• Tidak ada hasil yang ditemukan

Self-Presentation Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar

4.4 Self-Presentation Penelitian

4.4.3 Self-Presentation Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar

Berikut ini perbandingan hasil perhitungan taktik self-presentation Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar secara keseluruhan:

Tabel 4.42 Perbandingan Taktik Self-presentation Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar

No Taktik Ridwan Kamil Deddy Mizwar 1 Excuse 0 % 0 % 2 Justification 0 % 0 % 3 Disclaimer 4 % 5 % 4 Self-handicapping 0 % 0 % 5 Apology 0 % 0 % 6 Ingratiation 41 % 28 % 7 Intimidation 3 % 2 % 8 Supplication 1 % 0 % 9 Entitlement 8 % 15 % 10 Enhancement 22 % 7 % 11 Blasting 0 % 0 % 12 Basking 10 % 30 % 13 Exemplification 11 % 13 % Total 100 % 100 %

Sumber: Olahan Peneliti, 2018

Ada beberapa taktik yang tidak digunakan Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar dalam masa prakampanye. Hal ini dikarenakan taktik tersebut, digunakan dalam kondisi tertentu untuk menunjukkan tujuan yang ingin disampaikan. Misalnya tidak menggunakan taktik apology, hal ini dikarenakan taktik tersebut bertujuan untuk meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat. Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar pada saat masa pra-kampanye sedang tidak mengalami penyesalan atau rasa bersalah, sehingga mereka tidak menggunakan taktik tersebut. Adapun pemilihan taktik yang digunakan baik Ridwan Kamil dan Deddy Mzwar cenderung berhati-hati dan selalu menonjolkan taktik yang berkesan positif. Hal ini dikarenakan mereka menyadari bahwa pesan di media sosial juga dapat

dimodifikasi orang lain sehingga merugikan dirinya. Para pengguna internet tak tertarik untuk mencari rekam jejak atau program yang ditawarkan oleh politisi. Sebaliknya, ada kecenderungan di masa kampanye Pemilu, internet justru digunakan untuk mengolok-olok politisi dan menyerang politisi yang tidak disukai (Momoc, 2011).

Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar merupakan komunikator politik yang mengembangkan atau menciptakan identitas diri di media sosial. Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar memiliki taktik assertive yang lebih banyak ketimbang taktik

defensive. Ketika Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar menata akun media sosial,

sebenarnya mereka sedang menata wajah atau penampilannya di dunia maya. Ketika melakukan penataan terhadap foto, caption, warna dan penggunaan fitur lain dalam unggahan di Instagram, maka mereka sedang memilih pakaian yang mana atau warna apa yang cocok dengan diri sendiri. Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar sebagai politisi sadar akan manfaat dan audiencenya yang ada di media sosial. Bagi pengguna yang menyadari bahwa audiens (atau pengguna lainnya) tidak hanya satu atau dua orang melainkan berpotensi sangat banyak (selayaknya sekumpulan massa). Penataan media sosial akan menjadi sebuah tindakan yang tidak serta merta spontan, tetapi melalui sebuah „meja editorial‟ di dalam dirinya sendiri (Luik, J, 2012)

Dari segi pendekatan dengan pengguna media sosial, Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar memiliki ciri khas masing-masing. Dari segi bahasa Ridwan Kamil menggunakan caption yang lebih pendek dan menyesuaikan topic pembahasan. Sedangkan Deddy Mizwar sendiri lebih kaku dan menjelaskan dengan caption panjang. Sedangkan dari segi warna, Deddy Mizwar tidak menonjolkan warna tertentu. Sedangkan Ridwan Kamil menunjukkan warna dominan hijau saat masa pra-kampanye. Setiap orang memiliki harapan untuk bisa menjadi sebuah sosok impian. Sosok impian yang bisa saja berdasarkan kebutuhan dirinya sendiri, karena melihat-lihat kondisi sekitarnya, atau berdasarkan konstruksi pribadi (Luik, J, 2012, p.2 ).

Sebagai politisi, Ridwan Kamil dan Mizwar memiliki tuntutan sebagai

public figure yang harus memberikan apa yang diinginkan masyarakat. Pada saat

pejabat pemerintahan. Politisi juga menghadapi tantangan lain terkait penggunaan media sosial sebagai upaya pembentukan branding yakni menampilkan pribadi sesuai dengan harapan masyarakat (Guervitch, et.al., 2009).

