• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Sistematika Penelitian

Skripsi ini terdiri dari lima bab. Bab I adalah pendahuluan. Pendahuluan ini berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, spesifikasi produk yang diharapkan, batasan istilah,, dan sistematika penelitian.

Bab II adalah kajian pustaka. Kajian pustaka ini berisi tentang kajian teori-teori terdahulu yang relevan dan kajian teori-teori yang menguraikan media pembelajaran, gambar berseri, keterampilan berbicara, dan BIPA.

Bab III adalah metode pengembangan. Bab ini memaparkan (1) jenis penelitian, (2) model pengembangan, (3) prosedur pengembangan, (4) waktu dan tempat pelaksanaan, (5) uji coba produk, (6) subjek uji coba, (7) Jenis data, (8) instrumen pengumpulan data, dan (9) analisis data.

Bab IV merupakan hasil penelitian dan pembahasan. Hal-hal yang dipaparkan dalam bab ini adalah (1) paparan hasil analisis kebutuhan, (2) draf produk media pembelajaran, (3) deskripsi dan analisis data berdasarkan ahli media, (4) paparan dan hasil proses uji coba lapangan, (5) hasil revisi media pembelajaran, (6) produk akhir, (7) pembahasan.

Bab V merupakan penutup. Bab ini memaparkan (1) kesimpulan peneliti tentang kajian produk pengembangan berdasarkan paparan hasil penelitian yang telah dilakukan, (2) implikasi, dan (3) saran-saran yang bermanfaat bagi pihak lain yang terkait dengan penelitian ini.

10

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Pada bab ini disajikan beberapa acuan yang dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penelitian dan sebagai acuan. Untuk itu akan diuraikan penelitian terdahulu yang relevan, hal-hal yang menyangkut teori pengembangan materi berbicara dengan menggunakan media gambar berseri untuk pemelajar BIPA level pre-intermediate.

A. Penelitian yang relevan

Dalam penelitian ini, peneliti memperoleh empat penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan oleh Maria Nova Eka Sari, Ni Luh Putu Yeni Sugiarti dan kawan-kawan, Puspita Martha Palupi, dan Eko Prasetyo. Penelitian yang pertama oleh Pertiwi (2017), penelitian tersebut berjudul Pengembangan Materi Pembelajaran Berbicara pada Kompetensi Dasar Menyimpulkan Isi Cerita dengan Menggunakan Media Audiovisual pada Siswa Kelas V SD Kanisius Nglinggi. Penelitian ini menghasilkan materi pembelajaran berupa modul untuk keterampilan berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V SD. Dari hasil validasi ahli materi dan guru kelas V, materi pembelajaran tersebut sudah dikembangkan dengan kualitas sangat baik sehingga sudah layak digunakan dalam pembelajaran.

Relevansi penelitian pertama dengan penelitian pengembangan media gambar berseri untuk meningkatkan keterampilan berbicara pemelajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA tingkat pre-intermediate di Wisma Bahasa

Yogyakarta adalah kedua penelitian ini mengembangkan keterampilan berbicara.

Perbedaan dari penelitian pertama terletak pada subjek penelitian, peneliti mengembangkan media pembelajaran berupa gambar berseri, sementara penelitian terdahulu mengembangkan materi pembelajaran berupa modul pembelajaran.

Objek penelitian peneliti dengan penelitian terdahulu juga berbeda, penelitian terdahulu menggunakan siswa kelas V SD sebagai objek penelitian, sementara peneliti menggunakan pemelajar BIPA level pre-intermediate sebagai objek penelitian.

Penelitian ketiga dilakukan oleh Sugiarti, dkk (2014), penelitian ini berjudul Pengaruh Model Pembelajaran TTW Berbantuan Media Gambar Berseri Terhadap Keterampilan Menulis Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SD Gugus 1 Kecamatan Kediri Tahun Ajaran 2013/2014. Penelitian ini dilakukan pada kelompok eksperimen yang diberikan treatment dengan model pembelajaran Think Talk Write berbantuan media gambar berseri dan kelompok kontrol yang dibelajarkan secara konvensional. Hasil penelitian dilihat dari rata-rata Post-test kedua kelompok tersebut, maka dapat dikatakan kelompok yang dibelajarkan melalui penerapan model pembelajaran Think Talk Write berbantuan media gambar berseri memiliki rata-rata yang lebih besar dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan secara konvensional.

