• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori dan Latihan Menghitung Potensi Retribusi Daerah

Dalam dokumen Materi Pelatihan PKD Pendapatan Daerah (Halaman 109-119)

PROYEKSI POTENSI DAN PENENTUAN TARIF

8. Proyeksi Potensi dan Penetuan Tarif Retribusi Daerah

8.1. Teori dan Latihan Menghitung Potensi Retribusi Daerah

Tarif retribusi daerah adalah nilai rupiah atau persentase tertentu yang ditetapkan untuk menghitung besarnya retribusi daerah yang terutang. Tarif retribusi daerah dapat ditentukan seragam atau bervariasi menurut golongan sesuai dengan prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi, misalnya perbedaan tarif retribusi untuk masuk tempat rekreasi antara anak dan dewasa, perbedaan tarif retribusi untuk kendaraan parkir di tepi jalan umum antara mobil roda 4 dan roda 6 dan sebagainya.

Struktur dan besarnya tarif retribusi daerah merupakan diskresi Pemerintah Daerah untuk menetapkan dalam Peraturan Daerah dengan memperhatikan peraturan sektoral yang berkaitan dengan jenis retribusi tersebut, misalnya untuk menetapkan struktur tarif Retribusi Izin Trayek, maka harus memperhatikan peraturan sektoralnya yang mengatur mengenai Izin Trayek yaitu UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum. Pemerintah Daerah tidak boleh menetapkan tarif retribusi dengan Peraturan atau Keputusan Kepala Daerah, karena struktur dan besarnya tarif retribusi merupakan muatan minimal yang diatur dalam Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sesuai dengan Pasal 156 ayat (3) UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak daerah dan Retribusi Daerah.

Peninjauan Tarif

Tarif retribusi dapat ditinjau kembali secara berkala dengan memperhatikan prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi, Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi perkembangan perekonomian daerah berkaitan dengan objek retribusi yang bersangkutan. Dalam Pasal 155 UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, peninjauan kembali tarif retribusi daerah, dapat dilakukan paling lama 3 (tiga) tahun sekali dengan memperhatikan indeks harga dan perkembangan perekonomian dan ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah.

1. Prinsip dan Sasaran dalam Penetapan Tarif Retribusi

Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi daerah sesuai dengan UU No.28 Tahun 2009 adalah sebagai berikut:

1) Retribusi Jasa Umum

Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif Retribusi Jasa Umum ditetapkan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, aspek keadilan dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut. Biaya tersebut meliputi biaya operasi, biaya pemeliharaan, biaya bunga dan biaya modal. Dalam hal penetapn tarif sepenuhnya memperhatikan biaya penyediaan jasa, penetapan tarif hanya untuk menutup sebagian biaya. 2) Retribusi Jasa Usaha

Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif Retribusi Jasa Usaha didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak, yaitu keuntungan yang diperoleh apabila pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efisien dan berorientasi pada harga pasar. 3) Retribusi Perizinan Tertentu

Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif Retribusi Perizinan Tertentu didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan, meliputi: biaya penerbitan dokumen izin, pengawasan di lapangan, penegakan hukum, penatausahaan dan biaya dampak negativ dari pemberian izin tersebut.

Prinsip dasar untuk mengenakan retribusi biasanya didasarkan pada total cost (biaya penyediaan jasa) dari pelayanan yang disediakan. Akan tetapi akibat adanya perbedaan-perbedaan tingkat pembiayaan mengakibatkan tarif retribusi tetap dibawah tingkat biaya (full cost). Ada 4 alasan utama mengapa hal ini terjadi:

a) Apabila suatu pelayanan pada dasarnya merupakan kepentingan umum (public good) yang disediakan karena untuk melayani kepentingan umum masyarakat (jasa umum). Penetapan tarif retribusi disini memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, aspek keadilan dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut. Karena tarif retribusi disini memperhatikan kemampuan masyarakat dan aspek keadilan, maka tidak ada unsur keuntungan yang diperoleh, sehingga tingkat biaya yang dikeluarkan dapat lebih tinggi dari penerimaan retribusi yang diterima.

