• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Pluralisme Agama

Dalam dokumen Journal of Islamic Studies (Halaman 52-58)

PLURALISME AGAMA

B. Pendidikan Agama dan Tingkat Toleransi Beragama

2. Sikap Pluralisme Agama

Pluralisme adalah sebuah paham ten-tang pluralitas. Paham, bagaimana melihat bentuk keragaman dalam agama-agama, mengapa dan bagaimana memandang aga-ma-agama, yang begitu banyak dan bera-gam. Apakah hanya ada satu agama yang benar atau semua agama benar. Menurut Kautsar Azhari Noer, yang dikutip oleh Ngainun Naim dan Achmad Sauqi menya-takan secara bahasa, kata pluralis berasal dari bahasa Inggris “plural” yang berarti “jamak”, dalam arti keanekaragaman dalam masyarakat, atau ada banyak hal lain di luar kelompok kita yang harus diakui. Secara istilah, pluralisme bukan sekedar keadaan atau fakta yang bersifat plural, jamak atau banyak. Lebih dari itu, pluralisme secara substansial termanifestasi dalam sikap un-tuk saling mengakui sekaligus menghargai, menghormati, memelihara, dan bahkan mengembangkan atau memperkaya keada-an ykeada-ang bersifat plural, jamak, atau banyak”.13

Pluralisme adalah sikap menerima, memahami, dan menghormati serta terlibat aktif dalam realitas kemajemukan kelom-pok. Melalui sikap demikian, diharapkan muncul perilaku saling menghargai, kerjasama, tolong-menolong, toleransi dan seterusnya, antar komunitas yang berbeda sehingga tercipta perdamaian, ketenangan dan persatuan. Menurut soraj Hongladarom dalam Implications of Pluralism Essays on

Culture, Identity and Values menyatakan : “The pluralism that exists within such arrangements as linguistic or cultural pluralism refers to the space within which diverse languages or cultural phenomena coexist with one another. Hence these kinds of pluralism belong to the same species as the second sense of political pluralism alluded to above. In a society with linguistic pluralism, active measures are there to

13 Ngainun Naim & Achmad Sauqi.

Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi.

(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), h. 75

14 Soraj Hongladarom. Basing

Political Pluralism on Epistemology: The Case

promote and support the phenomenon where different languages are given equal treatment so that citizens speaking different languages do not have to be forced to speak others which are not their own. Cultural pluralism speaks of different cultures coexisting with one another”.14

Pluralisme tidak hanya berlaku pada ranah politik dan ide, akan tetapi juga berlaku pada ranah bahasa dan budaya. Bukan saja warna politik dan ide yang mempunyai beragam orak dan warna. Akan tetapi penggunaan bahasa dan budaya juga sangat beragam. Dengan demikian, sikap pluralisme dapat dipahami sebagai suatu sikap yang memberikan perlakuan yang sama kepada mereka yang berbeda tersebut, baik pada perbedaan bahasa maupun budaya, yakni dengan tidak memaksakan suatu bahasa kepada kelompok lain yang mereka tidak dapat memahami dan tidak juga memaksakan penggunaan suatu buda-daya pada mereka yang telah memiliki budaya sendiri.

Pluralisme merupakan salah satu sikap untuk penyeimbang bagi umat manusia yang telah diciptakan oleh Tuhan dalam berbagai bentuk dan rupa yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, serta terdapat beragam suku bangsa. Keberagam-an umat mKeberagam-anusia adalah untuk disatukKeberagam-an dan diselaraskan, agar mereka hidup rukun dan damai. Budhy Munawar Rachman menyatakan: Pluralisme tidak dapat dipa-hami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanya menggambarkan kesan frag-mentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekedar sebagai “kebaikan negatif” (negative good), hanya ditilik dari kegunaannya untuk menyingkir-kan fanatisme (to keep fanaticism at bay). Pluralisme harus dipahami sebagai

pertali-of Thailand’s Southern Violence Dalam

Implications of Pluralism Essays on Culture, Identity and Values. Edited by Goran Collste

(Bangi: Institute of Ethnic Studies Universiti Kebangsaan Malaysia, 2011), h. 32

FORPERTAIS Vol. I No. I Juli – Desember 2017 an sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan

keadaban” (genuine engagement of diversi-ties within the bonds of civility). Bahkan

pluralisme adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan peng-imbangan antara sesama manusia guna me-melihara keutuhan bumi, dan merupakan salah satu wujud kemurahan Tuhan yang melimpah kepada umat manusia”.15 Ajaran pluralisme dalam agama Islam terdapat pada surah Al-Hujarat ayat 13.