Relevansi penelitian kedua dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah kedua penelitian ini menggunakan media gambar berseri sebagai media pembelajaran. Perbedaan penelitian dilihat dari keterampilan berbahasa yang diteliti, peneliti meneliti keterampilan berbicara sedangkan penelitian terdahulu

meneliti keterampilan menulis. Objek yang diteliti pun berbeda, peneliti meneliti pembelajar BIPA level pre-intermediate, sementara peneliti terdahulu menggunakan siswa kelas V SD sebagai objek penelitiannya.

Penelitian ketiga dilakukan oleh Puspita Martha Palupi (2012), penelitian tersebut berjudul Pengembangan Bahan Ajar Berbicara untuk Pemelajar BIPA Level Advanced Berbasis Teknologi Informasi di Wisma Bahasa. Penelitian ini didasarkan pada perkembangan teknologi informasi yang sangat mendukung proses pembelajaran. Penelitian ini mengembangkan bahan ajar berbicara berbasis teknologi informasi untuk pemelajar BIPA tingkat advanced. Teknologi informasi dengan Skype sebagai medianya memungkinkan pemelajar dan pengajar saling berkomunikasi tanpa ada masalah keterbatasan ruang dan waktu. Media ini memungkinkan pemelajar asing belajar bahasa Indonesia tanpa harus pergi ke tempat kursus.

Relevansi penelitian ketiga dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah kedua penelitian ini mengembangkan keterampilan berbicara bagi pemelajar BIPA.

Perbedaan terletak pada tingkatan pemelajar BIPA yang diambil oleh peneliti serta media yang diambil peneliti sebagai penelitian pengembangannya. Peneliti mengembangkan media gambar berseri, sementara penelitian sebelumnya mengembangkan bahan ajar berbasis teknologi informasi.

Penelitian keempat dilakukan oleh Prasetyo (2016). Penelitian tersebut berjudul Pengembangan Media Pembelajaran Menggunakan Software Adobe Flash untuk Pembelajar BIPA Level Intermediate di Lembaga Wisma Bahasa Yogyakarta. Dari hasil validasi ahli media dan penilaian dari pemelajar BIPA level

intermediate di Wisma Bahasa Yogyakarta, media pembelajaran software Adobe Flash sudah dikembangkan dengan sangat baik serta sudah layak digunakan sebagai media pembelajaran.

Relevansi dengan penelitian yang digunakan adalah kedua penelitian ini mengembangkan media pembelajaran bagi pemelajar BIPA. Sementara perbedaan terletak pada media yang digunakan, penelitian terdahulu menggunakan media sofware Adobe Flash, sedangkan peneliti menggunakan media gambar berseri.

Selain itu, objek penelitian yang peneliti dan penelitian terdahulu juga berbeda.

Peneliti meneliti pemelajar BIPA level pre-intermediate, sementara peneliti terdahulu meneliti pemelajar BIPA level Intermediate.

Pada penelitian ini, peneliti mencoba untuk membuat media yang memungkinkan pemelajar BIPA tingkat pre-intermediate untuk dapat menuangkan ide-ide mereka secara lisan hanya dengan melihat media gambar berseri yang peneliti kembangkan. Media gambar berseri berupa gambar animasi/kartun yang dibuat dengan warna-warna yang berkesinambungan yang dapat menarik perhatian pemelajar sehingga pemelajar dapat menuangkan ide-idenya dengan mudah.