b) Apabila suatu pelayanan merupakan bagian dari swasta (jasa usaha) dan sebagian lagi merupakan good public (jasa umum). Misalnya tarif Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan. Disatu sisi Pemerintah Daerah menyediakan Pasar Grosir dan/atau Pertokoan sebagai jasa usaha untuk mencari keuntungan, tetapi disisi lain Pemerintah Daerah juga menyediakan Pasar Grosir dan/atau Pertokoan untuk memenuhi kepentingan umum, sehingga hal ini dapat berimplikasi pada tingkat biaya yang dikeluarkan dapat lebih tinggi dari penerimaan retribusi yang dihasilkan.

c) Pelayanan seluruhnya merupakan private good yang dapat disubsidi jika hal ini merupakan permintaan terbanyak dan Kepala Daerah enggan menghadapi masyarakat dengan full cost. Disatu sisi private good merupakan kepentingan pribadi, sehingga Pemerintah Daerah tidak

Proyeksi Potensi dan Penentuan Tarif Pajak Daerah

MATERI PELATIHAN PENDAPATAN DAERAH

Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

perlu harus menyediakannya, tetapi kalau kepentingan yang bersifat pribadi tersebut banyak yang meminta, akhirnya menjadi kepentingan umum, sehingga dengan pertimbangan kepentingan umum, Pemerintah Daerah perlu untuk menyediakannya. Misalnya fasilitas rekreasi dari kolam renang. Kalau banyak masyarakat yang meminta fasilitas rekreasi dari kolam renang, maka fasilitas tersebut yang seharusnya bersifat private good (kepentingan pribadi) menjadi public good (kepentingan umum), akibatnya biaya yang dikeluarkan untuk penyediaan jasa retribusi tersebut dapat lebuh tinggi dari penerimaan retribusinya.

d) Private good yang dianggap sebagai kebutuhan dasar manusia dan kelompok berpenghasilan rendah. Apabila private good yang merupakan kepentingan pribadi merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah, maka sifatnya dapat berubah menjadi

public good karena ketidak mampuan masyarakat untuk mencapai private good tersebut

Misalnya kebutuhan masyarakat akan kesehatan yang merupakan private good, tetapi karena ketidak mampuan mereka untuk membayar biaya kesehatan tersebut, maka private

good yang merupakan kebutuhan dasar manusia, dapat mengakibatkan biaya penyediaan

jasa yang bersangkutan yaitu biaya pelayanan kesehatan lebih tinggi dari penerimaan Retribusinya.

2. Proyeksi Potensi Penerimaan Retribusi Daerah

Selama ini penentuan target penerimaan lebih didasarkan pada kaidah incremental (dinaikkan sekian persen dari tahun lalu), bukan didasarkan pada potensi penerimaan. Potensi penerimaan daerah untuk masing masing jenis/sumber Retribusi daerah belum dihitung secara menyeluruh. Pengukuran prestasi/kinerja instansi pemungut retribusi masih terbatas pada ukuran rasio pengumpulan (collection ratio), yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur persentase realisasi penerimaan retribusi dari target penerimaan retribusi bukan ukuran rasio cakupan (coverage ratio), yang meliputi rasio proporsi dan rasio pertumbuhannya. Sedangkan rencana tindakan (action plan) peningkatan pendapatan daerah lebih dianggap sebagai kegiatan rutin instansi pemungut.

RPRxi = Realisasi

x

i X 100%

Taget xi

RPR = Rasio Pengumpulan Retribusi

xi = Jenis Retribusi tahun berkenaan

Contoh: Retribusi Pelayanan Pasar

Target Retribusi Tahun 2011 = Rp.250.000.000,-Realisasi Retribusi Tahun 2011 = Rp.300.000.000,-RPRxi = 300.000.000 X 100% = 120,0%.

250.000.000

RPRxi = 120 % artinya realisasi penerimaan Retribusi Pelayanan Pasar pada tahun 2011 mencapai 120% dari target penerimaan.