ِإ ُس ٱ َ َ َ ٖ َ َذ ِّ ُ ٰ َ ۡ َ َ ٰ َ ُأَو ۡ ُ ٰ َ ۡ َ َ َو ٗ ُ ُ َ ِ ٓ َ َ َو َُر َ َ ِ َ ِ ۡ ُ َ َ ۡ َأ نِإ ْۚآ ٞ ِ َ ٌ ِ َ َ ٱ نِإ ۚۡ ُ ٰ َ ۡ َ ِ ٱ “Hai manusia, Sesungguhnya Kami men-ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supa-ya kamu saling kenal-mengenal. Sesung-guhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.16 PENUTUP

Dari beberapa definisi tentang plura-lisme yang telah dipaparkan di atas, maka

dapat dipahami bahwa pluralisme minimal memiliki tiga kategori, yaitu: Pertama, kategori sosial. Dalam pengertian ini, plu-ralisme agama berarti semua agama berhak untuk ada dan hidup. Kedua, kategori etika atau moral. Dalam hal ini pluralisme agama berarti bahwa semua pandangan moral dari masing-masing agama bersifat relatif dan sah. Ketiga, kategori teologi-filosofi. Seca-ra sederhana beSeca-rarti agama-agama pada hakekatnya setara, sama-sama benar dan sama-sama menyelamatkan.

Dengan bersandarkan pada beberapa definisi tentang pluralisme dan pemahaman dari Kitab Suci Qur’an pada surah Al-Hujarat ayat 13 tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa sedikitnya terdapat empat tema pokok yang menjadi kategori utama dalam membahas tentang sikap pluralisme agama, yaitu: (1) Kebebasan berkeyakinan dengan tidak melakukan pemaksaan untuk memeluk salah satu agama; (2) Pengakuan akan eksistensi agama-agama lain; (3) Pengakuan tentang konsep kesatuan ajaran para Nabi dan Rasul; dan (4) Pengakuan tentang kesatuan pesan Ketuhanan.

15 Budhy Munawar dan Rahman.

Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

2004), h. 39

16 Departemen Agama, Mushaf

DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin, (2004). Sejarah Pendidikan Islam, Pada Periode Klasik dan Pertengahan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Tafsir, Ahmad, (2005). Ilmu Pendidikan Dalam Persfektif Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Baihaqi, MIF, (2008). Ensiklopedi Tokoh Pendidikan: Dari Abendanon Hingga K.H.

Zarkasyi, Bandung: NUANSA.

Rahman, Budhy Munawar, (2004). Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Departemen Agama RI, (2006). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun

2005 tentang Guru dan Dosen serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

Departemen Agama, (2002). Mushaf Al-Qur’an Terjemah, Jakarta: Al-Huda.

Munzier, Hery Noer Aly, (2000). Watak Pendidikan Islam. Jakarta: Friska Agung Insani. Jalaludin. (2010). Psikologi Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Jonh M. Hull, Jonh, (2008). Religion, Violence and Religious Education, dalam

International Handbook of the Religious, Moral and Spritual Dimensions in Education, Section 1 & 2, (Netherlands : Springer.

Kamrani Buseri, Kamrani. (2010). Reinventing Pendidikan Islam (Menggagas Kembali

Pendidikan Islam yang Lebih Baik). (Banjarmasin: Antasari Press.

Marzuki, (2014). Teaching With Thematic Aproach, Scientific, Humility and Curriculum

Implementation in 2013 in Primary School as a Challenge. Proceedings – The

Indonesian Contemporary Educational Platform in the Period of Technological Advancement – International Seminar on Education 2014. FKIP Untirta, Serang – Banten.

Ngainun Naim & Achmad Sauqi. (2011). Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Pusat Bahasa, (2005). Departemen Pendidikan Nasional Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga, Jakarta: Balai Pustaka.