Gambar dalam media gambar berseri ini disusun semirip mungkin dengan kejadian atau peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat mengatasi ruang dan waktu, serta membuat pemelajar seolah-olah berada di lokasi kejadian tanpa harus langsung turun ke lapangan. Media gambar berseri nantinya akan dicetak, sehingga dapat dengan mudah digunakan kapan pun dan di mana pun.

B. Landasan Teori

Dalam landasan teori, peneliti akan membahas teori-teori yang mendukung penelitian ini. Teori-teori tersebut yakni media, media gambar berseri, keterampilan berbicara, dan BIPA.

1. Media

Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti

‘tengah’, ‘perantara’, atau ‘pengantar’. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan (Arsyad, 2010:1).

Selanjutnya, menurut Anitah (dalam Sufanti, 2010:62) media adalah setiap orang, bahan, alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pemelajar untuk menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Selain itu, Angkowo dan Kosasih (2007:10) menjelaskan media sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa, sehingga dapat terdorong terlibat dalam proses pembelajaran. Menurut Munadi, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.

Arsyad (2010: 10) mengemukakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat siswa dalam belajar.

Arsyad juga mengatakan bahwa media adalah hal yang tidak dapat terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan

tujuan pembelajaran di sekolah pada khususnya. Menurutnya, media pembelajaran berfungsi sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru (Arsyad, 2010: 15).

a. Manfaat media pembelajaran

Sudjana & Rivai dalam Arsyad (2014: 28) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu: (1) pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; (2) bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan belajar; (3) metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran; (4) siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lain-lain.

Sejalan dengan Sudjana dan Rivai, Arsyad (2014: 29) merinci beberapa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar sebagai berikut: (1) media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar, (2) media pembelajaran dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya, (3) media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera ruang dan waktu; (4) media

pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata, kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.

Dari pendapat-pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa media adalah semua alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran yang berfungsi untuk menyampaikan pesan dan informasi. Media juga dapat membantu guru ataupun pengajar untuk menarik perhatian dan minat siswa sehingga tercipta lingkungan belajar yang mendukung kelancaran proses belajar mengajar.

b. Jenis media

Sadiman, dkk (2009), membagi jenis media menjadi tiga. Pertama media grafis yang termasuk media visual. Media grafis menyalurkan pesan yang berupa simbol-simbol komunikasi visual, dari sumber ke penerima pesan. Kedua, media audio. Media audio menyampaikan pesan yang berupa lambang-lambang auditif ( baik verbal maupun non verbal) melalui indera pendengaran. Ketiga, media transparansi. Media transparansi adalah media visual proyeksi, yang dibuat di atas bahan transparan, biasanya film acetate atau plastik berukuran 81/2” x 11”.

Munadi (2010; 54) mengelompokkan media menjadi empat, yakni media audio, media visual, media audio visual, dan multimedia. Media audio adalah media yang hanya melibatkan indera pendengaran dan hanya mampu memanipulasi kemampuan suara semata. Media visual adalah media yang hanya melibatkan indera penglihatan. Media audio visual adalah media yang mampu melibatkan indera pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam satu proses.

Multimedia adalah media yang melibatkan berbagai indera dalam sebuah proses pembelajaran.

2. Media Gambar Berseri

Menurut Dheni (dalam Megawati, 2013), media gambar merupakan media visual. Media visual adalah media yang dapat menyampaikan pesan/ informasi secara visual. Artinya penerima pesan yaitu anak didik akan menerima informasi melalui indera penglihatan karena pesan yang akan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Menurut Sudjana & Rivai (dalam Angkowo dan Kosasih, 2007: 26), media gambar adalah media yang mengombinasikan fakta dan gagasan secara jelas dan kuat melalui kombinasi pengungkapan kata-kata dengan gambar-gambar. Sejalan dengan pendapat sebelumnya, Angkowo dan Kosasih (2007:26) mengungkapkan media gambar adalah foto atau sejenisnya yang menampakkan benda yang banyak dan umum digunakan, mudah dimengerti dan dinikmati dalam pembelajaran, serta untuk mengatasi kesulitan menampilkan benda aslinya di dalam kelas.

