• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORITIS

2.5 Stres pada Remaja

Menurut Windle dan Mason (2004), ada empat faktor yang dapat membuat remaja menjadi stres, yaitu: (a) penggunaan obat-obatan terlarang; (b) kenakalan remaja; (c) pengaruh negatif; dan (d) masalah akademis. Garfinkel (dalam

Walker, 2002) mengatakan bahwa secara umum ada delapan penyebab stres remaja, antara lain: (a) putus dengan pacar; (b) perbedaan pendapat dengan orang tua; (c) bertengkar dengan saudara kandung; (d) perbedaan pendapat antara orang tua; (e) perubahan status ekonomi pada orang tua; (f) sakit yang diderita oleh anggota keluarga; (g) masalah dengan teman sebaya; dan (h) masalah dengan orang tua.

Menurut Walker (2002), ada tiga faktor yang menjadi penyebab stres remaja, antara lain: (a) faktor biologis; (b) faktor kepribadian; dan (c) faktor psikososial. Penyebab stres yang termasuk dalam faktor biologis, antara lain: (a) perubahan hormon yang dialami remaja; (b) penggunaan alkohol dan obat-obatan; (c) penyakit serius yang diderita oleh remaja atau anggota keluarga; dan (d) sejarah kelainan psikiatris yang diderita individu atau keluarga (seperti: kelainan makanan, skizophrenia, manik depresif). Penyebab stres yang tercakup dalam faktor kepribadian, antara lain: (a) tingkah laku impulsif, obsesif, dan ketakutan yang tidak nyata; (b) tingkah laku agresif dan anti-sosial; (c) hubungan sosial yang buruk dengan orang lain, menyalahkan diri sendiri, merasa bersalah; (d) dan memiliki masalah dengan tidur atau makan.

Penyebab stres yang tercakup dalam faktor psikososial, antara lain: (a) kehilangan orang yang dicintai, seperti kematian teman, anggota keluarga, putus cinta, kepindahan orang terdekat; (b) tidak dapat memenuhi harapan orang tua, seperti kegagalan dalam pencapaian tujuan, tinggal kelas, dan penolakan sosial; (c) tidak dapat menyelesaikan konflik dengan anggota keluarga, teman sebaya, guru, pelatih yang mengakibatkan kemarahan, frustrasi, dan penolakan; (d) pengalaman yang membuatnya merasa rendah diri atau pengalaman yang dapat mengakibatkan remaja kehilangan harga diri; (e) siksaan seksual dan fisik dalam

keluarga; dan (f) pengalaman buruk, seperti kehamilan dan masalah keuangan (Walker, 2002).

Di samping faktor-faktor yang diungkapkan oleh Windle, Mason, dan Walker, menurut Needlman (2004), ada lima sumber stres yang dialami remaja, antara lain: (a) biological stress; (b) family stress; (c) school stress; (d) peer stress; dan (e) social stress.

Biological stress. Pada umumnya, perubahan fisik pada remaja terjadi sangat cepat, dari umur 12-14 tahun pada remaja perempuan dan antara 13-15 tahun pada remaja laki-laki. Tubuh remaja berubah sangat cepat, remaja merasa bahwa semua orang melihat dirinya. Jerawat juga dapat membuat remaja menjadi stres, terutama bagi mereka yang mempunyai pikiran sempit tentang kecantikan yang ideal. Pada saat yang sama, remaja menjadi sibuk di sekolah, tempat kerja dan lingkungan sosial, sehingga dapat membuat remaja kekurangan tidur. Menurut hasil penelitian, kekurangan tidur dapat menyebabkan stres (Needlman, 2004).

Family stress. Salah satu sumber stres utama pada remaja adalah

hubungannya dengan orang tua. Hal ini disebabkan oleh adanya keinginan pada diri remaja untuk hidup mandiri dan bebas, tetapi di lain pihak mereka mendapat pertentangan dari orang tua (Needlman, 2004).

School stress. Tekanan dalam masalah akademik cenderung tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya keinginan untuk mendapat nilai tinggi di sekolah, keberhasilan di bidang olahraga, dan kegiatan lainnya. Remaja menginginkan agar tidak mengalami kegagalan dalam aktivitas tersebut. Hal-hal tersebut menyebabkan remaja menjadi stres (Needlman, 2004).

Peer stress. Stres pada kelompok teman sebaya cenderung tinggi pada pertengahan tahun sekolah. Remaja yang tidak diterima oleh teman-temannya biasanya akan menderita, tertutup, dan mempunyai harga diri yang rendah. Pada beberapa remaja, untuk dapat diterima oleh teman sebayanya, mereka melakukan hal-hal negatif, seperti merokok, minum alkohol, dan menggunakan obat-obatan terlarang. Beberapa remaja memiliki anggapan bahwa alkohol dan obat-obatan terlarang dapat mengurangi stres mereka, padahal sebenarnya itu semua dapat meningkatkan stres secara psikologis (Needlman, 2004).

Social stress. Remaja tidak mendapat bagian dalam pergaulan dewasa. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya kebebasan dalam memberikan pendapat mereka. Pada saat yang sama, mereka mengetahui adanya tanggung jawab yang akan mereka tanggung nantinya dalam kehidupan sosial, seperti polusi dan masalah ekonomi (Needlman, 2004).

