• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebaran Penerima Manfaat Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang Periode Tahun Anggaran 2011-2012

DENGAN PARAMETER PRINSIP-PRINSIP ASG DAN TEORI COMMUNITY EMPOWERMENT

5.2. Analisis Kesesuaian Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang dengan Prinsip-Prinsip Ajaran Sosial Gereja

5.2.3. Sebaran Penerima Manfaat Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang Periode Tahun Anggaran 2011-2012

sampai dengan 2014-2015: Catatan Kritis Berasas Prinsip-Prinsip Ajaran Sosial Gereja.

Pada bagian sub bab ini, sebaran penerima manfaat dana APP di keuskupan Agung Semarang selama periode tahun anggaran 2011-2012 sampai dengan 2014-2014 akan ditinjau ulang dengan menggunakan prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja. Seperti yang telah dipaparkan dalam studi dokumen di bab IV, dari data statistik yang disajikan tabel 4.6 4.7, 4.8, 4.9 dan 4.10 dapat diperoleh gambaran

yang jelas dan terang bahwa pemanfaatan Dana Aksi Puasa Pembangunan di Keuskupan Agung Semarang belum memperlihatkan adanya sebuah pemanfaatan yang maksimal. Ketidakmaksimalan tersebut terlihat dari tiga kondisi. Pertama, sebaran jumlah proposal disetujui yang tidak merata. Kedua, kestabilan jumlah proposal yang tinggi di beberapa paroki. Ketiga, fakta adanya paroki yang sama sekali tidak mengakses bantuan yang ditawarkan oleh 5 panitia pemanfaatan dana APP selama empat periode tahun anggaran.

Selanjutnya, apabila tiga fenomena ketidakmaksimalan pemanfaatan dana APP dikaitkan dengan gambar 4.1 mengenai flow chart mekanisme akses dana APP di Keuskupan Agung Semarang, akan memunculkan diskusi bahwa hal tersebut ada pertaliannya dengan peran Romo Paroki dan Tim PSE Lingkungan/Paroki. Seperti yang tertera dalam flow chart, tahapan akses pemanfaatan dana APP sangat ditentukan oleh keaktifan Romo Paroki dan Tim PSE Lingkungan/Paroki. Dengan bahasa lain dapat dikatakan bahwa Romo Paroki dan Tim PSE Lingkungan/Paroki merupakan ujung tombak tumbuhnya kepekaan untuk merespon kebutuhan umat/masyarakat yang membutuhkan bantuan. Data lapangan sangat mendukung “statement” tersebut. Paroki-paroki dengan jumlah proposal disetujui merupakan paroki-paroki yang Romo Paroki atau Tim PSE Lingkungan/Parokinya aktif terlibat dalam gerak pelayanan di bidang pengembangan sosial ekonomi.

Dalam konteks penelitian ini, Romo Paroki dan Tim PSE Lingkungan/Paroki adalah agen kesejahteraan umum. Agen yang mengikhtiarkan kebaikan sesama seolah-olah itu merupakan kebaikan sendiri. Hal ini sesuai dengan salah satu di antara banyak implikasi dari kesejahteraan umum yang menyangkut hak atas penggunaan bersama harta benda sebagai “prinsip utama seluruh tatanan etika dan sosial” serta “asas unik ajaran sosial kristen”. Prinsip yang menyangkut tujuan universal harta benda ini merupakan sebuah undangan untuk mengembangkan sebuah wawasan ekonomi yang diilhami oleh nilai-nilai moral yang memungkinkan tercapainya dunia yang adil dan solider (Pontifical

Council for Justice and Peace,Compendium of the Social Doctrine of the Church,

2004: 114-118).

