• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Ketatanegaraan Impeachment Di Indonesia

Dalam dokumen Andy Wiyanto Peranan MK dalam Proses I (Halaman 101-121)

Pemberhentian Presiden Soekarno terjadi setelah ia menjadi Presiden selama dua puluh tahun lebih. Hal ini tidak sesuai dengan UUD 1945, meskipun MPR yang menurunkannya secara resmi. Hal itu terjadi karena secara de facto Soeharto memegang kekuasaan negara. Impeachment ini dengan cara kudeta lembut65 yang oleh Y. Pohan sebagaimana dikutip Asvi Warman Adam disebut sebagai kudeta merangkak66.

Peristiwa ini tidak lepas dari peristiwa G-30 S atau gestok yaitu pembunuhan beberapa Jenderal dan perwira tinggi Angkatan Darat pada malam hari tanggal 30 September atau dini hari tanggal 1 Oktober 1965. suhu politik yang tinggi terjadi di seluruh tanah air menyusul peristiwa tersebut membuat Presiden Soekarno selaku Mandataris MPRS pada tanggal 22 Juni 1966 menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada MPRS yang dikenal dengan nawaksara. Dalam laporannya tersebut Presiden Soekarno mengemukakan beberapa hal pokok yaitu:67

64Ibid, hlm. 265.

65 Bambang Sutiyoso, op.cit., hlm. 93.

66 Asvi Warman Adam, Seabad Kontroversi Sejarah (Yogyakarta: Ombak, 2007), hlm. 61.

a. Ajakan melakukan “retrospeksi” tentang posisi presiden sebagai Pemimpin Besar Revolusi, mandataris MPRS serta Presiden seumur hidup.

b. Laporan pertanggungjawaban Presiden Soekarno mengenai pelaksanaan garis-garis besar haluan negara yang terkandung dalam ketetapan MPRS No. I dan II tahun 1960, yaitu pelaksanaan trisakti (berdaulat dan bebas dalam politik, kepribadian dalam kebudayaan dan berdikari dalam ekonomi).

c. Pelaksanaan tugas yang berkaitan dengan pembangunan politik dan pembangunan ekonomi.

d. Penjelasan lainnya tentang Demokrasi Terpimpin, pelaksanaan GBHN yang akan dibicarakan DPR, rencana pemurnian pelaksanaan UUD 1945 dan terkait dengan tugas MPR/S serta kedudukan Presiden dan Wakil Presiden.

Menanggapi pidato nawaksara tersebut MPRS mengeluarkan Keputusan No. 5/MPRS/1966 tanggal 5 Juli 1966 yang pada intinya meminta kepada Presiden Soekarno agar melengkapi laporan pertanggungjawaban tersebut, khususnya yang berkenaan dengan 1) sebab-sebab terjadinya gestok; 2) kemunduran ekonomi; dan 3) kemunduran akhlak.68

Terhadap surat Pimpinan MPRS tersebut, pada tanggal 10 Januari 1967 Presiden Soekarno melalui Surat Presiden No. 01/Pres/67 memberikan pelengkap nawaksara yang pada intinya berisikan tentang:69 a. Ajakan untuk sekuat tenaga bersama-sama meniadakan situasi konflik

demi untuk menyelamatkan revolusi, membangun persatuan dan kesatuan, menekankan kewaspadaan istimewa terhadap kekuatan kontra revolusi, karena situasi politik di tanah air sudah gawat.

b. Peristiwa gestok (gerakan satu oktober) adalah suatu complete overrompeling.

c. Telah mengutuk gestok pada pidato Presiden tanggal 17 Agustus 1966. d. Yang bersalah harus dihukum karena itu telah dibentuk MAHMILUB

(Mahkamah Militer Luar Biasa).

e. Terjadinya peristiwa gestok karena bertemunya tiga sebab, yaitu 1) keblingernya pimpinan PKI; 2) kelihaian subversi nekolim; dan 3) memang adanya oknum-oknum yang tidak benar.

f. Masalah kemerosotan ekonomi bukanlah disebabkan oleh satu orang saja tetapi satu resultante daripada proses faktor-faktor obyektif dan tindakan dari keseluruhan aparatur pemerintahan dan masyarakat. g. Masalah kemerosotan akhlak adalah hasil perkembangan daripada

proses kesadaran dan laku tindak masyarakat dalam keseluruhannya yang tidak mungkin oleh satu orang saja.

