PROYEKSI POTENSI DAN PENENTUAN TARIF
7. Proyeksi Potensi dan Penentuan Tarif Pajak Daerah
7.2. Teori dan Latihan Menghitung Potensi Pajak Daerah
Ada beberapa kriteria yang biasa digunakan dalam menetapkan pajak daerah yaitu:
(1) Hasil: memadai tidaknya hasil suatu pajak dalam kaitannya dengan berbagai layanan yang dibiayainya, stabilitas dan mudah tidaknya memperkiranya hasil pajak tersebut, perbandingan hasil pajak dengan biaya pungut, elastisitas hasil pajak terhadap invalasi dan pertambahan pendapatan. (2) Keadilan (equity): kewajiban membayar pajak daerah harus jelas dan tidak sewenang-wenang,
pajak harus adil secara horizontal artinya beban pajak harus sama antara berbagai kelompok yang berbeda tetapi dengan kedudukan ekonomi yang sama, adil secara vertikal artinya beban pajak harus lebih banyak ditanggung oleh kelompok yang memiliki sumber daya yang lebih besar.
No Tahun x Pajak Daerah Penerimaan
(Juta Rp)
Koordinat
1. 2010 - 2011 0,5 316.000 AB (0,5; 316.000)
2. 2012 – 2013 2,5 315.000 CD (2,5; 315.000)
(3) Efisiensi ekonomi: pajak daerah hendaknya mendorong penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif dalam kehidupan ekonomi, mencegah jangan sampai pilihan konsumen dan produsen menjadi salah arah, dan memperkecil beban lebih pajak.
(4) Kemampuan melaksanakan: pajak daerah harus dapat dilaksanakan baik dari aspek politik maupun administratif.
(5) Kecocokan sebagai sumber penerimaan daerah.
Meskipun UU No. 28 Tahun 2009 sudah berlaku, pedoman yang dapat diterapkan terkait dengan kronologi yuridis, sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 2 ayat (4) UU No. 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, penetapan potensi pajak daerah harus memperhatikan prinsip sebagai berikut:
a) Bersifat pajak dan bukan retribusi;
b) Obyek pajak terletak atau terdapat di wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah, serta hanya melayani masyarakat di wilayah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan;
c) Obyek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum; d) Obyek pajak bukan merupakan obyek pajak provinsi dan/atau obyek pajak pusat; e) Potensinya memadai;
f) Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif;
g) Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat; dan h) Menjaga kelestarian lingkungan.
Dengan memperhatikan prinsip tersebut, potensi pajak yang ditetapkan sebagai target penerimaan akan lebih mendekati realisasi yang diharapkan. Selain juga harus berpedoman pada asas pemungutan pajak secara umum, yaitu: asas equity (asas keseimbangan dengan kemampuan atau asas keadilan); asas certainty (asas kepastian hukum), asas convenience of payment (asas pemungutan pajak yang tepat waktu atau asas kesenangan); dan asas efficiency (asas efisiensi atau asas ekonomis). Pajak daerah - secara teori – hendaknya memenuhi beberapa persyaratan, antara lain:
a) Tidak bertentangan atau searah dengan kebijakan pemerintah pusat. b) Sederhana dan tidak banyak jenisnya.
c) Biaya administrasinya rendah.
d) Tidak mencampuri sistem perpajakan pusat.
e) Kurang dipengaruhi oleh “business cycle” tapi dapat berkembang dengan meningkatnya kemakmuran.
f) Beban pajak relatif seimbang dan “tax base” yang sama diterapkan secara nasional.
Pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada
Proyeksi Potensi dan Penentuan Tarif Pajak Daerah
MATERI PELATIHAN PENDAPATAN DAERAH
Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi, yang juga berarti memberikan suatu local taxing power. Untuk itu pemerintah daerah dalam melakukan pungutan pajak harus tetap menempatkan sesuai dengan fungsinya, yaitu:
(1) Fungsi Budgeter, adalah fungsi anggaran, yaitu sebagai sumber penerimaan untuk membiayai pengeluaran. Fungsi ini mempunyai sifat tetap dan selalu meningkat. Kriteria tetap dalam arti selalu dapat diharapkan sebagai sumber penerimaan, sedangkan kriteria selalu meningkat, artinya akan selalu mengalami kenaikan penerimaan.
