Pembahasan ini menjelaskan tentang hubungan karakteristik individu, karakteristik usahatani dan peran kelompok dengan tingkat partisipasi anggota dalam pelaksanakan Program PUAP. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tingkat partisipasi perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Pada bab ini peneliti hanya akan menguji hubungan dan membuktikan hipotesi penelitian.
Hubungan Karakteristik Individu dengan Tingkat Partisipasi Anggota Karakteristik individu merupakan bagian yang melekat pada diri seseorang, meliputi umur, pendidikan formal, dan lama bertani karena dalam hal ini individu sebagai petani. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa laki-laki lebih berpartisipasi dibandingkan perempuan dalam pelaksanaan Program PUAP. Tingginya pendidikan formal diharapkan dapat meningkatkan partisipasi anggota dalam pelaksanaan program, begitu juga dengan lamanya jangka waktu memulai berusahatani. Hubungan karakteristik individu dengan tingkat partisipasi anggota akan diuji dengan menggunakan perangkat lunak SPSS melalui uji statistik non-parametrik. Uji statistik non-parametrik yang akan digunakan adalah uji korelasi Rank Spearman pada data ordinal yaitu variabel umur (X1.1), tingkat pendidikan formal (X1.2), tingkat lama bertani (X1.3) dengan tingkat partisipasi anggota (Y1). Data yang ada mengenai tingkat pendidikan formal ditotalkan dan dikelaskan menjadi 3 kelas yaitu rendah, sedang, dan tinggi dan didapatkan data ranking (ordinal). Hal yang sama juga dilakukan pada variabel umur dan tingkat lama bertani. Kemudian peneliti mengkode tingkat partisipasi anggota berdasarkan tingkatan (ordinal).
Pada karakteristik umur nilai koefisien korelasi yang didapatkan sebesar - 0,060 dan artinya memiliki hubungan yang negatif dan sangat lemah. Nilai korelasi sginifikan sig>0,05 sehingga hubungan tidak signifikan. Tingkat pendidikan formal didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,241 yang artinya kedua variabel memiliki hubungan yang positif namun hubungan dapat dikatakan sangat lemah. Pada nilai korelasi signifikan didapatkan bahwa nilai sig=0,092 (sig>0,05) yang artinya bahw nilai korelasi tidak siginifikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan formal dengan tingkat partisipasi. Hal tersebut juga terjadi pada variabel tingkat lama bertani yang memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0,113 (hubungan positif dan sangat lemah) dengan nilai korelasi signifikan 0,435 (sig>0,05).
Tabel 12 Nilai koefisien korelasi antara karakteristik individu dengan tingkat partisipasi anggota poktan, 2014
No. Variabel peubah Umur Tingkat pendidikan formal Tingkat lama bertani Tingkat partisipasi 1 Umur 1.000 -.255 .111 -.060 2 Tingkat pendidikan formal -.255 1.000 .000 .241
3 Tingkat lama bertani .111 .000 1.000 .113
Tingkat partisipasi -.060 .241 .113 1.000
Setelah mengetahui nilai koefisiem korelasi, maka dapat dilihat pada hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1 : Terdapat hubungan antara karakteristik individu dengan tingkat partisipasi anggota poktan dalam pelaksaan Program PUAP.
H0 : Tidak terdapat hubungan antara karakteristik indivdiu dengan tingkat partisipasi anggota poktan dalam pelaksanaan Program PUAP.
Nilai korelasi signifikan yang didapatkan pada tiga variabel karakteristik individu adalah sig>0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara karakteristik individu dengan tingkat partisipasi anggota poktan dalam pelaksanaan Program PUAP.
Hal tersebut dapat terjadi karena pada kenyataannya partisipasi anggota dalam pelaksanaan Program PUAP bukan karena tinggi atau rendahnya tingkat pendidikan anggota, melainkan karena hubungan kekeluargaan yang terbentuk. Begitu juga pada tingkat lama bertani yang tidak menjadi acuan dalam keterlibatan anggota dalam pelaksanaan program. Selama seseorang menjadi anggota poktan maka dia berhak berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan. Selain itu juga karena memang untuk menjadi anggota poktan tidak ada persyaratan umur, tingkat pendidikan formal dan tingkat lama bertani. Namun demikian, partisipasi perempuan yang rendah lebih dipengaruhi oleh stereotipe yang terbentuk karena budaya atau tradisi yang ada. Stereotipe yang menyatakan bahwa pekerjaan perempuan adalah mengurus rumah tangga. Selain itu, adanya pandangan bahwa perempuan tidak cocok untuk ikut bertani, karena bertani pekerjaan yang kasar dan memang pantas dilakukan oleh laki-laki. Perempuan lebih cocok pada pekerjaan yang lembut seperti mengurus rumah dan anak. Pandangan tersebut yang hingga saat ini masih dipegang oleh petani di Desa Gempol Sari sehingga partisipasi perempuan rendah dalam bertani serta pelaksanaan Program PUAP.
