• Tidak ada hasil yang ditemukan

Temuan Teoritis dan Praktis dari Hasil Pengkajian

Dalam dokumen POLITIK HUKUM HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL I (Halaman 166-170)

KONSEP HARMONI SASI PRI NSI P PRI NSI P HUKUM TRI Ps AGREEMENT KE DALAM UNDANG UNDANG

A. Temuan Teoritis dan Praktis dari Hasil Pengkajian

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pada bab-bab terdahulu, terdapat beberapa temuan baru dalam tulisan ini. Temuan baru tersebut dikelompokkan menjadi dua, yaitu temuan teoritis dan temuan praktis. 1. Temuan Teoritis

a. Penguatan dan pengembangan Teori Hukum Pembangunan Dalam Pembangunan Hukum HKI .

Teori Hukum Pembangunan masih tetap relevan digunakan sesuai dengan kondisi Indonesia yang sedang membangun, mengejar ketertinggalan I PTEK dari negara-negara maju dan melindungi kepentingan nasional terkait potensi HKI yang dimiliki I ndonesia (PT, SDG, Ekspresi Budaya). Kehadiran Undang-Undang HKI akan menjadi panduan dalam proses pembaharuan masyarakat agar lebih mengenal konsep-konsep dan hukum HKI , meng- arahkan perilaku atau tindakan masyarakat sesuai norma- norma hukum HKI (kesadaran hukum dan budaya hukum HKI yang baik), dan mengambil langkah-langkah positif melindungi kepentingan HKI nasional (melakukan penelitian dan pengem - bangan dalam bidang I PTEK secara terus-menerus, dokumentasi PT, SDG, Ekspresi Budaya sebagai upaya mencegah terjadinya pencurian dan penyalahgunaan oleh pihak-pihak lain secara tanpa hak). Pendapat Mochtar Kusumaatmadja yang menganggap penggunaan model-model hukum asing dalam bidang hukum yang netral tidak menimbulkan kesulitan dalam pengembangan hukum perlu dikoreksi.mno

Kenyataannya cukup sulit meng- gunakan model-model hukum asing dalam pembangunan hukum di I ndonesia, karena ada perbedaan dari aspek filosofis

345. Mochtar Kusumaatmadja,op.,cit, hlm. 24.

(Pancasila), yuridis (UUD 1945), dan sosiologis (aspek historis, ekonomi, sosial dan budaya) kecuali apabila model-model hukum asing tersebut diambil alih secara total. Peng-ambilalihan secara total akan menimbulkan masalah secara yuridis konstitusional dan dalam implementasinya karena tidak bersumber dari bangsa I ndonesia dan tetap akan dianggap sebagai hukum asing. Hal demikian terjadi dalam Undang - Undang HKI I ndonesia. Oleh karena itu, menjadi penting untuk memilih metode agar hukum asing dapat digunakan di I ndonesia dengan meminimalisasi perbedaan filosofis, yuridis dan sosiologis. Pilihan yang lebih realistis adalah melalui metode harmonisasi hukum, sebab dalam proses harmonisasi hukum terjadi pengkajian, perbandingan dan penyesuaian hukum asing dan hukum nasional dengan memposisikan hukum nasional sebagai penyaring untuk mencegah dirugikannya kepentingan nasional sebagai akibat masuknya hukum asing ke dalam hukum nasional.

b. Pengembangan Teori Harmonisasi Hukum.