(2) Fungsi Regulerent (Fungsi Pengaturan), yaitu sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi, (mengatur redistribusi barang dan jasa) dalam hal ini termasuk layanan.
Hal yang juga tidak dapat dipungkiri adalah terdapatnya berbagai kendala dalam melaksanakan pemungutan pajak daerah, antara lain:
a) Kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap pembayaran pajak. b) Banyak masyarakat yang belum memahami apa kegunaan pajak.
c) Kurangnya sosialisasi terhadap masyarakat. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pembayaran pajak semestinya ditindaklanjuti degan sosialisasi.
d) Banyak petugas pajak yang belum mempunyai keterampilan yang memadai dalam melaksanakan tugasnya.
e) Sarana dan prasarana yag masih kurang.
f) Belum diterapkannya sanksi hukum yang optimal terhadap pelanggaran di bidang pajak daerah.
Solusi untuk mengatasi kendala tersebut, diantaranya adalah dengan melakukan: a) intensifikasi pemungutan pajak daerah dengan melibatkan SKPD secara aktif; dan
b) penyelidikan pada objek/subjek pajak yang tidak membayar atau kurang membayar pajak daerah dengan yang telah ditetapkan dalam Surat Ketetapan Pajak daerah, dengan melakukan kerjasama dengan lembaga penegak hukum yang terkait.
Dalam perencanaan penerimaan pajak terdapat tiga pendekatan, yaitu: a) makro,
b) mikro, dan c) inkremental.
Pendekatan inkremental lebih praktis dan pragmatis untuk diterapkan pada perencanaan penerimaan pajak daerah. Metode yang digunakan dalam pendekatan inkremental ini dilakukan melalui perhitungan realisasi penerimaan tahun sebelumnya dengan penyesuaian terhadap pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi. Penyesuaian dapat juga dilakukan terhadap variabel lain seperti bunga, harga dan produkasi migas, PDRB, kurs rupiah terhadap dollar, dan faktor lain. Sementara pola variabel tax base dapat dijadikan sebagai pilihan dalam melakukan proyeksi penerimaan pajak dengan memperhatikan faktor yang mempengaruhinya antara lain:
1) Kondisi ekonomi makro; 2) Daya beli masyarakat; 3) Penyediaan jasa; 4) Kebijakan publik; 5) Mobilisasi penduduk.
Sebagai gambaran dalam pendekatan inkremental, digunakan contoh berikut:
Realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor pada tahun tertentu adalah sebesar Rp.100.000.000,00. Berdasarkan berbagai faktor yang mempengaruhi pendapatan tersebut di atas diasumsikan penerimaan akan meningkat sebesar 5%; maka target penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor tahun berikutnya dapat ditetapkan sebesar Rp.105.000.000,00.
Berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009 tarif pajak daerah ditetapkan dalam persentase tertentu dengan batasan maksimal atau interval yang harus ditetapkan secara definitif di dalam Perda tentang pajak daerah. Batasan dalam penentuan tarif ini, memberikan diskresi kepada daerah untuk menetapkan tarif pajak daerah sesuai dengan potensi dan kemampuan masyarakatnya.
Contoh:
a) Tarif Pajak Kendaraan Bermotor:
Berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009, tarif pajak kendaraan bermotor atas kepemilikan kendaraan bermotor yang pertama adalah paling rendah 1% dan paling tinggi 2%.
Dalam Perda dapat ditetapkan tarif Pajak Kendaraan Bermotor atas kepemilikan kendaraan bermotor yang pertama sebesar 1,2%.
b) Tarif Pajak Hotel:
Berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009, tarif Pajak Hotel ditetapkan paling tinggi sebesar 10%. Dalam Perda dapat ditetapkan tarif Pajak Hotel sebesar 10% atau lebih rendah.
