sekonyong-konyongdarimanusia.
Namun
Ia mencabutnya dengan mencabut(ruh)para ulama.”3>Bahkan kita akan terus mendengar, kebanyakan dari
merekaakan
membawakan
Haditsinipadaacarawafatnyasalah seorangdarisyaikh-syaikhmereka. Selanjutnya,merekaakanmemahami
denganpemahaman
yangkelirutentangpengertian dari lanjutanHaditsini,yangberbunyi,“Hinggajikataktersisasatupun orang
yang
alim,pada
saat itu manusia akanmengangkat pemimpin-pemimpin
mereka dari kalangan orang-orang bodoh.Kemudian mereka
ditanya,maka
3)
. BukharidanMuslimbahwayangdimaksud dengan paraulamayaitupara ulama yangpahamakanAlQur'andan As-sunnah.
7
pemimpin-pemimpin ituberfatwa tanpa landasan ilmu."Di dalamriwayat Bukhari,“Merekaberfatwadenganrasiomereka,
maka
merekatersesatdan menyesatkan.”Merekamenyangka
bahwayang dimaksud dengan “pemimpin-pemimpin bodoh”itu,yaituorang-orang
awam
yangtidakmemilikiilmutentang tauhid dantidakmemilikiwawasanakanberbagaimacam
madzhabfikih.Padahal sesungguhnya,yangtermasukdalamkategoriiniadalah parapentaklidyang hanyacukupmengetahuiberbagai
macam
ijtihad para
imam
tanpa mengetahui dalil-dalil mereka, sebagaimanahalinitelahdisebutkan olehImam
IbnuAbdulBarr.Menguatkanapayang kamipahami, beberapaorangulama telahberdalildenganHaditsini
bahwa
akan adakemungkinan mungkinnyaterjadikekosongansebuahzaman
dariseorang mujtahiddenganbeberapa ketentuanyangdisebutkandidalam FathululBaari(13 :244)merekamengisyaratkan,bahwa
yang dimaksuddengankataulama dalamHaditstersebutadalahpara mujtahidsedangkanyangdimaksud denganparapemimpinyang bodohadalah parapentaklid.Sebenarnya, sebab utama dari seluruh yang telah disebutkan adalahkebodohan merekaakanhakikatilmudan kebodohantentangsiapayang dimaksuddenganseorang alim (berilmu)tersebut,yangadapadaayat-ayatmaupunHadits-hadits Rasulullah
SAW,
sepertifirman Allah Ta'ala,Apakah sama
orang-orangyang
berilmudenganorang-orangyang
tidak berilmu?''''(Qs.Az-Zumar
(39):9).Firman-Nya,“Allah akan meninggikan orang-orangyang
beriman di antara kalian dan orang-orangyang
diberi ilmubeberapaderajat. ” (Qs.Al Mujaadilah (58): 11), demikian pula sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam,“Keutamaanseorangalimatas seorang
yang
‘abid(hamba)sepertikeutamaankuatasorang yangterendahdiantarakalian.''''(DiriwayatkanolehAt-Tirmidzi dengan sanadnyayangshahih) Sabdabeliau, “Apabilaanakcucu
adam
meninggal,maka
putuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitushadaqah
jariyah atau ilmuyang
bermanfaat atau seoranganak
shalihyang
senantiasa mendoakannya (HR.Muslim). Juga sabdabeliau,‘'“'Tidaklahmasuk
dalam golongan kamibarangsiapayang
tidakhormat kepadayang
lebihtua darigolongankamidanmenghormatiyang
lebihmuda
sertamengetahui hak-hakseorangalim.” (DiriwayatkanAlHakim
dengansanadnyayanghasan)Serta contoh-contohlainnyayangmenjelaskanakankeutamaanilmu danahlinya.AlHafidz IbnuAbdulBarrdidalambuku Jami’ulBayan Al ‘Ilmibeliaumenuliskan sebuahbabkhususyangmenjelaskan akanhakikat ilmu, beliauberkata(2:23),“Babpengetahuan akan dasar-dasarilmudanhakikatnyasertapengertianfikihdanilmu jikaberdiri sendiri”.HalyangserupajugatelahdituliskanolehA/
AllamahAlFallanididalambukubeliauIgadzhu
Humami
UlilAbshar,(hal23-26).
Kemudian
AlFallanimenutupuraiannya denganberkata,“Sayakatakanbahwa, Haditsdanatsartadi(yang menyebutkan tentang keutamaan ilmu) secara jelas menunjukkanbahwa,yang dimaksud denganalilmuadalah segala yangterdapatdidalam AlQur'an,SunnahRasul-Nya,ijma’serta qiyasdanjika tidakterdapatdalildariketigasumberyangtelah disebutkansebelumnya,
maka
halitubagiorang-orangyang menjadikanqiyas sebagai hujjah(dalil)yangsah.Bukanlah yang dimaksuddengan ilmuyaitusemua yangdiutarakan oleh para pentakliddanorang-orangyangfanatikyanghanyamengkhususkan pada apayangtertulis didalamkitab-kitabmadzhab
mereka meskipun banyakdariisibukutersebutyangbertentangandengan Hadits-haditsRasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam.Kesimpulanyangdapatdikatakanbahwataklidmerupakan sesuatuyangtercelakarenahalitutidaklainhanyalah sebuah kebodohan dan bukanlahmerupakanilmu(denganpenalaran).