Sebuah realitas yang tidak bisa disangkal bahwa kepemimpinan jemaat gerejani menuntut lebih pelayan imam sebab mereka dipanggil untuk lebih menghidupi rahmat imami, rajawi dan kenabian pembabtisan. Oleh karena itu, pelaksanaan penggembalaan Gereja paroki terutama diletakkan dalam kepemimpinan serta pelayanan pastor paroki. Selanjutnya, persoalan yang lalu dihadapi dalam menjalankan reksa pastoral paroki adalah apa dan bagaimana konsekuensi dari pemahaman akan tugas perutusan Gereja dalam menjalankan reksa pastoral. Peran pastor paroki adalah menjalankan tugas utama penggembalaan Gereja maka menjadi harapan agar kepentingan “agenda” pribadi

yang dimilikinya tidak menentukan reksa pastoral paroki. Dalam hal ini, setiap karisma atau talenta perlu ditempatkan pada kerangka perpektif sumbangan khas dan peran unik dari masing-masing pribadi. Karenanya aspek sharing, saling berbagi berbagi bakat, kemampuan, talenta, dan karisma yang lebih terjadi, bukan dominasi suatu talenta atau pendekatan tertentu oleh figur yang mendominasi dan menguasai (Cahyadi: 48 - 50).

Terkait dengan paragraf di atas, data di lapangan merepresentasikan adanya suatu fenomena yang mendeskripsikan perhatian Gereja yang amat kurang dalam hal karya-karya sosial. Alasan ketidaksesuaian “minat, bakat dan kemampuan” Romo Paroki pada karya sosial menempati urutan pertama banyaknya Paroki di Keuskupan Agung Semarang yang sangat sedikit meletakkan karya sosial menjadi bagian penting dalam reksa pastoral mereka. Karya sosial merupakan karya yang sulit dan butuh pemikiran yang kompleks menjadi alasan kedua mengapa karya ini kurang diminati. Selebihnya alasan-alasan teknis, termasuk kurangnya pemahaman Romo Paroki terhadap tata kelola dana-dana sosial yang ada di Gereja melengkapi deretan alasan mengapa animo Romo Paroki terhadap karya sosial sangat rendah. Data lapangan yang kurang menguntungkan tersebut semakin menyedihkan ketika disandingkan dengan pengertian bahwa Gereja seharusnya menempatkan diri sebagai pelayanan karya keselamatan Allah yang diwujudkan lewat kehadiran serta karya pelayanan Gereja

yang tidak saja berdemensi gerejani, namun juga sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu karya keselamatan Allah dinyatakan tidak saja lewat perayaan sakramen (liturgia), pewartaan (kerygma), dan pembangunan jemaat yang hidup (koinonia), namun juga dengan pelayanan nyata (diakonia) (Cahyadi: 47) .

Pesan Ajaran Sosial Gereja berkenaan dengan solidaritas jelas-jelas menunjukkan bahwa terdapat sebuah ikatan yang sangat erat antara solidaritas dan kesejahteraan umum, antara solidaritas dan tujuan universal harta benda, antara solidaritas dan kesetaraan di antara semua manusia. Istilah “solidaritas” yang digunakan secara luas oleh Magesterium mengungkapkan secara ringkas kebutuhan untuk mengakui ikatan-ikatan kokoh yang mempersatukan semua orang dan kelompok-kelompok sosial satu sama lain, untuk kemudian memberi ruang yang diberikan kepada pertumbuhan bersama yang di dalamnya semua orang berbagi dan berperan serta. Komitmen ini diterjemahkan ke dalam kesediaan ikut ambil bagian secara positif untuk kebaikan sesama melampaui setiap kepentingan individu atau golongan (Pontifical Council for Justice and

Peace,Compendium of the Social Doctrine of the Church, 2004: 133-134).

