• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor Yang Berkaitan dengan Pelaksanaan Pengelolaan

BAB V PEMBAHASAN

5.4 Faktor-Faktor Yang Berkaitan dengan Pelaksanaan Pengelolaan

Faktor-faktor yang mempengaruhi terlaksannya pengolahan limbah medis padat dan cair di RSU Kabanjahe adalah kebijakan rumah sakit, sumber daya manusia yang terdiri dari tenaga pengolah limbah medis padat dan cair, dana atau anggaran yang disediakan oleh pihak rumah sakit untuk mendukung terlaksananya pengolahan limbah, sarana dan prasarana yang ada di rumah sakit, dan metode atau pedoman dan cara-cara yang dipakai dalam pengolahan limbah medis padat dan cair.

5.4.1 Kebijakan Rumah Sakit

Rumah Sakit Umum Kabanjahe tidak mempunyai kebijakan atau peraturan yang mereka buat sendiri dalam melaksanakan pengelolaan limbah medis padat dan cair. Dalam melaksanakan pengelolaan limbah, pihak rumah sakit berpedoman pada KepMenKes RI No 1204/Menkes/SK/X/ 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Seperti yang disebutkan dalam Profil Rumah Sakit Umum Kabanjahe Tahun 2015 bahwa untuk pembuangan limbah cair rumah sakit dialirkan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah sedangkan sampah medis dibakar di incinerator dan sampah padat dibuang ke TPA.

Kebijakan yang ada dalam KepMenKes RI No 1204/Menkes/SK/X/ 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit belum semua dilaksanakan oleh pihak rumah sakit. Penampungan limbah medis padat, wadah yang digunakan tidak dilengkapi oleh kantong plastik dan warna wadah tidak sesuai dengan jenis limbahnya. Untuk pengolahan limbah medis cair, pihak rumah sakit tidak melakukan pemeriksaan kualitas effluent sebelum dibuang ke lingkungan.

Untuk menciptakan keadaan yang sehat dan bersih, pihak RSU Kabanjahe juga membuat beberapa pamplet anjuran agar pengunjung rumah sakit membuang sampah ke tempatnya dan sesuai jenisnya.

5.4.2 Sumber Daya Manusia

Pengelolaan limbah medis padat dan cair ditanggungjawabi oleh kepala Instalasi Sarana dan Prasarana. KA sarana dan prasarana akan bertanggung jawab langsung kepada direktur rumah sakit. Penanganan limbah medis padat di RSU Kabanjahe dilaksanakan oleh penanggung jawab incinerator dan dibantu oleh seorang cleaning service. Untuk pengelolaan limbah medis cair dilaksanakan 2 orang petugas. IPAL dan incinerator berada dibawah instalasi sarana dan prasarana dimana kepala instalasi sarana dan prasarana juga bertugas untuk memantau penyediaan air bersih dan listrik di RSU Kabanjahe.

Penanggung jawab IPAL dan Incinerator yang seharusnya bertugas memonitor pengelolaan limbah padat dan cair di rumah sakit tidak hanya melaksanakan tugas tersebut, juga bertugas sebagai penyelenggara kegiatan penyehatan lingkungan rumah sakit, memantau penyediaan air bersih di rumah

sakit dan memantau listrik yang ada di rumah sakit. Hal ini mengakibatkan pelaksanaan pengelolaan limbah medis padat kurang terpantau sehingga perlu adanya peningkatan frekuensi dan penyusunan jadwal monitoring yang jelas dan teratur (Depkes RI, 2001).

Untuk limbah medis padat kepala sarana dan prasarana memberikan tugas pada seorang untuk bertanggung jawab di incinerator. Selain memonitoring incinerator, juga bertugas membakar sampah di incinerator. Satu orang cleaning service bertugas untuk memindahkan sampah dari unit-unit penghasil limbah ke

incinerator dan memasukkan limbah medis padat ke dalam incinerator. Untuk proses pemilahan hanya dilakukan oleh petugas pelayanan kesehatan di masing-masing unit.

Petugas cleaning service yang mengangkut limbah medis padat mempunyai jam kerja di siang hari saja dan 2 kali seminggu. Sehingga pengangkutan limbah medis padat dalam KepMenKes RI No.

