TB kepada PKPU masih kurang
tepat. Hal ini dikarenakan suspek yang ditemukan langsung oleh Puskesmas
tetap tercatat oleh kader TB sebagai suspek yang merupakan temuannya.
Sedangkan, seharusnya yang terlaporkan oleh kader TB kepada PKPU hanya
suspek yang benar-benar ditemukan langsung di lapangan. Hal ini
menunjukkan bahwa kegiatan promosi kesehatan berupa penemuan suspek di
masyarakat salah diartikan karena akan mengabaikan kegiatan promosi
berupa edukasi kepada masyarakat yang menghasilkan suspek bukan suspek
TB yang telah ditemukan kemudian dilakukan edukasi.
Pada penelitian ini menemukan bahwa seluruh patient delay di Kelurahan Batu Ampar dan Balekambang tidak mendapat dukungan dan
tidak mengenal kader TB baik saat menjadi suspek maupun saat menjalani
pengobatan. Tentu saja fenomena ini menunjukkan tidak dilakukannya
tatalaksana TB paripurna di masyarakat baik promosi, pencegahan, maupun
rehabilitasi pasien TB. Sedangkan, berdasarkan pedoman Pengendalian TB
tahun 2014, serangkaian kegiatan tatalaksana TB paripurna yang harus
dilakukan adalah promosi TB, pencegahan TB, penemuan pasien TB,
pengobatan pasien TB dan rehabilitasi pasien TB. Dengan demikian,
diperlukan peningkatan peran kader dalam kegiatan promosi, pencegahan dan
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa selain
terbatasnya jumlah kader TB, tidak adanya dukungan kader TB kepada
patient delay dikarenakan belum semua masyarakat mengenal adanya kader TB dan kegiatan promosi kesehatan berupa edukasi di masyarakat belum
menjadi perhatian atau di priotitaskan karena lebih mengutamakan penemuan
suspek. Artinya masyarakat yang sudah mengalami gejala lebih diperhatikan
tanpa memperhatikan masyarakat umum yang juga berpotensi tertular TB.
Dengan demikian, diperlukan perubahan fokus promosi kesehatan
oleh kader TB dengan melakukan edukasi tentang TB kepada masyarakat
secara umum tidak hanya berfokus pada masyarakat yang sudah menjadi
suspek TB. Selain itu, diperlukan target yang dibuat oleh PKPU dan juga
Puskesmas kepada kader TB untuk menjangkau ke seluruh masyarakat umum
agar mereka mengenal adanya kader TB di wilayahnya, sehingga masyarakat
mendapatkan informasi mengenai TB lebih dini untuk mengurangi angka
patient delay.
Kader TB merupakan anggota masyarakat yang bekerja dalam
membantu Program Pengendalian TB. Dalam menjalankan perannya, kader
TB dibina oleh salah satu organisasi masyarakat yang bergerak dalam bidang
sosial, yaitu Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU). Beberapa peran kader TB
yang berkaitan dengan patient delay adalah memberikan informasi tentang TB kepada individu atau masyarakat, penemuan suspek dan mengantarkan
suspek ke pelayanan kesehatan. Tentunya ketiga peran tersebut merupakan
bentuk dukungan kader TB kepada suspek TB di masyarakat dalam pencarian
Peran kader TB akan berjalan dengan baik, bermanfaat dan
membuahkan outcome yang baik pula, jika terdapat interaksi atau kerja sama antara kader TB dan juga masyarakat, masyarakat seharusnya mengenal kader
TB di wilayahnya begitu juga dengan kader TB harus mengenal semua
masyarakat di wilayah kerjanya. Namun, karena keterbatasan jumlah kader
tidak semua masyarakat mengenal kader TB setempat saat sebelum
didiagnosis TB begitu juga sebaliknya dan juga orientasi pencegahan dengan
promosi kesehatan masih kurang, melainkan lebih mengutamakan penemuan
suspek.
