BAB VII IMPLIKASI KONVERSI LAHAN TERHADAP
7.3 Sumber PDRB Dominan
Konversi lahan sawah irigasi teknis menjadi Terminal Tipe A Kertawangunan merupakan langkah awal dalam perkembangan kota di Kecamatan Sindang Agung. Pembangunan Terminal Tipe A Kertawangunan sebagaimana telah dijelaskan akan menyebabkan Kecamatan Sindang Agung mengalami kecenderungan pertumbuhan terbangun tinggi. Semakin tinggi lahan terbangun di Kecamatan Sindang Agung semakin tinggi pula konversi kawasan pertanian lahan basah irigasi teknis. Kasus di Desa Kertawangunan ini, akan berdampak pula pada perkembangan Kota Kuningan. Hal ini disebabkan lahan yang terkonversi merupakan lahan pertanian, sedangkan selama ini PDRB di Kabupaten Kuningan yang berkontribusi paling besar adalah pada sektor pertanian.
Struktur perekonomian di Kabupaten Kuningan dibentuk oleh tiga sektor utama, yaitu sektor pertanian, perdagangan, dan jasa. Ketiga sektor tersebut dalam kurun waktu 2001-2005 (Tabel 9) memiliki rata-rata kontribusi sebesar 79,24 persen. Sektor pertanian memiliki kontribusi yang sangat besar bagi Kabupaten Kuningan sebesar 44,83 persen, diikuti sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 19,69 persen, serta sektor jasa-jasa sebesar 14,72 persen.
Dilihat perkembangan secara sektoral perekonomian di Kabupaten Kuningan pada tahun 2001-2005 (Tabel 9), sektor pertanian yang memiliki rata-rata distribusi yang terbesar memiliki kecenderungan yang semakin menurun, hal ini berlawanan dengan sektor perdagangan dan jasa yang mengalami peningkatan dalam kontribusinya. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat perkembangan pembangunan sektor tersier yang semakin mempersempit lahan pertanian di
Kabupaten Kuningan, sehingga berimbas pada menurunnya produktivitas sektor pertanian. Arah tranformasi dari sektor primer ke sektor tersier di Kabupaten Kuningan semakin terlihat dengan kecenderungan menurunnya sektor pertanian dan meningkatnya kontribusi sektor perdagangan dan jasa (Masterplan Kabupaten Kuningan, 2006). Perkembangan lahan terbangun sebagai dampak dari meningkatnya sektor tersier ini yang berupa maraknya pembangunan fasilitas ekonomi dan sosial juga berdampak secara tidak langsung pada berkurangnya areal pertanian di Kabupaten Kuningan.
Sektor pertanian di Kabupaten Kuningan dalam Masterplan Pembangunan Kabupaten Kuningan 2030 terkait Analisis dan Proyeksi Kondisi Obyektif diperkirakan kedepannya mengalami pertumbuhan yang relatif lambat dilihat dari laju pertumbuhannya selama lima tahun yaitu pada Tahun 2001 sampai Tahun 2005. Laju pertumbuhan yang lambat ini tidak diikuti oleh sektor lain, bahkan beberapa sektor ekonomi, terutama sektor tersier, seperti sektor perdagangan, keuangan, dan jasa pada lima tahun (2001-2005) mengalami peningkatan. Sektor sekunder, seperti sektor industri pengolahan juga mengalami tingkat laju pertumbuhan yang cukup tinggi. Tumbuhnya sektor tersier dan sekunder ini akibat adanya aktivitas di sektor pertanian. Diproyeksikan 25 tahun ke depan sektor pertanian ini masih akan menjadi leading sector perekonomian di Kabupaten Kuningan, hal ini disebabkan sektor pertanian selama ini memiliki kontribusi terbesar dalam menyumbang pendapatan daerah Kuningan meskipun pertumbuhannya cenderung menurun. Sektor pertanian juga merupakan penyerap tenaga kerja terbesar di Kabupaten Kuningan. Jadi, dalam jangka panjang 25 tahun ke depan diperkirakan meskipun sektor perdagangan dan jasa mengalami peningkatan hal ini lebih disebabkan kedua sektor ini ditunjang oleh sektor pertanian yang semakin maju melalui kegiatan agribisnis dan agroindustri melalui konsep agropolitan yang berkelanjutan.
Tabel 9. Peran Sub Sektor dalam PDRB Kabupaten Kuningan Atas Dasar Harga Konstan (2000=100) Tahun 2001-2005 (dalam %)
*angka perbaikan
Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kuningan dalam http://bappedakuningan.blogspot.com/2010/01/pdrb.html. Diakses tanggal 26 Agustus 2010.