Sedangkan untuk mengetahui berapa persen pertumbuhan Retribusi dari tahun lalu dapat dipakai rumus sebagai berikut:

rRxi(t) = Xi(t) – Xi(t-1) X 100% Xi(t-1)

rR = Pertumbuhan Retribusi Daerah

Xi(t) = Penerimaan Jenis Retribusi Daerah tahun ke t.

Xi(t-1) = Penerimaan Jenis Retribusi Daerah tahun ke t-1. Contoh: Retribusi Pelayanan Pasar

Penerimaan Retribusi Tahun 2010 = Rp.250.000.000,-Penerimaan Retribusi Tahun 2011 = Rp.300.000.000,-rRxi(2011) = 300.000.000 – 250.000.000 X 100%

250.000.000

rRxit = 20 % artinya terjadi pertumbuhan penerimaan Retribusi Pelayanan Pasar pada tahun 2011 sebesar 20 % dari tahun 2010.

Proyeksi Potensi dan Penentuan Tarif Pajak Daerah

Rumus Rasio Pengumpulan (collection ratio) Retribusi Daerah: Potensi penerimaan retribusi dapat dibedakan menjadi 4 kelompok:

1) Prima artinya sangat potensial. 2) Potensial.

3) Berkembang artinya masih ada potensi yang dapat dikembangkan. 4) Terbelakang artinya kurang potensi.

Ada beberapa teori yang dapat digunakan untuk menghitung proyeksi potensi penerimaan retribusi dan salah satunya adalah teori dengan menggunakan pendekatan rasio proporsi dan rasio pertumbuhan dengan rumus dan matriks sebagai berikut:

MATERI PELATIHAN PENDAPATAN DAERAH

Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

> 1 Rasio Proporsi Xi Rata-rata X Prima Potensial < 1 Xi Rata-rata X Berkembang Terbelakang Rasio Pertumbuhan > 1 rPXi rPXtotal rPXi < 1 rPXtotal

rPXi = Pertumbuhan penerimaan jenis Pajak

Daerah

rPXtotal = Pertumbuhan total penerimaan seluruh Pajak Daerah

Xi = Rata rata penerimaan seluruh Pajak

Daerah Artinya:

Jika Rasio Proporsi > 1 dan Rasio Pertumbuhan > 1, maka penerimaannya prima atau sangat potensial.

Jika Rasio Proporsi > 1 dan Rasio Pertumbuhan < 1, maka penerimaannya potensial.

Jika Rasio Proporsi < 1 dan Rasio Pertumbuhan > 1, maka penerimaannya berkembang atau masih ada potensi untuk dikembangkan.

Jika Rasio Proporsi < 1 dan Rasio Pertumbuhan < 1, maka penerimaannya terbelakang atau kurang potensi.

Contoh proyeksi potensi penerimaan 10 jenis Retribusi Daerah: 1) Pertumbuhan jenis Pajak Daerah Tahun 2011 dari Tahun 2010:

No. Jenis Retribusi Daerah Realisasi Penerimaan Pertumbuhan

Tahun 2010 (Rp) Tahun 2011 (Rp)

1 Retribusi Pelayanan Kesehatan 300.000.000 350.000.000 0,17

2 Retribusi Pelayanan Pasar 250.000.000 260.000.000 0,04

3 Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum 100.000.000 120.000.000 0.20 4 Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akta Capil 75.000.000 80.000.000 0.07 5 Retribusi Pelayanan Pe-makaman dan Pengabuan Mayat 50.000.000 60.000.000 0,20 6 Retribusi Pelayanan Per-sampahan/Kebersihan 80.000.000 85.000.000 0,06 7 Retribusi Pengujian Ken-daraan Bermotor 90.000.000 95.000.000 0,06 8 Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran 40.000.000 45.000.000 0,13 9 Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi 400.000.000 425.000.000 0,06 10 Retribusi Pelayanan Tera/ Tera Ulang 70.000.000 75.000.000 0,07