Soraj Hongladarom, Soraj. (2011). Basing Political Pluralism on Epistemology: The Case

of Thailand’s Southern Violence Dalam Implications of Pluralism Essays on Culture, Identity and Values. Edited by Goran Collste (Bangi: Institute of Ethnic Studies

FORPERTAIS Vol. I No. I Juli – Desember 2017

Alatas, Syed Hussein. (1977). Problem of defening religion., dalam International social

science, Journal. Volume XXIX No. 2 (France, Vendome : Unesco.

Zhang, Shishu. Religious Participation and Educational Attainment: An Empirical

Investigation. Dalam Sociological Landscape – Theories, Realities and Trends.

Journal of Islamic Studies 53 -TINJAUAN TEORITIS DAN PRAKTEK

Burhanudin

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Haudl Ketapang–Kalimantan Barat ABSTRAK

Sholat berjama’ah bukan hal yang baru dalam Islam, ini merupakan perintah bagi kaum muslimin oleh Nabi Muhammad SAW, guna untuk mempersatukan agama baik untuk menjalin persaudaraan antara Islam (dalam hal ibadah) juga untuk menjalin persaudaraan dengan agama lain (dalam hal hubungan sosial), yang merupakan efek dari sholat berjama’ah. Gerakan sholat berjama’ah juga sudah mulai pudar dalam kehidupan masyarakat muslim. Masjid yang dibangun megah bukan untuk dijadikan sarana membangkitkan sholat berjama’ah akan tetapi sudah beralih fungsi menjadi tempat berpolitik dan juga menjadi icon daerah masinng-masing saja. Melalui tulisan ini marilah kita kembalikan fungsi masjid yang sebenarnya dan menggerakkan kembali perintah Islam tentang pentingnya sholat berjama’ah dalam mewujudkan perdamaian.

KATA KUNCI: Sholat Berjama’ah, Perdamaian PENDAHULUAN

Syariat para nabi beserta petunjuknya yang sampai kepada kita dan terbatas dari segala bentuk kesalahan dan penyimpangan didasarkan padau dua hal mendasar: perta-ma, agar menegakkan agaperta-ma, kedua, tidak terpecah belah di dalamnya.1

Menegakkan agama berarti menduku-ng dan memperkuat prinsip-prinsip agama serta membangun generasi masa kini dan masa depan. Sedangkan mencegah dari per pechan berarti entitas yang dinamis tidak boleh menghasilkan jiwa-jiwa yang terbe-lah (split personality) melainkan terbangun semangat partisipatorik pada setiap orienta-si pada setiap anggota dan bagian yang ada didalamnya. Apabila salah satu berorientasi pada suatu tujuan, maka seluruh anggota harus mendukungnya dengan satu semang-at; tidak boleh salah satu memiliki semang at tinggi sementara yang lain kendor atau apatis.

1QS. Asy-Syura: 13.

2QS. Albaqara : 43

Konsep “agar menegakkan agama,” dan “tidak terpecah belah di dalamnya” ber arti satu entitas yang memilikipertahanan yang solid. Karena musuh senantiasa men-cari kelemahan (agama) ini, merasa sempit dengan kehadirannya, menjauh darinya, dan berusaha menipu konsep ini. Mereka membenci aqidah tauhid dan segala sesuatu yang didasarkan kepadanya, mereka juga bermuka masam terhadap orang-orang ya-ng mendukuya-ng aqidah ini. Oleh karenanya, Al-Qur’an al-Karim meringkas kewajiban-kewajiban para pengemban kebenaran ke dalam dua istila: agar menegakkan agama, dan tidak terpecah belah di dalamnya, dua istilah yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit diterapkan. Saya menyaksikan umat Islam dan merasa aneh dengan sikap yang ditampakkan mereka. Padahal di dalam Al-Qur’an sudah jelas ada suatu perintah diri-kanlah sholat dan bayarlah zakat.2Dan juga ayat lain mengatakan “mintalah pertolong-an kepadaku dengpertolong-an cara sabar dpertolong-an sholat”3

FORPERTAIS Vol. I No. I Juli – Desember 2017 dari ayat diatas jelaslah bahwa sholat

pakan perintah Allah (ibadah) bukan meru-pakan suatu kebudayaan.

Ibadah dan budaya terkadang membuat sebagian seseorang mengartikan sama. Ak-an tetapi jika kita mau memahami secara detail bahwa keduanya sangatlah berbeda. Ibadah adalah merupakan sebuah perintah dari Tuhan (Allah) yang harus dilakukan oleh mahkluk-Nya sebagai bentuk pengab-dian antara mahkluk terhadap sang kholiq-Nya, sedangkan budaya merupakan produk atau kegiatan yang asalnya dari manusia itu sendiri.

