• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMASARAN PARIWISATA

C. TANTANGAN DAN PELUANG PASAR BAGI INDONESIA

Dengan demikian keberhasilan pariwisata tersebut sangat tergantung kepada upaya kerja sama dan koordinasi antar semua pihak yang terlibat.

- Investasi dalam bidang pariwisata membutuhkan dana yang sangat besar yang tertanam dalam bentuk prasarana dan sarana kepariwisataan. Hal ini akan mengakibatkan tingginya biaya tetap (fixed cost) yang harus dipikul oleh kegiatan operasional dari pariwisata itu sendiri. Beban biaya tetap yang tinggi akan berdampak terhadap pendekatan dan strategi pemasarannya.

- Motivasi kunjungan para wisatawan yang berbeda-beda seperti untuk berlibur, bisnis, konferensi, mengunjungi sanak keluarga, dll, akan berpengaruh bsear terhadap penyediaan produk yang ditawarkan. Hal ini akan menambah kompleksnya permasalahan dalam pengelolaan dan pemasaran produk pariwisata itu sendiri.

- Kunjungan wisatawan ke suatu daerah tujuan sangat dipengaruhi oleh faktor musim. Permintaan yang sangat musiman ditambah lagi dengan kenyataan tidak dapat disimpannya produk pariwisata tersebut akan menambah rumitnya masalah pemasaran pariwisata itu sendiri.

C. TANTANGAN DAN PELUANG PASAR BAGI INDONESIA

Dari sisi ketersediaan produk, Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari 17.508 pulau, memiliki potensi yang sulit dicari tandingannya dengan negara manapun di dunia. Aset potensi kepariwisataan Indonesia, tidak saja memenuhi unsur keindahan alam (natural beauty), keaslian (originality), kelangkaan (scarcity) dan keutuhan (wholesomeness), tetapi juga kekayaan seni budaya, flora & fauna, ekosistem dan gejala alam. Kesemuanya ini dapat dikombinasikan, diramu dan kemudian dikemas secara

profesional, sehingga menjadi objek yang memiliki daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.

Sebagai salah satu sektor pembangunan, sektor Kebudayaan dan Pariwisata memberikan kontribusi yang cukup signifikan didalam menggerakkan pertumbuhan pembangunan Nasional. Sebagai contoh, signifikansinya di bidang ekonomi dapat terlihat dari beberapa indikator kinerjanya, seperti nilai investasi, serapan tenaga kerja, devisa yang diperoleh dan sirkulasi rupiah. Bahkan, diakui bahwa secara universal sektor ini dianggap sebagai the most effective away (or even the only way) for developing countries to increase foreign exchange earnings, dan sangat efektif untuk mendorong pembangunan dalam rangka percepatan pertumbuhan regional suatu negara.

Para pakar mempunyai keyakinan bahwa industri pariwisata dunia memiliki prospek yang sangat cerah di masa yang akan datang. Dan boleh jadi pada suatu saat, industri ini menjadi industri terbesar melampaui industri MIGAS dan industri lainnya. Menurut data dan perkiraan World Tourism Organization, WTO (per Januari 2001), selama tahun 2000 tercatat 698 juta orang international arrivals di dunia, walaupun sementara ini 58% dari jumlah tersebut masih didominasi oleh Eropa. Selanjutnya WTO memperkirakan pada akhir tahun 2010 jumlah wisatawan dunia akan mencapai 1,1 milyar orang dan pada akhir tahun 2020 menjadi 1,6 milyar orang wisatawan dunia.

Keberhasilan pembangunan kebudayaan dan pariwisataan Indonesia seperti yang kita rasakan sekarang ini ditentukan oleh paling tidak 3 (tiga) pilar utama yaitu : Keberhasilan dalam pemasaran, keberhasilan dalam pengembangan produk dan keberhasilan menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) Pariwisata. Ketiga komponen tersebut harus dibina dan dikembangkan secara simultan untuk terciptanya keterpaduan dalam upaya pencapaian tujuan dan target-target pembangunan yang telah ditetapkan.

