• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Betawi dan Bentuk Pemerintahannya

JAKARTA 2007 A. Latar Belakang Berdirinya Bamus Betawi

A. Sejarah Betawi dan Bentuk Pemerintahannya

Daerah Khusus Ibukota (DKI Jakarta) adalah Ibukota Negara Republik Indonesia. DKI Jakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki status setingkat Propinsi.1 DKI Jakarta terletak dibagian barat laut Pulau Jawa, dahulu pernah dikenal dengan nama Sunda Kelapa (1527), Jayakarta (1527-1619), Batavia, (1619-1942), dan Djakarta (1942-1972). (sesuai dengan ejaan yang sekarang huruf D menjadi J).

1. Sunda Kelapa (1527).

DKI Jakarta pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kelapa, berlokasi di muara sungai Ciliwung. Ibukota kerajaan Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang Bogor). Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tarumanagara dan Cimanuk. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 (lima) sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 (lima) dan diperkirakan merupakan Ibukota Tarumanagara yang disebut Sundapura.

1

Lihat UUD 45 Pasal 18A yang menyebutkan bahwa, kekhususannya dan keistimewaan daerah di Indonesia, seperti halnya DKI Jakarta yang disebut sebagai daerah yang berpredikat kekhususan. Hal ini dikarenakan DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dan disamping itu menjadikan ia sebagai barometer perpolitikan di Negara Republik Indonesia (Yogyakarta: Penerbit New Merah Putih, 2009), h. 22. Lihat juga http://www.Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Go.id, diakses pada tanggal 27 Desember 2010.

Pada abad ke-12, pelabuhan tersebut dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh di pelabuhan Sunda Kelapa membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komunitas dagang saat itu.

2. Jayakarta (1527–1619).

Orang Portugis merupakan orang Eropa pertama yang datang ke DKI Jakarta. Pada abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari kerajaan Sunda.2 Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh masyarakat Sunda dalam cerita Pantun Seloka Mundinglaya Dikusumah, dimana Surawisesa diselokakan dengan nama gelarnya yaitu Mundinglaya. Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana, Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan tersebut.

Masyarakat Sunda menyebut peristiwa ini tragedi, karena penyerangan tersebut membungihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat Sunda disana termasuk Syahbandar pelabuhannya. Penetapan hari jadi DKI Jakarta tanggal 22 Juni oleh Sudiro, walikota DKI Jakarta, pada tahun 1956 adalah berdasarkan tragedi pendudukan pelabuhan Sunda Kelapa oleh Fatahillah

2

http://www.Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Go.id, diakses pada tanggal 27 Desember 2010.

pada tahun 1527. Fatahillah mengganti nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang berarti "kota kemenangan".

3. Batavia (1619–1942).

Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abad ke-17 diperintah oleh pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat kesultanan Banten. Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia.3 Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting. Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama etnis Betawi.

Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di DKI Jakarta Utara. Sebelum kedatangan para budak tersebut, sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan dari etnis pendatang, pada zaman kolonialisme Belanda, membentuk wilayah komunitasnya masing-masing. Maka di DKI Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komunitas itu seperti Pecinan, Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Bali, dan Manggarai.

3

Muhajir. Bahasa Betawi, Sejarah dan Perkembangannya (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2000), h. 48.

4. Djakarta (1942–1972).

Penjajahan oleh Jepang dimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia menjadi Djakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, kemudian Belanda menduduki DKI Jakarta sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949. Akibatnya kedudukan peran Ibukota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta pada tanggal 03 Januari 1946.

Hingga tahun 1959, Djakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Namun pada tahun 1959, status Kota Djakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja dibawah walikota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu yang dipimpin oleh gubernur, yang menjadi gubernur pertama ialah Suwiryo. Pengangkatan Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Pertama Soekarno, pada tahun 1961.

Semenjak dinyatakan sebagai Ibukota Negara pada tanggal 31 Agustus 1964,4 penduduk DKI Jakarta melonjak sangat pesat dengan berimigrasinya penduduk dari luar DKI Jakarta untuk bekerja. Mereka memperoleh kehidupan yang baru sebagai tenaga kerja di Ibukota Negara tersebut. Dalam kurun waktu 5 tahun penduduknya berlipat lebih dari 2 (dua) kali banyaknya dari 110.669 jiwa sampai 653.400 jiwa.5 Berbagai pemukiman kelas menengah baru kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Rawamangun, dan Pejompongan. Pusat-pusat pemukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.

4

Lihat juga http://kodepos.nomor.net, diakses pada tanggal 5 Februari 2011.

5

Muhajir. Bahasa Betawi, sejarah dan perkembangannya (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2000), h. 54.

Pada masa pemerintahan Soekarno (1961), DKI Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, antara lain Gedung Olahraga (Gelora Bung Karno), Mesjid Istiqlal, dan Monumen Nasional. Perkembangan berikutnya jalan raya Poros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. Pusat pemukiman besar pertama yang dibuat oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangunan Jaya) pada akhir dekade 1970-an, pada saat gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin di wilayah Jakarta Selatan, wilayah lainnya ialah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang berada di wilayah Jakarta Timur, sedangkan di daerah Jakarta Utara ialah Taman Impian Jaya Ancol, kemudian Gedung Arsip Nasional di daerah Jakarta Barat, dan di Jakarta Pusat Monumen Nasional (Monas).

Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah Propinsi yang mempunyai kekhususan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah karena kedudukannya sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut mengacu pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18A yang berbunyi.6

“Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota atau antara Provinsi dan Kabupaten dan Kota, diatur dengan Undang-undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”.

Dengan melihat ketentuan diatas, maka dapat dikatakan adanya kekhususan yang diemban oleh Propinsi DKI Jakarta yang diatur didalam UUD 45 tersebut. Hal ini dikarenakan kekhususan DKI Jakarta adalah sebagai Ibukota

6

Lihat UUD 45 Pasal 18A, tentang khususan dan keistimewaan daerah (Yogyakarta: Penerbit New Merah Putih, 2009), h. 22.

Negara Republik Indonesia dan menjadikan barometer perpolitikan di Negara Republik Indonesia, disamping itu DKI Jakarta menjadikan daerah yang mempengaruhi kebijakan-kebijakan politik bagi daerah-daerah lainnya.

Sebagai penyelenggaraan urusan pemerintahan dilakukan oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta menurut asas otonomi dan tugas yang berwujud dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dokumen terkait