Dalam melakukan penetapan proyeksi penerimaan pajak daerah, perlu ditentukan klasifikasi potensi penerimaan untuk setiap jenis pajak daerah. Klasifikasi ini secara umum dapat digunakan untuk jenis pungutan lainnya (retribusi daerah). Klasifikasi potensi penerimaan pajak dapat digolongkan menjadi:
Proyeksi Potensi dan Penentuan Tarif Pajak Daerah
MATERI PELATIHAN PENDAPATAN DAERAH
Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
a. Penerimaan Prima
Pajak daerah yang termasuk klasifikasi penerimaam prima jika rasio tambahan (pertumbuhan) lebih besar atau sama dengan satu.
b. Penerimaan Potensial
Pajak daerah yang termasuk klasifikasi penerimaan potensial jika rasio tambahan (pertumbuhan) lebih kecil atau sama dengan satu dan rasio proporsi atau sumbangannya terhadap rata-rata total penerimaan pajak atau retribusi daerah lebih besar atau sama dengan satu.
c. Berkembang
Pajak daerah yang termasuk klasifikasi berkembang jika rasio tambahan (pertumbuhan) lebih besar atau sama dengan satu dan ratio proporsi atau sumbangannya terhadap rata-rata total penerimaan pajak daerah lebih besar atau sama dengan satu.
d. Terbelakang.
Pajak daerah yang termasuk klasifikasi berkembang jika rasio tambahan (pertumbuhan) atau sumbangannya terhadap rata-rata total penerimaan pajak daerah keduanya lebih kecil atau sama dengan satu.
Untuk menentukan potensi penerimaan pajak daerah ke dalam klasifikasi tersebut di atas diperlukan 2 indikator pokok, yaitu:
a) Ratio Proporsi
Penentuan ratio proporsi dilakukan dengan membandingkan antara realisasi penerimaan jenis pajak daerah tertentu dengan rata-rata penerimaan pajak daerah. Rata-rata pajak daerah diperoleh dari perhitungan jumlah seluruh penerimaan pajak daerah dibagi dengan jumlah jenis pajak daerah. b) Ratio Tambahan
Penentuan ratio tambahan dilakukan dengan membandingan pertumbuhan jenis pajak tertentu dengan pertumbuhan total pajak daerah.
Selama ini penentuan target penerimaan pajak daerah lebih didasarkan pada kaidah inkremental (dinaikkan sekian persen dari penerimaan tahun lalu), bukan didasarkan pada potensi penerimaan. Potensi penerimaan daerah untuk masing masing jenis pajak daerah belum dihitung secara menyeluruh. Pengukuran prestasi kerja dalam penerimaan pajak daerah masih didasarkan pada rasio pengumpulan (collection ratio), yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur persentase realisasi penerimaan pajak daerah dari target penerimaan pajak daerah, bukan ukuran rasio cakupan (coverage ratio), yang meliputi rasio proporsi dan rasio pertumbuhannya. Sedangkan rencana tindakan (action plan) peningkatan pendapatan daerah lebih dianggap sebagai kegiatan rutin instansi pemungut.
Rumusan Matriks Klasifikasi Potensi Penerimaan Pajak adalah:
rPXi
Pertumbuhan penerimaan jenis Pajak Daerah rPXtotal
Pertumbuhan total penerimaan seluruh Pajak Daerah
Xi
Rata rata penerimaan seluruh Pajak Daerah
Proyeksi Potensi dan Penentuan Tarif Pajak Daerah
Realisasi xi Taget xi RPPxi X 100% 450.000.000 400.000.000 RPPxi = X 100% = 112,5% Xi(t) – Xi(t-1) Xi(t-1) rPxi(t) = X 100% 450.000.000 – 400.000.000 400.000.000 rPxi(2011) = X 100%
dimana: RPP = Rasio pengumpulan pajak,
xi = Jenis Pajak Daerah tahun berkenaan. Contoh: Pajak Hotel
Target Penerimaan Pajak Hotel Tahun 2011 sebesar Rp 400.000.000,-Realisasi Penerimaan Pajak Hotel Tahun 2011 sebesar Rp
450.000.000,-Contoh: Pajak Hotel
Penerimaan Pajak Hotel Tahun 2010 = Rp 400.000.000,-Penerimaan Pajak Hotel Tahun 2011 = Rp
450.000.000,-Pertumbuhan Pajak Hotel tahun 2011 = 12,5%, artinya terjadi pertumbuhan penerimaan Pajak Hotel pada tahun 2011 sebesar 12,5% dari tahun 2010.
Artinya: realisasi penerimaan Pajak Hotel pada tahun 2011 mencapai 112,5% dari target penerimaan. Sedangkan untuk mengetahui berapa persen pertumbuhan Pajak Daerah dari tahun lalu dapat dipakai rumus sebagai berikut:
rP = Pertumbuhan Pajak Daerah
Xi(t) = Penerimaan Jenis Pajak Daerah tahun ke t. Xi(t-1) = Penerimaan Jenis Pajak Daerah tahun ke t-1.