Kendatipun telah dilengkapi MPRS tetap menganggap laporan tersebut tidaklah dapat diterima, maka dengan TAP MPRS No. XXXIII/MPRS/1967 dinyatakan bahwa laporan tersebut tidak diterima. Sebelum keputusn tersebut diambil, DPR GR mengeluarkan Resolusi dan Memorandum Sidang Instimewa MPRS pada tanggal 9 Februari 1967 yang menganjurkan untuk menyelenggarakan Sidang Istimewa MPRS. Atas permintan DPR GR tersebut MPRS menggelar Sidang Istimewa pada tanggal 7-11 Maret 1967 yang menetapkan untuk mencabut kekuasaan pemerintahan negara dari Presiden Soekarno dan mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden.70

Peristiwa menarik dalam proses pengambilan keputusan dalam menetapkan TAP MPRS No. XXXIII/MPRS/1967 adalah ketika ada satu orang anggota MPRS yang tidak setuju dikeluarkannya ketetapan tersebut. Anggota MPRS dimaksud adalah Adnan Buyung Nasution yang menganggap ketetapan tersebut adalah ketetapan banci.71 Selanjutnya ia mengutarakan sebab yang melatarbelakangi penolakannya tersebut karena Pertama, alasan konstitusional. Jika Presiden Soekarno dianggap bertanggung jawab terhadap keadaan buruk bangsa Indonesia pasca G30S, maka konsekuensinya Presiden Soekarno harus diberhentikan. Itu sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945, akan tetapi kenyataannya tidak ada keputusan pemberhentian, melainkan kekuasaan Soekarno sebagai Presiden semuanya dicabut dan diserahkan kepada Soeharto sebagai pengemban

70Ibid, hlm. 96-98.

71Kompas, Kamis, 10 Mei 2001 dalam http://dev.progind.net/modules/smartsection/ item.php?itemid=20 diakses tanggal 16 Agustus 2010.

Tap MPRS No IX/MPRS/1966 sebagai pejabat Presiden. Ia mengatakan bahwa:

“Itu suatu bentuk kompromi, Soekarno tetap Presiden, tapi semua kekuasaannya dicabut. Dengan demikian, Soekarno hanya berbaju Presiden tanpa kekuasaan. Itu yang abang (demikian Nasution menyebut dirinya) katakan inkonstitusional dan tidak tegas sehingga abang menolaknya” 72

Kedua, karena lebih menyangkut kemanusiaan. “Amat tidak

manusiawi Soekarno tidak diberi kesempatan membela diri. Padahal, Kopkamtib menuduh Soekarno terlibat PKI. Menurut abang, dengan segala hormat, Bung Karno harus diadili agar ia bisa membela diri sepenuhnya”.73

2. Kasus Abdurrahman Wahid

Presiden Abdurrahman Wahid boleh disebut sebagai Presiden yang paling kontroversial dan sensasional dalam sejarah ketatanegaraan Republik Indonesia. Bagaimana tidak, pada tanggal 26 Oktober 1999 bersamaan dengan pengumuman susunan kabinetnya yang pertama yang diberi nama Kabinet Persatuan Nasional, Ia juga mengumumkan tentang penghapusan dua departemen sekaligus. Departemen dimaksud adalah Departemen Penerangan dan Departemen Sosial. Hal ini kemudian menimbulkan reaksi dari DPR yang kemudian pada bulan November 1999

72Ibid. 73

memberikan tanggapan atas penghapusan dua departemen tersebut dengan menggunakan hak interpelasi.74

