• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Lampiran 7. Transkrip Wawancara Guru

TRANSKRIP WAWANCARA GURU KELAS Narasumber : guru kelas III Ibu LHK

Hari, tanggal : Kamis, 04 Juni 2015 Tempat : depan ruang kelas III Waktu : 12.30 – 13.20

Peneliti : “ Maaf Bu, boleh mengganggu waktu Ibu?” Informan : “Nggak papa, Mbak. Monggo.”

Peneliti : “Begini Bu, saya memiliki beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan implementasi nilai tanggung jawab dalam pembelajaran. Langsung saja ya Bu.”

Informan : “Iya, Mbak silahkan.”

Peneliti : “Apabila Ibu memberikan tugas biasanya diberi batasan waktu tidak?

Informan : “Iya, Mbak. Soalnya nanti kalau tidak diberi batas waktu misal 5 menit atau 3 menit nanti anak-anak itu jadi nggak fokus mengerjakannya, disambi-sambi mainan sendiri, ngobrol jadinya kelasnya tidak terkontrol.”

Peneliti : “Menurut pengalaman saya dulu itu kan kelas ini memang anak-anaknya luar biasa, Bu. Nah bagaimana cara Ibu untuk mengondisikan anak-anak itu agar dapat menyelesaikan tugas atau soal tepat waktu?”

Informan : “Kalau saya, bila memberi pertanyaan atau soal biasanya saya diktekan sehingga mau tidak mau anak-anak harus bisa berpikir cepat untuk menyelesaikannya. Pada dasarnya anak-anak ini memang cepat bosan ya Mba jadi harus dibuat sibuk agar mereka tetap fokus ke pelajarannya.”

Peneliti : “Apakah semua anak bisa menyelesaikannya sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan, Bu?”

Informan : “Beragam si Mba mereka, kemampuannya juga kan beda-beda. Ada yang mengerjakannya cepat ada juga beberapa anak ya Mbak e sudah tau sendiri kalau mengerjakan itu molor atau tidak tepat waktu.”

Peneliti : “Nah kalau ada siswa yang tidak tepat waktu dalam mengerjakan itu bagaimana, Bu? Apakah ada sanksinya?”

Informan : “Jika dalam batas waktu yang sudah ditentukan ada anak yang belum selesai biasanya saya memberi waktu tambahan. Kalau masih belum selesai juga ya ditinggal.”

Peneliti : “Kalau sanksi ada tidak, Bu?”

Informan : “bukan sanksi sih Mbak apa ya... misalnya gini saya memberi tugas untuk membuat kalimat, dalam waktu tertentu anak tersebut belum selesai walaupun sudah saya beri tambahan waktu. Biasanya kan saya mencocokkannya anak- anak disuruh membaca satu-persatu waktu gilirannya membaca si anak belum selesai, nah itu saya lanjut ke anak berikutnya. Nanti kalau sudah selesai semua baru anak yang tadi belum selesai saya tagih tugasnya, saya tanyakan lagi.”

Peneliti : “Jadi mereka diberi kesempatan untuk mengerjakannya sampai selesai ya, Bu?”

Informan : “Iya. Mereka juga sudah mendengar jawaban dari teman-temannya kan jadi sudah tahu bagaimana jawabannya tapi ya harus berbeda tentunya.”

123

Informan : “iya, Mbak mandiri tidak ada yang mencontek. Lagipula saya sering mendiktekan soalnya Mbak jadi itu merupakan strategi saya supaya anak-anak tidak mencontek. Saya juga selalu mengingatkan untuk tidak mencontek. Misal ‘yang sudah selesai bukunya ditutup, biar ngga di lihat temannya’ seperti itu.”

Peneliti : “Tapi kalau soalnya tidak didiktekan, biasanya ada yang mencontek tidak, Bu?”

Informan : “Hmm.. ya ada satu dua anak yang suka tanya sama temannya. Tapi anak- anak cenderung jujur sih Mbak. Paling kalau ada yang mau mencontek saya memperingatkan dulu. Kalau mencontek ya ada tapi banyak jujurnya. Kebiasaan seperti itu juga susah kan Mba, jadi saya berusaha untuk selalu mengingatkan pada anak-anak kalau mencontek itu perbuatan yang tidak baik. Saya juga selalu mengaikannya dengan ajaran agama Mba agar anak-anak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.”

Peneliti : “Setelah beberapa hari ini saya mengamati tidak ada tugas berkelompok. Mengapa Ibu tidak memberikan tugas kelompok?”