Total 1.595.000.000

2) Rasio Proporsi dan Rasio Pertumbuhan 10 jenis Retribusi Daerah:

Proyeksi Potensi dan Penentuan Tarif Pajak Daerah

No. Jenis Pajak Daerah Rasio Proporsi Rasio Pertumbuhan Keterangan

1 Retribusi Pelayanan Kesehatan 2,19 1,73 Prima

2 Retribusi Pelayanan Pasar 1,63 0,42 Potensial

3 Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum 0,75 2,08 Berkembang

4 Retribusi Penggantian 0,50 0,69 Terbelakang

5 Biaya Cetak KTP dan Akta Capil 0,38 2,08 Berkembang

6 Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat 0,53 0,65 Terbelakang 7 Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan 0,60 0,58 Terbelakang

8 Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor 0,28 1,30 Berkembang

9 Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran 2,66 0,65 Potensial 10 Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi 0,47 0,74 Terbelakang

Dari contoh hasil perhitungan tersebut di atas, dapat diketahui pertumbuhan penerimaan dari tahun sebelumnya, rasio proporsi dan rasio pertumbuhan 10 jenis retribusi daerah, sehingga dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1) Retribusi Pelayanan Kesehatan merupakan retribusi yang penerimaannya prima artinya penerimaannya sangat potensial, karena rasio proporsi dan rasio pertumbuhannya lebih dari satu, sehingga untuk proyeksi potensi penerimaan retribusi ini kedepan sangat layak untuk diteruskan pemungutannya, karena penerimaannya sangat potensial.

2) Retribusi Pelayanan Pasar dan Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi merupakan retribusi yang penerimaannya potensial, karena rasio proporsinya lebih dari satu sedangkan rasio pertumbuhannya kurang dari satu, sehingga untuk proyeksi potensi penerimaan retribusi ini kedepan masih layak untuk diteruskan pemungutannya, karena penerimaannya yang potensial. 3) Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum, Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan

Mayat, dan Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran merupakan retribusi yang penerimaannya berkembang artinya masih ada potensi untuk dikembangkan, karena rasio proporsinya kurang dari satu sedangkan rasio pertumbuhannya lebih dari satu, sehingga untuk proyeksi potensi penerimaan retribusi ini kedepan dapat dipertimbangkan untuk diteruskan pemungutannya, karena potensinya masih dapat dikembangkan.

4) Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akta Catatan Sipil, Retribusi Pelayanan Persampahan/ Kebersihan, Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor dan Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang MATERI PELATIHAN PENDAPATAN DAERAH

Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

merupakan retribusi yang penerimaannya terbelakang artinya kurang potensial, karena rasio proporsi dan rasio pertumbuhannya kurang dari satu, sehingga untuk proyeksi potensi penerimaan retribusi ini kedepan dipertimbangkan kembali untuk diteruskan pemungutannya, karena potensinya kurang.

Selain dengan cara menghitung penerimaan jenis retribusi dan penerimaan total retribusi, rasio proporsi dan rasio pertumbuhan, proyeksi potensi penerimaan dan penentuan tarif retribusi juga dapat diketahui dari beberapa hal sebagai berikut:

1) Kebutuhan / permintaan masyarakat akan jasa pelayanan tersebut.

