• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perumusan strategi pengembangan klaster agroindustri unggulan daerah pada dasarnya merupakan keputusan yang melibatkan berbagai pelaku dan lembaga yang terkait, sehingga pengambilan keputusan perlu dilakukan dalam kerangka pemikiran secara sistem dan melalui pendekatan sistem. Pengambilan keputusan dengan pendekatan sistem dikenal sebagai Sistem Penunjang Keputusan (SPK). Menurut Suryadi dan Ramdhani (2000), SPK dapat membantu pengambil keputusan memilih berbagai alternatif keputusan yang merupakan hasil

pengolahan informasi-informasi yang diperoleh atau tersedia dengan

menggunakan model-model pengambilan keputusan . Ciri utama dan sekaligus keunggulan dari SPK adalah kemampuannya untuk menyelesaikan masalah- masalah yang tidak terstruktur. Menurut Eriyatno (1999) SPK dimaksudkan untuk memaparkan elemen-elemen sistem sehingga dapat menunjang manajer dalam proses pengambilan keputusannya. Sebelumnya, Keen dan Scott-Morton dalam Turban (1993) mendefinisikan SPK sebagai sistem yang mengawinkan kemampuan intelektual seseorang dengan kemampuan yang dimiliki komputer

guna memperbaiki kualitas pengambilan keputusan. SPK adalah sistem penunjang berbasis komputer yang dapat digunakan oleh pengambil keputusan dalam menghadapi masalah -masalah yang bersifat semi-struktur. Little (1970) dalam Turban (1993) mendefinisikan SPK sebagai sekumpulan prosedur yang berbasis model guna memproses data dan pendapat untuk membantu para manajer dalam mengambil keputusan. Selanjutnya ia menyatakan bahwa agar suatu SPK berhasil, maka sistem tersebut harus : (1) Sederhana; (2) Robust; (3) Mudah diawasi dan dikendalikan; (4) Adaptif; (5) Lengkap untuk hal-hal penting; (6) Mudah untuk berkomunikasi. Implisit dalam definisi ini adalah bahwa sistem ini adalah berbasis komputer dan berfungsi untuk menambah kemampuan problem solving penggunanya. Dari banyak definisi mengenai SPK ini, Turban (1993) menyusun daftar karakteristik suatu SPK yang ideal. Sebagian besar SPK hanya memiliki sebagian saja dari karakteristik tersebut: (1) SPK menunjang pengambil keputusan terutama untuk masalah -masalah yang semi terstruktur dan tidak terstruktur dengan mengawinkan kemampuan otak manusia dengan informasi yang dikomputerisasi; (2) Dukungan diberikan untuk berbagai tingkatan manajemen; (3) Dukungan diberikan baik kepada individu maupun kepada kelompok; (4) SPK memberikan dukungan untuk keputusan yang saling berkaitan dan atau keputusan

yang berurutan (sequential); (5) SPK memberikan dukungan pada setiap fase

pengambilan keputusan; (6) SPK mendukung berbagai proses dan cara pengambilan keputusan dan implementasinya; (7) SPK sangat adaptif perkembangan situasi; (8) SPK mudah digunakan; (9) SPK cenderung lebih mengutamakan efektivitas daripada efisiensi pengambilan keputusan; (10) Pengambil keputusan memiliki kendali penuh terhadap semua langkah proses pengambilan keputusan dalam penyelesaian suatu masalah; (11) SPK berperan dalam proses pembelajaran untuk peningkatan sistem; (12) SPK relatif mudah untuk dirancang; (13) SPK umumnya menggunakan model-model, sehingga pengguna dapat melakukan berbagai eksperimen; (14) SPK yang lebih canggih dilengkapi dengan komponen pengetahuan yang dapat membantu mencarikan solusi yang lebih efektif dan lebih efisien.

Selanjutnya Turban (1993) menjelaskan manfaat utama dari SPK sebagai berikut: (1) Kemampuan mendukung pencarian solusi untuk masalah yang

kompleks; (2) Cepat tanggap terhadap perubahan situasi dan kondisi; (3) Mampu secara cepat dan obyektif mencoba berbagai strategi dalam berbagai konfigurasi; (4) Membawa pandangan dan pembelajaran baru bagi pengguna; (5) Memfasilitasi komunikasi yang lebih baik diantara para manajer; (6) Memperbaiki kemampuan pengawasan dan kinerja para manajer; (7) Menghindarkan pemborosan yang disebabkan keputusan yang salah; (8) Keputusan lebih obyektif

dibandingkan pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi; (9)

Menin gkatkan efektifitas manajemen.