Romo Paroki dan Tim PSE Lingkungan/Paroki selain bertanggung jawab sebagai agen kesejahteraan umum juga berkewajiban untuk menjadi agen pertumbuhan bersama yang mendorong semua orang berbagi dan berperan aktif dalam gerakan solidaritas kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, terlantar dan

difabel. Kesadaran akan fungsi inilah yang nampaknya perlu dimunculkan sebagai bagian utama dari ketugasan Romo Paroki dan Tim PSE Lingkungan/Paroki dalam reksa pastoral Gereja. Realitas di lapangan menginformasikan kedua peran tadi sangat lemah dalam pelaksanaannya. Sebaran jumlah proposal disetujui yang tidak merata, kestabilan jumlah proposal yang tinggi di beberapa paroki dan data adanya paroki yang sama sekali tidak mengakses dana APP selama empat periode tahun anggaran merupakan fenomena konsekuensi dari tidak terpahaminya dengan baik tanggung jawab Romo Paroki dan Tim PSE Lingkungan/Paroki sebagai agen kesejahteraan umum dan agen solidaritas kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, terlantar dan difabel.

Tinjauan mengenai integritas pelayanan pastoral, nampaknya perlu dimunculkan berkaitan dengan tanggung jawab Romo Paroki dan Tim PSE Lingkungan/Paroki sebagai agen kesejahteraan umum dan agen solidaritas. Integritas pelayanan pastoral mengacu pada keefektifan dan kekredibelan pelaku pelayan pastoral. Artinya, pelayanan pastoral dapat efektif dan kredibel apabila apa yang dilakukan oleh pelaku pelayanan pastoral sungguh mengalir dan menyatu dalam hidupnya. Hal ini mengacu pada karakter yang memiliki potensi dan kemampuan, baik dalam kemampuan pastoralnya maupun profesionalnya (Madya Utama: 67).

Komite Nasional Standar Profesional, Konferensi Waligereja Australia dan konferensi Pemimpin Tarekat Religius Australia menjelaskan integritas pelayan

pastoral dengan menunjuk lima bidang perhatian, yaitu: hidup penuh komitmen, pengembangan kompetensi, komitmen untuk mewujudkan keadilan, integritas

dalam pengelolaan adminitrasi, dan tanggung jawab untuk merawat kesejahteraan pribadi. Kelimanya akan diuraikan secara singkat sebagai berikut.

1) Hidup Penuh Komitmen

Seorang pelayan pastoral menghayati hidupnya dan semua yang ia lakukan sebagai sebuah keputusan dan pilihan untuk mengikuti jejak Yesus guna mewujudkan rencana Allah, yakni keselamatan bagi seluruh umat manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Pilihan hidup ini menuntut komitmen yang perlu diperbaharui terus-menerus. Pertama, komitmen untuk terbuka secara berkesinambungan terhadap panggilan Allah serta kesediaan untuk menanggapi panggilan tersebut dan menghayatinya. Kedua, kesediaan untuk mengembangkan ketrampilan pastoral dan profesional yang dituntut oleh tugas pelayanannya. Ketiga, mengembangkan relasi untuk memperoleh afirmasi dan dukungan afektif dengan orang-orang yang tidak berada dalam relasi pastoral. Keempat, bertindak penuh integritas dalam semua relasi manusiawi yang dibangun. Kelima, memberikan kesaksian atas pola hidup yang menghormati martabat dan nilai dari setiap orang yang dilayani.

2) Pengembangan Kompetensi

Seorang pelayan pastoral perlu mengembangkan ketrampilan pastoral maupun ketrampilan profesionalnya agar pelayanannya dapat efektif dan kredibel. 3) Komitmen untuk Mewujudkan Keadilan

Dengan menjalankan tugas pelayanannya, seorang pelayan pastoral memberikan kesaksian akan keadilan Allah sekaligus menjadi pelaku dari keadilan tersebut. Hal ini diwujudkan lewat cara hidup dan pelayanannya yang adil.

4) Integritas dalam Pengelolaan Adminitrasi

Dalam melaksanakan tugas pastoral, seorang pelayan pastoral diberi tanggung jawab atas berbagai harta kekayaan dan keuangan milik lembaga gerejawi. Ketika memanfaatkan harta kekayaan dan keuangan lembaga gerejawi, pelayan pastoral perlu bertindak sebagai pengelola dan bukan sebagai pemilik. Hal ini dilakukan dengan membuat perencanaan tahunan, mengevaluasi pengelolaan harta kekayaan dan keuangan yang dipercayakan kepada pelayan pastoral, serta menghindarkan diri dari penggunaan kedudukan untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri.