Kontroversi tersebut terus berlanjut dengan silih bergantinya menteri yang mengundurkan diri dan diberhentikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid seperti (1) Pengunduran diri Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan Hamzah Haz pada November 1999. (2) Pada Januari 2000 Presiden Abdurrahman Wahid mencanangkan pergantian Gubernur Bank Indonesia, akan tetapi yang bersangkutan tidak mundur karena sesuai dengan UU. No. 23 Tahun 1999, masa jabatannya berakhir hingga akhir 2003. (3) Sekretaris Negara Ali Rahman meletakkan jabatannya pada Januari 2000. (4) Pada April 2000 Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN Laksamana Sukardi dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Jusuf Kalla diberhentikan. (5) Sekretaris Pengendalian Pemerintahan dan Pejabat Sekretaris Negara Bondan Gunawan mengundurkan diri pada Mei 2000.75

Karena peristiwa-peristiwa tersebut, pada Juli 2000 DPR kembali memprotes dengan menggunakan hak interpelasinya. Presiden yang hadir di DPR justru menggugat hak interpelasi DPR karena dianggap tidak mempunyai dasar hukum yang kuat dan tidak tercantum dalam UUD 1945.76 Ditengah krisis politik tersebut marak polemik ditengah media masa yang mengatakan Presiden Abdurrahman Wahid terlibat dalam kasus Yanatera Bulog sebesar Rp. 35 Milyar dan dana bantuan Sultan Brunei

74 Teguh Satya Bhakti, op.cit., hlm. 139-140. 75Ibid, hlm. 140.

Darussalam sebesar US $ 2 Juta. Hal ini kemudian yang memicu 236 anggota DPR untuk mengajukan usul penggunaan hak penyelidikan terhadap kedua kasus tersebut.77

Setelah dibentuk di penghujung Agustus 2000, pada akhir Januari tahun berikutnya, dalam sebuah laporan pada sebuah rapat paripurna DPR Panitia Khusus (Pansus) DPR berkesimpulan bahwa “terdapat cukup alasan untuk menyangka” bahwa Presiden telah terlibat dalam kedua skandal tersebut.78 Sehubungan dengan hasil kerja dan kesimpulan Pansus tersebut, paripurna DPR memutuskan:79

a. Menindaklanjuti laporan tersebut dengan mengeluarkan memorandum pertama pada tanggal 1 Februari 2001. Memorandum ini menuduh Presiden telah melanggar: 1) Pasal 9 UUD 1945 tentang Sumpah Jabatan; dan 2) Tap MPR No. XI Tahun 1998 tentang Penegakan Pemerintahan yang bersih dan Pemberantasan KKN.

b. Hal-hal yang berkaitan dengan adnya pelanggaran hukum, menyerahkan persoalan ini untuk diproses berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.

Hamdan Zoelva mencatat dua hal yang perlu diperhatikan dalam keputusan DPR tersebut. Pertama, DPR membedakan pelanggaran tersebut menjadi dua, yakni pelanggaran terhadap haluan negara yang ditindaklanjuti dengan pemberian memorandum kepada presiden

77 Hamdan Zoelva, op.cit., hlm. 99. 78 Denny Indrayana, op.cit., hlm. 248. 79

(pertanggungjawaban politik Presiden melalui Sidang Istimewa MPR) dan dugaan pelanggaran hukum pidana yang diserahkan kepada penyelesaian berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku (pertanggungjawaban hukum pidana yang dilakukan Presiden). Kedua, nampak adanya pergeseran dari kesimpulan Pansus yang lebih menitikberatkan pada substansi kasus dengan keputusan DPR yang menyimpulkan adanya pelanggaran sumpah jabatan Presiden dan pelanggaran terhadap Tap MPR. Menurutnya pergeseran ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan alasan agar dapat disampaikannya memorandum ini kepada Presiden. Sebab memorandum DPR didasari atas pelanggaran Presiden terhadap haluan negara yang dapat berupa pelanggaran Undang-Undang Dasar maupun pelanggaran terhadap Tap MPR.80