Pemasaran berperan sebagai intelligent untuk mengumpulkan data dan informasi tentang pasar dan sasaran pasar. Di samping itu ia juga diharapkan akan menjembatani (bridging) kekuatan produk yang dimiliki dalam memasuki dan menguasai pasar domestik maupun pasar global. Roman G. Hiebing, Jr dan Scott W Cooper dalam bukunya The Successful

Marketing Plan menegaskan bahwa telah terjadi perubahan pendekatan

paradigma dari orientasi produk (4 P’s) ke orientasi pasar (4 C’s). Perubahan ini disebabkan oleh semakin ketatnya persaingan dalam upaya mengenalkan dan menjual produk yang dimiliki. Pemasaran produk karya seni dan pariwisata tidak lagi dipandang sebagai “way of doing”, tetapi harus disikapi dalam kerangka “way of thinking process”. Konsepsi perencanaan pemasaran yang ditawarkan oleh Hiebing dan Cooper yang dianggap relevan meliputi : Understanding consumer wants and needs; Understanding the consumer’s cost; thinking consumer convenience, thinking customer communication. Untuk itu, ia menyarankan setting objective marketing to affect the segment’s behaviour.

Untuk melakukan perintisan terhadap pasar dan memelihara (maintaining) pasar sasaran, maka aspek Kerjasama Luar Negeri perlu diberdayakan dan dioptimalkan. Kerjasama Luar Negeri meliputi hubungan dengan organisasi, assosiasi dan lembaga internasional (bilateral, sub-regional, regional dan multilateral) baik yang bersifat pemerintahan (governmental) maupun yang swasta (non-governmental). Prinsip pelaksanaan hubungan kerjasama luar negeri adalah saling menghargai dan saling menguntungkan.

Dalam melaksanakan aktivitas pemasaran dan kerjasama luar negeri, pemanfaatan teknologi informasi canggih oleh setiap negara (individu dan kelompok) cenderung semakin meningkat. Teknologi informasi kini turut mewarnai identitas dan kredibilitas pelaku pemasaran. Oleh karena itu,

teknologi informasi tidak lagi dapat dipisahkan dari setiap aktivitas pemasaran dan kerjasama luar negeri dalam memasuki arena persaingan di pasar global.

Terjadinya paradigma baru pada lingkungan strategis dalam lingkup

global, regional adn nasional, misalnya seperti merebaknya isu globalisasi

dan perdagangan bebas, pembangunan berkelanjutan (sustainable development dan responsible marketing) dan pemberlakuan Kode Etik Pariwisata Sedunia (The Global Code of Ethic for Tourism), dan dalam

lingkup nasional seperti desentralisasi, hak asasi manusia dan supremasi

hukum, secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap peluang dan tantangan pemasaran pariwisata Indonesia.

Pada sisi lain, tragedi WTC yang dikenal dengan peristiwa 11 September 2001 juga telah secara signifikan berpengaruh terhadap perkembangan industri perjalanan dan pariwisata dunia. Peristiwa tersebut mendorong Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata melakukan reposisi terhadap fokus pasar, dengan mengutamakan (orientasi) ke pasar medium and short haul dengan tetap memelihara pasar-pasar konvensional seperti Eropa dan Amerika.

Berdasarkan hal tersebut di atas, aspek pemasaran dan kerjasama luar negeri amatlah strategi dan penting dalam konteks pembangunan kebudayaan dan pariwisata Indonesia.

Target dan Pasar Sasaran

Kekuatan produk yang beraneka ragam dengan pilihan destinasi yang variatif itu harus didukung oleh serangkaian kebijakan, program dan kegiatan Pemasaran & Kerjasama Luar Negeri yang terencana dan terpadu secara optimal. Hal ini dimaksudkan agar misi maupun sasaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. Sasaran tersebut antara lain adalah meningkatnya arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sebesar 6,9 juta wisaman (rata-rata pertumbuhan 7%), rata-rata lama tinggal 10 hari, tingkat

pengeluaran US $ 98, sehingga akan memacu penerimaan devisa sebesar US $ 7,6 milyar pada akhir tahun 2004. Figur sasaran ini sekaligus menegaskan bahwa sektor pariwisata merupakan salah satu sektor andalan dalam memacu pembangunan perekonomian Indonesia. (Berdasarkan data statistik tahun 1999, pariwisata berhasil menduduki peringkat kedua penghasil devisa bagi Indonesia di luar MIGAS, dengan jumlah devisa sebesar US $ 4,7 milyar).

Pasar sasaran tersebut adalah :

Pasar utama (main market) meliputi :

1. Singapura 5. Jepang

2. Malaysia 6. China

3. Thailand 7. Australia

4. Korea Selatan 8. Selandia Baru

Pasar baru (potential market) meliputi :

1. India

2. Timur Tengah

3. Afrika Selatan

4. Rusia

Transformasi Pasar Global dan Munculnya Pariwisata Baru

Pariwisata global sedang mengalami transisi yang bergerak cepat dan radikal menuju industri pariwisata baru yang prima dan yang dapat memenuhi tuntutan kebutuhan industri itu sendiri. Perubahan dalam nilai dan perilaku pelanggan mendorong lahirnya pariwisata baru. Pariwisata gaya baru muncul, di mana kegiatan pariwisatanya dicirikan sebagai liburan yang fleksibel, tersegmentasi dan sadar lingkungan. Pariwisata baru adalah suatu fenomena pengemasan skala besar dari suatu layanan liburan yang non standar pada

tingkat harga bersaing yang lebih sesuai dengan tuntutan permintaan wisatawan serta tuntutan kebutuhan ekonomis dan lingkungan sosial (Auliana Poon : 1991).

Perubahan pada tingkah laku konsumen dan nilai-nilai memberi kekuatan sebagai pedoman yang mendasar bagi pariwisata baru. Konsumen pariwisata baru adalah para wisatawan yang memiliki informasi dan lebih berpengalaman. Mereka telah menempatkan nilai-nilai dan gaya hidup yang berubah. Wisatawan baru tersebut berciri fleksibel dan lebih mandiri, mereka merupakan konsumen cangkokan (Hybrid), spontan, sulit diramalkan dan selalu ingin aktif.

Adapun indikasi yang menandakan pariwisata baru antara lain :

- Permintaan akan liburan yang independen.

- Permintaan akan pilihan dan fleksibilitas liburan meningkat.

- Pemakaian teknologi informasi semakin meningkat (96% agen-agen perjalanan US dihubungkan dengan Computer Reservation System, CRS’s).

- CRS’s menjadi alternatif yang fleksibel untuk alternatif liburan. - Peningkatan atas kepedulian lingkungan.

- Peningkatan segmentasi pasar liburan yang mencerminkan karakteristik gaya hidup (DINKS/pasangan tanpa anak dengan penghasilan ganda, YUPPIES/anak muda dengan mobilitas dan profesionalisme tinggi, MILKIES/masyarakat moden yang introvert).

Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam memasuki pasar pariwisata global, yaitu :

a. Mengutamakan kepentingan konsumen.

c. Mampu mengembangkan inovasi radikal.

d. Memperkuat posisi strategis dalam rantai industri pariwisata dunia.

e. Mementingkan lingkungan.

f. Memperkuat jalur distribusi di pasar sasaran.

g. Membangun sektor swasta yang dinamis.

Oleh karena itu harus disadari bahwa pasar pariwisata global merupakan kumpulan dari “konsumen baru” yang bercirikan fleksibel, tersegmentasi, terintegrasi secara diagonal, sadar lingkungan, lebih berpengalaman, memiliki nilai-nilai dan gaya hidup yang berubah-ubah serta berpikiran mandiri.

Tantangan dan Peluang Pasar

Pada era modern sekarang ini, istilah pasar telah berubah secara radikal. Adalah sangat naif untuk mendefinisikan bahwa pasar produk pariwisata Indonesia pada jaman modern ini adalah negara-negara/kawasan tertentu atau sekelompok negara/kawasan sebagai tourist generating country, saya beranggapan bahwa pasar bukan lagi sekedar bertemunya penjual dengan pembeli atau sebaliknya, tetapi pasar adalah perpaduan antara dunia maya dan dunia nyata. Pengertian pasar dalam dunia maya analog dengan dunia cyber, dunia teknologi informasi. Artinya dengan memberdayakan teknologi informasi seperti internet, aktivitas pasar dapat dilakukan secara instant. Dalam hal ini konsistensi monitoring perilaku dan karakter konsumen menjadi amat penting agar input data kemasan produk baru senantiasa dapat memenuhi tuntutan kebutuhan konsumen. Sebaliknya pasar dalam dunia nyata masih tetap eksis, seperti berbagai bursa kebudayaan dan pariwisata yang mempertemukan penjual dan pembeli untuk melakukan aktivitas pasar.

Aspek pasar dan pemasaran sebagai salah satu pilar utama pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia dihadapkan pada situasi yang sarat dengan tantangan dan peluang, baik pada skala tataran

global, regional maupun domestik. Kondisi potensi produk industri budaya dan pariwisata yang harus ditingkatkan dan dikembangkan keragaman dan kualitasnya secara berkesinambungan, iapun harus dikemas sedemikian rupa agar menarik dan mampu bersaing di pasaran.

Pasca tragedi WTC telah dilakukan reorientasi fokus pemasaran dan promosi pariwisata Indonesia ke pasar medium dan short haul, yang meliputi 8 pasar utama (Singapura, Malaysia, Philipina, Thailand, Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru), dan 4 pasar potensial (China, Rusia, India, Afrika Selatan dan Saudi Arabia). Namun demikian, pasar long haul yang dikategorikan sebagai pasar konvensional seperti negara-negara akwasan Eropa dan Amerika tetap dipelihara (maintain).

Segera setelah Indonesia dilanda multi krisis, pertumbuhan kunjungan wisman ke Indonesia sejak tahun 1999 sudah mulai membaik, yakni tahun 1999 naik 2,63%, naik 7,12% tahun 2000, dan tahun 2001 naik 1,77%. Rendahnya kenaikan di tahun 2001 diindikasikan sebagai dampak tragedi WTC yang pengaruhnya melebar ke seluruh penjuru dunia.

Ada 2 (dua) pendekatan yang digunakan dalam melakukan analisis terhadap tantangan dan peluang pasar, yaitu :

1. Pendekatan paradigma

a. Tataran internasional

Pada tataran internasional, isu-isu strategis yang dapat dikategorikan sebagai tantangan sekaligus (bisa jadi) sebagai peluang antara lain :

1) Proses globalisasi (liberalisasi ekonomi perdagangan dan industri)

2) Meningkatnya apresiasi terhadap Hak Azasi Manusia (HAM)

4) Isu Lingkungan Hidup

b. Tataran Regional Asia-Pasifik

c. Tataran Nasional

2. Pendekatan kekuatan pengaruh eksternal dan internal (SWOT) dengan menggunakan analisis multi variabel

a. Variabel eksternal

1) Gross National Productt (GDP) pangsa pasar pariwisata Indonesia.

2) Rasio antara jumlah outbound dengan jumlah penduduk (travel propensity).

3) Pangsa pasar ke Indonesia dibanding Total Outbound ke negara-negara lain.

4) Posisi Indonesia di antara negara-negara ASEAN.

5) Tingkat penggunaan transportasi udara ke Indonesia.

6) Tingkat pilihan Indonesia sebagai single destination.

7) Pola pengaturan perjalanan dengan penggunaan paket wisata.

8) Tingkat kunjungan ulang (repeater).

9) Saham penggunaan maskapai penerbangan nasional.

b. Variabel internal

1) Penerimaan devisa.

2) Pangsa pasar wisman ke Indonesia (periode tahun 2001).

3) Tingkat pertumbuhan pasar wisman ke Indonesia.

5) Rata-rata pengeluaran wisman per hari di Indonesia.

6) Rata-rata lama tinggal wisman di Indonesia.

7) Tingkat motivasi/maksud kunjungan wisman untuk berlibur.

8) Tingkat motivasi/maksud kunjungan wisman untuk bisnis.

9) Tingkat motivasi/maksud kunjungan wisman untuk MICE.

D. MENINGKATKAN CITRA PARIWISATA INDONESIA DENGAN