• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skala manusia

Dalam dokumen DESAIN INTERIOR BUKU PERTAMA (Halaman 156-162)

BAB I PENGENALAN INTERIOR

BAB 7 UNSUR PENUNJANG INTERIOR

7.1 Skala manusia

Suatu bangunan yang dirancang untuk melayani kebutuhan manusia, akan terasa janggal jika tidak disertai dengan studi mengenai faktor manusia dalam hubungannya dengan merancang. Banyak bangunan dan interior yang dirancang tidak dapat melayani kebutuhan manusia dengan cara yang optimal. Hal ini bisa diterjadi seperti pada bangunan yang telah dirancang dan dibangun tetapi tidak nyaman untuk ditempati oleh orang yang akan menggunakannya. Meskipun kekurangan dalam merancang interior bisa dianggap sebagai “tidak ada yang sempurna” telah diterima kurang lebih tanpa komplain, tetapi kesalahan yang benar-benar fatal bisa menjadikan suatu ruangan akan menjadi sia- sia.

Dalam perhitungan untuk kenyamanan manusia, dikenal sebuah istilah yang dinamakan dengan skala manusia. Perhitungan mengenai kenyamanan dan kesesuaian dengan bentuk tubuh manusia ini diterapkan untuk interior dan eksterior. Karena bangunan dan ruang merupakan obyek yang membutuhkan patokan dalam menentukan ukuran yang baku untuk manusia.

Faktor manusia yang berhubungan antropometri dan ergonomi. Dalam bahasa lainnya ergonomi dan antropometri ini dikenal juga dengan nama skala manusia. Karena antropometri dan ergonomi ini dengan perancangan merupakan ukuran yang akan mempertimbangkan semua hal yang terdapat dalam interior suatu bangunan. Semua ukuran yang berhubungan langsung dengan kenyamanan manusia akan menjadi pertimbangan dasar guna menciptakan ruangan yang nyaman untuk ditempati.

Antropometri dan ergonomi sudah tersedia dalam bentuk data yang dihasilkan dari penelitian-penelitian. Dalam perkembangannya data yang disediakan banyak

digunakan untuk berbagai keperluan manusia, dan menjadi acuan dalam merancang suatu interior.

Ergonomi dan antropometri memiliki arti yang penting dalam perancangan desain interior, karena memperhatikan faktor- faktor ergonomi dan antropometri para pemakai ruang akan mendapatkan produktivitas dan efisiensi kerja yang berarti suatu penghematan dalam penggunaan ruang.

Ergonomi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang kondisi fisik seseorang dalam melakukan kerja meliputi:

1. Kerja fisik 2. Efisiensi kerja

3. Tenaga yang dikeluarkan untuk suatu obyek 4. Konsumsi kalori

5. Kelelahan Pengorganisasian sistem kerja

Pengertian ergonomi sangat luas tidak hanya terbatas pada sisi-sisi fisik semata seperti yang tersebut diatas tetapi juga meliputi segala hal yang bersangkutan dengan ke 5 indera manusia yaitu:

1. Penglihatan 2. Pendengaran 3. Rasa panas/dingin 4. Penciuman

5. Keindahan

Tujuan dari pelajaran ergonomi adalah untuk mencari keserasian gerak dengan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya. Hal tersebut besar artinya bagi pengisian kerangka pemikiran tentang teknologi yang serasi, oleh karena kenyataanya teknologi merupakan tata cara perencanaan yang sistematis.

Dalam desain interior ergonomi yang sangat jelas terlihat adalah pada sebuah desain kursi, disini desain kursi harus disesuaikan dengan kebiasaan dan bentuk tubuh manusia. Bentuk kursi yang nyaman untuk manusia harus diperhitungkan secara cermat dan bisa diduduki tanpa ada efek samping yang negatif.

Bentuk kursi yang nyaman merupakan salah satu bentuk ergonomik yang jelas terasa langsung oleh tubuh. Sekarang desain kursi yang paling banyak memperhitungkan sisi ergonomi adalah kursi kerja, karena penggunaan kursi kerja yang lama menyebabkan kursi harus dirancang dengan tingkat kenyamanan yang tinggi.

Disamping faktor-faktor fisik yang mudah diamati pada manusia juga terdapat sifat-sifat yang agak sukar untuk diobservasi karena sifat-sifat-sifat-sifat tersebut serba biologis seperti:

1. Rasa lapar, haus, sakit

2. Kebutuhan oksigen/pernapasan

3. Buangan air besar dan kecil, keringat dan ludah 4. Istirahat, pelupa dan kesukaan.

Sifat-sifat dan kebiasaan manusia perlu kita pelajari dalam desain interior, guna mengantisipasi kebiasaan manusia antara lain menyediakan toilet disamping ruang kerja atau kamar tidur dan lainnya. Pengertian antropometrik adalah proporsi dan dimensi tubuh manusia beserta sifat-sifat karakteristik fisiologis serta kemampuan relatif dari kegiatan manusia yang saling berbeda dalam lingkungan mikro. Antropometrik sering disebut juga dengan “skala manusia atau faktor manusia” yang dalam penerapan atau sistem kerjanya juga disebut “ergonomik”.

meja ditentukan oleh dimensi atau ukuran-ukuran manusia calon pemakai dengan memperhatikan efisiensi dan kepraktisan agar sesedikit mungkinm enggunakan tenaga yang dikeluarkan demi penghematan kalori dan kesehatan.