Menjawab memorandum tersebut, Presiden Wahid dalam tanggapan resminya pada tanggal 28 Maret 2001 mengatakan bahwa pansus telah melanggar watak kepresidenan UUD 1945 dengan mengambil beberapa tindakan ala parlementer yang bisa mengarah pada mosi tidak percaya. Presiden Wahid terus mempertanyakan proses impeachment dengan alasan bahwa Pansus telah bertindak ilegal.81

Menganggapi pernyataan Presiden Wahid, DPR melakukan memorandum kedua dan setelah dijawab ternyata hasilnya kembali tidak memuaskan DPR. Tak ayal lembaga inipun secara resmi meminta agar Sidang Istimewa MPR segera digelar. Menurut pasal 33 Ayat (3) Tap

80Ibid, hlm. 101-102.

MPR Tahun 2000 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, sebuah badan Pekerja MPR harus mempersiapkan Sidang Istimewa setidaknya dalam waktu dua bulan setelah memorandum kedua disampaikan kepada Presiden. Maksa sidang itupun dijadwalkan akan berlangsung pada tanggal 1 Agustus 2001.82

Akan tetapi sebelum Sidang Istimewa digelar, timbul konflik baru antara Presiden dengan DPR. DPR menuding Presiden telah melanggar Pasal 7 Ayat (3) Tap MPR No. VII Tahun 2000 karena telah mengangkat Kapolri tanpa persetujuan DPR. Presiden Wahid mengangkat Jenderal Chaerudin Ismail yang menggantikan Jenderal Bimantoro. Konflik baru ini mendorong pimpinan MPR untuk mempercepat dimulainya Sidang Istimewa. Menanggapi hal tersebut, Presiden Wahid justru mengancam akan menyatakan keadaan darurat. MPR pun kemudian mempercepat Sidang Istimewa pada tanggal 21 Juli 2001.83

Bagi Presiden Wahid jadwal baru ini semakin membuktikan bahwa sidang itu ilegal dan dengan alasan itulah Ia menolak memberikan pidato pertanggungjawaban di hadapan MPR. Bahkan Presiden Wahid mengumumkan darurat sipil. Dalam sebuah maklumat Ia menyatakan: 1) Membubarkan MPR dan DPR; 2) Mengembalikan kedaulatan kepada rakyat dan membentuk KPU untuk mempersiapkan Pemilu dalam waktu satu tahun; dan 3) Menyelamatkan gerakan reformasi total dari fraksi Orde baru dengan cara membubarkan partai Golkar sementara menunggu

82Ibid, hlm. 249. 83

keputusan Mahkamah Agung. MPR akhirnya menggunakan maklumat ini sebagai landasan hukum pemberhentian Presiden Wahid dengan Tap MPR No. II Tahun 2001.84

Tap MPR tersebut menunjukkan bahwa MPR pada akhirnya tidak mendasarkan pencopotan Presiden Wahid atas dasar buloggate dan bruneigate. Presiden Wahid mengeluhkan landasan impeachment yang terus berubah-ubah ini. Secara diplomatis Denny Indrayana berpendapat bahwa:

“ .... dasar yang terus berubah itu membuka peluang bagi orang untuk mempertanyakan keabsahan pencopotan Wahid. Bergonta- ganti alasan hanya menunjukkan bahwa prosedur-prosedur impeachment bisa dengan mudah dipolitisasi. Di samping itu, prosedur impeachment yang tak memuaskan itu memperkuat urgensi reformasi konstitusi, .... ”85

Sembari membandingkan MPR pra dan pasca amandemen konstitusi, Hamdan Zoelva mengatakan bahwa kedudukan MPR pasca amandemen tidak lagi absolut dan kuat seperti pada masa pra amandemen. Pada periode pra amandemen tersebut MPR dapat menyelenggarakan Sidang Istimewa untuk impeachment presiden dengan alasan politis dan dicari-cari.86 Dengan pedas Ia kemudian mengatakan bahwa:

“Alasan Pemakzulan Abdurrahman Wahid memang sengaja dicari- cari, seperti kasus Buloggate dan Bruneigate. Ternyata kedua tuduhan tersebut tidak terbukti. Kemudian dicari lagi alasan untuk memakzulkannya yakni tingkah laku Presiden, keinginan Abdurrahman Wahid membubarkan DPR.”87

84Ibid, hlm. 250-251. 85Ibid, hlm. 252.

