Sutra Penting Tentang Buddha Maitreya
Sutra Sarvajna Prabha Manusya Deva berpantang Daging
Berdasarkan catatan sutra dalam Buddha Maitreya, Sang petapa di masa lampau memuja Maitreya sebagai guru. Ajaran Maitreya adalah Catur Paramita, inti dari ajaran yang disampaikan adalah penerapan cinta kasih. Saat itu petapa tak hanya memuja Maitreya sebagai guru bahkan berikrar di kehidupan berikutnya dapat mencapai kebuddhaan dengan nama Maitreya. Dari sini Maitreya mulai membina diri, menjalani hidup dengan berpindah-pindah dan fokus dalam pembinaan hati. Dalam perjalanan pembinaannya, Maitreya tibalah di sebuah negara, namun disayangkan negara tersebut dipimpin oleh raja yang bejat, dan tidak mencintai rakyatnya. Suatu hari hujan turun tiada henti sehingga terjadi bencana banjir bah. Karena banjir, sang petapa tidak dapat memperoleh makanan selama tujuh hari. Melihat hal ini, seekor induk kelinci yang dapat merasakan kebajikan sang petapa merasa tergugah dan bertekad mengorbankan tubuhnya untuk dipersembahkan kepada petapa. Tekad sang ibu terdengar oleh anak kelinci, segeralah anak kelinci lebih dulu menerjunkan diri ke dalam kobaran api dan kemudian disusul oleh induk kelinci.
Setelah mengetahui adanya peristiwa pengorbanan dua ekor kelinci ini, Sang petapa tergugah dan menjadi sedih
lalu berkata : “ Lebih baik aku membunuh diriku dan
mengorbankan mataku, aku rela menerima berbagai penderitaan daripada harus menyantap daging sesama makhluk hidup.” Seperti
yang disabdakan Sang Buddha, seorang yang memakan daging, pengamalan cinta kasihnya tidak akan sempurna, pendek umur dan banyak penyakit yang menggerogoti tubuh, tersesat dalam tumimbal lahir, tak bisa mencapai Kebuddhaan. Oleh sebab itu sang petapa menegakkan ikrar,”
Disetiap kelahiranku yang berikutnya, sebetikpun tak terbetik niat membunuh dan memakan daging, menempuh jalan Kebuddhaan mencapai kesucian.” Setelah itu petapa juga melompat ke dalam
api dan wafat. Induk kelinci pada saat itu adalah Buddha Sakyamuni dan anak kelinci adalah Rahula, 500 ekor kelinci adalah 500 murid Sang Buddha, sedangkan petapa adalah Bodhisatva Maitreya.
Hal penting yang tercantum dalam sutra ini adalah, Sang Petapa memuja Maitreya sebagai guru pada setiap kehidupan berikutnya. Ia mencapai Buddha dengan gelar Maitreya. Jadi sesungguhnya Maitreya bukan hanya menunjuk kepada Buddha Maitreya semata, melainkan siapa saja yang membina dalam ajaran maitri karuna dan mencapai Kebuddhaan akan bergelar Maitreya. Maitreya berarti cinta kasih, Cinta kasih adalah kebahagiaan dan kesukacitaan, agar seluruh makhluk hidup dapat berbahagia. Syarat utama adalah tidak melakukan pembunuhan, tidak memakan daging. Ini adalah tugas pokok menjalankan ajaran Maitreya.33
Sutra Pertanyaan tentang Nazar Bodhisatva Maitreya
Hal penting yang disampaikan sutra ini adalah penjelasan perbedaan metode pembinaan Buddha Sakyamuni dengan Buddha Maitreya. Pada masa pembinaan Buddha Sakyamuni, segala yang dimiliki dapat dikorbankan, termasuk istri, anak, organ tubuh, kekuasaan, harta benda ,darah, daging bahkan nyawa sendiri demi mencapai kesadaran sejati. Sedangkan Buddha Maitreya di dalam pembinaannya tidak mengorbankan apapun seperti telinga,hidung, mata, tangan, kaki, nyawa, harta benda, anak, istri, kekuasaan dan lainnya. Melainkan dengan fleksibilitas dan teknik pembinaan yang sukacita hingga mencapai kebenaran tertinggi. Buddha Maitreya pagi hingga malam berpakaian rapi dengan penuh hormat berlutut menghadap 10 penjuru alam dan bersabda :”
Aku bertobat atas segala dosa dan kekhilafan, bertekad membantu semua mekhluk mencapai kesadaran, bersujud dan memohon kepada para Buddha demi mencapai kesempurnaan tertinggi.”