1204/Menkes/SK/X/2004 yang seharusnya 2 kali sehari atau setelah 2/3 bagian terisi tidak dilakukan. Pengangkutan ini tidak terkecuali di masing-masing unit penghasil limbah. Hal ini mengakibatkan sampah di masing-masing unit menumpuk khususnya di IGD dan ketika pengangkutan dilaksanakan sampah medis bisa terjadi ceceran limbah padat dan akan berbau busuk. Oleh karena itu perlu ditambahkan jam kerja dan jumlah petugas cleaning service yang bertugas mengangkut limbah medis padat agar tidak terjadinya penumpukan di wadah masing-masing unit khususnya IGD.

Dilihat dari segi pendidikan SDM, petugas pengolah limbah medis padat yang bertugas membakar limbah berpendidikan S1 tetapi tidak pernah mendapatkan pelatihan khusus. Lama bekerjanya adalah 4 tahun. Untuk cleaning service yang bertugas mengangkut limbah berpendidikan SMA dan tidak pernah

mendapatkan pelatihan khusus. Lama bekerjanya adalah 1 bulan. Kedua petugas ini sudah memenuhi standar pendidikan sesuai dengan Pedoman Sanitasi RS di Indonesia tetapi belum mengikuti pelatihan khusus di bidang kesehatan lingkungan rumah sakit yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pihak lain terkait.

Petugas pengolah limbah medis cair ada 2 orang. Mereka bertugas untuk meghidupkan mesin, memantau kerja mesin, melakukan pemeliharaan pada alat-alat dan melakukan perbaikan jika ada alat-alat-alat-alat yang rusak. Yang bertanggung jawab di IPAL adalah kepala Instalasi Sarana dan Prasarana langsung. Bertugas memantau kerja pengolah limbah dan memantau jalannya proses pengolahan limbah. Petugas pengolah limbah medis cair ini tidak memiliki shift kerja. Setiap harinya mereka bekerja bersama-sama.

Untuk pengolah limbah medis cair satu orang berpendikan SMA dan satu orang berpendidikan STM. Kedua petugas ini belum mendapatkan pelatihan khusus. Lama bekerja masing-masing petugas ini adalah 6 bulan dan 4 bulan.

Kedua petugas ini belum memenuhi standar pendidikan sesuai dengan Pedoman Sanitasi RS di Indonesia dan juga tidak mendapatkan pelatihan khusus (Depkes RI, 2002).

5.4.3 Dana

Dari segi dana, pihak RSU Kabanjahe mempunyai anggaran tersendiri setiap tahun untuk pengelolaan limbah medis padat dan cair. Anggaran ini dialokasikan terhadap pemeliharaan IPAL, biaya operasional IPAL, pemeliharaan incinerator dan biaya operasional incinerator.

Dana yang disediakan pihak RSU Kabanjahe sesuai dengan kebutuhan pengelolaan limbah medis padat dan cair.

Penerapan anggaran yang ada di RSU Kabanjahe adalah Penerapan Pola Keuangan Badan Layanan Umum Daerah yang dilaksanakan oleh pihak management rumah sakit dan instansi yang terkait. Tetapi penerapan pola ini belum berjalan sesuai yang diharapkan sehingga perlu adanya penyamaan persepsi dan peningkatan pemahaman tentang PPK-BLUD dari pihak managemen RSU Kabanjahe dan instansi yang terkait.

5.4.4 Sarana dan Prasarana

Dalam pengelolaan limbah medis padat, sarana yang digunakan masih belum sesuai dengan persyaratan yang ada di KepMenKes RI No 1204/Menkes/SK/X/ 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Dimana wadah yang digunakan di RSU Kabanjahe ini tidak dilengkapi dengan plastik, juga tidak ada lagi pemilahan antara limbah medis padat sangat infeksius, limbah padat radiokatif, dan juga limbah padat farmasi. Semua limbah medis padat disatukan di satu wadah.

Dalam KepMenKes RI No 1204/Menkes/SK/X/ 2004, wadah limbah harus dilengkapi oleh kantong plastik, hal ini ditujukan agar mempermudah proses

pemindahan dan pegangkutan. Kantong plastik juga membungkus limbah padat waktu pengangkutan sehingga mengurangi kontak langsung dengan mikroba dengan manusia, juga mencegah terjadinya ceceran limbah dan air limbah, juga dapat mengurangi bau.