Informan : “Iya, Mbak mengapa saya tidak memberikan kegiatan kelompok, karena ini sebenarnya materi kelas III sudah selesai tho Mbak, jadi ini hanya mengulang materi yang sudah pernah diajarkan. Saya memang tidak memberikan tugas kelompok. Minggu-minggu ini memang digunakan untuk mengulang dan mengingat kembali pelajaran yang lalu guna menghadapi UKK.”

Peneliti : “Tapi kalau hari-hari biasa gimana, Bu? Ada pemberian tugas kelompok?” Informan : “Kalau dulu ya ada Mbak. Ini karena materinya sudah habis jadi

mengajarnya klasikal kan hanya mengulang pelajaran. Terkadang masih ada yang bingung tho Mba. Apalagi anak-anak sini harus benar-benar dituntun dan diulang-ulang agar mereka paham.”

Peneliti : “dalam melakukan tugas kelompok apakah anak-anak bisa melakukan kerjasama dengan baik, Bu?”

Informan : “kalau pas kerja kelompok saya lihat mereka antusias mba, senang kan kadang belajarnya tidak hanya di ruangan jadinya mereka senang. Mereka juga bisa bekerjasama dengan temannya dalam satu kelompok.”

Peneliti : “selama kegiatan pembelajaran berlangsung apakah siswa selalu mengerjakan tugas sesuai dengan petunjuk, Bu?”

Informan : “maksundnya bagaimana mba?”

Peneliti : “misalnya sedang pelajaran IPS tetapi ada anak yang membuka buku mata pelajaran lain atau disuruh mengerjakan latihan soal tapi malah tidak mengerjakan. Itu ada tidak, Bu?”

Informan : “ tidak selalu anak-anak itu mendengarkan petunjuk atau perintah dari saya mba. Ada beberapa anak yang suka mengobrol, tidak memperhatikan, yang suka usil juga ada, mainan sendiri.”

Peneliti : “Apakah Ibu selalu memberikan petunjuk pada tugas yang diberikan?” Informan : “selalu mba. Saya selalu menjelaskan tugas-tugasnya. Anak-anak kan masih

suka bingung tho mba jadi harus dijelaskan berulang-ulang juga supaya benar- benar paham dengan tugasnya sehingga anak dapat mengerjakan dengan baik.”

Peneliti : “dengan penjelasan yang sudah Ibu berikan apakah siswa mengerjakan tugas dengan teliti?”

Informan : “ada yang sudah teliti ada yang belum mba. Ada beberapa anak kalau mengerjakan tugas asal menjawab dan terburu-buru dalam menjawab soal

124

sehingga pekerjaannya kurang benar. Padahal saya selalu mengingatkan anak- anak untuk mengerjakan soal dengan teliti.”

Peneliti : “terburu-buru gimana Bu?”

Informan : “terburu-buru selak kepengen mainan lho mba ngobrol sama temannya. Jadinya mereka jawabnya kurang teliti.”

Peneliti : “lalu apakah siswa tidak melakukan tugas selain tugas yang diberikan?” Informan : “waktu awal-awal semester iya mba. Anak-anak masih sulit untuk

dikendalikan. Masih banyak anak yang mainan sendiri, mengganggu temannya, lari-larian di kelas. Tapi semaikn kesini anak-anak sudah lebih dewasa mungkin ya, jadi sudah bisa dibilangin. Anak-anak juga lebih fokus dalam mengerjakan sesuatu. Walaupun masih ada beberapa anak yang masih suka usil tapi menurut saya ini sudah jauh lebih terkontrol.”

Peneliti : “bagaimana sih cara Ibu untuk mengendalikan mereka? Saya dulu juga mengalami sendiri kan, Bu jadi saya juga bisa merasakan perbedaannya.” Informan : “saya dulu juga bingung mba gimana cara menghadapi mereka. Akhirnya

saya tegasi ya lumayan saya juga selalu mengaitkannya dengan agama. Saya juga mencoba melatih anak-anak untuk shalat dhuha. Saya mikirnya dengan anak-anak lebih dekat pada Tuhannya mereka lebih bisa dikontrol gitu mba.” Peneliti : “Adakah sanksi bagi siswa yang mengerjakan tugas tidak sesuai petunjuk?

Misalnya seperti apa?”

Informan : “Bukan sanksi sebenarnya tapi untuk memfokuskan perhatian anak. Biasanya saya langsung menunjuk nama dan menegur anak tersebut lalu saya beri pertanyaan yang masih berkaitan dengan materi yang sedang diajarkan. Selain itu misal ‘RMA 10 soal, YK 5 soal’ seperti itu jadi sanksinya bukan ke sanksi fisik tapi bagaimana cara agar anak bisa tetap fokus ke pembelajaran.”