Meskipun adanya keterbatasan jumah kader TB, namun peran kader
TB khususnya dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tetap dapat
dilakukan secara menyeluruh di seluruh wilayah kerjanya. Menurut kader TB,
mekanisme yang sebaiknya dilakukan adalah dengan cara melibatkan orang
lain untuk menyampaikan informasi melalui mulut-ke mulut. Sayangnya,
masyarakat tidak terbiasa menyampaikan informasi dari mulut ke mulut
mengenai TB jika memang tidak dibutuhkan dan kader TB belum mempunyai
target untuk memastikan bahwa informasi tersebut dapat disebarkan kepada
seluruh masyarakat di wilayah kerjanya. Berikut kutipan wawancara patient delay yang mengatakan bahwa mereka belum terbiasa menyampaikan informasi dari mulut ke mulut mengenai TB jika memang tidak dibutuhkan:
SM: “saya sih klo ada yang nanya aja, klo misalkan ada tetangga
yang sakit, gejala begini begini, oh mungkin gejala TB. Yang saya kasih tau dari yang pernah dialami sama yang dikasih tau dokter.
Yang pernah nanya temen sama keluarga saya.”
JR:”Klo saya gak pernah ngomongin gitu-gituan mba. Klo ada tetangga yang cerita gejala batuk, saya gak jelasin mungkin itu
batuk TB, saya suruh aja ke puskesmas biar dokternya aja yang jelasin
ER:”Klo sekarang iya. Klo dulu gak pernah. Ee gak, klo ada yang cerita aja mba, klo ada yang nanya aja saya baru jelasin”
Sedangkan, berikut ini kutipan wawancara kader TB yang
mengungkapan bahwa mereka belum memiliki target dalam menyampaikan
informasi kepada masyarakat agar informasi yang disampaikan dapat sampai
dan menyeluruh ke seluruh masyarakat di wilayah kerjanya.
YA:”ee.. kita percaya aja yaa sama mereka. Kita gak bosen2 ngasih tau klo batuk cepet periksa. Ya ngasih tau, kita sampaikan ke mereka tolong sampaikan ke tetangga kita, saudara kita, misalkan ada tetangga yang kena kan bisa tertular jadi biar lebih waspada. Harusnya ada target tapi kayaknya belum bisa soalnya
terbatas jumlah kader TB.”
YT:”belum nemu caranya gimana, kayaknya urusan masing
-masing deh”
Target dalam kegiatan promosi kesehatan sangat dibutuhkan agar
kegiatan promosi tersebut berhasil dilakukan. Penetapan target dilakukan saat
menyusun perencanaan promosi kesehatan tersebut termasuk perencanaan
sasaran, waktu, tempat, tenaga, sarana dan prasarana, pengawasan, penilaian
dan juga instrumen yang dibutuhkan untuk penilaian kegiatan tersebut
(Depkes, 2006). Dengan demikian, jika kader TB bersedia untuk memberikan
edukasi atau promosi kesehatan mengenai TB melalui mulut ke mulut
sebaiknya perlu disiapkan terlebih dahulu target yang harus dicapai agar
informasi yang disampaikan benar-benar sampai ke seluruh masyarakat di
wilayah kerjanya.
Target yang akan digunakan dalam melakukan promosi kesehatan
yang membina kader TB di masyarakat, Puskesmas sebagai unit pelayanan
kesehatan yang berorientasi lebih kepada pencegahan dan merupakan wilayah
kerja dari Puskesmas dan juga kader TB yang akan melakukan kegiatan
tersebut langsung di lapangan. Hal ini agar target yang dibuat tidak hanya
dilakukan oleh satu pihak saja melainkan mendapat dukungan dari semua
pihak ataupun bahkan hanya sebuah target tetapi tidak dilaksanakan. Dalam
menjalankannya, diperlukan peran serta kader kesehatan lainnya di wilayah
tersebut, tokoh masyarakat dan juga masyarakat itu sendiri.
