PELANGGARAN LARANGAN KAMPANYE A. Pengertian Tindak Pidana Pemilihan Umum
B. Tugas Dan Wewenang Pengawas Pemilihan Umum
Penyelenggara pemilu pada pemilu legislatif tahun 2009 terdiri dari KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, Panitia Pemilihan Kecamatan, Panitia Pemungutan Suara, Panitia Pemilihan Luar Negeri, Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri. Dalam rangka penyelenggaraan pemilu legislatif
37
Eko Wilyono, Varia Peradilan, (Jakarta: Ikatan Hakim Indonesia IKAHI, 2009), Op cit. hlm. 22.
38
tahun 2009 untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Menurut ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 Penyelenggara Pemilu haruslah berpedoman kepada asas :
a. Mandiri; b. Jujur; c. Adil;
d. Kepastian hukum;
e. Tertib penyelenggara Pemilu; f. Kepentingan umum; g. Keterbukaan; h. Proporsionalitas; i. Profesionalitas; j. Akuntabilitas; k. Efisiensi; dan l. Efektivitas.
Supaya penyelenggara pemilu dalam melaksanakan tugasnya mentaati asas penyelenggara pemilu maka diperlukan adanya pengawasan. Pasal 70 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 menyatakan “Pengawasan penyelenggaraan pemilu dilakukan oleh Bawaslu, Panwaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten/Kota, Panwaslu Kecamatan, Pengawas Pemilu Lapangan, dan Pengawas Pemilu Luar Negeri”.
Pengangkatan pengawas pemilu dilakukan melalui beberapa tahapan seleksi. Untuk pengangkatan Anggota Bawaslu setelah dinyatakan layak dan patut oleh Tim Seleksi maka pengesahannya ditetapkan dengan keputusan Presiden, untuk Anggota Panwaslu Provinsi ditetapkan dengan keputusan Bawaslu, untuk anggota Panwaslu Kabupaten Kota ditetapkan dengan keputusan Bawaslu, anggota Panwaslu Kecamatan ditetapkan dengan keputusan Panwaslu Kabupaten/Kota, anggota
Pengawas Pemilu Lapangan ditetapkan dengan keputusan Panwaslu Kecamatan, pengawas Pemilu Luar Negeri dapat dibentuk dan ditetapkan dengan keputusan Bawaslu atas usulan kepala Perwakilan Republik Indonesia.
Netralitas dan independensi pengawas pemilu dalam mengawasi penyelenggaraan pemilu legislatif tahun 2009 pada setiap tahapannya sangat diharapkan, karena pada pemilu sebelumnya ketidakberdayaan panwaslu didaerah dalam melaksanakan tugasnya sangat jelas terlihat, persoalan ini sangat terkait dengan netralitas dari lembaga tersebut dalam melakukan pengawasan.
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilu memberikan perubahan dalam hal independensi. Meskipun tidak signifikan. Meskipun panwaslu di daerah tidak lagi dipilih oleh DPRD, namun Bawaslu sendiri masih dipilih oleh DPR. Kita sudah mafhum, bahwa fit and proper test
yang dilakukan DPR sesungguhnya hanyalah formalitas semata. Sebab pilihan mereka sesungguhnya sudah jadi setelah lolos 15 nama dari hasil seleksi. Lima nama calon Bawaslu yang akan dipilih sebenarnya sudah jadi dan terkompromikan atas nama kepentingan politik yang tidak lepas dari unsur pragmatisme.39
Pengawasan didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam kata lainnya disebut juga berupa kontrol, pemeriksaan, pengendalian.40
39
Dengan adanya pengawasan diharapkan orang ataupun suatu lembaga dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan tugas, wewenang dan tanggungjawabnya.
Rakyat), Panwaslu dan Bawaslu, Serupa Tapi (Tetap) sama, tanggal 1/6/2011, hlm. 2.
40
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2009). hlm. 592.
Adapun kedudukan dan tugas pengawas pemilu masing-masing berbeda sesuai dengan tingkatannya. Pasal 1 angka (15), (16), (17), (18), (19) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 menyatakan : Badan Pengawas Pemilu, selanjutnya disebut Bawaslu, adalah badan yang bertugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, Panwaslu Provinsi dan Panwaslu adalah Panitia yang dibentuk oleh Bawaslu untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di wilayah provinsi dan kabupaten/kota, Panwaslu Kecamatan adalah panitia yang dibentuk oleh Panwaslu Kabupaten/Kota untuk mengawasi penyelenggaraan pemilu di wilayah kecamatan atau nama lain, Pengawas Pemilu Lapangan adalah petugas yang dibentuk oleh Panwaslu Kecamatan untuk mengawasi penyelenggaraan pemilu di desa atau nama lain/kelurahan, Pengawas Pemilu Luar Negeri adalah petugas yang dibentuk oleh Bawaslu untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di luar negeri.
Dalam membahas tentang tugas dan wewenang pengawas pemilu, untuk memudahkan kita memahaminya perlu diuraikan terlebih dahulu pengertian tugas dan wewenag tersebut.