LAPANGAN USAHA T A H U N
2001 2002 2003 2004 2005* 1 PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN 47,72 46,08 44,00 43,65 42,69
DAN PERIKANAN
a. Tanaman bahan makanan 37,36 33,60 31,11 30,70 30,41 b. Tanaman Perkebunan 4.57 6,77 7,22 7,36 6,70
c. Peternakan dan hasil – hasilnya 4,75 4,60 4,49 4,36 4,35 d. Kehutanan 0,36 0,35 0,36 0,36 0,36 e. Perikanan 0,67 0,76 0,82 0,86 0,88 2 PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 0,90 0,87 0,85 0,82 0,79 a. Minyak dan gas bumi ( migas ) 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
b. Pertambangan tanpa migas 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 c. Penggalian 0,90 0,87 0,85 0,82 0,79
3 INDUSTRI PENGOLAHAN 1,62 1.69 1,90 2,07 2,09 a. Industri migas 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
b. Industri tanpa migas 1,62 1,69 1,90 2,07 2,09 4 LISTRIK , GAS DAN AIR BERSIH 0,44 0,43 0,43 0,42 0,40
a. Listrik 0,33 0,32 0,31 0,30 0,29 b. Gas kota 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 c. Air bersih 0,11 0,11 0,11 0,11 0,10 5 BANGUNAN 4,87 4,84 4,91 4,79 4,66 6 PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN 19,56 19.54 19,74 19,69 19,90 a. Perdagangan besar dan eceran 17,79 17,78 17,96 18,02 18,24 b. H o t e l 0,02 0,03 0,03 0,03 0,03 c. Restoran 1,75 1,73 1,75 1,64 1,63 7 PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 6,83 7,45 7,62 7,63 8,30 a. Pengangkutan 6,08 6,72 6,90 6,93 7,61 1) Angkutan rel 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2) Angkutan jalan raya 5,82 6,45 6,63 6,66 7,33 3) Angkutan laut 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4) Angkutan sungai dan penyeberangan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 5) Angkutan udara 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
6) Jasa penunjang angkutan 0,26 0,27 0,27 0,27 0,28 b. Komunikasi 0,75 0,73 0,72 0,70 0,69
8 KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA PERSH 4.34 4,99 5,16 5,85 5,78 a. B a n k 0,33 0,98 1,12 1,82 1,75 b. Lembaga keuangan tanpa Bank 0,62 0,59 0,58 0,56 0,54
c. Jasa Penunjang Keuangan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 d. Sewa bangunan 3,02 3,04 3,08 3,09 3,10 e. Jasa perusahaan 0,37 0,38 0,38 0,39 0,39 9 JASA – JASA 13,71 14,05 15,39 15,07 15,39 a. Pemerintahan Umum 7,50 8,08 9,42 9,11 9,33 b. S w a s t a 6,21 5,97 5,98 5,96 6,06 1) sosial kemasyarakatan 2,50 2,37 2,35 2,39 2,44 2) Hiburan dan rekreasi 0,25 0,25 0,25 0,26 0,26 3) Perorangan dan rumah tangga 3,47 3,36 3,37 3,31 3,35 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 100,0 100,00 100,00 100,00 100,00
Pada Masterplan Kabupaten Kuningan diproyeksikan pendapatan regional Kabupaten Kuningan pada 25 tahun ke depan dengan menggunakan laju pertumbuhan masing-masing sektor dengan asumsi terjadi revitalisasi di sektor pertanian yang akan menciptakan ketahanan pangan melalui kegiatan agropolitan yang didukung sektor perdagangan, industri pengolahan, dan jasa pariwisata, sehingga dalam jangka panjang sektor pertanian masih memiliki kontribusi terbesar dan tetap menjadi leading sector. Perhitungan proyeksi laju pertumbuhan ekonomi dan kontribusi sektoral secara rata-rata selama 25 tahun ke depan, sektor tersier memiliki persentase laju pertumbuhan jauh lebih besar daripada sektor primer dan sekunder. Perbedaan yang sangat besar tersebut semakin menyiratkan bahwa dominasi dari sektor tersier di Kabupaten Kuningan ke depan akan semakin meningkat.
Tingginya PDRB sektor tersier ini sebagian besar disuplai oleh sektor perdagangan dan jasa yang menyumbang 36,42 persen, namun sektor pertanian masih memiliki kontribusi lebih besar dari kedua sektor tersebut, yaitu sebesar 39,26 persen daripada sektor-sektor yang lain. Melalui proyeksi laju pertumbuhan perekonomian sebesar 6,4 persen dan kontribusi tiap-tiap sektor dengan asumsi perbandingan sektor primer, sekunder, dan tersier sebesar 40 persen, 10 persen, dan 50 persen berdasar rata-rata kontribusi lima tahun terakhir (Lampiran 5). Diproyeksikan pada tahun 2030 peranan sektor pertanian di Kabupaten Kuningan akan tetap dominan walaupun secara nomimal mengalami penurunan. Proyeksi laju pertumbuhan ekonomi ke depan tetap mengacu pada pertumbuhan kurun waktu lima tahun (2001-2005) sebesar 3,87 persen dengan asumsi dalam jangka panjang 25 tahun ke depan akan terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar empat sampai delapan persen yang tumbuh secara bertahap. Target laju pertumbuhan ekonomi ini juga tetap mengacu pada rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional Tahun 2006 yang tumbuh sebesar lima sampai enam persen. Seiring dengan menurunnya kontribusi sektor pertanian ini sektor sekunder dan tersier di wilayah Kuningan secara tidak langsung akan memberikan kontribusi yang meningkat.