Pemikiran-pemikiran seperti ini ber-kembang sesuai dengan perber-kembangan es-ensi manusia sehingga bertambah pula per-kembangan pemikiran. Beberapa sebuah diskusi mengenai hahiqat manusia banyak terjadi kerancuan. Produk-produk manusia seringkali dijadikan bahan diskusi. Bahkan agama pun dianggap sebagai produk dari manusia. Artinya agama yang sekarang di-anur oleh para manusia sebagai budaya, yakni hasil budi daya yang dikembangkan manusia. Akibat dari pemikiran-pemikiran tersebut sehingga mereka mengalihkan be-berapa ibadah dalam Islam ditransisikan sebagai budaya, contoh mereka beranggap-an memakai kerudung bukberanggap-an suatu ibadah tetapi budaya bahkan ibadah sholat pun mereka katakan budaya Islam bukan ibadah Islam. Jika pertanyaan-pertanyaan itu dite-ruskan, akan memasuku ranah ke-Tuhanan. Akibat dari itu manusia akan menganggap buat apa kita melakukan sholat kalau itu sebagai budaya atau produk manusia, dima-na produk manusia boleh saja tidak diikuti. Ah hasil akan kacau iman seseorang jika ti-dak menemukan hal-hal yang seperti itu. Tidak semudah itu menganggap ibadah yang dilakukan manusia itu hasil dari buda-ya. Jika ditelusuri lewat ranah fisiologi. Bahwa ide akan muncul bisa dari internal dan eksternal. Yang dari internal adalah benar-benar ada yang mengadakan yakni

4Syekh Zanuddin Abdul Aziz Al-Malibary,

Fathul Muin,

Allah. sedangkan yang dari luar yakni eks-ternal dipengaruhi oleh pengalaman yang telah terjadi. Oleh karena itu pemikiran di-atas haruslah diluruskan supaya tidak mengembang kepada hal-hal lain baik yang berhubungan dengan ibadah maupun aqi-dah. Dari anggapan-anggapan diatas yang menyatakan bahwa sholat, agama adalah bu daya, ini akan mengikis kekuatan-kekuatan spiritual yang terkandung dalam suatu iba-dah. Contoh jika mereka menganggap bah-wa sholat merupakan budaya bukan perin-tah maka mereka tidak akan mengerjakan ibabah sholat dengan sungguh-sungguh se-hingga dari situ sholat yang mereka lakukan tidak akan memberikan dampak positif terhadap nilai-nilai kemanusiaan mereka. Akibatnya jika mereka tidak mempunyai nilai-nilai kemanusian, maka sulit untuk membentuk persatuan dan perdamaian an-tar Islam serta anan-tar agama. Apalagi sholat berjamaah yang berupakan fardlu kifayah bagi setiap muslim yang seharusnya dise-tiap suatu daerah harus ada sekelompok orang muslim yang melakukan sholat ber-jamaah, jika tidak ada maka konsekuensi-nya satu daerah tersebut akan mendapat dosa.

PEMBAHASAN

Urgensi Sholat dan Sholat Jamaah Presfektif Islam

Di dalam fathul Mu’in dijelaskan bah-wa sholat secara etimologi ialah

“Ad-Du’au” yaitu doa,adapun secara

terminolo-gi sholat ialah beberapa ucapan dan perbuat an yang dikhususkan yang diawali dengan takbiatul ihrom serta diakhiri dengan sa-lam.4 Adapun makna sholat berjama’ah ialah sholat yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dalam satu tempat. Menurut Assyaikh Al Imam Abi Abdillah Muham-mad bin Qosim alGhozi dalam kitabnya Fathul Qorib dan Imam Rofi’i mengatakan bahwa sholat berjama’ah bagi orang laki-laki pada sholat lima waktu hukumnya

sunah muakkad, akan tetapi menurut pen-dapat yang lebih shoheh yaitu Imam Nawa-wi hukumnya fardlu kifayah. Jika sholat berjamaah pada sholat jumat maka hukum-nya fardlu ‘ain.5

Dalam dokumen Journal of Islamic Studies (Halaman 52-58)