Target tersebut dapat dibuat berdasarkan jumlah Kepala Keluarga,
kader TB dan kader kesehatan lainnya yang dapat membantu dalam promosi
kesehatan di Kelurahan Tengah, Kelurahan Batu Ampar dan Kelurahan
Balekambang. Dengan demikian, diharapkan target yang dibuat sesuai
dengan SDM yang tersedia dan juga dapat menjangkau ke seluruh Kepala
Keluarga di wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu.
Selain tidak ada target, kader TB di wilayah kerja PKC Kramat Jati
belum memiliki Standard Operating Procedure (SOP) dalam menjalankan perannya, sehingga pemahaman masyarakat tentang TB dan jumlah suspek
yang ditemukan di setiap RW akan berbeda. SOP merupakan salah satu jenis
standar berupa pernyataan mengenai cara yang seharusnya dilakukan dalam
melaksanakan aktivitas tertentu. Dengan adanya SOP, diharapkan dapat
meminimalisir variasi atau perbedaan cara yang digunakan oleh setiap kader
dalam memberikan edukasi tentang TB, penemuan suspek dan juga
mengantarkan suspek ke Puskesmas. Meskipun terjadinya perbedaan adalah
dalam batas yang dikendalikan dan tidak berbeda dengan output yang diharapkan (Assaf, 2009). SOP yang dapat diterapkan di wilayah kerja PKC
Kramat Jati seperti yang terlampir.
SOP yang terlampir setiap tahapnya memiliki tujuan sesuai dengan
kondisi di masyarakat berdasarkan temuan dari penelitian ini. Kegiatan yang
dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan kegiatan jumantik dikarenakan
untuk efisiensi waktu sekaligus memanfaatkan SDM, jika hanya dilakukan
oleh kader TB saja, maka akan sulit untuk menjangkau ke seluruh masyarakat
di wilayahnya. Bukti berupa tanda tangan oleh perwakilan KK bertujuan
untuk memastikan bahwa semua KK telah dikunjungi dan mendapatkan
edukasi. Selain itu, media promosi berupa stiker digunakan agar masyarakat
dapat membaca kembali info tersebut dan terpapar setiap harinya agar
pengetahuan tentang TB melakat pada masyarakat tersebut.
Semua konten yang tertulis pada stiker tersebut merupakan informasi
penting dan sederhana yang harus diketahui oleh masyarakat. Kemudian
kontak dan peran kader TB pada stiker tersebut merupakan salah satu cara
untuk mengenalkan kader TB di masyarakat. Di samping itu, ART disarankan
untuk menyebarluaskan informasi yang didapatkan agar lebih bermanfaat
kepada orang lain dan juga meningkatkan pemahaman masyarakat secara luas
dan juga sebagai bentuk peran serta masyarakat dalam menurunkan angka
patient delay, agar lebih peduli kepada masyarakat disekelilingnya.
Keterlibatan masyarakat dalam menyebarluaskan informasi mengenai
TB sangat dibutuhkan dan dirasa efektif. Hal ini disebabkan masyarakat
dengan masyarakat itu sendiri. Mereka memahami kebiasaan, adat,
pengetahuan, sikap, kelompok sosial dan juga tempat tinggal secara geografis
(Edberg, 2010). Dengan demikian, diharapkan informasi tersebut dapat
dengan mudah diterima dan juga sampai kepada seluruh masyarakat di
wilayahnya agar dapat menurunkan patient delay.
Dengan demikian, diharapkan target dan SOP dapat dibuat dan
diaplikasikan dengan baik serta berkelanjutan hingga target dapat tercapai.
Sehingga, diharapkan kader TB dapat dikenal dan memiliki peran yang besar
dalam menurunkan angka patient delay.
K. Lama Delay pada Patient delay Kasus TB BTA (+) di Wilayah Kerja