Harmonisasi hukum adalah suatu proses mengharmoniskan (menyesuaikan) dua sistem hukum yang berbeda, misalnya harmonisasi hukum asing (TRI Ps Agreement) dan hukum nasional. Hukum tidak bersifat statis, tetapi bersifat dinamis mengikuti perkembangan zaman, sehingga mengharuskan harmonisasi hukum juga harus bergerak dinamis dan tidak berhenti pada satu titik. Harmonisasi hukum tidak selalu menghasilkan hukum yang harmonis secara keseluruhan (totalitas). Sejarah membuktikan bahwa proses harmonisasi hukum HKI di dunia sudah berlangsung sejak 127 tahun yang lalu (Konvensi Bern Tahun 1883 - 2010), tetapi masing-masing negara memiliki perbedaan dalam pengaturan HKI walaupun sudah ada TRI Ps Agreement. Di EU telah berlangsung lebih dari 53 tahun (1957 – 2010). Di I ndonesia sudah berlangsung 124 tahun sejak zaman kolonial Belanda (1888 – 2010), dan jika dihitung sejak kemerdekaan I ndonesia telah berlangsung selama 65 tahun (1945 – 2010). Keberhasilan harmonisasi hukum sangat ditentukan oleh perkembangan dari sistem

hukum yang berbeda tersebut, semakin sering terjadinya hubungan yang melibatkan kedua sistem hukum itu, akan memperlancar terjadi harmonisasi. Harmonisasi hukum asing ke dalam hukum nasional tidak menghapus unsur kepentingan nasional. Setiap negara bebas memilih metode yang dikehendaki, tidak ada negara atau organisasi internasional yang memiliki hak memaksa suatu negara menerima suatu hukum asing. 2. Temuan Praktis

Temuan praktis berupa usulan dan beberapa hal yang dapat menjadi bahan masukan dalam amandemen Undang-Undang HKI Indonesia terkait dengan perlindungan kepentingan HKI I ndonesia, antara lain:

a. Rumusan konsep politik hukum HKI I ndonesia berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan realitas sosial bangsa I ndonesia

( Bab VI ) .

b. Rumusan konsep prinsip-prinsip hukum HKI I ndonesia yang bersumber pada Pancasila, UUD 1945 dan realitas sosial bangsa I ndonesia( Bab VI I ) .

c. Rumusan konsep harmonisasi prinsip-prinsip hukum TRI Ps Agreement ke dalam Undang-Undang HKI I ndonesia( Bab VI I I ) .

d. Memperkenalkan metode modifikasi harmonisasi total sebagai pilihan metode yang lebih tepat bagi I ndonesia dalam meng- harmonisasikan prinsip-prinsip hukum TRI Ps Agreement ke dalam Undang-Undang HKI dalam rangka melindungi kepentingan nasional. Perlunya ditambahkan ke dalam Undang-Undang HKI ketentuan yang tegas tentang perlindungan kepentingan Indonesia dalam bidang HKI. Ketentuan tersebut, seperti kewenangan negara (pemerintah) melaksanakan HKI demi kepentingan nasional dalam arti luas (penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kesehatan, perekonomian, pertahanan dan keamanan dan kepentingan masyarakat), tidak dibatasi pada hal-hal tertentu saja sebagaimana yang diatur selama ini. Selain itu juga penting diakomodasikannya beberapa konsep-konsep yang tidak bersumber dari HKI ke dalam Undang-Undang HKI untuk memperkuat upaya perlindungan dan pemanfaatan potensi HKI I ndonesia (PT, SDG dan Ekspresi Budaya) agar

tidak dicuri dan disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak berhak melalui konsep ABS, DO dan PI C. Terkait dengan hukum persaingan usaha, maka penting dilakukan amandemen terhadap Pasal 50 huruf (b) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 yang mengecualikan perjanjian dalam bidang HKI dari larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, karena pelaksanaan HKI secara nyata berpotensi disalah- gunakan oleh pemilik atau pemegang HKI sehingga merugikan masyarakat dan melanggar ketentuan hukum persaingan usaha( Bab VI I I ) .

B. Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang dapat dikemukakan berdasarkan paparan pada bab-bab sebelumnya, adalah sebagai berikut:

1. Prinsip-prinsip hukum HKI I ndonesia harus bersumber pada Pancasila, UUD 1945 realitas sosial bangsa I ndonesia. Prinsip- prinsip hukum HKI tersebut adalah: prinsip kebebasan berkarya, prinsip perlindungan hukum terhadap HKI , prinsip kemanfaatan HKI , prinsip hak ekonomi HKI , prinsip HKI untuk kesejahteraan manusia, prinsip kebudayaan HKI, prinsip perlindungan kebudayaan nasional, prinsip kewenangan negara melaksanakan HKI demi kepentingan nasional, prinsip perlindungan HKI berdimensi moralitas dan agama, prinsip hak ekslusif terbatas, prinsip keadilan, prinsip HKI berfungsi sosial dan prinsip kolektivisme. Prinsip-prinsip hukum TRI Ps Agreement, adalah: prinsip ketundukan utuh (full compliance), prinsip pembalasan silang (cross retaliation), prinsip standar minimum (minimum standars), prinsip pemberian hak yang sama (national treatment), prinsip tanpa diskriminasi (the most favoured nation), prinsip pengutamaan komersialisasi HKI, prinsip exhaustion of intellectual property rights, prinsip tanpa persyaratan (no reservation), prinsip perlakuan khusus terbatas pada negara berkembang dan terbelakang, prinsip alih teknologi, prinsip kepentingan umum, prinsip kerjasama internasional, prinsip amandemen dan prinsip penyelesaian sengketa melalui mekanisme WTO. Terjadi perbedaan antara prinsip-prinsip TRI PS Agreement dan prinsip-prinsip HKI I ndonesia, antara lain pada aspek filosofis,

yuridis dan sosiologis. Aspek filosofis berkenaan dengan individualisme versus kolektivisme (komunalisme), unifikasi hukum versus nasionalisme, komersialisasi HKI versus humanisme, penguasaan IPTEK dan dominasi teknologi versus keadilan sosial. Aspek yuridis berkenaan dengan prinsip full compliance versus kewenangan negara melaksanakan HKI untuk kepentingan nasional, standar minimum versus keadilan, no reservation versus per- lindungan kebudayaan nasional, dan cross retaliation versus HKI untuk kesejahteraan manusia. Aspek sosiologis berkenaan dengan kepentingan negara maju mengatur HKI secara internasional dan terstandarisasi versus keinginan I ndonesia mengatur HKI sesuai dengan kepentingan nasional, keterpaksaan negara berkembang/ terbelakang (termasuk I ndonesia) menyetujui TRI Ps Agreement versus kebutuhan penguasaan I PTEK untuk mendukung pem - bangunan sehingga membutuhkan kemudahan alih teknologi. 2. Politik hukum HKI I ndonesia harus berlandaskan Pancasila sebagai

landasan filosofis, UUD 1945 sebagai landasan yuridis dan realitas sosial bangsa I ndonesia sebagai landasan sosiologis. Setiap hukum asing (hukum yang berasal dari luar I ndonesia) yang ingin diberlakukan di I ndonesia harus melewati saringan (filterisasi) apakah hukum asing tersebut berkesesuaian dengan prinsip- prinsip hukum Pancasila, UUD 1945 dan realitas sosial bangsa I ndonesia. Jika ada pertentangan atau ketidaksesuaian, maka langkah-langkah yang dilakukan adalah melakukan harmonisasi hukum. TRIPs Agreement sebagai hukum yang lahir dari kesepakatan internasional harus melewati proses harmonisasi hukum, sebelum menjadi hukum nasional.

3. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pengadopsian ketentuan TRI Ps Agreement ke dalam Undang-Undang HKI I ndonesia selama ini tidak melalui proses harmonisasi hukum yang baik, sehingga kepentingan nasional belum terlindungi. Harmonisasi dilakukan menggunakan metode harmonisasi total, prinsip-prinsip hukum TRI Ps Agreement diadopsi secara utuh, tetapi justru peluang-peluang yang dimungkinkan oleh TRI Ps Agreement untuk melindungi kepentingan nasional tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya (misalnya Article 6, 8, 67). Hal ini mencerminkan