Makna penting dari kitab ini adalah ikrar yang ditegakkan kelak menentukan arah pembinaan. Pembinaan Maitreya yang fleksibel, luwes dan leluasa. Pertama : bertobat, instropeksi ke dalam hati mencari dosa dan kesalahan diri, senantiasa tahu dan mawas akan setiap perbuatan diri barulah bisa menapaki langkah awal pembinaan mencapai kesempurnaan.
Kedua: membantu orang lain. Membantu orang lain
adalah perbuatan yang dapat mengikis ketamakan dalam diri dan melapangkan hati. Bertobat dan menyesali dosa adalah pembinaan yang menyempurnakan kebajikan sendiri. Ini adalah pembinaan yang harus dijalani setiap orang untuk mencapai Bodhisatva. Dalam usaha bertobat dan menyelamatkan orang lain, mungkin tidak akan cukup hanya
mengandalkan kekuatan pribadi, perlu mengandalkan kekuatan para Buddha.
Ketiga adalah bersujud dan menghormati para Buddha,
ini bukan hanya sikap merendahkan hati, lebih-lebih sebagai awal dari menghormati segalanya, segalanya dihormati. Dari menghormati Buddha berkembang hingga dapat menghormati laksa benda, ini adalah satu pribadi serta jiwa yang sangat luhur. Dengan dapat menjalankan ketiga teknik pembinaan Maitreya yaitu bertobat, penyelamatan makhluk, menghormati para Buddha, terakhir akan mencapai kebijaksanaan tiada tara. Maitreya adalah Buddha masa depan. Cara pembinaannya lebih sesuai dengan umat manusia di zaman sekarang ini.34
Sutra Bodhisatva Maitreya Mencapai Surga Tusita
Point penting dalam sutra ini adalah Buddha Sakyamuni bersabda bahwa Ajita (nama Maitreya) kelak akan menjadi Buddha. Ajita seperti manusia pada umumnya, meskipun sebagai bhiksu, namun ia tidak membina dengan meditasi dan pelepasan kilesa. Sang Buddha mengatakan Ajita kelak pasti menjadi Buddha. Maitreya dikenal sebagai Bodhisatva. Didalam sutra juga tertulis untuk menjadi murid Maitreya harus mematuhi lima pantangan, bervegetarian, senantiasa menuntut pembinaan diri dan berbuat kebajikan. Kelak Bodhisatva Maitreya akan menjadi penuntun umat manusia menuju kecemerlangan. Bagi yang melafalkan, mendengarkan dan menghormati Nama Agung Maitreya dapat menghapus laksa kalpa dosa yang tak terhingga.
Inti yang disampaikan kitab ini adalah Maitreya kelak merupakan pengharapan semua makhluk yang ada di dunia. Adalah Buddha akan datang setelah Buddha Sakyamuni. Buddha Maitreya tak hentinya membina dalam setiap kehidupan, hingga mencapai kedudukan suci “Bodhisatva yang menyempurnakan kebajikan” artinya asalkan sekali lagi terlahir kembali, Beliau pasti akan menjadi Buddha. Yang istimewa adalah ciri khas pembinaan Maitreya yang seperti manusia pada umumnya, meskipun menjadi bhiksu namun Beliau tidak membina dengan bermeditasi dan pemutusan kilesa. Namun cara pembinaan yang akan diajarkan Maitreya sangat berbeda, Beliau menekankan pada keuletan membina dalam menjalankan lima pantangan dan mengamalkan 10 kebajikan.
