STUDI KASUS OPTIMALISASI PAD
12. Studi Kasus Optimalisasi PAD
12.1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) sebagai salah satu representasi adanya kehidupan demokrasi, tampaknya harusbenar-benar diperhatikan ketersediaan dan kualitasnya. Karena APBD adalah alat ukur kualitas suatu pemerintahan.
APBD Gunung Kidul TA. 2010 telah menggunakan format sesuai dengan Permendagri No. 13 Tahun 2006tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri No. 26 Tahun 2006 tentang PedomanPenyusunan Angggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2007.APBD ini ditetapkan tanggal 25 Januari 2010.
Dalam membiayai program kegiatan pemerintahan daerah sebagai upaya untuk melaksanakan pembangunan dan memenuhi kebutuhan masyarakat sangat tergantung pada jumlah pendapatan daerah.
Berkaitan dengan UU No. 28 Tahun 2009 yang efektif berlaku mulai 1 Januari 2010, Pemda Kabupaten Gunung Kidul pada tahun 2010 belum sepenuhnya melaksanakan pemungutan sesuai UU yang baru tersebut. Hal ini tercermin dari Peraturan Daerah (Perda) tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang masih menggunakan Perda PDRD yang lama (masih berdasarkan UU No. 34 Tahun 2000). Namun demikian, secara legal hal ini masih dibenarkan oleh UU, bahwa Perda PDRD yang sudah tidak diatur lagi dalam UU No. 28 Tahun 2009 masih dapat diberlakukan sampai dengan 31 Desember 2010, sedangkan Perda PDRD lama yang masih diatur dalam UU No. 28 Tahun 2009 dapat diberlakukan sampai dengan 31 Desember 2011.
Kembali kepada Penerimaan Daerah, Penerimaan Daerah dalam pelaksanaan Desentralisasi Fiskal terdiri atas Pendapatan Daerah dan Pembiayaan Daerah. Berdasarkan definisi, Pendapatan Daerah adalah hak Pemerintah Daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun bersangkutan, yang bersumber dari:
1) Pendapatan Asli Daerah (PAD); 2) Dana Perimbangan; dan 3) Lain-lain Pendapatan.
MATERI PELATIHAN PENDAPATAN DAERAH
Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Sedangkan Pembiayaan Daerah adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang bersumber dari:
1) Sisa lebih perhitungan anggaran Daerah; 2) Penerimaan Pinjaman Daerah;
3) Dana Cadangan Daerah; dan
4) Hasil penjualan kekayaan Daerah yang dipisahkan.
Dipandang dari sudut tujuan, PAD bertujuan memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai pelaksanaan Otonomi Daerah sesuai dengan potensi Daerah sebagai perwujudan Desentralisasi Fiskal dalam rangka Otonomi Daerah, Dana Perimbangan bertujuan mengurangi kesenjangan fiskal antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah dan antar-Pemerintah Daerah, Pinjaman Daerah bertujuan memperoleh sumber pembiayaan altematif dalam rangka penyelenggaraan urusan Pemerintahan Daerah, sedangkan Lain-lain Pendapatan bertujuan memberi peluang kepada Daerah untuk memperoleh pendapatan selain pendapatan tersebut diatas.
Perbandingan Pendapatan APBD Gunung Kidul
PAD yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul dikumpulkan dari Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang dilakukan oleh 14 SKPD, terdiri dari penerimaan Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan Lain-lain PAD yang sah. Dengan porsi berkisar antara 4% sampai dengan 6% dari total Pendapatan di APBD, jumlah PAD ini masih tergolong kecil dan pendapatan dalam APBD masih didominasi dari Dana Perimbangan.
0 100 200 300 400 500 600 700 800
Lain-lain pendapatan yg sah Dana perimbangan Pendapatan asli daerah Total
Rp. 529,089,447,170 Rp. 27,473,888,570 Rp. 16,989,098,300 Rp. 606,911,930,000 Rp. 70,638,960,400 Rp. 54,444,725,100 Rp. 38,718,181,000 Rp. 31,950,621,272 Rp. 635,317,518,463 Rp. 39,756,344,801 Rp. 586,697,618,097 Rp. 25,239,545,458 573,552,434,040 650,655,344,555 709,501,511,672 729,518,588,364 2007 2008 2009 2010 Milyar Rupiah
Apabila dilihat dari jumlah PAD, penyumbang terbesar adalah Retribusi Pelayanan Kesehatan di RSUD yang mencapai 35% dari PAD, ditambah Retribusi Pelayanan Kesehatan yang dikelola oleh Dinas Kesehatan sebesar 8%, sehingga retribusi dari bidang kesehatan sendiri menyumbang 43% dari total PAD. Penyumbang terbesar lainnya adalah Pajak Penerangan Jalan yang mencapai 14,6% dari PAD.