Peneliti : “jadi fokusnya ke bagaimana memfokuskan perhatian anak ya bu?”

Informan : “iya, mba. Soalnya kalau ank-anak sudah bisa fokus ke pembelajaran lebih mudah untuk menerima pelajaran.”

Peneliti : “Bagaimana tindakan siswa apabila terlambat masuk kelas?”

Informan : “Kalau di kelas ini, alhamdulillah tidak ada anak yang sering terlambat. Semuanya datang tepat waktu, tidak ada yang terlambat. Kalau di kelas sebelah itu ada mba, jam setengah 8 itu kadang baru berangkat.”

Peneliti : “Bagaimana tindakan siswa ketika berbuat salah dengan temannya?”

Informan : “kalau ada yang bertengkar saya tegur mba. Saya tanya kenapa kok mengganggu temannya. Saya nasehati kalau mengganggu teman itu perbuatan yang tidak baik, saya kaitkan juga dengan nilai agama. Setelah itu saya bujuk mereka untuk berbaikan. Maaf-maafan.”

Peneliti : “Apa yang dilakukan siswa jika hendak keluar kelas, Bu?”

Informan : “Kalau mau keluar kelas anak-anak selalu meminta ijin terlebih dahulu. Tapi kita juga ada kesepakatan mba, tidak boleh terlalu sering minta ijin keluar kelas saat pelajaran berlangsung.”

Peneliti : “kenapa, Bu? Alasannya apa?”

Informan : “kalau anak-anak banyak yang lalu-lalang kan mengganggu temannya belajar mba. Dianya juga jadi ga ketinggalan materi waktu ditinggal keluar. Jadi saya membatasi anak-anak untuk keluar kelas biar mereka bisa fokus ke mata pelajaran.”

Peneliti : “Apa yang dilakukan siswa apabila ada materi yang kurang jelas?”

Informan : “kalau ada hal yang belum jelas, anak-anak selalu bertanya, mba. Pada dasarnya tingkat rasa ingn tahu mereka itu tinggi. Apa-apa ditanyakan sampe terkadang saya juga bingung sendiri Mba.”

125

Peneliti : “lalu bagaimana cara anak-anak dalam bertanya, Bu?”

Informan : “anak-anak biasanya langsung manggil saya, kadang juga mengangkat tangan. Tidak jarang mereka juga maju menghampiri saya.”

Peneliti : “Apakah Ibu memantau siswa melaksanakan kegiatan piket kelas?”

Informan : “Selalu mba. Kadang ada anak yang langsung pulang gitu aja tho, jadi sebelum saya bubarkan saya selalu mengingatkan pada yang piket untuk membersihkan kelas terlebih dahulu. Ini juga saya lakukan agar saya dapat memantau bagaimana tanggung jawab anak saat melakukan kewajiban mereka, apakah ada yang tidak melakukannya apa tidak.”

Peneliti : “Apakah Ibu selalu berdoa sebelum dan sesudah pelajaran?”

Informan : “Tentu saja, itu yang pertama dan utama, mba. Bahkan anak-anak terkadang berdoa secara mandiri. Kadang waktu saya belum masuk kelas ada guru lain yang datang untuk memasukkan anak-anak dan mereka berdoa.”

Peneliti : “sebelum masuk kelas itu anak-anak juga berbaris ya, Bu?”

Informan : “iya, mba. Itu juga mengajarkan mereka untuk tertib dan disiplin.”

Peneliti : “Apakah Ibu memantau siswa dalam mengikuti kegiatan shalat berjamaah?” Informan : “Selalu saya pantau. Ketika jadwal shalat selalu saya dampingi, hal ini

dilakukan untuk memantau bagaimana tanggung jawab mereka terhadap kewajibannya terhadap Tuhan.”

Peneliti : “Apa yang Ibu lakukan ketika ada siswa yang membuat gaduh di kelas?” Informan : “saya tegur mba, waktu awal-awal dulu saya panggil nama langsung saya

nasehatin di depan teman-temannya. Sekarang ini saya lebih ke memberikan pertanyaan tentang materi terkait pelajaran yang sedang berlangsung. Kadang juga saya suruh maju untuk menjelaskan biar anak-anak bisa fokus ke pembelajaran lagi.”

Peneliti : “Apa yang Ibu lakukan ketika ada siswa yang mengganggu temannya?” Informan : “ditegur juga mba. Menegurnya juga dikaitkan dengan agama sehingga anak-

anak bisa paham mana yang baik dan mana yang tidak baik, setelah itu baru menyuruh mereka untuk berbaikan. Pokoknya setiap ada kesempatan saya selalu berpesan pada anak-anak agar berbuat baik.”