86 RN Bayu Aji dan Nano Tresna A, “Pemakzulan Harus Didukung Bukti Kuat”, Majalah Konstitusi, No. 37 (Februari, 2010), hlm. 56.

IMPEACHMENT MENURUT UNDANG-UNDANG DASAR

NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

A. Kewajiban Mahkamah Konstitusi Untuk Memberi Putusan Atas Pendapat DPR

1. Latar Belakang Perumusan Pasal 24C Ayat (2) UUD 1945

Dalam pembahasan amandemen UUD 1945, alasan pemberhentian Presiden disesuaikan dengan lampiran Keputusan MPR No. IX/MPR/2000, yaitu masuk dalam kewenangan MPR dengan dua alternatif. Alternatif pertama tanpa melibatkan Mahkamah Konstitusi, yaitu “Memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya apabila terbukti melanggar UUD, melanggar haluan negara, menghianati negara, melakukan tindak pidana kejahatan, melakukan tindak pidana penyuapan, dan/atau melakukan perbuatan tercela”. Dan alternatif kedua dengan melibatkan Mahkamah Konstitusi, yaitu “Memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya apabila terbukti melanggar UUD, melanggar haluan negara, menghianati negara, melakukan tindak pidana kejahatan, melakukan tindak pidana penyuapan, dan/atau melakukan perbuatan yang tercela, berdasarkan putusan MK”. Pada dasarnya semua Fraksi bersepakat bahwa

MK harus dilibatkan dalam proses impeachment. Meskipun demikian, setiap fraksi memiliki pemikiran yang berbeda-beda dalam implementasinya.1

Menteri Hukum dan HAM, Patrialis Akbar, ketika itu tergabung dalam F-Reformasi yang juga merupakan alumni Fakultas Hukum UMJ berpendapat bahwa peranan Mahkamah Konstitusi dalam proses

impeachment adalah memberikan pendapat hukum atas pendapat DPR perihal pelanggaran yang dilakukan oleh Presiden sebagaimana cukilan sebagai berikut:

“Kemudian yang berkenaan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Hartono Mardjono dan juga Ibu Nursyabani tadi mengenai pendapat hukum. Kenapa Mahkamah Konstitusi memberikan pendapat hukum? Ini perlu saya kira dijelaskan sedikit, kaitannya dengan Pasal 7B. Di dalam Pasal 7B memang ada dikatakan memberikan putusan, bukan putusan hukum sedangkan di sini adalah pendapat hukum. Yang dimaksudkan dengan Pasal 24A Ayat (3), pendapat hukum ini adalah memberikan suatu putusan terhadap pendapat dari Dewan Perwakilan Rakyat yang disampaikan kepada Mahkamah Konstitusi terhadap alasan-alasan dilakukannya impeachment.

Jadi pendapat Dewan Perwakilan Rakyat lah yang diputuskan. Jadi akhirnya dia tidak memberikan suatu putusan, karena putusan itu biasanya memiliki sanksi-sanksi, sedangkan Mahkamah Konstitusi sama sekali tidak memberikan sanksi. Mahkamah Konstitusi hanya memberikan satu pendapat hukum, bahwa betul sudah terjadi suatu pelanggaran hukum, ya itu saja tugasnya. Dan pendapat hukum itu dikembalikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Jadi tidak ada putusan di sini memang.”2

1 Tim Penyusun Naskah Komprehensif Proses dan Hasil Perubahan UUD 1945, Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945: Latar Belakang, Proses, dan Hasil Pembahasan 1999-2002, Buku VI: Kekuasaan Kehakiman (Jakarta: Sekretaris Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2008), hlm. 541.