> 1 Rasio Proporsi Xi Rata-rata X Prima Potensial < 1 Xi Rata-rata X Berkembang Terbelakang Rasio Pertumbuhan > 1 rPXi rPXtotal rPXi < 1 rPXtotal
MATERI PELATIHAN PENDAPATAN DAERAH
Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Artinya:
• Jika Rasio Proporsi > 1 dan Rasio Pertumbuhan > 1, maka penerimaannya prima atau sangat potensial.
• Jika Rasio Proporsi > 1 dan Rasio Pertumbuhan < 1, maka penerimaannya potensial.
• Jika Rasio Proporsi < 1 dan Rasio Pertumbuhan > 1, maka penerimaannya berkembang atau masih ada potensi untuk dikembangkan.
• Jika Rasio Proporsi < 1 dan Rasio Pertumbuhan < 1, maka penerimaannya terbelakang atau kurang potensial.
Contoh proyeksi potensi penerimaan 8 jenis Pajak Daerah:
1) Pertumbuhan jenis Pajak Daerah Tahun 2011 dari Tahun 2010
2) Rasio Proporsi dan Rasio Pertumbuhan 10 jenis Pajak Daerah:
No. Jenis Pajak Daerah
Realisasi Penerimaan Pertumbuhan Tahun 2010 (Rp) Tahun 2011 (Rp) 1 Pajak Hotel 300.000.000 350.000.000 0,17 2 Pajak Restoran 250.000.000 260.000.000 0,04 3 Pajak Hiburan 100.000.000 120.000.000 0.20 4 Pajak Reklame 75.000.000 80.000.000 0.07
5 Pajak Penerangan Jalan 50.000.000 60.000.000 0,20
6 Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan 80.000.000 85.000.000 0,06
7 Pajak Parkir 90.000.000 95.000.000 0,06
8 Pajak Air Tanah 40.000.000 45.000.000 0,13
Total 1.595.000.000
Rata rata 159.500.000
No. Jenis Pajak Daerah ProporsiRasio PertumbuhanRasio Keterangan
1 Pajak Hotel 2,19 1,73 Prima
2 Pajak Restoran 1,63 0,42 Potensial
3 Pajak Hiburan 0,75 2,08 Berkembang
4 Pajak Reklame 0,50 0,69 Terbelakang
5 Pajak Penerangan Jalan 0,38 2,08 Berkembang
6 Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan 0,53 0,65 Terbelakang
7 Pajak Parkir 0,60 0,58 Terbelakang
Dari contoh hasil perhitungan tersebut di atas, dapat diketahui pertumbuhan penerimaan dari tahun sebelumnya, rasio proporsi, dan rasio pertumbuhan 8 jenis pajak daerah, sehingga dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1) Pajak Hotel dengan rasio proporsi 2,19 dan rasio pertumbuhan 1,73 merupakan pajak daerah yang penerimaannya prima artinya penerimaannya sangat potensial, karena rasio proporsi dan rasio pertumbuhannya lebih dari satu, sehingga untuk proyeksi potensi penerimaan pajak daerah ini kedepan sangat layak untuk diteruskan pemungutannya, karena penerimaannya sangat potensial. 2) Pajak Restoran dengan rasio proporsi 1,63 dan rasio pertumbuhan 0,42 merupakan pajak
daerah yang penerimaannya potensial, karena rasio proporsinya lebih dari satu sedangkan rasio pertumbuhannya kurang dari satu, sehingga untuk proyeksi potensi penerimaan pajak daerah ini kedepan masih layak untuk diteruskan pemungutannya, karena penerimaannya yang potensial. 3) Pajak Hiburan dengan rasio proporsi 0,75 dan rasio pertumbuhan 2,08, Pajak Penerangan Jalan
dengan rasio proporsi 0,38 dan rasio pertumbuhan 2,08, dan Pajak Air Tanah dengan rasio proporsi 0,28 dan rasio pertumbuhan 1,30 merupakan pajak daerah yang penerimaannya berkembang artinya masih ada potensi untuk dikembangkan, karena rasio proporsinya kurang dari satu sedangkan rasio pertumbuhannya lebih dari satu, sehingga untuk proyeksi potensi penerimaan pajak daerah ini kedepan dapat dipertimbangkan untuk diteruskan pemungutannya, karena potensinya masih dapat dikembangkan.