Sadiman (2009: 29) mengungkapkan kelebihan media gambar adalah (1) sifat gambar konkret lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata; (2) dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. Tidak semua benda, objek, atau peristiwa dapat dibawa ke kelas, dan tidak selalu bisa anak-anak dibawa ke objek/peristiwa tersebut; dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita, misalnya sel atau penampang daun yang tidak mungkin kita lihat dengan mata telanjang, (3) dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk

tingkat usia berapa saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman; dan (4) harga murah dan mudah didapatkan serta digunakan.

Menurut Kustandi dan Bambang (2011: 103), dalam pengembangan media terdapat prinsip-prinsip umum yang harus diperhatikan, prinsip-prinsip tersebut adalah: mengidentifikasi dan mengungkapkan dengan jelas gagasan dan membatasi topik, media yang dikembangkan memiliki tujuan yang akan dicapai, mengevaluasi karakteristik siswa yang akan menggunakan media, menyiapkan kerangka isi pembelajaran, mempertimbangkan media yang sesuai untuk mencapai tujuan, membuat rencana pembelajaran untuk paket pembelajaran, dan menentukan orang tertentu yang ahli dalam bidang masing-masing untuk membantu mempersiapkan materi.

Widharyanto (dalam Ikasari, 2015: 37) mengemukakan langkah pengembangan materi dan media pembelajaran dalam konteks Kurikulum Besbasis Kompetensi (KBK). Langkah-langkah tersebut adalah memilih kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator, menguraikan materi yang akan diajarkan dan disesuaikan dengan indikator hasil belajar yang akan dicapai, memilih media yang relevan, menyusun urutan aspek materi yang akan diajarkan secara sistematis, menguraikan secara singkat setiap aspek materi agar dapat membimbing siswa untuk mempelajari materi, menyertakan aspek materi yang harus dipelajari oleh siswa, dan menyertakan kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa beraktivitas sesuai dengan minat siswa dan metode serta teknik yang relevan.

Menurut Sugiarti, dkk (2014), gambar berseri merupakan rangkaian gambar yang mempunyai keterkaitan kejadian antara gambar satu dengan gambar lainnya.

Gambar-gambar tersebut menggambarkan sebuah peristiwa awal kejadian sampai akhir kejadian. Gambar ini digunakan untuk merangsang daya pikir siswa dalam membaca dan mencari suatu ide pokok dalam sebuah wacana dan memecahkan suatu masalah di dalamnya. Menurutnya, media gambar berseri merupakan sejumlah gambar yang menggambarkan suasana yang sedang diceritakan dan menunjukkan adanya kesinambungan antara gambar yang satu dengan gambar lainnya.

Sejalan dengan Sugiarti, Susanti (2013) memaparkan media gambar berseri yaitu media gambar yang menggambarkan suatu rangkaian cerita atau peristiwa secara urut berdasarkan topik yang terdapat pada gambar. Melalui media gambar berseri siswa dapat mudah menuangkan ide-ide gagasan dengan kata-kata sesuai urutan gambar. Hal ini dapat membantu siswa dapat merangkai kata-kata dengan baik yang bisa menghasilkan sebuah karangan yang utuh.

Ikasari (2015: 34) mengungkapkan media gambar berseri adalah suatu alat berupa serangkaian gambar yang saling berhubungan antara gambar yang satu dengan gambar yang lain yang digunakan untuk menyampaikan pesan agar siswa dapat memperoleh informasi yang terkandung dalam gambar tersebut. Menurutnya, gambar berseri memiliki fungsi memberikan bayangan nyata kepada siswa tentang apa yang sang diceritakan, dan perhatian siswa dipusatkan pada satu objek yakni apa yang digambarkan.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa gambar berseri adalah serangkaian gambar berurutan yang mengandung sebuah cerita atau pesan di dalamnya. Media gambar berseri dapat membantu pemelajar

untuk lebih memahami suatu objek atau peristiwa. Dengan media gambar berseri pemelajar akan lebih mudah untuk menangkap materi atau pesan yang disampaikan pengajar.