Berbeda dengan Patrialis Akbar, Hartono Mardjono dari F-PDU berpendapat bahwa bentuk keterlibatan Mahkamah Konstitusi dalam proses impeachment adalah dalam bentuk memberikan putusan atas dugaan pelanggaran Presiden oleh DPR, yang disampaikannya sebagai berikut:

“Ada tadi yang disampaikan oleh rekan saya, yang terhormat Saudara Patrialis Akbar mengenai istilah pendapat hukum, legal opinium, beliau tidak setuju dengan istilah putusan. Saya tetap pada pemikiran saya, bahwa kalau satu lembaga peradilan, wewenangnya adalah untuk memeriksa, mengadili, dan memutus. Nah ini juga saya mohon, istilah memutuskan seyogyanya digunakan tetap istilah memutus. Hakim itu tidak memutuskan tapi memutus perkara. Ada bedanya itu. Ada bedanya memang terminologi di dunia peradilan begitu. Saya kira produk yang dihasilkan harus merupakan putusan. Hanya karena yang diputuskan adalah permohonan DPR kepada Mahkamah Konstitusi yang berkaitan dengan permintaan untuk melakukan impeachment maka putusan yang dihasilkan oleh Mahkamah Konstitusi meskipun namanya putusan, sifatnya tidak condemnatoir tapi sifatnya declaratoir. Kewenangan untuk mengeksekusi tetap merupakan lembaga-lembaga yang bersangkutan, dalam hal ini MPR.

Jadi Mahkamah Konstitusi tidak punya wewenang eksekusi, seperti halnya peradilan tata usaha negara.”3

Sementara itu Hakim Konstitusi selama dua periode, Harjono, yang ketika pembahasan amandemen UUD 1945 berasal dari F-PDIP menjelaskan bahwa terkait dengan kewenangan tambahan Mahkamah Konstitusi untuk memutuskan permasalahan impeachment adalah sebagai berikut:

“Persoalan kemudian Mahkamah Konstitusi diberi wewenang tambahan yaitu wewenang untuk melakukan impeachment. Sebetulnya ada terkandung maksud bahwa proses untuk

menjatuhkan Presiden dengan sistem yang lama, itu masih dalam batas antara mosi tidak percaya ataukah proses hukum. Oleh karena itu dengan sistem impeachment, institusi ini secara tegas, fixed term yang diberikan kepada Presiden itu hanya boleh diganggu dalam keadaan luar biasa di mana Presiden secara pribadi melakukan perbuatan-perbuatan melanggar hukum.

Oleh karena itu dalam impeachment sebetulnya ada tiga persoalan, maaf harus saya bahas karena harus menjelaskan juga dengan posisi Mahkamah Konstitusi. Dalam proses impeachment itu ada tiga persoalan. Persoalan atau issue of fact faktanya, issue of law atau hukumnya, dan political process atau proses politiknya. Itu kemudian kita berikan kepada Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Konstitusi akan memeriksa kalau DPR beranggapan atau ada dugaan bahwa Presiden melakukan perbuatan melanggar hukum. Pemeriksaannya bagaimana? Pemeriksaannya secara yudisial, kalau terbukti, dengan terbukti ada putusan dari Mahkamah Konstitusi bahwa Presiden melakukan perbuatan sebagaimana yang dituduhkan, lalu diserahkan kepada political process. Political process-nya kepada MPR apakah dia akan diberhentikan atau tidak, apakah dia terbukti melakukan korupsi, tapi korupsinya kira-kira bolehlah seratus juta, apakah seratus juta itu alasan kuat untuk menurunkan. That’s all, itu bukan persoalan hukum lagi tapi political process. Jadi dengan Mahkamah Konstitusi kemudian dihubungkan dengan impeachment yang terpaksa ditaruh di dalam Pasal 7, itu hubungannya adalah untuk memperkuat sistem presidensial juga.”4