Naiknya kontribusi sektor perdagangan dan jasa ini diakibatkan efek turunan (derived demand) dari imbas sektor pertanian melalui kegiatan agropolitan (Masterplan Kabupaten Kuningan, 2006). Pembangunan yang berbasis pada sektor pertanian dengan implikasinya pada konsep agropolitan, seperti yang diprogramkan di Kabupaten Kuningan saat ini, diperkirakan akan berimbas pada kedua sektor tersebut. Jadi secara tidak langsung mendukung sektor pertanian melalui kegiatan agibisnis dan agroindustri. Kegiatan industri di Kabupaten Kuningan diarahkan pada pengolahan komoditas pertanian menjadi produk jadi yang akan di ekspor ke luar wilayah.
Pada Tahun 2008 semua sektor perdagangan dan jasa mengalami peningkatan dari dua tahun sebelumnya. Sesuai dengan RPJPD Kota Kuningan yaitu Kuningan sebagai kota pariwisata dan agrowisata termaju di Jawa Barat dimana alam iklimnya mempunyai daya tarik bagi wisatawan, tidak mengherankan jika pada Tahun 2008 terjadi peningkatan dalam penjualan jasa penginapan terutama hotel-hotel yang letaknya sangat strategis (BPS Kabupaten Kuningan, 2009). Laju pertumbuhan sub sektor hotel, hiburan dan rekreasi mengalami kenaikan yang cukup tinggi dari tahun sebelumnya, sedangkan sektor pertanian lajunya melambat. Hal ini dipengaruhi oleh adanya peralihan lahan dari lahan pertanian ke non pertanian. Banyaknya pembangunan rumah dan gedung (fisik) menyebabkan berkurangnya lahan pertanian, sehingga walaupun kontribusi sektor pertanian paling dominan namun dilihat dari peningkatan produksi cenderung menunjukkan penurunan, terutama tanaman bahan makanan (Lampiran 6). Pertumbuhan sektor pertanian tidak setinggi sektor-sektor yang lain, tetapi pertanian merupakan sektor dominan yang memberikan peranan tertinggi dalam pencapaian PDRB Kabupaten Kuningan.
7.4 Ikhtisar
Luasan penggunaan lahan di Kabupaten Kuningan mengalami banyak penurunan untuk kawasan lindung. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya lahan terbangun di Kabupaten Kuningan. Salah satunya adalah pengalihfungsian kawasan pertanian lahan basah irigasi teknis menjadi lahan permukiman dan terminal tipe A. Pembangunan Terminal Tipe A Kertawangunan akan mengakibatkan kecenderungan pertumbuhan lahan terbangun tinggi di Kecamatan
Sindang Agung. Pada proyeksi masterplan dalam arahan pengembangan kawasan perkotaan atau skenario urban design Kabupaten Kuningan, Kecamatan Sindang Agung ke depan akan tumbuh cepat terutama kawasan permukiman dan perdagangan sebagai imbas adanya pembangunan Terminal Tipe A Kertawangunan. Meskipun dalam RTRW Kabupaten Kuningan terdapat pengendalian konversi lahan sawah irigasi teknis, namun konversi lahan tidak dapat dihindarkan. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan akan aksesibilitas jalan yang menghubungkan antar kecamatan yang akan melewati Terminal Tipe A Kertawangunan.
Kabupaten Kuningan memiliki keunggulan dan potensi pada tiga sektor yaitu sektor pertanian, jasa dan perdagangan. Visi Kabupaten Kuningan dalam RPJPD adalah Kuningan sebagai Kabupaten Agropolitan dan Wisata Termaju di Jawa Barat Tahun 2027. Visi ini secara tidak langsung menggambarkan perekonomian Kabupaten Kuningan mengandalkan dua sektor yaitu pertanian dan pariwisata. Pengoptimalan sektor pariwisata di Kabupaten Kuningan perlu ditunjang oleh sektor pertanian dan transportasi. Kegiatan dalam menunjang sektor pariwisata di sektor transportasi salah satunya adalah dengan pembangunan Terminal Tipe A Kertawangunan. Pembangunan terminal ini mengorbankan sektor lain yaitu sektor pertanian dengan terkonversinya lahan sawah irigasi teknis.
Sektor pertanian memiliki kontribusi paling besar dari pada sektor lainnya di Kabupaten Kuningan, namun PDRB pada sektor pertanian dari tahun ke tahun mengalami penurunan terutama tanaman bahan makanan. PDRB pada sektor perdagangan dan jasa mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan perkembangan pembangunan sektor tersier (perdagangan dan jasa) akan semakin mempersempit lahan pertanian di Kabupaten Kuningan. Diproyeksikan 25 tahun ke depan sektor pertanian ini masih akan menjadi leading sector perekonomian di Kabupaten Kuningan, hal ini disebabkan sektor pertanian selama ini memiliki kontribusi terbesar dalam menyumbang pendapatan daerah Kuningan meskipun pertumbuhannya cenderung menurun.
BAB VIII