Sebagai calon gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar lebih berhati-hati untuk menarik simpatisan di Instagram. Di era interaktif digital, pesan informasi dan citra politik sebagai calon gubernur malah justru menjadi hal yang rawan untuk dimodifikasi sebelum dan saat kampanye. Pelaku politik harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa pesan-pesan mereka akan dimodifikasi oleh pihak lain ketika pesan tersebut disampaikan melalui media sosial. Lingkungan media digital tidak menghargai integritas informasi: ketika informasi itu sudah dipublikasikan secara online, maka siapa pun bebas untuk memodifikasinya (Gurevitch, et.al, 2009).

Oleh karena itu, dalam penggunaan taktik self-presentation Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar mempunyai taktik yang lebih menonjol masing-masing. Namun, tetap taktik yang digunakan untuk mempresentasikan diri bahwa mereka sedang mengembangkan identitas diri positif di masyarakat melalui media sosial Instagram. Goffman menyatakan bahwa orang-orang berusaha menyajikan diri mereka yang diidealisasikan dalam pertunjukan mereka di panggung depan dan mereka merasa bahwa mereka harus menyembunyikan hal-hal tertentu dalam pertunjukannya karena hal tersebut dapat mengganggu image maupun peran yang ditampilkan aktor tersebut (Goffman, 1959, p.32).

Ridwan Kamil mengetahui potensi baik untuk menjadi politisi yang dikenal di media sosial. Dari frekuensi unggahan Ridwan Kamil yang lebih unggul dari Deddy Mizwar, dapat diketahui bahwa ia memanfaatkan media sosial sebagai pemberian kesan di net generation. Menurut penelitian yang dilakukan We Are Social, rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial (Kompas.com, 1 Maret 2018, "Riset Ungkap Pola Pemakaian Medsos Orang Indonesia"). Adapun media sosial mempunyai manfaat yang baik juga dirasakan oleh Barack Obama memenangi pemilihan presiden Amerika Serikat. Sekitar 30 persen pesan-pesan kampanye Obama disampaikan melalui media baru (Riaz, 2010).

Berbeda dengan Deddy Mizwar yang tidak memiliki frekuensi lebih banyak dalam unggahan Instagram. Deddy Mizwar tidak intens melakukan interaksi dengan followersnya di media sosial. Hal ini menjadi kelemahannya untuk dekat dengan followersnya. Hal ini terbukti dengan jumlah yang followers yang berbeda jauh dengan Ridwan Kamil. Kelemahan partai politik dan politisi di Indonesia adalah hanya “menyapa” konstituen biasa/pendukung biasa setiap lima tahun saja, yakni menjelang pemilihan umum. Jika tidak mendekati pemilihan umum, partai atau politisi hanya menyapa pendukung-pendukung yang kaya (Wasesa, 2011).

Dari segi latarbelakang yang berbeda, ternyata Ridwan Kamil lebih menjadi selebriti di Instagramnya. Ini terbukti dengan ratusan komentar dan

followers yang mencapai 7juta. Sedangkan Deddy Mizwar yang memang

sebenarnya dari latarbelakang entertaiment¸ ia tidak mendapat komentar dan jutaan followers. Perbedaan ini dikarenakan keaktifan dan kedekatan Ridwan Kamil yang dekat dengan followers dengan membahas isu yang bukan hanya soal politik.

Bagi seorang politisi yang cerdas maka informasi menjadi sumber inspirasi untuk membuat pernyataan-pernyataan yang bisa menarik perhatian orang banyak, sekaligus untuk memelihara citra di depan publik. “Seorang politisi harus mampu menangkap dan menciptakan informasi dalam memublikasikan diri” (Canggara, 2011, p. 266). Ridwan Kamil merupakan politisi yang cerdas dalam mengelola informasi di sosial media. Sehingga, ia dapat mendekatkan diri dengan

net generation. “Dalam mempersuasi, ada penyusunan pesan yang penuh humor

(humorous appeal), ialah teknik penyusunan pesan yang berusaha membawa khalayak tidak merasa jenuh. Pesan yang disertai humor mudah diterima, enak dan menyegarkan” (Canggara, 2011, p.269). Taktik ingratiation dengan menonjolkan cara terlihat menyenangkan, Ridwan Kamil sering menggunakan taktik persuasi yang humoris. Hal ini sesuai dengan keinginan net generation yang menyukainya.