Berdasarkan hasil pembahasan amandemen UUD 1945, ketentuan mengenai peranan Mahkamah Konstitusi dalam proses impeachment menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diatur dalam pasal tersendiri yaitu Pasal 24C Ayat (2). Kewenangan ini dipisahkan dari kewenangan Mahkamah Konstitusi lainnya yang diatur dalam Pasal 24C Ayat (1). Ketentuan ini terkait dengan ketentuan dalam Pasal 7A yang mengatur tentang pelanggaran yang dilakukan oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden dan terkait juga dengan ketentuan dalam

Pasal 7B Ayat (1) yang mengatur prosedur atau tata cara beracara dalam rangka impeachment Presiden dan/atau Wakil Presiden.5

Dalam hal ini, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak menyatakan Mahkamah Konstitusi sebagai peradilan tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final dan mengikat. Mahkamah Konstitusi hanya diletakkan sebagai salah satu mekanisme yang harus dilalui dalam proses impeachment Presiden dan/atau Wakil Presiden. Kewajiban konstitusional Mahkamah Konstitusi adalah untuk membuktikan dari sudut pandang hukum, mengenai benar tidaknya dugaan pelanggaran hukum Presiden dan/atau Wakil Presiden. Jika terbukti pelanggaran hukum yang dilakukan Presiden dan/atau Wakil Presiden, putusan Mahkamah Konstitusi tidak secara otomatis dapat memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden. Karena hal itu bukan wewenang Mahkamah Konstitusi. Akan tetapi, jika putusan Mahkamah Konstitusi menyatakan terbukti bersalah, maka DPR meneruskan usul pemberhentian itu kepada MPR. Persidangan MPR nantinya, yang akan menentukan apakah Presiden dan/atau Wakil Presiden yang telah diusulkan pemberhentiannya oleh DPR, dapat diberhentikan atau tidak dari jabatannya.6 Konteks peletakan ketentuan Pasal 24C Ayat (2) dipisah dari Ayat (1) dimaksud harus dilihat dari proses yang sudah mulai diatur

5 Ibid, hlm. 718.

dalam Pasal 7B tersebut, di mana proses hukum ketatanegaraan kita masih diteruskan walaupun proses hukum di Mahkamah Konstitusi telah selesai.7

2. Perumusan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Peraturan Perundang-Undangan Lain

Mahkamah Konstitusi memiliki kewajiban sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 24C Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menegaskan bahwa “Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar.” Pendapat DPR tersebut adalah bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela dan/atau pendapat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Pendapat itu diajukan oleh DPR kepada MPR sebagai landasan usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden. Sebelum usul tersebut diajukan kepada MPR, DPR wajib untuk mengajukan Permintaan kepada Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa, mengadili dan memutus pendapat tersebut.

Dengan ketentuan ini, maka usul kepada MPR untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden hanya dapat dilakukan

oleh DPR apabila Mahkamah Konstitusi terlebih dahulu memutuskan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Hal ini dapatlah disimpulkan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan pendapat tersebut terbukti merupakan landasan bagi DPR untuk mengusulkan pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden kepada MPR.

Bagi DPR putusan Mahkamah Konstitusi tersebut bersifat final secara yuridis dan mengikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 Ayat (5) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 21 Tahun 2009 tentang Pedoman Beracara dalam Memutus Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai Dugaan Pelanggaran Oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden. Ketentuan ini bermakna bahwa DPR selaku pihak yang berwenang memberikan usulan kepada MPR untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden, wajib meneruskan usulan tersebut ke MPR ketika Mahkamah Kostitusi telah membenarkan pendapat DPR tersebut. Jadi bagi DPR pasca putusan Mahkamah Konstitusi yang membenarkan

Dalam dokumen Andy Wiyanto Peranan MK dalam Proses I (Halaman 101-121)