Hubungan Karakteristik Usahatani dengan Tingkat Partisipasi Anggota Poktan
Karakteristik usahatani merupakan keadaan atau kondisi kegiatan usahatani yang dijalankan oleh petani sebagai responden. Karakteristik usahatani pada penelitian ini adalah luas lahan garapan, tingkat pendapatan usahatani, dan tingkat akses dan penerapan teknologi. Pelaksanaan Program PUAP juga perlu
memperhatikan karakteristik usahatani anggota poktan yang dalam hal ini sebagai responden. Pada bab ini akan membahas hubungan antara variabel karakteristik usahatani (X2) yang terdiri dari luas lahan garapan (X2.1), tingkat pendapatan usahatani (X2.2) dan tingkat akses dan penerapan teknologi (X2.3) dengan tingkat partisipasi anggota poktan (Y1). Hubungan kedua variabel akan dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman.
Nilai koefisien korelasi variabel luas lahan garapan sebesar 0,256 yang artinya memiliki hubungan yang positif dan cukup kuat namun nilai korelasi tidak signifikan yaitu sig=0,73 (sig>0,05) Tingkat pendapatan usahatani didapat hasil yang berbeda yaitu nilai korelasi sebesar 0,425 yang artinya memiliki hubungan yang positif dan cukup kuat dengan nilai korelasi yang signifikanyaitu sig=0,002 (sig<0,005). Pada variabel tingkat akses dan penerapan teknologi mendapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,554 yang artinya memiliki hubungan yang positif dan kuat dengan nilai korelasi yang signifikan yaitu sig=0,000 (sig<0,05). Tabel 13 Nilai koefisien korelasi antara karakteristik usahatani dengan tingkat
partisipasi anggota poktan, 2014 No. Variabel peubah Luas
lahan garapan Tingkat pendapatan usahatani Tingkat akses dan penerapan teknologi Tingkat partisipasi
1 Luas lahan garapan 1.000 .589** .236 .256
2 Tingkat pendapatan
usahatani .589
**
1.000 .226 .425**
3 Tingkat akses dan
penerapan teknologi .236 .226 1.000 .554
**
Tingkat partisipasi .256 .425** .554** 1.000
**. α < 0.01 = korelasi signifikan
Setelah melakukan uji korelasi Rank Spearman, maka dapat dilihat pada hipotesisi penelitian ini, yaitu:
H1 : Terdapat hubungan antara karakteristik usahatani dengan tingkat partisipasi anggota poktan dalam pelaksanaan Program PUAP.
H0 : Tidak terdapat hubungan antara karakteristik individu dengan tingkat pasrtipasi anggota poktan dalam pelaksanaan Program PUAP.
Nilai korelasi signifikan pada tiga variabel karakteristik usahatani berbeda-beda. Namun demikian, terdapat dua variabel yang memiliki nilai korelasi signifikan (sig<0,05) yang artinya memiliki hubungan yang signifikan. Oleh karena dapat dikatakan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara karakteristik usahatani dengan tingkat partisipasi anggota poktan dalam pelaksanaan Program PUAP.
Hal tersebut terjadi karena ketika pendapatan usahatani perempuan rendah, maka perempuan membutuhkan waktu untuk bekerja lagi agar menambah pendapatan mereka sehingga mereka lebih memilih untuk bekerja dibandingkan mengikuti kegiatan. Begitu pula hal nya dengan tingkat akses dan penerapan kontrol yang perempuan gunakan hanya arit sehingga tidak memerlukan alat traktor yang mengharuskan mereka menyewa dari gapoktan.
Hubungan Peran Poktan dengan Tingkat Partisipasi Anggota Poktan Kelompok tani merupakan kelembagaan pertanian yang dalam pelaksanaan Program PUAP sebagai penyalur bantuan dana modal usaha. Pada kelompok tani yang ada di Desa Gempol Sari tidak hanya berfungsi sebagai penyalur dana, melainkan juga sebagai kelembagaan yang diharapkan dapat meningkat usaha pertanian yang ada di Desa Gempol Sari. Pada bab ini akan membahas mengenai hubungan peran kelompok dengan tingkat partisipasi anggota poktan dalam pelaksanaan Program PUAP. Hubungan antara dua variabel peran poktan (X3) dengan tingkat partisipasi anggota poktan (Y1) menggunakan uji statistik non-parametrik yaitu uji korelasi Rank Spearman. Variabel peran kelompok terbagi menjadi tiga, yaitu tingkat kapasitas dalam pembelajaran, tingkat kapasitas dalam kerjasama, dan tingkat kapasitas sebagai unit produksi.