Sarana pengangkutan limbah padat terbuat dari bahan yang kuat, tahan karat, kedap air dan tidak bocor, tetapi tidak tertutup, hal ini tidak sesuai dengan KepMenKes RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004 dimana troli yang digunakan dalam mengangkut limbah harus tertutup. Tetapi sarana pengangkutan ini memiliki gerobak yang kecil dan dangkal sehingga memungkinkan terjadinya ceceran limbah pada saat pemngangktan dari unit-unit penghasil limbah ke incinerator.

Pada pengelolaan limbah medis cair sudah sesuai dengan KepMenKes RI No 1204/Menkes/SK/X/ 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit dimana ditetapkan bahwa air limbah harus diolah terlebih dahulu di Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) sebelum dibuang ke badan air penerima. Rumah Sakit Umum Kabanjahe mempunyai IPAL sendiri dan telah melaksankan proses pengelolaan air limbah sebelum air limbah dibuang ke saluran pembuangan air kota.

5.4.5 Pedoman Teknis

Pada pelaksanaan pengelolaan limbah medis padat dan cair, pihak rumah sakit tidak memiliki pedoman teknis (SOP) sendiri. Pengelolaan limbah hanya berpedoman pada buku Pedoman Sanitasi Rumah Sakit Indonesia. Juga berdasarkan KepMenKes RI No 1204/Menkes/SK/X/ 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit walaupun pada pelaksanaannya belum

betul-betul sesuai dengan yang ditetapkan, terkhususnya untuk penanganan limbah medis padat.

Sebaiknya dibuat Protap (prosedur tetap) yang disusun dengan detil dalam prosedur pelaksanaan, pembagian job description dan waktu bekerja yang jelas sesuai dengan standar Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1204 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

5.5 Perilaku Pengolah Limbah Medis Padat dan Cair di RSU Kabanjahe 5.5.1 Karateristik Responden

Secara keseluruhan, umur reponden dikategorikan umur orang dewasa dimana umur responden yang termuda 23 tahun dan yang paling tua berumur 38 tahun. Kelompok umur yang paling banyak jumlahnya adalah 21-30 sebanyak 3 orang (75%), dan yang paling sedikit adalah kelompok umur 31-40 tahun ada 1 orang (25%).

Menurut Zan dan Namora (2010) masa dewasa digolongkan pada umur dimulai dari 21 tahun dimana secara harafiah, dewasa berarti tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran sempurna. Masa dewasa adalah masa dimana seseorang mampu menyelesaikan pertumbuhan dan menerima kedudukan yang sama dalam masyarakat atau orang dewasa lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian semua responden (100%) berjenis kelmain laki-laki. Tingkat pendidikan sebagian besar adalah tamatan SMA/SMK yaitu 3 orang (75%). Banyaknya jumlah responden yang memiliki tingkat pendidikan SMA tidak mempengaruhi tingkat pengetahuan responden, responden mempunyai pengetahuan yang baik, tetapi tindakan mereka masih buruk. Semakin tinggi

tingkat pendidikan seseorang, maka semakin mudah juga orang tersebut untuk menerima informasi dan akhirnya semakin banyak pengetahuan yang mereka miliki (Notoadmojo,2003).

Pada tabel 4.7 terlihat bahwa masa bekerja responden sebagian besar kurang dari 1 tahun yaitu 3 orang (75%) hanya 1 orang (25%) yang sudah bekerja lebih dari satu tahun.

5.5.2 Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Responden

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa untuk petugas pengolah limbah medis padat, kedua responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik.

Menurut Notoadamojo (2003), pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia namun bukan hanya sekedar tahu tapi juga dapat memahami, mengaplikasikan, menganalisis, merangkum dan melakukan penilaian terhadap suatu objek tertentu.

Satu orang responden mengetahui bahwa tong sampah limbah itu harus dilapisi oleh kantong plastik, hal ini agar memudahkan proses pemindahan. Tetapi kedua responden tidak mengetahui bahwa seharusnya ada perbedaan warna antara penampung limbah medis padat dengan limbah non medis.

Dari tabel 4.8 diketahui bahwa kedua responden mengetahui apa itu limbah medis padat dan jenis-jenis limbah medis padat. Responden juga mengetahui bahwa limbah medis padat harus mendapatkan pengelolaan khusus dimana harus dimusnahkan di incinerator (Depkes RI, 2004) . Kedua responden juga telah mengetahui bahwa pengangkutan limbah medis padat harus dipisah dengan limbah non medis dan alat pengangkut yang digunakan adalah troli tertutup. Hal ini sesuai dengan Kepmenkes RI No. 1204 Tahun 2004. Kedua

responden mengetahui bahwa limbah padat medis dapat menimbulkan penyakit.