Model konseptual SPK (Eriyatno 1999) terdiri dari tiga komponen utama penunjang keputusan, yaitu : (1) Para pengambil keputusan atau pihak pengguna (user); (2) Model; dan (3) Data. Konfigurasi dasar SPK adalah sebagaimana terlihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Struktur Dasar SPK

2.5.1 Sistem Manajemen Basis Data

Manajemen Basis Data berfungsi mengelola data yang relevan yang mencakup data eksternal dan data internal. S istem tersebut terdiri dari: (1) Sistem

Manajemen Basis Data atau Data Base Management System (DBMS), yang

berfungsi melakukan: penyimpanan, pengambilan, pengontrolan,dan pen ambahan data; (2) Fasilitas Query, yaitu elemen yang menyajikan dasar-dasar untuk akses

data; (3) Data Directory, yang merupakan katalog semua data yang ada dalam

basis data. Kemampuan yang dibutuhkan dari manajemen basis data pada dasarnya adalah (Suryadi dan Ramdhani 2000): (1) Kemampuan untuk

DATA MODEL

Sistem Manajemen Basis Data (DBMS) Sistem Manajemen Basis Model (MBMS)

Sistem Pengolahan Problematik

Sistem Pengolahan DIalog

mengkombinasikan berbagai variasi data melalui pengambilan dan ekstraksi data; (2) Kemampuan untuk menambahkan sumber data secara cepat dan mudah; (3) Kemampuan untuk menggambarkan struktur data sesuai dengan pengertian pemakai sehingga pemakai mengetahui apa yang tersedia dan dapat menentukan kebutuhan penambahan dan penguran gan data; (4) Kemampuan untuk mengolah berbagai variasi data.

2.5.2 Sistem Manajemen Basis Model

Model adalah adalah suatu perwakilan atau abstraksi dari sebuah obyek atau situasi aktual. Model memperlihatkan hubungan -hubungan langsung maupun tidak langsung serta kaitan timbal balik dalam pengertian sebab akibat (Eriyatno 1999).

Sistem Manajemen Basis Model terdiri dari model-model kuantitatif yang memiliki kemampuan berbagai analis a mengenai statistik, keuangan dan aspek manajemen lainnya. Basis model dapat dibagi dalam empat kategori: model strategis, taktis dan operasional. Model strategis digunakan untuk mendukung manajemen puncak dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Model taktis digunakan oleh manajemen menengah untuk membantu mengalokasikan dan mengendalikan sumber daya organisasi, sedang model operasional adalah untuk mendukung kegiatan operasi sehari-hari organisasi.

Fungsi atau kemampuan yang dimiliki sistem ini meliputi (Turban 1993): (1) Menciptakan model-model baru dengan cepat dan mudah; (2) Memungkinkan pemakai untuk memanipulasi model untuk melakukan eksperimen dan analis a sensitivitas; (3) Menyimpan dan mengelola berbagai model secara logis dan terintegrasi; (4) Mengakses dan mengintegrasikan model-model keputusan; (5) Membuat katalog dan tampilan direktori model untuk digunakan oleh anggota organisasi; (6) Mencatat pemakaian model, data dan aplikasi; (7) Saling menghubungkan model-model melalui basis data; (8) Mengelola dan memelihara basis model dengan fungsi manajemen yang analo g dengan manajemen basis data (seperti: mekanisme untuk menyimpan, membuat dialog, menghubungkan, dan mengakses model).

2.5.3 Sistem Pengolahan Dialog

Sistem Pengolahan Dialog memfasilitasi interface antara pengguna dengan SPK. Fungsi utamanya adalah menerima input dan memberikan output yang dikehendaki pengguna. Input dari pengguna ditransformasikan menjadi bahasa yang dapat dibaca oleh oleh Sistem Manajemen Basis Data (SMBD) dan Sistem Manajemen Basis Model (SMBM) dan selanjutnya output dari SMBD dan SMBM diterjemahkan ke dalam bentuk informasi yang dapat dimengerti oleh pengguna seperti: tabel, penyajian grafis dan lain sebagainya.

2.5.4 Sistem Pengolahan Problematik

Subsistem ini berfungsi sebagai koordinator dan pengendali dari operasi SPK secara menyeluruh. Subsistem ini menerima input dari ketiga subsistem lainnya dalam bentuk baku, dan menyerahkan output ke subsistem yang dikehendaki dalam bentuk baku juga. Fungsi utamanya ad alah adalah sebagai penyangga untuk menjamin adanya keterkaitan antar sistem. Subsistem ini sering pula disebut sebagai subsistem pengolahan terpusat.