Nilai koefisien korelasi tingkat kapasitas dalam pembelajaran sebesar 0,813 artinya memiliki hubungan yang positif dan sangat kuat dengan nilai korelasi yang signifikan yaitu sig=0,000 (sig<0,05). Pada tingkat kapasitas kerjasama nilai koefisien korelasi sebesar 0,204 artinya memiliki hubungan yang positif namun sangat lemah dan nilai korelasi yang tidak signifikan yaitu sig=0,156 (sig>0,05). Pada tingkat kapasitas sebagai unit produksi didapat nilai koefisien korelasi sebesar 0,422 artinya memiliki hubungan yang positif dan cukup kuat dengan nilai korelasi yang signifikan yaitu sig=0,002 (sig<0,05). Tabel 14 Nilai koefisien korelasi antara peran poktan dengan tingkat partisipasi
anggota poktan, 2014
No. Variabel peubah Tingkat kapasitas dalam pembelajaran Tingkat kapasitas kerjasama Tingkat kapasitas sebagai unit produksi Tingkat partisipasi 1 Tingkat kapasitas dalam pembelajaran 1.000 .145 .299 * .813** 2 Tingkat kapasitas kerjasama .145 1.000 .468 ** .204 3 Tingkat kapasitas sebagai unit produksi .299* .468** 1.000 .422** Tingkat partisipasi .813** .204 .422** 1.000 *. α < 0.05 = korelasi signifikan **. α < 0.01 = korelasi signifikan
Setelah melakukan uji korelasi Rank Spearman, maka kemudian dapat dilihat pada hipotesis penelitian ini, yaitu:
H1 : Terdapat hubungan antara peran poktan dengan tingkat partisipasi anggota dalam pelaksanaan Program PUAP.
H0 : Tidak terdapat hubungan antara peran poktan dengan tingkat partisipasi anggota dalam pelaksanaan Program PUAP.
Nilai korelasi signifikan pada tiga variabel peran poktan berbeda-beda. Namun demikian, terdapat dua variabel yang memiliki nilai korelasi signifikan (sig<0,05) yang artinya memiliki hubungan yang signifikan. Oleh karena dapat dikatakan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara peran poktan dengan tingkat partisipasi anggota poktan dalam pelaksanaan Program PUAP. Hal tersebut terjadi karena peran poktan sebagai kelas belajar dan unit produksi kurang dirasakan oleh perempuan. Hal itu seimbang dengan kurangnya keikutsertaan mereka dalam kegiatan penyuluhan atau pelatihan. Perempuan sebagai anggota poktan lebih berperan sebagai pelaksana program, namun pelaksanaan kegiatan kurang memperhatikan aktivitas domestik yang merupakan tanggung jawab perempuan. Selain itu, diskusi yang dilakukan antar anggota poktan (perempuan) lebih kepada urusan rumah tangga bukan hal yang berkaitan dengan kegiatan usahatani.
Ikhtisar
Karakteristik individu tidak berhubungan dengan tingkat partisipasi anggota poktan, baik pada umur, tingkat pendidikan formal maupun tingkat lama bertani. Pada karakteristik usahatani memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat partisipasi anggota poktan. Pada peran poktan terdapat satu variabel yang tidak memiliki hubungan dengan tingkat partisipasi anggota poktan yaitu tingkat kapasitas dalam wahan kerjasama. Sebanyak dua variabel dari peran poktan yang memiliki hubungan dengan tingkat partisipasi anggota poktan yaitu tingkat kapasitas dalam pembelajaran dan tingkat kapasitas sebagai unit produksi. Tingkat kapasitas dalam pembelajaran memiliki hubungan yang sangat kuat dengan tingkat partisipasi anggota poktan sedangkan tingkat kapasitas sebagai unit produksi memiliki hubungan yang cukup kuat dengan tingkat kapasitas anggota poktan. Jadi hanya karakteristik usahatani dan peran poktan yang terdapat hubungan dengan tingkat partisipasi anggota poktan dalam pelaksanaan Program PUAP. Selain itu, pandapangan responden tentang gender yang membentuk stereotipe terhadap perempuan yang memiliki hubungan terhadap tingkat pertisipasi yang meskipun dalam penelitian ini bukan merupakan sebuah faktor atau variabel pengaruh. Penguatan kelembagaan poktan/gapoktan memang dirasakan sangat perlu dalam pelaksanaan Program PUAP karena kadua variabel itu pun saling berhubungan. Hal tersebut sesuai dengan Deptan (2009) yang menyatakan bahwa perlunya pengembangan kelembagaan pertanian di perdesaan terutama dalam pelaksanaan Program PUAP yang berfungsi sebagai penyalur bantuan modal usaha bagi petani anggota.