Menurut Pruss. A (2005) limbah padat rumah sakit dapat menimbulkan penyakit berdasarkan jenis limbahnya, untuk limbah infeksius dan benda taham dapat mengandung berbagai macam mikroorganisme pathogen dan dapat memasuki tubuh manusia sehingga manusia bisa sakit.

Pengetahuan responden tidak baik dalam hal warna wadah limbah harus sesuai dengan jenis limbahnya dan wadah penampung harus dilapisi oleh kantong plastik, hal ini karena tingkat pendidikan petugas adalah SMA, dan mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan tentang limbah medis dari pihak rumah sakit.

Pihak rumah sakit tidak menyediakan kantong plastik dan wadah penampung dengan warna yang sesuai dengan jenis limbahnya. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya kesalahan penempatan pembuangan sampah dan akan mempersulit dalam proses pengangkutan.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa untuk pengolah limbah medis padat, kedua responden memiliki sikap yang baik. Tingginya sikap responden ini sejalan dengan tingkat pengetahuan responden, dimana kedua responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik.

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap responden yang baik ini dapat disebabkan karena pengaruh sosial dan keadaan disekitarnya. Sesuai dengan pernyataan Bimo Walgito dalam Dayakisni (2003) bahwa pembentukan dan perubahan sikap akan ditentuan oleh dua faktor, yaitu cara individu menaggapi

atau ditolak, dan keadaan-keadaan yang ada diluar individu yang merupakan stimulus untuk membentuk sikap.

Secara teoritis, sikap adalah suatu respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (Notoadmojo, 2003). Menurut Witodjo (1990), sikap menentukan apakah orang harus pro atau kontra terhadap sesuatu, menentukan apakah yang disukai, diharapkan, dan diinginkan, mengesampingkan apa yang tidak diinginkan dan apa yang harus dihindari.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tindakan petugas pengolah limbah padat berada pada kategori buruk. Kedua responden tersebut memiliki tingkat pengetahuan dan sikap yang baik. Tingkat pengetahuan dan sikap yang sudah baik ternyata tidak diikuti dengan tindakan yang baik dari responden.

Menurut Notoadmojo (2003), secara logis sikap akan dicerminkan dalam bentuk tindakan, namun tidak dapat dikatakan bahwa sikap dan tindakan memiliki hubungan yang simetris. Dalam penerapannya sikap terkadang tidak sejalan dengan tindakan. Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan

faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan.

Pada tabel 4.16 diketahui bahwa kedua responden tidak melakukan pemilahan limbah padat medis dengan non medis. Dalam Kepmenkes RI No.1204 Tahun 2015 diwajibkan diadakan pemilahan antara limbah padat medis dengan non medis. Kedua responden tidak pernah mendapatkan teguran dari atasan jika melakukan kesalahan dalam bekerja, ini menunjukkan kurangnya monitoring dari

atasan. Kedua responden juga tidak pernah mengikuti pelatihan tentang pengolahan limbah medis padat. Ada satu orang responden pernah mengalami cedera pada saat bekerja, kecelakaan yang mungkin terjadi adalah tertusuk jarum, petugas memang menggunakan alat pelindung diri dalam bekerja seperti sepatu boot, masker dan sarung tangan. Alat pelindung diri tidak disediakan oleh pihak rumah sakit, petugas membeli sendiri, mereka menggunakan alat pelindung karena kesadaran mereka sendiri karena di rumah sakit tidak ada peraturan khusus tentang pengelolaan limbah medis. Kedua responden mencuci tangan dengan sabun setelah menangani limbah medis padat, mereka melakukan pembakaran di incinerator dan melakukan pengangkutan limbah medis padat. Setiap unit pelayanan dan kelas rawat inap memiliki tempat limbah medis tetapi tidak ada petugas khusus yang menangani limbah medis tersebut.