Semakin tinggi kebutuhan/permintaan masyarakat akan jasa pelayanan terhadap suatu jenis retribusi, maka tarif yang ditetapkan dapat semakin tinggi sesuai dengan kebutuhan/permintaan tersebut dan sebaliknya semakin rendah kebutuhan/permintaan akan jasa pelayanan tersebut, maka tarif yang ditetapkan juga semakin rendah atau dengan kata lain kebutuhan/permintaan jasa pelayanan berbanding lurus dengan tarif yang akan ditetapkan. Hal ini sesuai dengan prinsip ekonomi, yaitu semakin tinggi permintaan akan suatu barang/jasa, maka akan semakin tinggi pula harga barang/ jasa yang ditawarkan dan semakin rendah permintaan akan harga barang/jasa, maka akan semakin rendah juga harga barang/jasa yang ditawarkan. Apabila prinsip tersebut dilanggar, maka akan mengakibatkan kerugian, contoh kebutuhan/permintaan masyarakat akan jasa pelayanan tempat penginapan rendah, tetapi tarif yang ditetapkan untuk pelayanan tempat penginapan tersebut tinggi, maka akan banyak tempat penginapan yang kosong, karena masyarakat semakin enggan menggunakan jasa yang tarifnya tinggi tersebut sementara mereka tidak begitu membutuhkan pelayanan tersebut. Contoh lain, yaitu rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan lainnya. Selama masyarakat di wilayah daerah tersebut membutuhkan akan pelayanan kesehatan di rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan lainnya, maka potensi penerimaan dari sektor Retribusi Pelayanan Kesehatan akan meningkat, demikian pula sebaliknya apabila masyarakat di daerah tersebut tidak begitu membutuhkan pelayanan kesehatan di rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan lainnya karena mungkin mereka memilih berobat dengan cara non medis, misalnya dengan cara menggunakan ramuan atau herbal, maka potensi penerimaan dari sektor Retribusi Pelayanan Kesehatan akan menurun. Pemerintah Daerah perlu memberikan pengertian kepada masyarakat akan pentingnya pelayanan tersebut bagi mereka, yang pada akhirnya masyarakat akan merasa membutuhkan pelayanan tersebut dan berimplikasi terhadap potensi penerimaan retribusi daerah menjadi meningkat.

2) Besarnya Tarif retribusi yang ditetapkan.

Besarnya tarif retribusi daerah merupakan diskresi Pemerintah Daerah untuk menetapkannya, namun demikian dalam menetapkan tarif retribusi daerah hendaknya juga memperhatikan tarif retribusi di wilayah daerah lain yang berdekatan. Apabila di wilayah daerah lain yang berdekatan menetapkan tarif retribusi untuk jenis retribusi yang sama lebih rendah, maka dikhawatirkan masyarakat akan memilih pelayanan yang ditawarkan oleh daerah lain atau berpindah menggunakan jasa pelayanan di daerah lain yang tarif retribusinya lebih rendah, sehingga hal ini akan mengakibatkan kerugian

Proyeksi Potensi dan Penentuan Tarif Pajak Daerah

bagi daerah yang menetapkan tarif retribusi lebih tinggi dari daerah lain dan berdampak pada penerimaan kas daerah yang menurun karena potensi penerimaan untuk jenis retribusi tersebut akan berkurang. Sebaliknya apabila daerah lain menetapkan tarif retribusi lebih tinggi untuk jenis retribusi yang sama, maka merupakan keuntungan bagi daerah yang tarif retribusinya lebih rendah, karena disamping masyarakat di daerah tersebut akan menggunakan jasa pelayanan yang tarifnya lebih rendah, daerah tersebut juga dapat menarik masyarakat di daerah lain yang tarif retribusinya lebih tinggi untuk jenis retribusi yang sama untuk menggunakan jasa pelayanan tersebut, sehingga menguntungkan daerah yang tarif retribusinya lebih rendah dan berdampak positif bagi pendapatan kas daerah yang meningkat karena potensi penerimaannya meningkat. Contohnya tarif Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor. Apabila tarif Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor di daerah tersebut lebih rendah, maka masyarakat di daerah tersebut akan melakukan pengujian kendaraan bermotor di daerahnya bahkan tidak menutup kemungkinan masyarakat di daerah lain akan melakukan pengujian kendaraan bermotor di daerah yang tarifnya lebih rendah, tetapi apabila tarif retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor di daerah lebih tinggi dari daerah lain, maka tidak menutup kemungkinan masyarakat di daerah tersebut akan melakukan pengujian kendaraan bermotor di daerah lain yang tarifnya lebih rendah.