Bidang Kesehatan
Kesehatan merupakan hak dasar dari warga negara yang harus dipenuhi oleh Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Data tahun 2007, di kabupaten ini jumlah keluarga hampir miskin, miskin dan miskin sekali sebanyak 95.722 keluarga dari 185.878 jumlah keluarga atau sekitar 51,49%. Dengan tingkat kemiskinan yang masih cukup tinggi, Pemerintah Daerah harus memperhatikan pemenuhan hak dasar warga negara, terutama bagi keluarga miskin, termasuk untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang murah dan berkualitas.
Kebijakan Otonomi Daerah telah mendorong Pemerintah Daerah untuk berupaya meningkatkan PAD sebagai bagian dalam memenuhi kebutuhan belanja daerah. Diantara upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah adalah dengan mengubah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang sebelumnya bernaung dibawah Dinas Kesehatan, lembaga Pemerintah Daerah yang berfungsi pelayanan menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Dengan demikian RSUD didorong untuk bisa mencukupi kebutuhan operasionalnya yang berakibat pada peningkatan Retribusi Pelayanan Kesehatan. Kenaikan Retribusi Pelayanan Kesehatan RSUD Wonosari ini diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) nomor 6 Tahun 2007.
Pertimbangan kenaikan Retribusi Pelayanan Kesehatan selain karena kenaikan biaya operasional dan bahan-bahan logistik dan peralatan, juga karena untuk warga miskin telah mendapatkan jaminan
Studi Kasus Optimalisasi PAD
Gambar 12.1. Penyumbang PAD Gunung Kidul Tahun 2010 13.981.449.000 5.800.000.000 5.412.500.000 5.242.318.675 3.156.535.000 1.455.650.400 1.000.887.400
Diolah dari Dokumen APBD 2007 -2010
0 3 6 9 12 15
Dinas Pengelola Pasar Disparbud Dinas Kesehatan Penyairan Modal BUMD Lain-lain pendapatan PPJU
RSUD
MATERI PELATIHAN PENDAPATAN DAERAH
Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
kesehatan berupa jamkessos dan jamkesmas. Sehingga diharapkan kenaikan Retribusi Pelayanan Kesehatan tidak berdampak pada keluarga miskin. Namun kenyataanya, tidak semua warga miskin mempunyai kartu berobat gratis. Disisi lain, masyarakat yang berobat menggunakan fasilitas askeskin, mereka mengeluhkan bahwa pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit tidak sebaik dengan pasien yang membayar.
Realisasi Perda tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan di RSUD Wonosari dapat dilihat daritarget pendapatan yang selalu naik secara signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008 ada kenaikan 18,90% dibanding tahun 2007, dimana mencapai Rp.9.041.584.008,00, sedangkan untuk tahun 2009 menjadi Rp.11.461.170.000,00, yang berarti naik 26,76%. Kemudian pada tahun 2010 ditargetkan ada kenaikan anggaran sebesar 21,98% dari tahun sebelumnya atau mencapai Rp.13.981.449.000,00. Apabila dilihat kenaikan pendapatan retribusi RSUD dari tahun 2008 sampai tahun 2010, rata-rata mengalami kenaikan sekitar Rp.2,5 miliar setiap tahun.
7.604.224.000 9.041.584.008 11.461.170.000 13.981.449.000
0
3
6
9
12
15
Milyar Rupiah2007 2008 2009 2010
Diolah dari Dokumen APBD 2007 -2010
Gambar 12.2. Peningkatan PAD dari Retribusi Pelayanan Kesehatan RSUD
Gambar 12.2. Peningkatan PAD dari Retribusi Pelayanan Kesehatan RSUD
Studi Kasus Optimalisasi PAD
Adanya kenaikan 21,99% untuk Retribusi Pelayanan Kesehatan pada tahun 2010 dibanding tahun yang lalu lebih banyak diperoleh dari klaim jaminan askes. Selain ada retribusi yang naik, namun ada juga beberapa sektor yang mengalami penurunan hasil retribusi. Retribusi Pelayanan Kesehatan yang mengalami penurunan tertinggi ada pada Pemulasaraan Jenazah, Obat-Obatan dan Jasa Sarana Poliklinik Anak.
Table 12.2.