• Tidak ada hasil yang ditemukan

I.8. Analisa data

3.1. Sejarah Marga-marga Silahi Sabungan

Suku bangsa batak Toba sebagai salah satu sub suku Batak mengakui bahwa sub suku mereka adalah induk dari seluruh sub suku Batak yang ada di Sumatera Utara (Simanjuntak 2004 : 20). Sebagaimana dijelaskan terdahulu bahwa suku Batak terdiri dari Toba, Simalungun, Karo, Pakpak dan Mandailing.

Suku Bangsa Batak Toba adalah berasal dari keturunan dari si Raja Batak (Tambunan, 1990:5), karena Raja itu hidup pada beberapa abad yang lalu, sehingga pada tahap selanjutnya dalam penelahaan sejarah asal-usul suku Batak sulit dibuktikan kebenarannya dan hanya bersifat legenda.

Namun pengetahuan mengenai hubungan keturunan/sisilah marga Batak semakin kebelakang semakin kabur karena semakin kebelakang saksi sejarah semakin kecil yang pada akhirnya tidak ditemukan lagi yang pada gilirannya mengarah kepada legenda yang dipercayai masyarakat.

Dari penjuelasan diatas, bahawa setiap Marga-marga Batak Toba mempunyai silsilah masing-masing, maka dalam tulisan ini penulis akan menggambarkan silsilah tersebut secara garis besar ditarik dari Si Raja Silahi Sabungan.

Dalam penulisan silsilah sub marga pada masyarakat Batak Toba, selalu berasal dari Si Raja Batak sampai kepada keturunannya yang sudah membentuk marga-marga. Hal ini disebabkan masyarakat Batak Toba pada mulanya berasal Si Raja Batak. Maka jelaslah bahwa setiap sub marga Batak Toba yang sekarang ini berasal dari Si Raja Batak.

Dalam tulisan ini tidak semua mata rantai silsilah dicantumkan, hanya secara garis besar untuk menunjukkan nama Marga-marga ini yaitu dari garis keturunan Tuan Sorba Di Banua.

Dari penjelasan diatas, bahwa Si Raja Batak mempunyai dua orang putera yaitu yang sulung Guru Tatea Bulan dan Adiknya Raja Isumbaon. Raja Isumbaon mempunyai tiga putera yaitu Tuan Sorimangaraja, Raja Asasi, dan Sangkarsomalindang. Anak sulung dari Raja Isumbaon adalah Tuan Sorimangaraja yang mempunyai 3 orang putera yakni Nai Ambaton, Nai Rasaon, dan Nai Suanon (Tuan Sorba Di Banua). Anak bungsu dari Tuan Sorimangaraja yaitu Nai Suanon (T. Sorba Di Banua) mempunyai 5 orang putera dari isteri pertama yang bernama Nai Anting Malele br. Pasaribu yaitu Si Bangot Ni Poha, Si Paet Tua, Raja Silahi Sabungan, Raja Oloan dan Raja Hutalima. Sedangkan keturunan dari isteri kedua yang bernama Si Boru Sibaso mempunyai tiga orang anak yaitu Raja Sabu, Raja Sumba, dan Raja Pospos (dapat dilihat Sisilah Raja Batak)

Nama Tuan Sorba Di banua secara etimologinya (asal katanya) berasal dari : - sorba – sarwa – semua

- Benua – benua – daerah – dunia

Jadi Tuan Sorba di banua berarti tuan semua pada dunia (benua) = Raja Dunia = semua benua.

Berdasarkan hasil wawancara dengan raja adat Maju Situngkir mengatakan bahwa Tuan Sorba ni banua adalah seorang Raja suku batak yang tinggal di Balige bersama keluarganya. Semasa pemerintahan Raja Tuan Sorba Di Banua keadaan kerajaan begitu aman, tentram dan makmur serta perekonomiannya jaya. Dari beberapa keturunan Raja Tuan Sorba Ni Banua yaitu Raja Silahi Sabungan dan Raja Oloan memiliki kharisma

dari ayahnya. Raja Silahi Sabungan adalah seorang futurisme (ahli meramal), memiliki kesaktian, dapat menyembuhkan penyakit (dukun sakti), tutur bahasanya dan berbakat seni. Sedangkan Raja Oloan memiliki jiwa kepemimpinan yang besar dan kemauannya harus diiukuti. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain seperti Si Bangot Ni Pohan tidak memiliki kharisma seperti adik-adiknya. Hal ini sangat membuat Si Bangot Ni Pohan menjadi kwatir di suatu saat mereka akan menjadi bawahan adiknya. Namun Si Bangot Ni Pohan tidak berani mengusir adik-adiknya (Raja Silahi Sabungan dan Raja Oloan) Sibangot Ni Pohan membuat suatu rekayasa dengan membuat pesta pancang sembah dengan tujuan agar Silahi Sabungan dan Raja Oloan pergi meninggalkan Balige.