Tugas dalam kata lainnya dapat disebut sebagai sesuatu yang wajib dikerjakan atau yang ditentukan untuk dilakukan, pekerjaan yang menjadi tanggungjawab seseorang pekerjaan yang dibebankan, pegawai hendaklah menjalankan masing-masing dengan baik.41
41
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Op cit, hlm. 1215.
kekuasaan untuk bertindak, dan kewenangan adalah kekuasaan membuat keputusan, memerintah dan melimpahkan tanggungjawab kepada orang lain.42
Tulisan ini membahas tentang analisis penegakan hukum tindak pidana pemilu legislatif tentang pelanggaran larangan kampanye dengan mengemukakan contoh kasus tindak pidana pemilu pelanggaran larangan kampanye tentang menggunakan atribut dan/atau tanda gambar selain atribut dan/atau tanda gambar peserta pemilu yang bersangkutan pada pemilu legislatif tahun 2009 yang terjadi di Kabupaten Padang Lawas dan telah diputus oleh Pengadilan Negeri Padangsidimpuan Jo. Pengadilan Tinggi Medan . Untuk itu akan diuraikan tentang tugas dan wewenang serta kewajiban Panwaslu Kabupaten/Kota.
Pasal 78 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 menyatakan:
(1). Tugas dan wewenag Panwaslu Kabupaten/Kota adalah:
a. mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu di wilayah kabupaten/kota yang meliputi:
1 pemutakhiran data pemilih berdasarkan data kependudukan dan penetapan daftar pemilih sementara dan daftar pemilih tetap;
2. pencalonan yang berkaitan dengan persyaratan dan tata cara pencalonan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dan pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota;
3. proses penetapan calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota;
42
4. penetapan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota;
5. pelaksanaan kampanye;
6. perlengkapan pemilu dan pendistribusiannya;
7. pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara hasil pemilu; 8. mengendalikan pengawasan seluruh proses penghitungan suara; 9. pergerakan surat suara dari tingkat TPS sampai ke PPK;
10. proses rekapitulasi suara yang dilakukan oleh KPU kabupaten/kota dari seluruh kecamatan;
11. pelaksanaan penghitungan dan pemungutan suara ulang, Pemilu Lanjutan, dan Pemilu susulan; dan
12. proses penetapan hasil Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dan Pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota;
b. menerima laporan dugaan pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai pemilu;
c. menyelesaikan temuan dan laporan sengketa penyelenggaraan pemilu yang tidak mengandung unsur tindak pidana;
d. menyampaikan temuan dan laporan kepada KPU Kabupaten/Kota untuk ditindaklanjuti;
e. meneruskan temuan dan laporan yang bukan menjadi kewenangannya kepada instansi yang berwenang;
f. menyampaikan laporan kepada Bawaslu sebagai dasar untuk mengeluarkan rekomendasi Bawaslu yang berkaitan dengan adanya dugaan tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan pemilu oleh penyelenggara pemilu di tingkat kabupaten/kota;
g. mengawasi pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Bawaslu tentang pengenaan sanksi kepada anggota KPU kabupaten/kota yang terbukti melakukan tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan pemilu yang sedang berlangsung;
h. mengawasi pelaksanaan sosialisasi penyelenggaraan pemilu; dan
i. melaksanakan tugas dan wewenag lain yang diberikan oleh undang-undang. (2). Dalam pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Panwaslu
Kabupaten/Kota berwenang;
a. memberikan rekomendasi kepada KPU untuk menonaktifkan sementara dan/atau mengenakan sanksi administratif atas pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g;
b. memberikan rekomendasi kepada yang berwenang atas temuan dan laporan terhadap tindakan yang mengandung unsur tindak pidana pemilu.
Dari ketntuan Pasal 78 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 dapat dikelompokan beberapa bentuk tugas dan wewenang dari Panwaslu Kabupaten/Kota diantaranya yaitu:
1. Kewenangan pengawasan berhubungan dengan kelengkapan administrasi; 2. Kewenangan pengawasan berhubungan dengan pelaksanaan kampanye; 3. Kewenangan pengawasan berhubungan dengan perlengkapan pemilu,
pendistribusian dan pelaksanaan pemungutan suara;
4. Kewenangan pengawasan berhubungan dengan prnghitungan suara hingga penetapan hasil pemilu;
5. Kewenangan berhubungan dengan menerima laporan, memproses laporan, meneruskan laporan, dan memberikan rekomendasi kepada yang berwenang. Adapun tentang kewajiban Panwaslu Kabupaten/kota diatur pada Pasal 79 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 yang menyatakan Panwaslu Kabupaten/Kota berkewajiban:
a. Bersikap tidak diskriminatif dalam menjalankan tugas dan wewenangnya; b. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas Panwaslu
pada tingkatan dibawahnya;
c. Menerima dan menindaklanjuti laporan yang berkaitan dengan dugaan adanya pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai pemilu;
d. Menyampaikan laporan kepada Panwaslu Provinsi sesuai dengan tahapan pemilu secara periodik dan/atau berdasarkan kebutuhan;
e. Menyampaikan temuan dan laporan kepada Panwaslu Provinsi berkaitan dengan adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh KPU
Kabupaten/Kota yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan pemilu ditingkat kabupaten/kota; dan
f. Melaksanakan kewajiban lain yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan.
Dari uraian tentang tugas dan wewenang Panwaslu kabupaten/kota, jika terjadi pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai pemilu maka Panwaslu kabupaten/kota berwenang untuk menerima laporan dan kemudian menyelesaikan permasalahan tersebut atau meneruskan kepada instansi yang berwenang.
Dalam hal adanya temuan atau laporan yang mengandung unsur tindak pidana pemilu maka Panwaslu kabupaten/kota berwenang untuk menerima laporan kemudian memberikan rekomendasi kepada yang berwenang, Dalam hal ini batasan tugas dan kewenangan Panwaslu Kabupaten/Kota jelas hanya sampai ketingkat pemberian rekomendasi, sedangkan kewenangan untuk melakukan penyidikan tetap ada pada Kepolisian.
BAB III
PENGATURAN TINDAK PIDANA PEMILIHAN UMUM DAN