Sedangkan Deddy Mizwar yang merupakan actor di dunia entertainment, tidak mendapatkan popularitas yang besar di dunia media sosial. Hal ini dikarenakan, Deddy Mizwar tidak melakukan upaya pendekatan dengan net

generation. Dalam unggahannya, ia hanya menunjukkan bahwa ia adalah politisi

dan tidak memperhatikan pesan yang menarik untuk net generation.

Jika Deddy Mizwar memiliki popularitas yang dikenal di dunia

entertainment, namun tidak bisa disamakan juga akan menjadi popular di dunia

media sosial. Sedangkan Ridwan Kamil yang berlatar belakang arsitek, justru lebih terkenal di media sosial. Seorang politisi harus menjaga keterkenalannya di masyarakat agar tidak dimakan waktu sehingga meredup tingkat popularitasnya. McNair dalam bukunya Introduction to Political Communication (2015) membandingkan bahwa seorang pahlawan dikenal membela kepentingan orang banyak melalui kemampuannya karena itu ia adalah bigman, tetapi seorang selebritis justru dikenal berkat liputan media, karena itu ia dikenal sebagai

bigname.

Proses Pilkada secara langsung memberikan ruang dan pilihan yang terbuka bagi masyarakat untuk menentukan calon pemimpin yang memiliki kapasitas, dan komitmen yang kuat serta legitimate dimata masyarakat sehingga pemimpin yang baru tersebut mendapat dukungan dan kepercayaan dari masyarakat luas dan juga diharapkan akan terjadinya rasa tanggung jawab secara timbal balik (Wasistiono & Sumihardjo, 2003). Dengan maraknya media sosial, calon kepala daerah yaitu Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar lebih merasa mendapatkan dukungan dari masyarakat dengan secara langsung bisa berinteraksi di media sosial. Dengan tanggapan masyarakat di kolom komentar unggahan Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar, mereka dapat berasumsi seberapa banyak dukungan dan antusias masyarakat yang mendukungnya untuk maju dalam Pilkada 2018.

Media sosial menjadi keuntungan bagi politisi khususnya untuk mendapat dukungan secara langsung dari masyarakat dan menambah antusias untuk sosialisasi tanpa dibayar meskipun hanya dalam komentar, like maupun beradu pendapat. Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar mempunyai media sosial yang menjadi ramai untuk memunculkan kampanye kreatif yang dilakukan saat masa pra-kampanye. Munculnya kampanye kreatif secara sukarela seakan menjadi penghalang bagi penyebaran fitnah kampanye hitam yang mengusik kampanye dalam Pilkada. Dengan mengunggah kampanye kreatif tersebut, Ridwan Kamil

dan Deddy Mizwar dapat menghalang adanya kampanye negative dan menginformasikan siapa saja yang mendukungnya. Dimulai dari kegelisahan, kekhawatiran dan ketidakrelaan kalau sampai fitnah yang menjadi penentu masa depan bangsa ini. Sebagai sukarelawan, para artis, desainer, komikus, illustrator, orang iklan, seniman, musisi, pembuat film saling bahu membahu untuk turun tangan dalam hasil karyanya (Bachir et al., 2015).

Ada perbedaan identitas virtual yang digunakan kedua politisi yang sedang mempersipakan kampanye sebagai calon Gubernur Jawa Barat tersebut. Perbedaan penggunaan taktik self-presentation dari Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar di Instagram dapat dilihat melalui pendekatan interpersonal yang berbeda. Ridwan Kamil ingin menunjukkan identitas diri sebagai pemimpin yang menyenangkan, berbeda dengan Deddy Mizwar yang menunjukkan identitas diri sebagai politisi yang bercitra positif dengan mengaitkan sebagai bagian kelompok tertentu. Jika presentasi diri ini dibawa dalam kehidupan virtual, dalam hal ini di

World Wide Web, maka terbentuk sebuah identitas virtual (Virtual Identity).

Identitas virtual yang terbentuk bisa sangat bervariatif. Bahkan, format teknologi Web 2.0 dan kemajuan media baru membuat identitas virtual merupakan sebuah proses yang terus menerus selayaknya proses yang terjadi di dunia nyata (Lister et al., 2009).

Dokumen terkait