Tersiratlah berita bahwa Tuan Sorba Banua akan mengadakan pesta adat besar dengan puncuk acara megadakan pancang sembah seekor kerbau yang dipersembahkan kepada dewata supaya hidup mereka bahagia, sempurna, baranak cucu bagi seluruh keturunan Raja Sorba Di Banua, diadakanlah suatu musyawarah mufakat, Silahi Sabungan dan Raja Oloan ditugaskan untuk mencari pohon khusus untuk rumbe-rumbe pacak kurban kerbau persembahan ke hutan-hutan sekitar balige. Tibalah mereka dengan membawa rumbe-rumbe tersebut tetapi upacara telah selesai diadakan oleh abangnya Si Bangot Ni Pohan, Raja Silahi Sabungan dan Raja Oloan kecewa den merasa dirinya diremehkan.

Berawal dari kejadian antara Silahi Sabungan dan Si Raja Oloan terhadap abanya Si Bangot Ni Pohan, maka Raja Silahi Sabungan dan Raja Oloan sepakat untuk meninggalkan Balige, sebelum meninggalkan Balige mereka tidak lupa membawa sekantong air dan segumpal tanah dari negeri leluhurnya. Mereka berangkat dari Balige menuju arah kebarat terus menelusuri tepi pantai Danau Toba yang sekarang. Setelah

berbulan-bulan dalam perjalanan, pengalaman pahit yang bersama-sama mereka alami dan akibat sakit hati yang diperbuat abangnya, maka mereka berdua mengikat janji bersama agar keturunan mereka nantinya tetap kompak, sepenanggungan, tidak saling menikah dan saling hormat-menghormati dimanapun berada. Si Raja Oloan menetap tinggal di Tano Si Ogung-Ogung daerah Bakkara. Sedangkan Silahi Sabungan melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang belum diketahuinya.

Setelah melakukan perjalanan yang jauh, Silahi Sabungan tiba di Bukit Lassabunga (daerah Dairi) dengan panorama yang indah, sejuk dan luas. Raja Silahi Sabungan memutuskan untuk menetap, Silahi Sabungan segera menebang semua pohon-pohon dan semak belukar di sekeliling hutan aga bisa diolah menjadi perladangan dan sawah. Beberapa dari kemudian Silahi Sabungan membakar pepohonan dan semak-semak yang sudah kering. Tujuan dari membakar pepohonan dan semak-semak itu adalah agar adiknya Si Raja Oloan dapat melihat asap bakaran sebagai pertanda bagi Si Raja Oloan bahwa abangnya Silahi Sabungan masih hidup dan telah menemukan daerah pemukimannya. Raja Silahi Sabungan telah menemukan tempat tinggal yang cocok untuknya dan daerah ini di beri nama Silalahi Nabolak Bona Pasogit Silahi Sabungan sampai sekarang . diperkirakan sejarah ini terjadi tahun 1450 tahu yang lalu.

Desa Silalahi Nabolak ini berasal dari sebuah perjalanan hidup seorang Raja Silahi Sabungan yang berasal dari Balige. Sebelum daerah ini ditempati Raja Silahi Sabungan, daerah ini termasuk kawasan Raja Pakpak. Suatu ketika Raja Pakpak memburu burung elang di hutan dan burung tersebut pergi menuju gubuk Silahi Sabungan. Raja Pakpak terkejut melihat ada banyak asap dan siapa berani menempati wilayahnya tanpa izin dari Raja Pakpak. Mereka pergi menuju gubuk Silahi Sabungan

dan melihat hasil burunanya hinggap di tangan Silahi Sabungan, orang Pakpak meminta elang tersebut terbang jika hendak diambil orang Pakpak.

Raja Pakpak menyuruh anak buahnya menghempas tombak sakti kearah Silahi Sabungan. Raja Pakpak penuh kekaguman sebab tidak satupun tombak yang dihempas anak buahnya tidak berhasil tertancap dari tombak yang dihempas anak buahnya. Silahi Sabungan menerima Raja Pakpak sebagai tamu dan memepersilahkan Raja Pakpak masuk kegubuk Silahi Sabungan dan mereka berdamai dan menjalin persahabatan.

Raja pakpak tidak melihat sosok sorang isteri dalam rumahnya dan ternyata Raja Silahi Sabungan masih sendiri. Raja pakpak berniat untuk menjadikan Silahi Sabungan menjadi menantunya. Silalhi sabungan menerima dengan senang hati. Dari tujuh putri Raja pakpak, Silahi Sabungan memilih puteri bungsu Raja pakapak yang bernama Pinggan Matio boru Padang batang hari. Raja pakpak segera memberikati raja Silahi Sabungan dengan Pinggan Matio menjadi Suami Isteri.