betapa pembentuk Undang-Undang HKI kurang memperhatikan arti penting dari perlindungan hukum terhadap kepentingan nasional terkait HKI atau adanya tekanan dari pihak asing dan ketidakberanian untuk menolaknya. Di masa depan, metode harmonisasi hukum selayaknya diubah menggunakan metode modifikasi harmonisasi total. Ketentuan TRI Ps Agreement tetap diadopsi tetapi dengan memaksimalisasi peluang-peluang yang diatur dalamTRIPs Agreement untuk melindungi kepentingan nasional dan jika kepentingan nasional memang membutuhkan, maka harus dilakukan modifikasi (penyimpangan) dengan mengungkapkan alasan-alasannya secara faktual, argumentatif dan yuridis.

C. Rekomendasi

Demi memberikan perlindungan hukum kepada kepentingan nasional di dalam Undang-Undang HKI , maka penting melakukan hal- hal sebagai berikut:

1. Pemerintah dan DPR wajib berkomitmen tinggi, memiliki kemauan (political will), keberanian dan berjiwa nasionalis untuk mewujudkan tujuan negara RI sebagaimana tertulis pada Pembukaan UUD 1945 Alinea keempat dalam membentuk atau merevisi Undang-Undang HKI I ndonesia berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan realitas sosial bangsa I ndonesia. Politik hukum HKI menjadi pemandu sekaligus penyaring prinsip-prinsip hukum TRI Ps Agreement dan konvensi internasional lainnya sebelum diharmonisasikan ke dalam Undang-Undang HKI I ndonesia. Kepentingan nasional harus didahulukan daripada memenuhi standar TRIPs Agreement atau tekanan dari pihak asing. Oleh karena itu kepentingan nasional harus diatur dengan tegas di dalam setiap Undang-Undang HKI . 2. Kepada pembentuk Undang-Undang (Pemerintah dan DPR) dalam

melakukan harmonisasi prinsip-prinsip TRI Ps Agreement ke dalam Undang-Undang HKI di masa depan hendaknya jangan meng- gunakan metode harmonisasi total, tetapi gunakanlah metode yang memungkinkan terlindunginya kepentingan nasional, yaitu dengan menerapkan metode modifikasi harmonisasi total.

3. I ndonesia harus lebih fokus pada perlindungan hukum dan pemanfaatan potensi HKI nasional seperti Pengetahuan Tradisional,

Sumber Daya Genetik dan Ekspresi Budaya melalui pengaturannya baik secara sui generis maupun melalui Undang-Undang HKI . Perlindungan hukum bertujuan mencegah terjadinya penyalah- gunaan oleh pihak-pihak dari dalam negeri maupun luar negeri secara tanpa hak dan melanggar kepatutan yang dapat merugikan kepentingan nasional. Diyakini potensi HKI tersebut akan mampu memberi kontribusi positif terhadap peningkatan daya saing HKI nasional, misalnya penemuan obat baru bersumber dari penge- tahuan tradisional (paten, rahasia dagang, indikasi geografis), rekayasa genetika bersumber dari sumber daya genetik I ndonesia, dan pemanfaatan secara optimal ekspresi budaya melalui sektor pariwisata. Berkaitan dengan hal ini, penulis menyarankan kepada peneliti lain agar melakukan penelitian yang bertemakan pengaturan HKI dan manfaatnya bagi kemajuan dan kesejah- teraan bangsa I ndonesia. Tema penelit ian yang dimaksud, antara lain tentang pengaturan alih teknologi dalam penanaman modal asing (direct investment) terkait dengan HKI , fungsi intermediasi Perguruan Tinggi dalam penelitian/ pengembangan I PTEK dan aplikasinya dalam dunia industri, dan implementasi ketentuan Undang-Undang HKI terkait kepentingan umum seperti lisensi wajib, paralel impor, konsep Bolar dan pelaksanaan HKI oleh pemerintah.

Dalam dokumen POLITIK HUKUM HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL I (Halaman 166-170)

Garis besar

Dokumen terkait