Dengan kata lain fokus pada pembinaan Dharma secara positif dan bukan dengan paksaan dan penyiksaan diri (memutuskan kilesa dan keduniawian). Dengan banyak berbuat bajik, kejahatan akan lenyap dengan sendiri, diibaratkan seperti masuk ke sebuah ruang gelap, namun tidak perlu bertanya bagaimana mengusir kegelapan ? Hanya perlu membuka lampu, kegelapan pun akan hilang dengan sendirinya. Maitreya dengan raga dan kehidupan seperti manusia awam namun pada akhirnya mencapai Kebuddhaan. Ini menunjukkan bahwa meskipun hidup di dunia sebagai manusia awam, namun jika membina diri juga dapat menjadi Buddha.35
35 Lihat lagi booklet DPP Mapanbumi tentang Sutra Buddha Maitreya, 2015
Sutra Kedatangan Maitreya ke Dunia
Sutra ini selain menjelaskan tentang kelahiran Maitreya di dunia, meninggalkan keluarga membina diri hingga mencapai pencerahan di pohon Puspanaga, sutra ini juga menjelaskan hubungan penerusan antara Buddha Sakyamuni dengan Buddha Maitreya. Maitreya adalah Buddha akan datang setelah Buddha Sakyamuni. Keluhuran pencapaian Kebuddhaan Maitreya adalah pembinaannya di setiap kehidupan yang tiada henti. Dharma, ajaran Sang Buddha Sakyamuni baik di masa lalu, sekarang dan akan datang, akan diteruskan Maitreya di setiap kehidupannya. Ajaran Maitreya sangatlah fleksibel dan universal, barang siapa yang melafalkan nama besar Buddha Maitreya, mendengar nama-Nya dan menghormati-Nya dapat menjalin jodoh dharma dengan Buddha Maitreya, dapat disebut sebagai murid cinta kasih atau murid Maitreya.
Sutra Mahasambhava Maitreya
Sutra ini membahas tentang kesadaran akan ketidakkekalan adalah langkah awal membina diri, segala yang ada di dunia suatu hari akan musnah. Dengan menyadari hal ini, baru bisa mengejar hidup yang abadi. Mengubah hidup yang terbatas menjadi hidup yang tidak terbatas. Setiap Pembina perlu mengumpulkan kebajikan di setiap kehidupannya. Mungkin saja pada suatu kehidupan pernah membina sebagai murid Buddha Sakyamuni dan kelak akan terlahir lagi ke dunia membina di zaman Maitreya. Hal ini mengungkapkan bahwa silsilah dharma bersifat berkelanjutan.
Meskipun dalam sutra dikatakan Maitreya baru akan datang ke dunia pada lima milyar tahun lebih mendatang, namun ini hanya mewakili suatu angka, angka menunjukkan adanya batas. Berdasarkan maksud dari Buddha Sakyamuni, Maitreya kelak pasti akan menjadi Buddha di dunia ini, dan terwujudnya bumi suci Maitreya sangat mengandalkan usaha pembinaan manusia dan bukan hanya sekedar menunggu. Jika harus menunggu, lima milyar tahun lebih adalah waktu yang sangat panjang. Asalkan setiap orang berjuang dalam pembinaan ini, bumi suci pun dapat terwujud pada saat sekarang juga. Saat itu, seperti yang disabdakan Buddha Sakyamuni bahwa Buddha Maitreya dapat kita jumpai di dunia.
Maitreya walau masih sebagai Bodhisatva di surga Tusita, namun petunjuk dari Buddha Sakyamuni kelak menjadi Buddha. Sesungguhnya semua Buddha sebelumnya adalah Bodhisatva, setiap Bodhisatva harus melalui pembinaan berkali-kali kehidupan untuk dapat mencapai tingkat Kebuddhaan. Sutra ini tidak berpanjang lebar menjelaskan asal mula dan perkembangan keyakinan terhadap Maitreya. Yang menjadi fokus adalah perjuangan pembinaan Buddha Maitreya.36
Bhakti Puja
Banyak orang sering menyebutkan secara keliru bahwa umat buddha melakukan sembahyang di vihara. Untuk itu, sebaiknya harus dimengerti terlebih dahulu istilah sembahyang yang sebenarnya terdiri dari dua suku kata yaitu
36 Lihat lagi booklet DPP Mapanbumi tentang Sutra Buddha Maitreya, 2015
sembah berarti menghormat dan hyang yaitu dewa. Dengan demikian, sembahyang berarti menghormat, menyembah para dewa. Apabila sembahyang diartikan seperti itu, maka umat buddha sesungguhnya tidak melakukan sembahyang. Umat buddha bukanlah umat yang menghormat maupun menyembah para dewa. Umat buddha mengakui keberadaan para dewa dewi di surga, namun umat tidak sembahyang kepada mereka. Umat Buddha juga tidak berdoa karena istilah ini mempunyai pengertian ada permintaan yang disebutkan ketika seseorang sedang berdoa. Umat Buddha tentu saja tidak pernah meminta kepada arca sang Buddha maupun kepada pihak lain. Keterangan ini jelas menegaskan bahwa umat Buddha bukanlah penyembah berhala karena memang tidak pernah meminta-minta apapun juga kepada arca sang Buddha, arca yang lain bahkan kekuatan di luar manusia lainnya. Daripada disebut sembahyang maupun doa, umat Buddha lebih sesuai dinyatakan sedang melakukan puja bakti. Istilah puja bakti ini terdiri dari kata puja yang bermakna menghormat dan bakti yang lebih diartikan sebagai melaksanakan ajaran sang buddha dalam kehidupan sehari-hari.37
Dalam melakukan puja bakti, umat Buddha melaksanakan tradisi yang telah berlangsung sejak jaman sang Buddha masih hidup yaitu umat datang, masuk ke ruang penghormatan dengan tenang, melakukan namakara atau bersujud yang bertujuan untuk menghormat kepada lambang sang buddha, jadi bukan menyembah patung atau berhala. Kebiasaan bersujud ini dilakukan karena sang Buddha berasal dari India. Sudah menjadi tradisi sejak jaman dahulu di berbagai negara timur termasuk India bahwa ketika seseorang
bertemu dengan mereka yang dihormati, maka ia akan melakukan sujud yaitu menempelkan dahi ke lantai sebagai tanda menghormati mereka yang layak dihormati dan menunjukkan upaya untuk mengurangi keakuan sendiri.