Gambar 7. 1 Dalam merancang sebuah area kerja yang berkelompok ergononi dipergunakan dalam menghitung ukuran tinggi, lebar meja serta ukuran kursi mulai dari dudukan, sandaran, ketinggian sampai pada lekukan

sandaran dan dudukan bantalan. Antropometri digunakan dalam menghitung jarak ideal antara meja, area kerja sampai pada ketinggian partisi pemisah

antara area kerja. (Sumber gambar : ww w . v i t r a . c o m )

Jadi jelaslah bahwa antara pengertian ergonomi dan antropometri tidak dapat dipisah- pisahkan. Seorang psikolog lingkungan telah meneliti berbagai fungsi ruang terhadap pola tingkah laku pemakai ruang. Dari observasi ini menunjukan bahwa setiap pribadi memiliki perbedaan dalam hal:

- Keamanan pribadi: bahwa manusia memerlukan keamanan bagi dirinya. - Teritori/ wilayah: Menunjukan adanya kebutuhan yang bersifat lebih pribadi. - Ruang pribadi: Menunjukan adanya kebutuhan yang bersifat lebih pribadi

- Status diri: Keinginan manusia untuk menunjukan status sosial diri yang berbeda.

- Formasi kelompok: bahwa manusa senang berteman dan membentuk kelompok yang sehaluan.

ergonomi dan antropometri banyak faktor yang dijadikan sebagai dasar penentuan dalam menetapkan tinggi, lebar serta panjang suatu benda atau perabot dengan atau tanpa mengurangi sifat-sifat manusia yang selalu menginginkan segalanya serba praktis dan efisien. Faktor yang sulit dalam perancangan adalah bagaimana kita bisa membuat benda yang juga bisa menunjukan wibawa dan status si pemakai.

Pengetahuan ergonomi dan antropometri juga menyangkut pengetahuan anatomi tubuh manusia yaitu bagaimana kedudukan dan fungsi otot-otot selama dalam proses kerja, refleksi seseorang terhadap suatu kondisi kelelahan tubuh dalam posisi duduk, berdiri, pekerjaan yang berbeda-beda. Hal tersebut tergantung pada usia, kebiasaan kerja dan jenis kelamin orang yang bersangkutan.

Gambar 7. 2 Sebuah kursi karya desainer terkenal Le Corbusier merupakan kursi santai yang dirancang dengan bentuk melengkung mengikuti postur

tubuh manusia yang sedang berada dalam keadaan santai akan merasa nyaman tulang belakangnya. Perhitungan ukuran lengkung kursi, material,

serta kenyamanan bantalan juga menjadi pertimbangan yang harus benar-benar diperhatikan dalam merancang sebuah kursi. (Sumber gambar :

www.essential- architecture.com)

Untuk menilai tepat tidaknya suatu kualitas suatu kursi, perlu dipelajari reaksi-reaksi berupa keluhan- keluhan dari si pemakai seperti; keluhan pada kepala yang terus menengadah atau menunduk, keluhan pada leher dan bahu, keluhan pada pinggang, pantat, lengan dan tangan, lutut dan kaki serta paha. Keluhan

tersebut banyak faktor penyebabnya seperti jenis kerja, lamanya waktu kerja, konstruksi kerja, posisi duduk, arah angin dan cahaya, situasi tenang atau tegang.

Sikap duduk paling nyaman dan baik yang tidak berpengaruh buruk terhadap sikap badan tulang belakang adalah sikap duduk dengan sedikit lordosa (lekuk ke dalam) pada pinggang dan sedikit mungkin kifosa (lekuk ke depan) pada punggung. Dengan sikap yang demikian maka otot-otot punggung akan terasa enak, tiada beban yang menindih sehingga tugas pekerjaan sambil duduk bisa bertahan lebih lama.

Setiap gerakan dan efek yang terjadi perlu dicatat kemudian diantisipasi dengan jalan mengurangi jenis-jenis kelelahan, sikap-sikap yang tidak natural, mengurangi pemakaian energi, perhitungan sirkulasi darah dan pernafasan.

Gambar 7. 3 Sikap duduk yang benar dalam bekerja merupakan salah satu yang harus diperhatikan agar tercipta efektivitas kerja yang baik.

(sumber gambar : An ergonomic approach)

Data mengenai ergonomi dan antropometri untuk interior telah tersedia dalam bentuk buku, tetapi dalam perkembangannya data ini tidak selalu digunakan dalam perencanaan interior karena ada kebutuhan-kebutuhan khusus yang harus

diperhatikan oleh pengguna ruangan. Berikut adalah contoh dari ukuran- ukuran tubuh manusia yang dijadikan pedoman dalam merancang interior.

Gambar 7. 4 berbagai ukuran ergonomi dan antropometri yang biasa digunakan dalam merancang interior. (sumber gambar: dimensi manusia dan

ruang interior)

Dalam dokumen DESAIN INTERIOR BUKU PERTAMA (Halaman 156-162)

Dokumen terkait