Untuk petugas pengolah limbah medis cair kedua petugas juga memiliki tingkat pengetahuan yang baik, responden mengetahui bahwa limbah cair itu adalah segala buangan dari kegiatan rumah sakit yang berupa cair. Limbah cair rumah sakit perlu pengelolaan khusus yaitu di IPAL. Dalam melakukan pengelolaan di IPAL maka perlu pemantauan dan pemeriksaan secara berkala terhadap alat-alat agar bisa dipelihara keadaannya. Kedua petugas telah mengetahui bahwa effluent air limbah harus dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui berapa kadar BOD, COD, TSS dan pH yang merupakan baku mutu limbah cair rumah sakit sesuai dengan KepMenLH No. 58 tahun 1995.

Menurut peneliti, semua responden mempunyai pengetahuan yang baik karena pengalaman bekerja masing-masing responden sudah lama di bidang

pengolahan limbah medis padat maupun cair, walaupun responden belum pernah mendapatkan pengarahan dari pihak rumah sakit tentang pengelolaan limbah medis padat dan cair.

Untuk pengolah limbah medis cair, kedua responden juga memiliki sikap yang baik. Hal ini juga sejalan dengan pengetahuan kedua responden.

Berdasarkan tabel 4.14 kedua responden memiliki sikap yang baik bahwa dalam bekerja petugas harus menggunakan alat pelindung diri dan mendapatkan pelatihan dari pihak rumah sakit. Ada satu responden menyatakan sikap tidak setuju jika ada mesin yang rusak melapor ke bagian yang berwenang, dan dalam bekerja perlu instruksi dari atasan. Kedua responden menyatakan sikap yang baik dalam penanganan limbah medis cair harus sesuai dengan peraturan pemerintah yang ada yaitu Kepmenkes RI No. 1204 Tahun 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

Untuk limbah medis cair kedua responden memiliki tindakan yang baik, kedua responden melakukan pemantauan dan pemeriksaan secara berkala terhadap proses pengelolaan air limbah dan mesin IPAL. Mereka juga aktif mengikuti pelatihan atau penyuluhan tentang pengelolaan air limbah. Kedua responden tidak pernah mengalami cedera dalam bekerja. Mereka juga melakukan perbaikan mesin jika ada yang rusak serta perawatan terhadap alat-alat. Petugas pengolah limbah membuat pelaporan secara berkala kepada atasan mengenai pengolahan limbah cair. Kedua responden tidak menggunakan alat pelindung diri dalam bekerja, juga tidak melakukan pemeriksaan terhadap effluent sebelum dibuang ke lingkungan.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Pengelolaan limbah medis padat dan cair di RSU Kabanjahe tidak memenuhi syarat sesuai dengan Kepmenkes RI No. 1204 Tahun 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan rumah Sakit, RSU Kabanjahe mendapatkan skor 1.180.

2. Sarana penampung limbah medis padat terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, tidak bocor dan memiliki tutup, tetapi tidak dilengkapi oleh kantong plastik dan warna wadah tidak sesuai dengan jenis limbahnya.

3. Sarana pengangkutan terbuat dari bahan yang kuat, tidak bocor, mudah dibersihkan tetapi trolli yang digunakan tidak tertutup.

4. Limbah medis cair diolah di IPAL dengan sistem Up Flow Filter dengan prinsip kerjanya berdasarkan lumpur aktif, tetapi tidak dilakukan pemeriksaan kualitas effluent sebelum dibuang ke lingkungan.

6.2 Saran

1. Disarankan kepada pemerintah setempat agar melakukan pengawasan secara berkala terhadap proses pengelolaan limbah medis padat dan cair di seluruh rumah sakit yang ada di Kabupaten Karo.

2. Disarankan kepada pihak rumah sakit supaya membuat pelatihan kepada para staf rumah sakit yang bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah

medis padat dan cair serta petugas pengolah limbah. Melakukan pembenahan pada wadah penampungan dan sarana pengangkutan limbah medis padat serta melaksanakan pengukuran kualitas effluent limbah medis cair sebelum dibuang ke lingkungan. Menyediakan alat pelindung diri bagi pekerja pengolah limbah medis padat dan cair, dan menerapkan pedoman atau prosedur tetap yang sesuai dengan standar penanganan limbah medis padat dan cair serta melaksanakan manajemen dan monitoring yang baik untuk efektifitas dan efisiensi pengelolaan limbah.

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito, W., 2007. Sistem Manajemen Lingkungan Rumah Sakit.

Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada.