Karena bersujud di depan altar ataupun arca Sang Buddha hanyalah bagian dari tradisi, maka para umat dan simpatisan boleh saja tidak melakukannya apabila batinnya tidak berkenan untuk melakukan tindakan itu. Tidak masalah, karena sebentuk arca tidak mungkin menuntut dan memaksa seseorang yang berada di depannya untuk bersujud. Namun, dengan mampu bersujud, maka seseorang akan mempunyai kesempatan lebih besar untuk berbuat baik dengan badannya. Ia belajar bersikap rendah hati. Setelah memasuki ruangan dan bersujud, umat Buddha dapat duduk bersila di tempat yang telah disediakan. Umat kemudian secara sendiri atau bersama-sama dengan umat yang ada dalam ruangan tersebut membaca paritta yaitu mengulang kotbah sang Buddha. Diharapkan dengan pengulangan kotbah sang Buddha, umat mempunyai kesempatan untuk merenungkan isi uraian
Dhamma sang Buddha serta berusaha melaksanakannya dalam
kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, semakin lama seseorang mengenal Dhamma, semakin banyak ia melakukan puja bakti, semakin banyak kotbah sang Buddha yang diulang, maka sudah seharusnya ia semakin baik pula dalam tindakan, ucapan maupun pola pikirnya.
Salah satu contoh yang paling mudah ditemukan adalah kebiasaan umat membaca Karaniyametta Sutta di vihara. Sutta atau kotbah sang Buddha ini berisikan cara memancarkan pikiran penuh cinta kasih kepada semua mahluk di setiap waktu, ketika seseorang sedang berdiri, berjalan, berbaring, berdiam selagi ia tidak tidur. Diharapkan,
dengan sering membaca sutta tersebut seseorang akan selalu berusaha memancarkan pikiran cinta kasih kepada lingkungannya. Ia hendaknya menjadi orang yang lebih sabar dari sebelumnya. Disebutkan pula dalam salah satu bait sutta tersebut bahwa jangan karena marah dan benci mengharapkan orang lain celaka. Pengertian baris cinta kasih ini sungguh sangat mendalam dan layak dilaksanakan. Dengan mampu melaksanakan satu baris ini saja dalam kehidupan, maka batin seseorang akan menjadi lebih tenang dan bahagia walaupun berjumpa dengan kondisi yang tidak sesuai keinginannya. Ia akan menjadi orang yang mampu mengendalikan dirinya. Dengan demikian, setiap kali ia hadir dan berkumpul maka ia akan selalu membawa kebahagiaan untuk lingkungannya.