3. Berbicara

Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari (Tarigan, 1984: 3).

Berbicara menurut Ngalimun & Alfulaila (2014; 55) adalah sarana utama untuk membina saling pengertian, komunikasi timbal balik, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Kegiatan berbicara di dalam kelas bahasa mempunyai aspek komunikasi dua arah, yakni antara pembicara dan pendengarnya secara timbal balik. Menurut Salimah (Kusmintayu, 2012: 207), berbicara secara umum dapat diartikan sebagai suatu penyampaian ide atau gagasan, pikiran kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami orang lain. Kegiatan berbicara merupakan aktivitas memberi dan menerima bahasa, menyampaikan gagasan dan pesan pada waktu yang hampir bersamaan, antara penutur atau pembicara dan pendengar.

Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 239) mengungkapkan keterampilan berbicara mensyaratkan adanya pemahaman minimal dari pembicara dalam membentuk sebuah kalimat. Sebuah kalimat, betapapun kecilnya, memiliki struktur dasar yang saling bertemali sehingga mampu menyajikan sebuah makna.

Keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan mereproduksi

arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan kepada orang lain.

Berdasarkan paparan di atas, peneliti akan melakukan penelitian pengembangan media gambar berseri untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada pemelajar BIPA level pre-intermediate. Dengan menggunakan media gambar berseri, peneliti berharap pemelajar BIPA tingkat pre-intermediate dapat meningkatkan keterampilan berbicara. Dengan menggunakan gambar berseri pemelajar BIPA diharap dapat merasakan dan membayangkan keadaan yang terjadi di dalam gambar tersebut tanpa harus terjun langsung ke lokasi serupa. Misalnya, gambar yang terdapat dalam gambar berseri adalah gambar interaksi seseorang dengan yang lainnya ketika membeli sesuatu, dengan adanya gambar berseri seperti itu pemelajar BIPA diharap dapat mengerti seperti apa pembicaraan yang terjadi dalam gambar tersebut. Dengan gambar berseri tersebut nantinya pemelajar BIPA diminta untuk maju ke depan kelas untuk menceritakan apa yang terdapat di gambar dengan menggunakan kata-katanya sendiri.

 Keterampilan Berbicara dalam pembelajaran BIPA

Pringgawidagda (dalam Iskandarwassid dan Sunendar, 2008: 278) mengasumsikan bahwa belajar bahasa meliputi pengetahuan eksplisit dan implisit.

Pengetahuan eksplisit berkaitan dengan kaidah-kaidah kebahasaan secara formal, dan pengetahuan implisit berkaitan dengan pemakaian praktis bahasa Indonesia.

Pengetahuan eksplisit dapat diajarkan dengan menggunakan bahasa asing, sedangkan pengetahuan implisit dapat diajarkan dengan menggunakan bahasa asing tetapi materi lebih mengarah kepada pemakaian bahasa Indonesia secara praktis.

Ada beberapa strategi yang dapat digunakan pemelajar agar dapat meningkatkan kemampuan berbicara secara mandiri, yaitu: (1) meniru dan melafalkan kata-kata atau frase-frase yang digunakan penutur asli dalam rekaman, (2) mencoba mengingat pola kalimat yang benar yang ditemukannya sewaktu mentranskripsikan wacana bahasa target yang didengarnya, (3) menggunakan pola kalimat yang baik yang digunakan oleh para penulis yang baik yang dikemukakan dalam teks yang dibacanya untuk digunakan dalam berbicara, dan (4) pada tahap awal, memaksa diri untuk menggunakan bahasa target dengan tidak terlalu khawatir melakukan kesudahan dalam menggunakan bahasa tersebut.

Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 286) mengelompokkan tujuan pembelajaran keterampilan berbicara ke dalam tiga tingkatan yaitu tingkat pemula, tingkat menengah, dan tingkat lanjut. Untuk tingkat pemula, tujuan pembelajaran keterampilan berbicara dapat dirumuskan bahwa peserta didik dapat melafalkan bunyi-bunyi bahasa, menyampaikan informasi, menyatakan setuju atau tidak setuju, menjelaskan identitas diri, menceritakan kembali hasil simakan atau bacaan, menyatakan ungkapan rasa hormat, dan bermain peran.

Pada tingkat menengah, tujuan pembelajaran keterampilan berbicara dapat dirumuskan bahwa peserta didik dapat menyampaikan informasi, berpartisipasi dalam percakapan, menjelaskan identitas diri, menceritakan kembali hasil simakan atau bacaan, melakukan wawancara, bermain peran, dan menyampaikan gagasan dalam diskusi atau pidato. Untuk tingkat, lanjut tujuan tujuan pembelajaran keterampilan berbicara dapat dirumuskan bahwa peserta didik dapat menyampaikan informasi, berpartisipasi dalam percakapan, menjelaskan identitas

diri, menceritakan kembali hasil simakan atau hasil bacaan, berpartisipasi dalam wawancara, bermain peran, menyampaikan gagasan dalam diskusi, pidato, atau debat.

4. BIPA

Menurut Iskandarwassid dan Sunendar (2016: 262), saat ini pengajaran bahasa Indonesia mulai dilirik dan diminati oleh warga negara lain, terutama mereka yang ada di zona asia-pasifik. Peminat bahasa Indonesia berangsur-angsur bertambah. Di beberapa sekolah umum yang ada di luar negeri, bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran bahasa asing yang dipelajari. Misalnya di Perancis, Selandia Baru, Australia dan Jepang. Di beberapa perguruan tinggi di negara jiran, bahasa Indonesia menjadi salah satu jurusan bahasa asing yang secara berangsur-angsur diminati.

BIPA adalah istilah untuk program pengajaran bahasa Indonesia yang dikhususkan untuk warga negara asing berdasarkan tujuan dan kepentingan tertentu. BIPA menurut GBPP (dalam Prasetyo, 2016: 34) adalah bentuk singkat dari Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. Dalam hal ini, bahasa Indonesia menjadi bahasa asing bagi penutur asing atau orang yang memiliki bahasa selain bahasa Indonesia.

a. Sejarah dan Perkembangan Pengajaran BIPA

Menurut Idris (2017: 176), berdasarkan sejarah ternyata pembelajaran BIPA berawal di luar negeri karena adanya desakan perlunya bahasa Indonesia dipelajari di negara tertentu. Sejak tahun 1795, Prancis menyelenggarakan pengajaran BIPA.

Pada tahun ini bahasa Indonesia yang masih bernama bahasa Melayu diajarkan di Instittut National des Langues et Civilisaions Orientales untuk keperluan politik dan perdagangan pemerintah Prancis. Selanjutnya, negara-negara lain seperti Jepang, Amerika, Tiongkok, Australia, Korea Selatan, Inggris, dan Selandia Baru turut mengajarkan BIPA di negaranya. Selain negara tersebut, negara-negara tetangga pun mulai mempelajari BIPA, seperti Vietnam dan Thailand. Di bumi Afrika pun BIPA diajarkan di Universitas Mohammed V Maroko. Mata kuliah Bahasa Indonesia sejajar dengan mata kuliah pilihan lain seperti bahasa China, Jepang, Urdu dan Turki.

Sementara itu perkembangan pengajaran BIPA di tanah air pun sangat menggembirakan. Beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta selain membuka program kursus BIPA juga membuka mata kuliah ke-BIPA-an. Program kursus BIPA sejak tahun 1970-an diselenggarakan di Universitas Indonesia dan

Sementara itu perkembangan pengajaran BIPA di tanah air pun sangat menggembirakan. Beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta selain membuka program kursus BIPA juga membuka mata kuliah ke-BIPA-an. Program kursus BIPA sejak tahun 1970-an diselenggarakan di Universitas Indonesia dan

Dokumen terkait