Adapun
ilmuyanghakiki,yaitumengertitentangAlQur'an, Sunnahdanpemahaman
akankeduanya.BolehnyaBertaklid bagiOrang-orang yang Tidak
Sanggup Memahami
Dalil.Mungkin
seorang akan berkata, “Tidaksemua orangmampu
untuk menjadialim(memilikiilmu)denganpengertian yangtelahengkausebutkan.”Kami
katakan,“Hal ituadalah sesuatuyangbenar, tidakseorangpun memungkirinya. Allah Ta’ala berfirman, “Maka
bertanyalah kepada orangyang
berilmujikakamu
tidakmengetahui." (Qs. An-Nahl (16):43).Allah
SWT
jugaberfirman,“Maka
tanyakanlahtentang Allah kepada orangyang
lebihmengetahui(Muhammad)"
(Qs. Al Furqaan (25): 59). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallambersabdakepada orang-orangyangberfatwa tanpa ilmu, “Tidakkahmerekabertanyadikalamerekatidaktahu,
sesungguhnya obatkebodohan ituadalah bertanya.” Perludiketahui,
bahwa
dalil-dalilitutidakterfokuspada bahasan orang-orangyangtahu atauorang-orangyangtidaktahu.Akan
tetapi, dalil-dalilitupadahakikatnyatertujupada orang-orangtertentuyangmenganggapdirimerekaseorang berilmu,mampu memecahkan
permasalahan-permasalahanyangtimbul dengandalil,padahalpada kenyataannyamerekaituhanyalah orang-orangyang hanayatahuperkataanimam-imam
madzhabtetapibutaakandalil-dalilmereka,baikAlQur' anataupun As-Sunnah.
Untukitu,persoalaninisebenarnyatidakperludiangkat, terlebihkarena sayatelahmenyebutkannyadiawalpasalinibahwa
dalil-dalilyangberisicelaanterhadapsikaptaklidmemberikan duapelajaranyangpenting,yaitu:
1. Taklid tidaktermasuk ilmuyangbermanfaat.
2. Takliditudilakukan oleh orang-orang
awam
yang bodoh.Olehkarenaitu,seorang alimyangmemungkinkanbaginya untuk mencaridanmempelajaridalil-dalilagamatidaktermasuk dari golongan mereka.
Mereka
ini, tidakdibenarkan untukbertaklid,namunhendaklahmerekaberijtihad.Adapunpenjelasan akanhalini,
maka
sayakatakan:Imam
Ibnu Abdul Barr rahimahullahmengatakan
bahwa,dalil-dalil yangberisi celaan bagiorang-orangyangbertaklid, tidak diperuntukkan kepada orang-orang
awam,
karenasesungguhnyamerekaituwajibuntukbertaklidkepada ulama dalampermasalahan mereka,karenayangdemikianitu
disebabkan,karenaketidakmampuan merekauntuk
memahami
sebuahdalilagama. Padahal ilmu itu
mempunyai
tingkatan-tingkatanyang tidakmungkin
bagi seseoranguntuk meraih tingkatantertinggisebelumiamencapaitingkatanyang bawah.Haliniyangmenjadipembatasantaraorang-orangyang
awam
denganpenuntutilmu. WallahuA’lam.
Ulama
tidak berselisihpaham
akankewajibanbagi orang-orangawam
untukbertaklidkepadaulamadan sesungguhnya merekaituyang dimaksudkanoleh AllahTa'aladengan firman-Nya, “Maka
bertanyalah kalian kepada ulamajikakamu
tidakmengetahui Merekatelahsepakat,bahwasanyaseorang yangbutawajib untukbertaklidkepadaseorangyangiapercaya dalam menentukanarahkiblat.Demikianjuga orangyangtidak memilikiilmudalam masalah
agama
yangditekuninya,wajib atasnyauntukbertaklidkepadaseorang ulama. Paraulamajuga telahbersepakatbahwatidakdibolehkan seorangawam
untuk berfatwa,yangsemuaitu. WallahuA’lam. Disebabkan karena kebodohannyaterhadapmasala-masalahhalaldanharamserta masala-masalahagamalainnya.Meskipundemikian, tidakmutlakdapatdibenarkantentang pendapatyangmengharuskanoerang
awam
untukbertaklid.Halitukarenajikaengkau masihingatakanpengertiantaklidyang menjelaskan
bahwa
taklidadalah berbuatatasdasar perkataan seseorang tanpadisertaidengandalil,maka
merupakansuatu halyangsangatmudah
bagibeberapaorangawam
yangcerdas untukmemahami
suatudalilkarenajelasnyadaliltersebut.Contohdari halituadalahsabdaRasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam,
“
Tayammum
itu cukupdilakukandengan sekali tepukpada
wajah dan keduatelapaktangan1',adakahdariseorangyang merasa samar akanpengertiandariHaditsini?Untukitu, lebih tepatkiranyajikadikatakanbahwa
takliditudibolehkanbagi orang-orangyangtidaksanggupuntukmemahami
sebuahdalil,karena Allahtidak