Itulah makna sesungguhnya dari pengertian puja bakti yaitu menghormat dan melaksanakan ajaran sang Buddha. Sekali lagi, umat Buddha tidak berdoa, juga tidak sembahyang. Namun, sebagai manusia biasa, adalah wajar apabila umat Buddha mempunyai keinginan atau permintaan, misalnya ingin banyak rejeki, ingin kaya dan sebagainya. Jika demikian, bagaimanakah yang dilakukan oleh umat Buddha agar keinginan atau harapan yang ia miliki tersebut dapat tercapai? Untuk mencapai keinginan yang dimiliki, secara tradisi umat Buddha disarankan untuk melakukan kebajikan terlebih dahulu dengan badan, ucapan dan juga pikiran. Setelah berbuat kebajikan, ia dapat mengarahkan kebajikan yang telah dilakukan tersebut agar memberikan kebahagiaan seperti yang diharapkan.38
Berdoa Bukan Meminta
Doa yang paling sering kita dengar adalah berbagai jenis permohonan. Kalaupun mengandung pujian, biasanya diikuti dengan permintaan. Ketika menghadapi penderitaan, kesulitan dan ketakutan, banyak orang berdoa meminta pertolongan. Seperti dalam mite rahu, sang surya berdoa saat gerhana matahari. Doa dalam mora parita juga memohon pertolongan dan perlindungan. Ini tidak salah, tetapi sembahyang atau doa saja tidak cukup untuk memecahkan masalah. Kepada anathapindika, Buddha pernah mengemukakan bahwa kebanyakan orang mendambakan panjang usia, kecantikan, kebahagiaan, kehormatan dan alam surga. Kelima hal itu tidaklah tercapai hanya dengan berdoa. Untuk mencapai apa yang diinginkan janganlah bergantung pada doa atau bersikap pasrah tak berdaya, tapi ia harus berusaha menempuh jalan kearah itu. Setiap orang dapat merubah nasibnya dengan berusaha melakukan apa yang terbaik. Sehari-hari dapat kita lihat orang yang meminta agar keinginannya dipenuhi orang lain bersikap merendah atau juga menjilat hingga menyogok, atau menuntut. Jika doa diartikan meminta, dan ternyata yang dihaaprkan sesorang tidak terkabul, mungkin timbul kemudian rasa jengkel dan kecewa. Bagi seorang buddhis, rahmat dan berkah tuhan, kasih Buddha, perlindungan tritana tidak hanya bagi orang yang meminta. Tanpa meminta, apa yang diharapkan pasti akan datang pada waktunya sebagai buah dari perbuatan (karma). Karena itu orang berdoa seraya mawas diri, Buddha selalu melindungi, dan Buddha selalu memancarkan kasih sayangnya yang tidak terbatas.
Contoh doa dalam syair shanti deva (abad ke 7)
Semoga aku menjadi penawar rasa sakit bagi semua makhluk Semoga aku menjadi dokter dan perawat bagi semua orang sakit Semoga aku dapat memberi makan dan minum semua yang menderita lapar dan kehausan
Semoga aku menjadi mestika yang tak ternilai bagi orang-orang miskin
Smoga aku menjadi pembela bagi mereka yang dicampakan terlantar dipinggir jalan
Semoga aku menjadi perahu dan titian bagi mereka yang merindukan pantai sebrang
Semoga aku menjadi elita penerang bagi mereka yang tersesat jalan.
Shanti deva tidak berdoa agar menjadi kaya, tatapi apa yang diharapkannya jelas tidak akan tercapai tanpa kekayaan. Doanya bukan meminta, malah menunjukan untuk bisa memberi.39
Parrita dan Mantra
Parrita adalah bacaan perlindungan yang dalam pengertian sekarang disamakan dengan doa. Pembacaan parita bermula dari petunjuk Buddha kepada siswanya untuk mengucapkan bacaan tertentu agar terhindar dari kesulitan atau telindung dari kejahatan. Misalnya angulimala parrita yang dibacakan menjelang suatu persalinan. Berasal dari formula pernyataan kebenaran dan doa agar ibu dan bayiny selamat, yang diajarkan oleh Buddha Gautama kepada Angulimala untuk menolong perempuan yang menghadapi
kesukaran melahirkan. Selanjutnya adalah mantra. Mantra adalah rumusan mistis suku-suku kata yang dipandang suci dan mengandung kekuatan gaib. Pada mulanya sebuah sutra panjang diringkas menjadi beberapa bait kalimat yang disebut hrdaya (ikhtisar). Hrdaya ini diringkas menjadi dharani yang hanya terdiri dari satu atau dua baris kalimat, yang selanjutnya diringkas lagi menjadi mantra yang terdiri dari beberapa suku kata.
Konsep mantra berkembang dari keyakinan agar kegunaan suara (sabda) sebagai sumber suatu kekuatan atau bahkan sebagai kekuatan itu sendiri memiliki pengaruh kuat terhadap diri manusia dan alam semesta. Agar mantra menjadi efektif setelah dibaca berulang-ulang dengan mulut atau dengan hati, ia harus dibangkitkan didalam kesadaran seorang melalui integrasi psikofisik dan meditasi mendalam, karena tanpa begitu, mantra tidak memiliki kekuatan.40
Persembahan
Berdoa (bhakti puja) dapat dilakukan secara pribadi atau bersama. Dalam suatu upacara, berdoa dapat dilakukan dengan ataupun tanpa mempersembahkan sajian. Untuk melakukan upacara persembahan karena buddha dan boddhisattwa memerlukan persembahan itu. Tidak juga suatu persembahan dimaksudkan untuk mengambil hati mereka. Memberi persembahan bukan keharusan, tetapi biasanya dilakukan sebagai cara untuk mengembangkan potensi batin dan melatih pikiran kita. Lewat persembahan kita mengikis egoisme, melenyapkan kemelekatan dan kekikiran. Kita membiasakan untuk memberi apa yang terbaik dengan
terimakasih yang tulus, gembira berbagi, tanpa merasa kehilangan. Para Buddha dan Boddhisattwa menerima persembahan tanpa membawa pergi.Setiap sajian yang dipersembahkan memiliki makna simbolik. Pelita atau lilin melambangkan penerangan, menghapus saput kegelapan dan ketidaktahuan. Air selain membersihkan juga melambangkan kerendahan hati. Dupa yang harum dengan asap membumbung keatas mengingatkan kepada harumnya nama baik dan kebajikan menyebar kemana-mana hingga ke surga. Bunga mengingatkan ketidak kekalan sehingga kita terdorong untuk mencapai kebebasan.41
Ajaran Buddha Maitreya Tentang Penciptaan Alam Penciptaan Manusia.
Manusia, menurut ajaran Budha, adalah kumpulan dari kelompok energi fisik dan mental yang selalu dalam keadaan bergerak, yang disebut Pancakhanda atau lima kelompok kegemaran yaitu: Rupakhandha (kegemaran akan wujud atau bentuk), adalah semua yang terdapat dalam makhluk yang masih berbentuk (unsur dasar) yang dapat diserap dan dibayangkan oleh indra. Yang termasuk Rupakhandha adalah hal-hal yang berhubungan dengan lima indra dengan obyek seperti bentuk yang terlihat, terdengar, terasa, tercium ataupun tersentuh. Vedanakhandha (kegemaran akan perasaan), adalah semua perasaan yang timbul karena adanya hubungan lima indra manusia dengan dunia luar. Baik perasaan senang, susah ataupun netral. Sannakhandha, adalah kegemaran akan
41 http://hindubudhadiindonesia.blogspot.com/2014/06/resume-ke-1-hindu-dan-budha-di-indonesia.html, diunduh 20 Agutus 2015. Dijelaskan
penyerapan yang menyangkut itensitas indra dalam menanggapi rangsangan dari luar yang menyangkut enam macam penyerapan indrawi seperti bentuk-bentuk suara, bau-bauan, cita rasa, sentuhan jasmaniah dan pikiran.
Shankharakhandha adalah kegemaran bentuk-bentuk pikiran.
Bentuk-bentuk pikiran disini ada 50 macam, seperti lobha (keserakahan), chanda (keinginan), sadha (keyakinan), viriya (kemauan keras) dan sebagainya. Vinnanakhandha (kegemaran akan kesadaran) adalah kegemaran terhadap reaksi atau jawaban yang berdasarkan pada salah satu dari keenam indra dengan obyek dari indra yang bersangkutan. Kesadaran mata misalnya, mempunyai mata sebagai dasar dan sasaran benda-benda yang dapat dilihat. Kesadaran tersebut mengarah pada yang buruk, yang baik atau netral. Kelima Kandha tersebut sering diringkas menjadi dua yaitu nama dan rupa. Nama adalah kumpulan dari perasaan, pikiran, penyerapan dan perasaan, yang dapat digolongkan sebagai unsur-unsur rohaniah. Rupa adalah badan jasmaniah yang terdiri dari empat unsur materi, yaitu unsur tanah, air, api dan udara.
Pemikiran tentang manusia dalam agama Budha adalah unik, yaitu karena penyangkalannya terhadap adanya roh atau atma yang kekal abadi dalam diri manusia. Manusia dianggap merupakan kumpulan dari lima Kandha tanpa adanya roh atau atma di dalamnya. Anatma merupakan ajaran yang mengatakan bahwa tiada aku yang kekal atau tetap. Bila roh yang dianggap sebagai inti manusia itu bersifat langgeng, maka tak akan terjadi suatu perkembangan ataupun