Peneliti : “Apakah Ibu selalu menggunakan tutur kata dan bahasa yang baik dan sopan baik di dalam maupun di luar kelas?”

Informan : “Tentu saja mba, ini merupakan dasar yang harus guru lakukan sebagai contoh dan teladan bagi siswanya. Dengan melihat dan mengamati guru dalam berbicara menggunakan bahasa yang baik nantinya anak-anak akan mencontoh hal itu dengan sendirinya.”

Peneliti : “Bagaimana cara Bapak dan Ibu guru berpakaian?”

Informan : “guru-guru di sini selalu berusaha tampil bersih, rapi dan sopan ya mba. Kayaknya belum pernah ada guru yang berpakaian kurang sopan. Ini salah satu upaya kita untuk menjadi teladan bagi siswa juga tho”

Peneliti : “Apakah Ibu selalu datang tepat waktu?”

Informan : “kalau saya selalu mengusahakan agar tepat waktu, mba. Kalau tidak ada sesuatu yang sangat darurat dan mendesak sekali insyaallah tidak terlambat, mba. Kalau terlambat 3- 5 menit ya pernah.”

Peneliti : “nah apabila terlambat apa yang Ibu lakukan apabila terlambat masuk kelas?” Informan : “Apabila saya terlambat masuk kelas biasanya saya jelaskan mengapa saya

bisa terlambat agar anak-anak tahu dan mengerti.”

Peneliti : “Apakah penyediaan tempat sampah di lingkungan sekolah sudah memadai?” Informan : “Kalau tempat sampah di lingkungan ini sudah sangat memadai. Bahkan sudah disediakan tempat sampah yang terpisah antara sampah organik,

126

anorganik dan sampah kaca. Hanya saja kesadaran anak-anak yang terkadang masih sulit untuk dikontrol.”

Peneliti : “Adakah slogan tentang budi pekerti yang tertempel di dinding kelas?” Informan : “Kalau slogan tenteng budi pekerti di setiap kelas memang belum ada, tetapi

ada beberapa yang tertempel di dinding sekolah.”

Peneliti : “Apakah ada aturan tata tertib sekolah yang tertempel di kelas?”

Informan : “Kalau aturan tata tertib sekolah ada tertempel di setiap kelas, harapannya anak-anak bisa membaca dan menaatinya. Jadi tidak ada pelanggaran- pelanggaran tata tertib sekolah. Meskipun begitu yang namanya anak-anak ada kalanya mereka tidak menaati aturan.”

Peneliti : “Adakah kendala yang Ibu hadapi dalam pengimplementasian nilai tanggung jawab?”

Informan : “Kendala di setiap kegiatan pasti ada kendalanya.”

Peneliti : “Kendala atau hambatan apa saja yang Ibu alami dalam implementasi nilai tanggung jawab dalam pembelajaran?”

Informan : “Kalau dalam pembelajaran lebih ke sifat anak-anak yang malas. Jadi untuk pembiasaannya harus benar-benar diawasi. Sebagai guru kita harus telaten mengingatkan, memberi nasehat dan memotivasi anak-anak agar mereka memiliki semanga belajar yang tinggi. Faktor orangtua di rumah juga sangat berpengaruh dalam implementasi sikap tanggung jawab itu sendiri, misal di sekolah sudah diajarkan, diberi contoh untuk membuang sampah di tempatnya tetapi kalo di rumah tidak dibiasakan ya kurang maksimal.”

Peneliti : “bagaimana jika terjadi seperti itu, Bu. Di rumah mereka kurang dibiasakan untuk bertanggung jawab?”

Informan :“ya anaknya yang saya suruh untuk menjadi contoh buat keluarganya, biasanya seperti itu.”

Peneliti :“Bagaimana cara Ibu untuk mengatasi hambatan dalam mengimplementasikan nilai tanggung jawab?”

Informan : “Untuk mengatasi hambatan yang ada, saya selalu menasehati anak-anak, saya ulang-ulangi secara terus menerus. Selain itu, saya juga selalu mengaitkannya dengan agama agar anak-anak bisa lebih dekat ke Allah juga. Saya meyakini kalau anak-anak dekat dengan Tuhannya, maka anak-anak akan lebih mudah untuk diatur. Apabila kondisi di rumah tidak membiasakan anak- anak untuk bertanggung jawab, saya meminta anak-anak agar menjadi contoh di rumahnya.”

127

Dokumen terkait