3) Sarana prasarana yang mendukung pelayanan tersebut

Sarana prasarana yang tersedia dapat mempengaruhi proyeksi potensi penerimaan dan penentuan tarif retribusi, karena dengan sarana prasarana yang tersedia lengkap, masyarakat akan senang untuk menggunakan jasa pelayanan tersebut. Tarif retribusi yang ditetapkan hendaknya disesuaikan dengan sarana prasarana yang tersedia Apabila sarana prasarana yang mendukung pelayanan tersebut kurang memadai, maka hendaklah tarif yang ditetapkan jangan lebih tinggi. Sebaliknya apabila sarana prasarana yang mendukung pelayanan tersebut memadai, maka tarif yang ditetapkan dapat lebih tinggi. Contoh penetapan tarif retribusi tempat rekreasi dan olah raga, hendaknya melihat apakah sarana prasarana yang mendukung tempat rekreasi dan olah raga tersebut sudah mencukupi atau bahkan lebih baik. Kalau sarana prasarana yang dibuat masih minim atau bahkan Pemda hanya sedikit membangun sarana prasarana untuk tempat rekreasi atau fasilitas lainnya yang mendukung tempat rekreasi tersebut dengan kata lain semuanya masih alami, maka apabila tarif retribusi yang ditetapkan lebih tinggi, maka masyarakat akan merasa enggan untuk mendatangi tempat rekreasi tersebut, sebaliknya apabila Pemda sudah membangun sarana prasarana yang bagus untuk tempat rekreasi tersebut dan fasilitas lainnya, maka seandainya tarif yang ditetapkan Pemda agak lebih tinggi, kemungkinan masyarakat akan tetap mendatangi tempat rekreasi tersebut karena merasa nyaman, aman dan terhibur. Contoh lain sarana prasarana yang tersedia pada rumah sakit atau tempat kesehatan lainnya. Dengan sarana prasarana yang tersedia lengkap, maka diharapakan masyarakat di wilayah daerah tersebut akan mendatangi pelayanan kesehatan di rumah sakit atau tempat kesehatan lainnya yang ada di wilayah daerah tersebut dan tidak akan mendatangi pelayanan kesehatan di rumah sakit atau tempat kesehatan lainnya di wilayah daerah lain, sehingga potensi penerimaan dari sektor Retribusi Pelayanan Kesehatan di wilayah daerah tersebut diharapkan akan meningkat seiring dengan meningkatnya sarana

MATERI PELATIHAN PENDAPATAN DAERAH

Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

prasarana yang tersedia. Sebaliknya jika sarana prasarana yang tersedia kurang baik dan kurang lengkap, maka dikhawatirkan masyarakat diwilayah tersebut akan mancari pelayanan kesehatan di wilayah daerah lain yang lebih lengkap sarana prasarananya, sehingga hal ini dapat berimplikasi pada proyeksi penerimaan dari sektor pelayanan kesehatan yang menurun.

4) Tingkat/kualitas pelayanan yang diberikan.