Stres pada remaja tidak hanya ditentukan oleh suatu faktor saja, tetapi oleh bermacam-macam faktor (Santrock, 1998). Faktor-faktor utama yang dapat menimbulkan stres pada remaja, antara lain: (a) faktor lingkungan; (b) faktor sosio-kultural; (c) faktor kognitif; (d) daily hassles; dan (e) faktor kepribadian, seperti ketidaksabaran dan kemarahan yang terlihat dari pola kepribadian tipe A. Faktor lingkungan. Terkadang lingkungan yang terlalu bising, padat, terlalu banyak tugas yang harus dilakukan, membuat remaja tidak dapat lagi mengatasinya. Hal ini menimbulkan burnout, yaitu perasaan putus asa (hopeless) dan tidak berdaya (helpless) yang timbul karena stres. Burnout menimbulkan kelelahan fisik dan emosional. Contoh burnout yang paling umum pada remaja adalah drop-out dari sekolah. Drop-out merupakan gejala dari adanya suatu kelelahan atau kelemahan pada remaja (Santrock, 1998).

Daily hassles. Peristiwa sehari-hari dan gangguan kecil dalam kehidupan sehari-hari remaja dapat menyebabkan stres bagi para remaja. Stres yang dialaminya mulai dari stres biasa sampai dengan stres yang berat (Kostelecky, dalam Santrock, 1998). Pada tingkat biasa, stres yang dialami biasanya berasal dari peristiwa sehari-hari, seperti perselisihan antar-saudara. Pada tingkat yang berat adalah stres yang terjadi karena remaja terpisah dari orang tuanya. Compas dan Wagner (dalam Santrock, 1998) mengatakan bahwa remaja yang hidup dalam tekanan-tekanan dari keluarga dan hidup dalam kemiskinan dapat menimbulkan stres, bahkan dapat menimbulkan gangguan psikologis dan penyakit (Santrock, 1998).

Faktor sosio-kultural. Kemiskinan dapat menimbulkan stres pada remaja dan keluarganya. Kondisi hidup yang kronis, seperti tempat tinggal yang tidak memadai, lingkungan yang berbahaya, tanggung jawab yang terlalu berat, dan ketidakpastian ekonomi adalah stressor yang berpengaruh dalam kehidupan individu yang mengalami kemiskinan. Kemiskinan merupakan peristiwa yang mengancam dan tidak dapat terkontrol dalam kehidupan remaja. Kemiskinan juga melemahkan dukungan sosial yang seharusnya dapat berperan dalam mengurangi efek stres (Santrock, 1998).

Faktor kognitif. Situasi dianggap stres bagi remaja tergantung pada penilaian kognitifnya (cognitive appraisal) dan cara remaja menginterpretasikan suatu peristiwa (Santrock, 1998). Penilaian kognitif ini terjadi dalam dua proses, yaitu penilaian primer dan penilaian sekunder. Menurut Lazarus (dalam Santrock, 1998), stres yang dialami oleh remaja adalah suatu keseimbangan antara primary dan secondary appraisal. Jika bahaya, kerugian, dan ancaman dirasakan besar, sedangkan tantangan dan sumber daya yang dimiliki rendah, maka stres

yang terjadi cenderung lebih besar. Jika bahaya, kerugian, dan ancaman dirasakan kecil, sedangkan tantangan dan sumber daya yang dimiliki besar, maka stres yang terjadi cenderung lebih kecil.

Faktor kepribadian. Pola kepribadian tipe A adalah aspek dari kepribadian remaja yang berhubungan dengan timbulnya stres pada diri remaja (Santrock, 1998). Pola kepribadian tipe A adalah suatu karakteristik kepribadian yang dimiliki oleh individu yang cenderung memiliki sifat kompetitif secara berlebihan, hard-driven, tidak sabar, mudah tersinggung, dan hostile. Individu yang hostile dan mudah marah mempunyai reaksi fisiologis yang intens terhadap stres. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak dan remaja dengan tipe A, lebih banyak terkena penyakit, memiliki simptom cardiovaskular, ketegangan otot, dan mengalami kesulitan tidur (Murray et al., dalam Santrock, 1998).

Dalam suatu penelitian terhadap 990 remaja, komponen kepribadian tipe A berhubungan dengan tingkat fungsi kemampuan yang rendah, self-esteem rendah, standar prestasi yang rendah, locus of control eksternal, dan juga cenderung tidak sabar dan berkompetisi secara agresif (Kletikangas-Jarvinen & Raikonnen, dalam Santrock, 1998). Remaja dengan pola kepribadian tipe A lebih mempunyai kecenderungan untuk mudah terpengaruh terhadap stres. Sementara pola kepribadian lainnya adalah tipe kepribadian B dengan ciri-ciri yaitu santai, tidak kompetitif, tenang, terbuka, dan mudah mengatasi stres (Morgan, 1996 dalam Santrock, 1998).

Dari berbagai sumber stres yang dialami oleh remaja, remaja mengalami dampak-dampak dari stres tersebut. Salah satunya adalah frustrasi yang merupakan suatu kondisi akibat dari adanya sumber stres. Frustrasi terjadi bila individu mengalami hambatan untuk memenuhi tujuan yang diinginkannya.

Frustrasi sering terjadi karena terhalangnya suatu usaha, ataupun ketidakhadiran dari objek yang ingin dicapai. Jika remaja menginginkan sesuatu dan mereka tidak mendapatkannya, maka mereka dapat menjadi frustrasi. Kegagalan dan kehilangan juga menimbulkan frustrasi, seperti tidak dapat memasuki sekolah yang diinginkan, atau kematian orang terdekatnya.

Berdasarkan uraian di atas, faktor-faktor yang menyebabkan stres remaja, antara lain: (a) faktor biologis; (b) faktor sosial; (c) faktor kepribadian; (d) faktor keluarga; (e) faktor sekolah; (f) daily hassles; dan (g) faktor teman sebaya.

Dokumen terkait