4) Pajak Reklame dengan rasio proporsi 0,5 dan rasio pertumbuhan 0,69, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan dengan rasio proporsi 0,53 dan rasio pertumbuhan 0,65, dan Pajak Parkir dengan rasio proporsi 0,60 dan rasio pertumbuhan 0,58, merupakan pajak daerah yang penerimaannya terbelakang artinya kurang potensial, karena rasio proporsi dan rasio pertumbuhannya kurang dari satu, sehingga untuk proyeksi potensi penerimaan pajak daerah ini kedepan dipertimbangkan kembali untuk diteruskan pemungutannya, karena potensinya kurang.
Upaya untuk meningkatkan penerimaan Pendapatan Asli Daerah agar mendekati atau bahkan bahkan sama dengan potensinya, secara umum ada dua cara, yaitu dengan cara instensifikasi dan ekstensifikasi.
a) Cara intensifikasi adalah melakukan pemungutan secara efektif dan efisien pada objek dan subjek pajak daerah yang sudah ada misalnya melakukan perhitungan potensi, penyuluhan, peningkatan pengawasan dan pelayanan.
b) Cara ekstensifikasi adalah melakukan usaha-usaha untuk menjaring wajib pajak baru melalui pendataan dan pendaftaran atau menggali pajak baru.
Alternatif kebijakan atau upaya yang dapat diambil atau diterapkan dalam usaha meningkatkan setiap jenis klasifikasi yang disebut diatas akan berbeda-beda. Jika jenis pajak daerah termasuk prima, maka kebijaksanaan yang telah diterapkan pada tahun-tahun sebelumnya dapat tetap digunakan dengan mempertahankan tingkat pertumbuhan dan kontribusinya. Jika jenis pajak termasuk penerimaan yang
Proyeksi Potensi dan Penentuan Tarif Pajak Daerah
MATERI PELATIHAN PENDAPATAN DAERAH
Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
potensial, maka upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mengintensifkan pemungutan dari sumber penerimaan yang ada sehingga terjadi pertumbuhan penerimaan. Untuk pajak daerah dengan klasifikasi berkembang, upaya peningkatan yang dilakukan adalah dengan menggali sumber-sumber baru dengan tingkat pertumbuhan seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Jika pajak daerah dalam klasifikasi terbelakang, maka upaya peningkatannya dilakukan dengan menggali sumber-sumber penerimaan baru dan meningkatkan penerimaan dari tahun sebelumnya dari sumber peneriman yang ada.
7.3. Soal Latihan
1. Uraikanlah apa yang Saudara pahami terkait dengan prinsip yang harus diperhatikan dalam menentukan potensi pajak daerah!
2. Pemungutan pajak harus dilaksanakan sesuai dengan fungsinya. Berikan penjelasan Saudara fungsi tersebut.
3. Dalam penentuan proyeksi penerimaan pajak daerah ada bebarapa pendekatan yang digunakan. Berikanlah penjelasan Saudara terkait penentuan proyeksi penerimaan pajak daerah tersebut. 4. Berikan perhitungan Saudara untuk pertumbuhan, rasio proporsi, dan rasio pertumbuhan
penerimaan pajak daerah di Kabupaten X dengan data sebagai berikut:
No
Jenis Pajak Daerah Realisasi Penerimaan (Rp)
Tahun 2010 Tahun 2011
1. Pajak Restoran 300.000.000,-
320.000.000,-2. Pajak Reklame 200.000.000,-
250.000.000,-3. Pajak Penerangan Jalan 150.000.000,-
160.000.000,-4. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan 650.000.000,-
320.000.000,-PROYEKSI POTENSI DAN
PENENTUAN TARIF
Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang jenis retribusi daerah yang berpotensi atau yang tidak berpotensi untuk dilakukan pemungutan dengan mengacu pada penerimaan retribusi daerah.
Sub Topik
Prinsip dan Sasaran dalam Penetapan Tarif Retribusi
Kata Kunci
Potensi Retribusi Proyeksi Potensi
Penerimaan Retribusi Lingkungan potensi Latihan
Referensi:
1. Buku statistik (berbagai penulis).
2. Buku statistik daerah (daerah dalam angka). Proyeksi Potensi dan Penetuan Tarif Retribusi Daerah
MATERI PELATIHAN PENDAPATAN DAERAH
Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan