ANALISIS KAWASAN PENELITIAN
6.1 Temuan Studi
Kecamatan Tanjung Balai Utara memiliki sumber bahaya kebakaran yang berasal dari:
1. Sistem pemasangan kawat listrik, yaitu kondisi instalasi listrik yang buruk dan banyaknya sambungan listrik dalam satu tiang yang lebih dari tujuh sambungan.
2. Keberadaan minyak tanah dan LPG, yaitu keberadaan pedagang dan pemakai minyak tanah, serta kondisi kompor yang tidak baik dan cara penyimpanan kompor yang tidak sesuai standar.
3. Keberadaan SPBU atau pedagang bensin eceran, yaitu keberadaan pedagang bensin eceran di dalam lingkungan dan SPBU terdekat yang tidak memiliki zona aman.
5. Keberadaan peralatan listrik rumah tangga, yaitu banyaknya jumlah pengguna peralatan listrik, kondisi yang buruk, serta intensitas pemakaian yang tinggi.
6. Penggunaan penerangan non-listrik. 7. Puntung rokok.
8. Penyalaan api secara langsung.
Variabel kerentanan terhadap bahaya kebakaran di Kecamatan Tanjung Balai Utara yang tidak sesuai dengan standar adalah:
1. Dari segi ekonomi yaitu keberadaan penduduk yang bekerja di tempat yang berdekatan dengan permukiman padat dan keberadaan rumah tangga miskin; 2. Dari segi sosial kependudukan yaitu keberadaan penduduk usia rentan dan
penduduk yang berpenyakit permanen atau cacat, serta kepadatan penduduk. 3. Dari segi fisik yaitu keberadaan bangunan berbahan bangunan dan konstruksi
tidak tahan api, kepadatan bangunan yang tinggi, tidak adanya jarak antar bangunan, jarak antar jalan besar yang terlalu jauh, serta sempitnya jalan lingkungan.
4. Dari segi ketersediaan prasarana yaitu luas dan lokasi ruang terbuka yang kurang memadai;
5. Dari segi sarana yaitu jumlah dan kondisi kendaraan pemadam kebakaran yang kurang baik, tidak adanya hydrant, kurangnya sumber air, dan kurangnya bahan pemadam bukan air.
6. Dari segi sumber daya manusia yaitu cakupan pelayanan serta jumlah pemadam kebakaran dan tenaga medis yang kurang.
Nilai resiko bencana kebakaran di Kecamatan Tanjung Balai Utara adalah -8, maka tingkat resiko terjadinya bencana kebakaran karena ulah manusia di di Kecamatan Tanjung Balai Utara termasuk dalam berpotensi terhadap bahaya kebakaran.
6.2 Kesimpulan
Berdasarkan klasifikasi kelas tingkat resiko bencana kebakaran, Kecamatan Tanjung Balai Utara termasuk dalam kelas berpotensi terjadi bahaya kebakaran. Selain itu terdapat beberapa tolok ukur variabel sumber bahaya, kerentanan, dan ketahanan terhadap bahaya kebakaran yang tidak sesuai dengan standar. Oleh karena itu, dalam rangka mengurangi tingkat resiko bencana kebakaran di Kelurahan Babakan Asih dan Jamika, diperlukan beberapa tindakan sistem penanggulangan (mitigasi) bencana kebakaran.
Bentuk mitigasi bencana yang diusulkan akan dikelompokkan berdasarkan tiga faktor penentu tingkat resiko yaitu sumber bahaya, kerentanan, dan ketahanan. Berikut merupakan bentuk mitigasi yang diusulkan:
Berdasarkan variabel sumber bahaya kebakaran yang tidak sesuai dengan standar sebagai berikut:
1. Perbaikan kabel listrik yang masih terdapat kabel tidak tertutup bahan isolasi.
2. Karena SPBU yang ada tidak memiliki zona aman maka diperlukan pembuatan zona aman atau buffer disekitar SPBU terdekat.
3. Mengurangi atau bahkan menghilangkan potensi munculnya bahaya kebakaran melalui peningkatan kewaspadaan masyarakat dan pengurangan tingkat kecerobohan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
4. Pemberian ketegasan kepada masyarakat dalam melakukan penyimpanan atau penggunaan barang-barang yang mudah terbakar, seperti penyimpanan tabung LPG yang ditempatkan oleh pedagang di pinggir jalan.
Berdasarkan variabel kerentanan terhadap bahaya kebakaran yang tidak sesuai standar
1. Diperlukan perbaikan kondisi bangunan rumah di Kecamatan Tanjung Balai Utara yang jumlah bangunan non-permanen dan semi permanennya masih banyak. Tindakkan perbaikan tersebut dapat dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah daerah Kota Tanjung Balai. Perbaikan tersebut berupa:
a. Penggantian dinding bangunan rumah yang masih terbuat dari triplek/bilik/kayu menjadi berbahan batu bata atau batako yang telah diplester.
b. Penggunaan kerangka beton bertulang sebagai struktur penyangga bangunan untuk rumah yang akan direnovasi.
c. Penggunaan dinding rangkap sebagai pembatas antar rumah. Untuk bangunan rumah yang belum memiliki dinding sendiri atau masih
menempel pada rumah tetangga dibangun dinding pembatas, dengan demikian kecepatan api menjalar ke rumah lain akan semakin kecil.
2. Pengendalian pemanfaatan ruang melalui pembatasan pendirian bangunan di wilayah Kecamatan Tanjung Balai Utara.
3. Pengawasan penerapan standar Koefisian Dasar Bangunan (KDB) yang benar khususnya.
4. Melakukan land consolidation, yaitu menata kembali bangunan yang ada di kawasan permukiman padat sehingga dapat terbentuk akses jalan yang lebih baik. Hal ini perlu dilakukan karena kondisi lebar jalan saat ini tidak memadai dan akan mempersulit warga jika melakukan pelarian/evakuasi.
Berdasarkan ketahanan terhadap bahaya kebakaran yang tidak sesuai standar 1. Di wilayah Kecamatan Tanjung Balai Utara perlu disediakan hydrant yang
diletakkan di dalam lingkungan sehingga mempermudah petugas melakukan pemadaman api. Pihak PDAM Kota Tanjung Balai sebaiknya meningkatkan tekanan dan debit air di wilayah selatan Kota Tanjung Balai, khususnya di Kecamatan Tanjung Balai Utara. Dengan demikian pihak pemadam kebakaran tidak sulit mencari sumber air dari wilayah lain.
2. Pembuatan penampungan air di dalam lingkungan kecamatan yang dapat digunakan oleh seluruh masyarakat baik sebagai kebutuhan sehari-hari maupun sebagai sumber air pemadam kebakaran.
3. Karena mobil pemadam kebakaran tidak dapat masuk ke dalam lingkungan maka diperlukan penyediaan alat pemadam api berat (APAB) di setiap RT dan alat pemadam api ringan (APAR) pada bangunan-bangunan non-tempat tinggal seperti pertokoan, gudang, industri, dan lainnya. Selain itu keberadaaan APAR/APAB pada SPBU terdekat diperlengkap sesuai dengan standar.
4. Pengendalian keberadaan ruang terbuka yang ada saat ini supaya tidak dibangun serta penambahan jumlah dan luas ruang terbuka sebagai tempat evakuasi jika terjadi bencana. Serta pembuatan ruang terbuka yang lokasinya dapat dijangkau mobil pemadam kebakaran.
5. Menambah jumlah anggota dan pos pemadam kebakaran di Kota Tanjung Balai sesuai dengan standar yang ada serta menambah jumlah tenaga medis dan paramedis di Kecamatan Tanjung Balai Utara.
7. Melibatkan masyarakat dalam kegiatan pelatihan mengenai pencegahan dan penanggulangan bencana kebakaran di kawasan permukiman padat, sehingga untuk mengatasi kebakaran pada saat terjadi kebakaran tidak hanya mengandalkan keahlian petugas pemadam kebakaran atau petugas keamanan yang ada. Hal ini perlu dilakukan karena hingga saat ini, pelatihan simulasi kebakaran yang dilakukan hanya melibatkan linmas setempat dan tidak melibatkan masyarakat.