Adisasmito, W., 2008. Audit Lingkungan Rumah Sakit. Jakarta: Rajawali Pers.

Arifin, M., 2009. Sanitasi lingkungan. http://inspeksisanitasi.

blogspot.com/sanitasi-lingkungan.html. Diakses pada 13 Maret 2012.

Arfan, H.H., Ahmad Zubair, Alpryono. 2013. Studi Instalasi Pengolahan Air Limbah RSUP.Dr. Wahidin Sudirohusodo. Jurnal Penelitian Teknik Sipil.

Bungin, H.M.B., 2011. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana.

Chandra, B., 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : ECG.

Dayakisni, T., 2003. Psikoogi Sosial. Malang: UMM Press. Malang.

Depkes R.I, 1993. Pedoman Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Limbah Cair Rumah sakit, Jakarta : Bakti Husada.

_________,2002. Pedoman Sanitasi RS di Indonesia, Bakti Husada, Jakarta.

________ ,2006. Pedoman Penatalaksanaan Pengelolaan Limbah Padat dan cair di Rumah Sakit, Bakti Husada, Jakarta.

_________,2004. Kepmenkes RI No.1204/Menkes/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, Jakarta.

_________,2009. Undang–Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, Jakarta.

_________,2009. Undang–Undang Republik Indonesia No.44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, Jakarta.

Djadja, I.M., Maniksulistya, D., Gambaran Pengelolaan Limbah Cair di Rumah Sakit X Jakarta Februaru 2006, Makara Kesehatan, Vol.

10, No. 2, Desember 2006 hal 60-63.

Djojodibroto, R. D.,1997. Kiat Mengelola Rumah Sakit, Jakarta: Penerbit Hipokrates.

Hapsari, 2010. Tesis Analisis Pengelolaan Sampah dengan Pendekatan Sistem di RSUD dr. Moewardi Surakarta , UNDIP, Semarang.

Kemenkes RI, 2011, Profil Kesehatan Indonesia tahun 2010, Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.

Kemenkes RI, 2014, Profil Kesehatan Indonesia tahun 2013, Jakarta : Kementrian Kesehatan RI.

Koentjaraningrat, 1989. Metode-metode Penelitian Masyarakat, Jakarta : Gramedia.

Habsari, T., Lilis, S., Faktor yang Mempengaruhi Pengelolaan Limbah Cair RSUD Wangaya Depasar. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 3, No. 2, Januaru 2007 hlm 149-158.

Notoadmojo, S., 2001. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT Rineka Cipta Notoatmodjo, S., 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Paramita, N., 2007, Evaluasi Pengelolaan Sampah Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Jurnal Presipitasi Volume 2, No. 1, Maret 2007.

Pratiwi, D., 2013. Skripsi Analisis Pengelolaan Limbah Medis Padat Pada Puskesmas Kabupaten Pati. Fakutas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.

Pruss.A., E.Giroult, P. Rushbrook, 2005, Pengelolaan Aman Limbah Layanan Kesehatan, Cetakan I Penerbit EGC, Jakarta.

Sabarguna, B. S., dan Agus, K. R., 2011, Sanitasi Air dan Limbah Pendukung Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Jakarta: Salemba Medika.

Sumantri, A., 2010. Kesehatan Lingkungan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Soeparman dan Suparmin, 2002. Pembuangan Tinja dan Limbah Cair Suatu Pengantar, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Soemirat, Juli, 2007. Kesehatan Lingkungan, Yogyakarta: Gadjamada University Press.

Sunu,P., 2001. Melindungi Lingkungan dengan Menerapkan ISO 14001.

Jakarta: PT.Grasindo.

Wungo, M.M.Y, Eni,M., Eko,H., Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Petugas Sanitasi dengan Praktik Pengelolaan Sampah di

RSUD Kabupaten Kebumen Tahun 2013. Artikel Ilmiah Fakultas Kesehatan Unuversitas Dian Nuswanto.

Yulvizar, C., 2011. Efektivitas Pengolahan Limbah Cair Dalam Menurunkan Kadar Fenol di Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi, Biologi Edukasi Volume 3, Nomer 2, Desember 2011, hlm 9-15.

Zan, H., Namora, L., 2010. Pengantar Psikologi Dalam Keperawatan. Medan:

Kencana

Lampiran 1. Kuesioner untuk Limbah Medis Padat

Lampiran 1. Kuesioner untuk Limbah Medis Padat