Tingkat/kualitas pelayanan juga dapat mempengaruhi proyeksi potensi penerimaan retribusi dan penetapan tarif retribusi. Apabila kualitas pelayanan yang diberikan baik, maka banyak masyarakat yang menginginkan pelayanan tersebut, sehingga tarif yang ditetapkan dapat lebih tinggi dan berimplikasi pada penerimaan kas daerah yang meningkat karena potensi penerimaan retribusi meningkat. Sebaliknya apabila kualitas pelayanan yang diberikan kurang baik, dan tarif yang ditetapkan lebih tinggi, maka masyarakat akan mencari pelayanan yang sejenis di daerah lain yang lebih baik dan mungkin tarifnya lebih rendah, sehingga hal ini dapat merugikan Pemerintah Daerah dari segi penerimaan karena ada potensi penerimaan yang hilang untuk jenis retribusi yang sama. Contoh pada Retribusi Pelayanan Kesehatan di rumah sakit atau tempat kesehatan lainnya. Apabila pelayanan kesehatan di rumah sakit atau tempat kesehatan lainnya di daerah tersebut baik, maka diharapakan masyarakat di wilayah daerah tersebut akan mendatangi pelayanan kesehatan di rumah sakit atau tempat kesehatan lainnya yang ada di wilayah daerah tersebut dan tidak akan mendatangi pelayanan kesehatan di rumah sakit atau tempat kesehatan lainnya di wilayah daerah lain, sehingga penerimaan dari sektor pelayanan kesehatan dapat meningkat karena potensi penerimaannya meningkat. Tetapi jika pelayanan rumah sakit atau tempat kesehatan lainnya tersebut kurang baik, maka masyarakat akan mencari pelayanan kesehatan di rumah sakit atau tempat kesehatan lainnya di daerah lain yang pelayanannya lebih baik, sehingga penerimaan dari rumah sakit atau tempat kesehatan lainnya tersebut ke kas daerah menurun karena ada potensi penerimaan yang hilang. Dengan pelayanan rumah sakit atau tempat kesehatan lainnya yang baik, diharapkan potensi penerimaan dari jenis retribusi tersebut akan meningkat seiring dengan meningkatnya kualitas pelayanan. Sebaliknya dengan kualitas pelayanan yang kurang baik, maka dikhawatirkan masyarakat didaerah tersebut akan mancari pelayanan kesehatan di daerah lain yang lebih baik pelayanannya, sehingga hal ini dapat berimplikasi pada potensi penerimaan dari sektor pelayanan kesehatan.

3. Penentuan Tarif Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi

Besaran tarif retribusi merupakan diskresi pemerintah daerah untuk menetapkan besarannya, tetapi khusus untuk tarif retribusi pengendalian menara telekomunikasi, besaran tarifnya dibatasi maksimal yaitu paling tinggi 2% dari Nilai Jual Objek Pajak PBB menara telekomunikasi, sesuai dengan penjelasan Pasal 124 UU No.28 Tahun 2009. Pemerintah daerah dalam menetapkan tarif retribusi pengendalian menara telekomunikasi disarankan memakai batasan tersebut dan tidak memakai besaran lumpsum, karena kalau memakai besaran lumpsum dan ternyata setelah dihitung berdasarkan batasan maksimal

Proyeksi Potensi dan Penentuan Tarif Pajak Daerah

tersebut jumlahnya melebihi 2% dari NJOP PBB menara telekomunikasi, maka akan dilakukan restitusi untuk mengembalikan kelebihan pembayaran tersebut.

8.2. Soal Latihan

Diketahui Pemerintah Daerah dengan jenis retribusi daerah dan realisasi penerimaan retribusi daerah Tahun 2010 dan Tahun 2011 sebagai berikut:

Pertanyaan:

1. Berapakah pertumbuhan penerimaan tiap jenis retribusi daerah dari tahun 2010 ke 2011? 2. Berapakah rasio proporsi tiap jenis retribusi daerah tersebut ?

3. Berapakah rasio pertumbuhan tiap jenis retribusi daerah tersebut ?

4. Dari penghitungan tersebut, jenis retribusi daerah manakah yang dapat dikategorikan pemungutan prima (sangat potensial), potensial, berkembang dan terbelakang (kurang potensial) ?

5. Jenis retribusi daerah manakah yang masih dapat diteruskan pemungutannya dan yang sebaiknya dihentikan pemungutannya ?

No. Jenis Retribusi Daerah Realisasi Penerimaan

Tahun 2010 (Rp) Tahun 2011 (Rp)

1 Retribusi Pelayanan Kesehatan 275.000.000 300.000.000

2 Retribusi Pelayanan Pasar 250.000.000 280.000.000

3 Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum 110.000.000 115.000.000

4 Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akta Capil 85.000.000 90.000.000

5 Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat 60.000.000 75.000.000

6 Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan 70.000.000 75.000.000

MATERI PELATIHAN PENDAPATAN DAERAH

Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

HASIL PENGELOLAAN KEKAYAAN

Dalam dokumen Materi Pelatihan PKD Pendapatan Daerah (Halaman 109-119)