5) Tanggung Jawab untuk Merawat Kesejahteraan Pribadi

Pelayan pastoral perlu memiliki kesadaran bahwa kesehatan fisik, emosional dan rohani merupakan anugerah yang sangat berharga dan wajib untuk dirawat.

Berkaitan dengan hal ini, seorang Uskup dan Pemimpin Tarekat Religius memiliki tanggung jawab khusus untuk mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan, kondisi kerja yang baik serta pengembangan profesional bagi pelayan pastoral yang berada di bawah tanggung jawab mereka.

Beberapa catatan yang terjadi di lapangan berkaitan dengan integritas pelayan pastoral di bidang pengembangan sosial dan ekonomi dalam konteks pemanfaatan dana APP di Keuskupan Agung Semarang dapat dipaparkan sebagai berikut.

1) Kompetensi Romo Paroki berkaitan dengan dana-dana sosial Gereja yang sangat minim sangat berkaitan dengan masa pendidikan yang memang tidak membekali pengetahuan tentang hal ini dengan cukup. Kompetensi mengenai hal ini lebih diperoleh pada masa Tahun Orientasi Pastoral dan kompetensi yang diperoleh ini pun sangat tergantung pada kompetensi Romo Paroki setempat. Sebagai catatan tambahan, tidak semua Frater melalui masa Tahun Orientasi Pastoral di Paroki.

2) Selama ini di Keuskupan Agung Semarang masih sangat sedikit pelatihan yang diselenggarakan untuk peningkatan kompetensi pastoral maupun profesional Tim PSE Lingkungan/Paroki. Perlu adanya sebuah kurikulum sederhana yang memuat kompetensi apa saja yang wajib dimiliki Tim PSE

Lingkungan/Paroki. Juga dibutuhkan suatu sistem yang mengatur pergantian Tim PSE Lingkungan/Paroki se-Keuskupan Agung Semarang supaya pembekalan di awal masa tugas dapat berjalan secara efektif dan efisien. 3) Rentangan jumlah proposal yang disetujui oleh lima Panitia Pemanfaatan dana

APP di Keuskupan Agung semarang yang amat lebar memberikan kesan ada ketidakadilan dalam pengelolaan dana APP. Padahal, data di lapangan menunjukkan bahwa Panitia sudah maksimal dalam hal sosialisasi Program pemanfaatan Dana APP d Keuskupan agung Semarang. Panitia sudah membuka lebar kesempatan kepada paroki supaya mengakses dana APP. Berkaitan dengan hal ini, untuk mengantisipasi jarak yang lebar jumlah proposal yang disetujui dapat dibuat suatu sistem yang memungkinkan keadilan dapat dicapai dalam akses dana APP. Panitia Pemanfaatan dana APP Kevikepan Surakarta telah memiliki dan menerapkan sistem ini. Panitia Pemanfaatan dana APP Kevikepan Yogyakarta juga telah memiliki namun belum diterapkan secara maksimal.

4) Mengingat dana APP di Keuskupan Agung Semarang sudah dalam jumlah yang tidak sedikit, maka dalam pengelolaannya perlu suatu audit keuangan baik secara internal maupun eksternal.

5) Di beberapa paroki Tim PSE Lingkungan/Paroki bekerja dengan frekuensi yang cukup tinggi. Untuk itu perlu ada suatu pemikiran mengenai

kesejahteraan Tim PSE Lingkungan/Paroki. Kompetensi pastoral maupun profesional Tim PSE Lingkungan/Paroki perlu diapresiasi dengan pemberian uang transpot atau tunjangan keuangan yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan paroki setempat.

5.3. Telaah Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung