• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 9 Tahap Penanganan Gi zi Dar ur at

Dalam dokumen Buku pedoman teknis pkk ab (Halaman 136-159)

Tahapan di dalam penanganan gizi darurat , ant ara lain:

1 . Fa se per t a m a ( fa se I ) adalah saat :

Pengungsi baru t erkena bencana.

Pet ugas belum sem pat m engident ifikasi pengungsi

secara lengkap.

Belum ada perencanaan pem berian m akanan t erinci

sehingga sem ua golongan um ur m enerim a bahan m akanan yang sam a.

Khusus unt uk bayi dan badut a harus t et ap diberikan

123

Fase ini m aksim um sam pai dengan hari ke- 5, Fase ini bert uj uan m em berikan m akanan kepada m asyarakat agar t idak lapar. Sasarannya adalah seluruh pengungsi, dengan kegiat an:

Pem berian m akanan j adi dalam wakt u sesingkat

m ungkin.

Pendat aan awal: j um lah pengungsi, j enis kelam in, golongan um ur.

Penyelenggaraan da pur u m u m ( m erujuk ke

Depsos) , dengan st andar m inim al.

2 . Fa se k e du a ( fa se I I) adalah:

Pengungsi sudah lebih dari 5 hari berm ukim di

t em pat pengungsian.

Sudah ada gam baran keadaan um um pengungsi

( j um lah, golongan um ur, j enis kelam in, keadaan lingkungan dan sebagainya) , sehingga perencanaan pem berian bahan m akanan sudah lebih t erinci.

Penyediaan bahan m akanan disesuaikan kebut uhan

kelom pok rawan.

Sasaran pada fase ini adalah se lu ru h pen gu n gsi

dengan kegiat an:

Pengum pulan dan pengolahan dat a dasar st at us gizi.

Menent ukan st rat egi int ervensi berdasarkan analisis st at us gizi.

Menent ukan st rat egi int ervensi berdasarkan analisis st at us gizi.

Merencanakan kebut uhan pangan unt uk

suplem ent asi gizi.

Menyediakan Paket Bant uan Pangan ( ransum ) yang

cukup m elalui koordinasi dengan sekt or t erkait , yang m udah di k onsum si oleh sem ua golongan um ur dengan syarat m inim al. Set iap orang diperhit ungkan

124

m enerim a ransum senilai 2 .1 0 0 Kk a l, 4 0 gr a m le m a k da n 5 0 gr a m pr ote in pe r h a r i.

a. Diusahakan m em berikan pangan sesuai dengan kebiasaan dan ket ersediaan set em pat , m udah diangkut , disim pan dan didist ribusikan.

b. Harus m em enuhi kebut uhan vit am in dan m ineral.

c. Mendist ribusikan ransum sam pai dit et apkan-nya j enis int ervensi gizi berdasarkan hasil dat a dasar ( m aksim um 2 m inggu) .

d. Mem berikan penyuluhan kepada pengungsi

t ent ang kebut uhan gizi dan cara pengolahan

bahan m akanan m asing-m asing anggot a

keluarga.

3 . Fa se k e t iga ( fa se I I I ) adalah:

Tahap ini dim ulai selam bat - lam bat nya pada hari ke- 20 di t em pat pengungsian. Kegiat an t ahap ini bert uj uan unt uk m enanggulangi m asalah gizi m elalui int ervensi sesuai t ingkat kedarurat an gizi.

Ke gia t a n

Melakukan penapisan (screening) bila prevalensi gizi kurang balit a 10 - 14,9% at au 5- 9,9% yang disert ai dengan fakt or pem buruk.

Menyelenggarakan pem berian m akanan t am bah- an

sesuai dengan j enis int ervensi yang t elah dit et apkan pada t ahap 1 fase I I .

Melakukan penyuluhan baik perorangan atau kelompok

dengan m at eri penyuluhan sesuai dengan but ir b.

Mem ant au perkem bangan st at us gizi m elalui

125

Melakukan m odifikasi/ perbaikan int ervensi sesuai

dengan perubahan t ingkat kedarurat an:

a. Jika prevalensi gizi kurang > 15% at au 10- 14,9% dengan fakt or pem buruk, diberikan paket pangan dengan st andar m inim al per orang per hari ( ransum ) , dan diberikan PMT darurat unt uk balit a, ibu ham il, ibu m enet eki dan lansia; sert a PMT t erapi bagi penderit a gizi buruk.

b. Jika prevalensi giz i k u r a n g 1 0 - 1 4 ,9 % a t a u 5 - 9 ,9 % de n gan fa k t or pe m bu ru k diberikan PMT darurat t erbat as pada balit a, ibu ham il, ibu m enet eki dan lansia yang kurang gizi sert a PMT t erapi kepada penderit a gizi buruk.

c. Jika prevalensi giz i k u r an g < 1 0 % t a n pa fa k t or pe m bu ru k a t a u < 5 % de n ga n fa k - tor pe m bu r u k m aka dilakukan penanganan

penderit a gizi kurang m elalui pelayanan

126

Gambar 14. Tahapan penanganan gizi darurat

Tahap Penyelamatan Dimulai Dapur Umum Dihentikan, Diganti dengan Ransum

Fase II

(Surveilans: Pengumpulan Data Dasar Gizi) (Maksimum 14 Hari)

Data Dasar Status Gizi dan Penyakit Pengungsi Selesai Dianalisis Fase III

Pengungsi Tiba di Lokasi (Surveilans: Registrasi Pengungsi)

Fase I (Maksimum 5 Hari) Darurat :  Ransum  PMT Darurat  PMT Terapi Perlu Diperhatikan:  PMT Darurat Terbatas  PMT Terapi Normal Tidak Perlu Intervensi

Khusus (melalui Pelayanan Rutin)

Surveilans: Pemantauan dan Evaluasi Surveilans: Penapisan Gizi Buruk Surveilans: Penapisan Gizi Kurang dan Gizi Buruk Prevalensi Gizi Kurang (BB/TB) ≥15% atau Prevalensi Gizi Kurang (BB/TB) 10-14,9% disertai Faktor Pemburuk Prevalensi Gizi Kurang (BB/TB) 10 – 14,9% atau Prevalensi Gizi Kurang (BB/TB) <10% disertai Pemburuk Prevalensi Gizi Kurang (BB/TB) 5-9,9% atau Prevalensi Gizi Kurang (BB/TB) <5% disertai Faktor Pemburuk

127 4. 9. 1. Penanganan Gi zi Dar ur at pada Kel ompok Rawan

a. Bayi dan Anak Usia <2 Tahun (Badut a)

Dalam keadaan darurat bayi dan anak badut a m erupakan kelom pok yang paling rawan dan m em erlu- kan penanganan khusus agar t erhindar dari kesakit an dan kem at ian. Pola pem berian m akanan yang t erbaik bagi bayi dan anak um ur di bawah 2 t ahun adalah:

1. Mem berikan Air Susu I bu ( ASI ) segera set elah lahir dalam wakt u ½ - 1 j am pert am a.

2. Mem berikan hanya ASI saj a sej ak lahir sam pai usia 6 bulan (ASI eksklusif) .

3. Mem berikan Makanan Pendam ping ASI ( MP- ASI ) pada bayi m ulai um ur 6 bulan sam pai um ur 2 t ahun.

4. Tet ap m em berikan ASI sam pai anak berum ur 2 t ahun at au lebih.

5. Unt uk bayi dan badut a diberikan suplem ent asi kapsul vit am in A dengan dosis 100.000 I U unt uk bayi um ur 6 - 11 bulan dan dosis 200.000 I U unt uk anak 1- 5 t ahun.

Dalam sit uasi darurat pem berian m akanan bayi dan badut a perlu diperhat ikan:

1. Menyusui sangat pent ing karena t erbat asnya sarana air bersih, bahan bakar dan kesinam bungan ket ersediaan susu form ula dalam j um lah yang m em adai.

2. Su su for m u la t ida k dipe r k en a n k an dibe r ik a n k e pa da ba yi kecuali kepada bayi piat u, bayi t erpisah dari ibunya, ibu bayi dalam keadaan sakit berat .

3. Pada keadaan sangat m em erlukan susu form ula

diberikan secara t erbat as dan m engikut i ket ent uan:

Hanya diberikan dengan pengawasan pet ugas

kesehat an.

Diberikan dengan cangkir at au gelas karena m udah

dibersihkan. Bot ol dan dot t idak dianj urkan karena sulit dibersihkan dan m udah t erkont am inasi.

128

Bersifat sem ent ara sam pai ibu bisa m enyusui

kem bali, oleh karena it u relakt asi (m enyusui

kem bali) harus diupayakan sesegera m ungkin.

4. Sum bangan susu form ula harus :

Diberikan at as perset ujuan Kepala Dinas Kesehat an

set em pat (sesuai dengan Kepm enkes RI No:

237/ MENKES/ SK/ I V/ 1997 t ent ang pem a-saran

Penggant i Air Susu I bu, yang akan diperbaharui m enj adi PP) .

Mem enuhi st andar Codex Alim ent arius.

Mem punyai label yang j elas t ent ang cara penyaj ian dalam bahasa yang dim engert i oleh ibu, pengasuh at au keluarga.

Mem punyai m asa kadaluarsa sekurang- kurangnya 1

t ahun t erhit ung sej ak t anggal didist ribusikan oleh produsen.

Disert ai dengan air m inum dalam kem asan ( AMDK) .

5. Susu bubuk skim t idak boleh diberikan kepada bayi.

MP- ASI hanya boleh diberikan set elah bayi berum ur 6 bulan. Pem berian MP-ASI m em enuhi ket ent uan sebagai berikut :

1. Sebaiknya berdasarkan bahan lokal, m enggunakan peralat an m akan yang higienis.

2. Mudah dim akan, m udah dicerna dan penyiapannya higienis.

3. Sesuai dengan um ur dan kebut uhan bayi.

4. Mengandung zat gizi sesuai kecukupan gizi yang dianjurkan.

129

b. Makanan Anak Usia 2 - 5 Tahun

Hal-hal yang perlu diperhat ikan dalam pem berian m akanan unt uk anak usia 2 – 3 t ahun, ant ara lain:

1. Makanan ut am a yang diberikan adalah berasal dari

makanan keluarga, yang tinggi energi, vitam in dan mineral.

2. Bant uan pangan yang dapat diberikan berupa m akanan

pokok, kacang-kacangan dan m inyak sayur.

3. Khusus pada anak yang m enderit a gizi kurang at au anak

gizi buruk pada fase t indak lanjut ( set elah perawat an) perlu diberikan m akanan t am bahan, sepert i m akanan j aj anan, dengan nilai zat gizi: Energi 350 kkal dan Prot ein 15 g per hari.

c. Makanan Ibu Hamil dan Menyusui

I bu ham il dan m enyusui m em erlukan t am bahan zat gizi. I bu ham il perlu penam bahan energi 300 Kal dan Prot ein 17 gram , sedangkan ibu m enyusui perlu t am bahan Energi 500 Kal dan Prot ein 17 gram .

Suplem ent asi vit am in dan m ineral unt uk ibu ham il adalah Fe 1 t ablet set iap hari. Khusus ibu nifas ( 0- 42 hari) diberikan 2 kapsul vit am in A dosis 200.000 I U, yait u 1 kapsul pada hari pert am a, dan 1 kapsul pada hari berikut nya ( selang wakt u m inim al 24 j am ) . Pem berian vit am in dan m ineral dilakukan oleh pet ugas kesehat an.

d. Makanan Usia Lanj ut

Kebut uhan energi pada usia lanj ut pada um um nya sudah m enurun, t et api kebut uhan vit am in dan m ineral t idak. Oleh karena it u diperlukan m akanan porsi kecil t et api padat gizi.

Dalam pem berian m akanan pada orang t ua harus

m em perhat ikan fakt or psikologis dan fisiologis agar

m akanan yang disajikan dapat dikonsum si habis. Selain it u, m akanan yang diberikan m udah dicerna sert a m engandung

130

vit am in dan m ineral cukup. Dalam sit uasi yang

m em ungkinkan usila dapat diberikan ble n de d food berupa bubur at au biskuit .

5.

PENANGANAN KESEHATAN JIWA

Fase- fase di dalam penanganan kedarurat an akut , ant ara lain:

1 . Fa se k e da ru r a t an a k u t

I nt ervensi m asalah psikososial dini dilakukan

bersam a dengan t im lain yang t erkait dim ulai set elah 48 j am kej adian bencana.

I nt ervensi kesehat an j iwa :

a. Menangani keluhan psikiat rik yang m endesak ( m isalnya keadaan yang m em bahayakan diri sendiri at au orang lain, psikosis, depresi berat , m ania, epilepsi) di pos kesehat an.

b. Melaksanakan prinsip 'pert olongan pert am a pada kelainan psikologik akut ' yait u, m endengarkan, m enyat akan keprihat inan, m enilai kebut uhan, t idak m em aksa berbicara, m enyediakan at au m engerahkan pendam ping dari keluarga at au orang yang dekat , m elindungi dari cedera lebih lanj ut .

c. Tidak dianjurkan unt uk m em aksa orang unt uk berbagi pengalam an pribadi m elebihi yang akan dilakukan secara alam i.

2 . Fa se r e kon solida si

Melanjut kan int ervensi sosial yang relevan

Mengorganisasi kegiat an psikoedukasi yang

m enj angkau ke m asyarakat unt uk m em beri

pendidikan t ent ang ket ersediaan pilihan pelayanan kesehat an j iwa. Dilakukan t idak lebih awal dari em pat m inggu set elah fase akut , beri penj elasan dengan hat i- hat i t ent ang perbedaan psikopat ologi

131

dan dist res psikologik norm al, dengan m enghindari

sugest i adanya psikopat ologi yang luas dan

m enghindari ist ilah at au idiom yang m em bawa st igm a.

Mendorong dilakukannya cara coping m echanism

yang posit if yang sudah ada sebelum nya. I nform asi it u harus m enekankan harapan t erj adinya pem ulihan alam iah.

Melat ih pet ugas kem anusiaan lain dan pem uka

m asyarakat ( m isalnya kepala desa, guru dll.) dalam ket ram pilan int i perawat an psikologik ( sepert i

'pert olongan pert am a psikologik', dukungan

em osional, m enyediakan inform asi, penent eram an yang sim pat ik, pengenalan m asalah kesehat an m ent al ut am a) unt uk m eningkat kan pem aham an dan dukungan m asyarakat dan unt uk m eruj uk orang ke puskesm as j ika diperlukan.

Melat ih dan m ensupervisi pet ugas pelayanan

kesehat an dasar dalam penget ahuan dan

ket ram pilan dasar kesehat an j iwa (m isalnya

pem berian m edikasi psikot ropik yang t epat ,

“ pert olongan pert am a psikologi” , konseling suport if, bekerj a bersam a keluarga, m encegah bunuh diri, penat alaksanaan keluhan som at ik yang t ak dapat dij elaskan, m asalah penggunaan zat dan ruj ukan) .

Menj am in kesinam bungan m edikasi pasien psikiat rik yang m ungkin t idak m em punyai akses t erhadap m edikasi selam a fase kedarurat an akut .

Melat ih dan m ensupervisi pet ugas m asyarakat

( m isalnya pet ugas bant uan, konselor) unt uk

m em bant u pet ugas Pelayanan kesehat an dasar yang beban kerj anya berat . Pet ugas m asyarakat dapat

t erdiri dari relawan, paraprofesional, at au

profesional, t ergant ung keadaan. Pet ugas

m asyarakat perlu dilat ih dan disupervisi dengan baik dalam berbagai ket ram pilan int i: penilaian persepsi individual, keluarga dan kelom pok t ent ang m asalah

132

m enyediakan dukungan em osional, konseling

perkabungan ( grief counseling) , m anaj em en st res,

'konseling pem ecahan m asalah', m em obilisasi

sum ber daya keluarga dan m asyarakat sert a ruj ukan.

Bekerj a sam a dengan penyem buh t radisional

( t radit ional healers) jika m ungkin. Dalam beberapa keadaan, dim ungkinkan kerj a sam a ant ara prakt isi t radisional dan kedokt eran.

5. 1. Int er vensi Psi kososi al Or ang yang Ter kena Bencana

Berikut langkah- langkah int ervensi psikososial t erhadap m ereka yang t erkena bencana.

Selam a fase em ergensi (3 m inggu pert am a)

Menyediakan inform asi yang sederhana dan m udah

diakses pada daerah yang banyak j enazah

Tidak m engecilkan art i dari upacara pengurusan j enazah

Menyediakan pencarian keluarga unt uk yang t inggal

sendiri, orang lanj ut usia dan kelom pok rent an lainnya

Menganjurkan m ereka m em bent uk kelom pok-kelom pok

sepert i, keagam aan, rit ual dan sosio keagam aan lainnya

Menganjurkan anggot a t im lapangan unt uk secara akif

berpart isipasi selam a m asa duka cit a

Menganjurkan kegiat an berm ain unt uk anak

Mem berikan inform asi t ent ang reaksi psikologi norm al yang t erj adi set elah bencana. Yakinkan m ereka bahwa ini adalah NORMAL, SEMENTARA, dan DAPAT HI LANG DENGAN SENDI RI NYA, dan SEMUA AKAN MERASAKAN HAL YANG SAMA

Tokoh agam a, guru dan t okoh sosial lainnya harus

t erlibat secara akt if

Menganjurkan m ereka unt uk bekerj a bersam a- sam a

m enj aga apa yang m ereka but uhkan

133

Mot ivasi t okoh m asyarakat and t okoh kunci lainnya

unt uk m engaj ak m ereka dalam diskusi kelom pok dan berbagi t ent ang perasaan m ereka

Jam in dist ribusi bant uan secara t epat

Sediakan layanan “ cara penyem buhan” yang dengan

orang dan m em perlihat kan sikap peduli t erhadap set iap orang (m isalnya, kelem ahan at au m inorit as) dari m asyarakat

5. 2. Reaksi Psi kol ogi s Masyar akat yang Ter kena Bencana

Reaksi psikologis yang t im bul pada m asyarakat yang t ert im pa bencana, ant ara lain:

1 . Re a k si se ge r a ( da la m 2 4 j a m )

Tegang, cem as dan panik

Kaget , linglung, syok, t idak percaya

Gelisah, bingung

Agit asi, m enangis, m enarik diri

Rasa bersalah pada korban yang selam at

Reaksi ini t am pak ham pir pada set iap orang di daerah

bencana dan ini dipert im bangkan sebagai Reaksi

Alam iah pada Sit uasi Abnorm al, TI DAK m em but uhkan int ervensi psikologis khusus.

2 . Re a k si t er j a di da la m h ar i sa m pa i m in ggu se t e la h be n can a

Ket akut an, waspada, siaga berlebihan

Mudah t ersinggung, m arah, t idak bisa t idur

Khawat ir, sangat sedih

Flashbacks berulang ( ingat an t erhadap perist iwa yang selalu dat ang berulang dalam pikiran)

134

Menangis, rasa bersalah

Kesedihan

Reaksi posit if t erm asuk pikiran t erhadap m asa depan

Menerim a bencana sebagai suat u Takdir

Sem ua it u adalah r eaksi alam iah Dan H AN YA

m em but uhkan int ervensi psikososial.

3 . Te r j a di k ir a - k ir a 3 m in ggu se t e lah be n can a

Reaksi yang sebelum nya ada dapat m enet ap dengan gej ala sepert i:

Gelisah

Perasaan panik

Kesedihan yang m endalam dan berlanj ut , pikiran

pesim ist ik yang t idak realist ik

Tidak m elakukan akt ivit as keluar, isolasi, perilaku m enarik diri

Ansiet as at au kecem asan dengan m anifest asi gej ala fiisk sepert i palpit asi, pusing, m ual, lelah, sakit kepala

Reaksi ini TI DAK PERLU diperhit ungkan sebagai

gangguan jiwa. Gej ala ini dapat diat asi oleh t okoh m asyarakat yang t elah dilat ih agar m am pu m em berikan int ervensi psikologik dasar.

Respons dari orang- orang yang t erkena bencana dibagi at as 3 kat egori ut am a:

 Respon psikologis norm al, t idak m em but uhkan int evensi khusus

 Respon psikologis disebabkan dist res at au disfungsi

sesaat , m em but uhkan bant uan pert am a psikososial (psychological first aid)

 Dist ress at au disfungsi berat yang m em but uhkan

135 Copin g sk ills ya n g SEH AT, ant ara lain:

 Kem am puan unt uk m enghadapi sendiri m asalah dengan

cepat

 Tepat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiat an

 Tepat m enggunakan bant uan

 Tepat m engekpresikan em osi yang m enyakit kan

 Toleransi t erhadap ket idak j elasan t anpa m em ilih

perilaku agresif

5. 3. Gangguan Jiwa

Sem ent ara it u, gangguan j iwa yang sering t am pak set elah bencana, ant ara lain:

 Reaksi st res akut

 Kehilangan dan Berduka

 Gangguan j iwa yang dapat diagnosis

a. Depresi ( vs kesedihan) b. Gangguan cem as ( vs cem as) c. Gangguan penyesuaian d. Gangguan som at oform

 Penyalahgunaan zat dan alkohol

 Gangguan st res pasca t raum a (Post -t raum at ic st ress disorder ( PTSD))

 Kam buh/ relaps gangguan j iwa yang sudah ada

 Penyakit psikosom at ik

Gej ala psikologis hanya dapat dinyat akan bila m em enuhi krit eria dibawah ini:

 Gej ala hebat dan m enunj ukkan gangguan yang

berm akna pada fungsi sosial dan pekerj aan.

 Gej ala m enet ap selam a beberapa m inggu (4–6 m inggu) ( kecuali psikosis dim ana cukup sat u m inggu bila ada gej ala sudah dapat dit egakkan diagnosis)

136

5. 4. Gangguan Depresi

Gangguan depresi yang dialam i oleh m asyarakat yang t ert im pa bencana, ant ara lain:

 Suasana hat i (m ood) yang depresif: perasaan sedih,

m enderit a, m udah t ersinggung at au gelisah

 Kehilangan m inat dan rasa senang

 Berkurangnya t enaga, m udah lelah, m enurunnya

akt ivit as

 Menurunnya konsent rasi dan perhat ian t erhadap t ugas

 Berkurangnya rasa percaya diri dan rendahnya harga

diri

 Rasa bersalah dan rasa t idak berguna

 Pandangan suram dan pesism ist ik t erhadap m asa depan

 Merusak diri at au usaha bunuh diri

 Gangguan t idur

 Berkurangnya libido dan nafsu m akan

Terapi farm akologi unt uk m engat asi gangguan depresi, ant ara lain:

Select ive Serot onin Reupt ake I nhibit or ( Fluoxet ine: 20 – 40 m g/ hari)

 I m ipram ine (150 – 250 m g/ hari) . Saat ini kurang disukai karena efek sam pingnya

 Mulailah sem ua obat dengan dosis rendah dan

t ingkat kan secara bert ahap set elah 7- 10 hari

 Lanj ut kan pem berian ant idepresan selam a 6–8 m inggu

 Bila respons m asih kurang naikkan dosis

 Bila pasien m em perlihat kan hasil yang baik lanj ut kan pengobat an sam pai 6–9 bulan

 Turunkan dosis obat set elah 4–6 m inggu sesudah

137

5. 5. Gangguan Cemas

Gangguan cem as yang m uncul, ant ara lain:

 Ansiet as biasanya t am pak dengan gej ala som at ik,

kognit if dan em osional

 Gangguan ansiet as t erm asuk Gangguan Cem as

Menyeluruh Gangguan Panik, Fobia sosial dan spesifik, Gangguan st res pasca t raum a ( post t raum at ic st ress disor der ( PTSD)

 Gej ala dapat t erj adi secara episodik at au berlanj ut , m ereka dapat m uncul secara t iba-t iba t anpa sebab at au sebagai respon at as sit uasi t ert ent u.

Terapi farm akologi unt uk gangguan cem as, ant ara lain:

 Gangguan ansiet as m enyeluruh:

a. Diazepam 5 m g dua kali sehari pada kasus ringan dan 3 kali 10 m g sehari pada kasus berat at au b. Alprazolam 0,75 – 1,5 m g/ hari at au

c. Buspirone 30 – 60 m g/ hari

d. Propranolol 40 – 80 m g/ hari dibagi dua dosis

 Gangguan Panik :

a. Fluoxet ine 20 – 40 m g/ hari at au

b. Alprazolam 1,5 – 6 m g/ hari dalam dua at au t iga dosis at au

c. I m ipram ine 50 m g/ hari dalam dua dosis sam pai m aksim um 150 – 250 m g/ hari

138

5. 6. Gangguan St res Pascat rauma

Unt uk gej ala gangguan st res pascat raum a yang sering dialam i korban bencana, ant ara lain:

 Pengalam an berulang t erhadap perist iwa ( m isal dalam bent uk m im pi yang m enakut kan)

 Menghindar dari hal yang dapat m engingat kan perist iwa

 Secara um um kurang responsif

 Berkurangnya m inat

Dalam dokumen Buku pedoman teknis pkk ab (Halaman 136-159)