• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Dalam dokumen PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL (Halaman 38-0)

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………… 1-28

F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini dijabarkan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaruh intellectual capital terhadap kinerja keuangan.

2. Untuk mengetahui pengaruh keputusan pendanaan terhadap kinerja keuangan.

3. Untuk mengetahui pengaruh kebijakan dividen terhadap kinerja keuangan.

4. Untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan terhadap kinerja keuangan.

5. Untuk mengetahui pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan.

6. Untuk mengetahui pengaruh intellectual capital terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan.

7. Untuk mengetahui pengaruh keputusan pendanaan terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan.

8. Untuk mengetahui pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan.

9. Untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan.

2. Kegunaan Penelitian

Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan kegunaan dan kontribusi sebagai berikut:

Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan bermanfaat sebagai salah satu bahan evaluasi guna menverifikasi teori yang ada dengan fenomena yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Beberapa teori yang menjadi rujukan dalam penelitian ini adalah stakeholdertheory, signalling theory.Teori-teori tersebut selanjutnya akan berperang menaungi pembuktian empiris atas pengaruh intellectual capital, keputusan pendanaan dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan dengan kinerja keuangan sebagai variabel intervening. Apabila pembuktian secara empiris hasilnya menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan, maka teori-teori tersebut dapat diverifikasi secara ilmiah dan dapat diimplementasikan manfaatnya secara praktis.

Penelitian ini juga dapat memberikan bukti bahwa kinerja keuangan memiliki keterlibatan peran dalam memengaruhi intellectual capital, keputusan pendanaan dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan. Apabila pembuktian empiris dapat menjelaskan bahwa kinerja keuangan dapat memengaruhi semua variabel maka hasil penelitian ini memberikan nuansa baru dalam pengembangan teori akuntansi dan keuangan sehingga akan semakin memperkaya khasanah baru ilmu pengetahuan modern khususnya pada rumpun ekonomi, keuangan dan bisnis.

Kegunaan Praktis

Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi berupa pandangan dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang mampu mengangkat dan meningkatkan nilai perusahaan dimata pihak eksternal perusahaan. Hasil penelitian juga diharapkan dapat memberikan saran dan masukan kepada manajemen sebagai salah satu bahan pertimbangan didalam merumuskan kebijakan keuangan perusahaan, khususnya terkait pengelolaan keputusan pendanaan, kebijakan dividen, modal intelektual dan evaluasi kinerja keuangan.

Bagi calon investor, penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan dan bahan pertimbangan analisis didalam pembuatan keputusan investasi yang optimal dan menguntungkan. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan memberikan kandungan informasi sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan portofolio dan pemilihan saham di perusahaan.

Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan refrensi dalam mengembangkan teori terkait modal intelektual, keputusan pendanaan dan kebijakan dividen yang diterapkan pada suatu perusahaan serta pengaruhnya terhadap nilai perusahaan. Terakhir bagi peneliti selanjutnya, Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau sebagai salah satu sumber rujukan penelitian di bidang keuangan khususnya yang mengkaji mengenai determinan nilai perusahaan.

BAB II

TINJAUAN TEORETIS A. Signalling Theory

Menurut Raharja dan Fenandar (2012) menyatakan bahwa signal merupakan suatu tindakan yang diambil perusahaan guna memberika petunjuk kepada investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek dari perusahaan. Signal ini dapat berbentuk informasi yang menggambarkan bahwa perusahaan tersebut lebih baik dibandingkan perusahaan lain. Informasi tersebut penting bagi para investor karena informasi tersebut menyajikan keterangan, gambaran atau catatan yang berkaitan dengan keadaan perusahaan baik keadaan masa lalu ataupun masa yang akan datang.

Nilai perusahaan dapat ditingkatkan dengan cara memberikan sinyal kepada pihak-pihak diluar perusahaan dalam bentuk informasi keuangan yang terpercaya sehingga dapat mengurangi ketidakpastian tentang keadaan perusahaan dan prospek perusahaan dimasa mendatang. Pengumuman informasi keuangan memberikan sinyal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik ataupun buruk dimasa yang akan datang.

Jika informasi keuangan memiliki penilaian yang baik maka informasi yang akan diterima oleh investor merupakan kabar baik sehingga para investor tertarik untuk melakukan perdagangan saham yang akan berujung pada perubahan harga saham.

Signalling Theory ini didasarkan pada asumsi bahwa terjadi asimetri informasi antara manajer dengan investor. Para manajer sering memiliki informasi yang lebih dibandingkan dengan investor. Signalling theory menjelaskan bahwa perusahaan atau organisasi yang berkinerja dengan baik akan terdorong memberikan sinyal pada pasar,

sehingga pasar diharapkan mampu membedakan perusahaan yang memiliki prospek yang baik dengan perusahaan yang memiliki prospek yang buruk (Mawardi dan Noval, 2017). Kebijakan hutang suatu perusahaan juga dapat digunakan sebagai sinyal untuk dapat membedakan perusahaan yang berkinerja baik dan buruk. Brigham dan Houston (2011) menyatakan bahwa peningkatan hutang diartikan sebagai kemampuan sebuah perusahaan untuk membayar kewajiban dimasa yang akan datang atau adanya risiko bisnis yang rendah, hal tersebut akan direspon secara positif oleh pasar.

Pembagian dividen juga dapat digunakan sebagai sinyal bagi investor dalam menilai kinerja sebuah perusahaan. Kenaikan jumlah dividen dianggap sebagai sinyal bahwa manajemen perusahaan meramalkan laba yang baik dimasa depan. Artinya bahwa pembayaran dividen yang tinggi merupakan sinyal positif, yang mengindikasikan prospek perusahaan yang menguntungkan. Perusahaan yang memiliki laba yang tinggi juga memiliki sinyal yang mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki prospek bagus dimasa yang akan datang (Sujoko dan Soebiantoro, 2007).

B. Resource Based Theory

Resource based theory merupakan sumber daya perusahaan sebagai pengendali utama dibalik kinerja dan daya saing perusahaaan. Berdasarkan teori ini, sebuah perusahaan dapat dinilai sebagai kumpulan sumber daya fisik, sumber daya manusia dan sumber daya organisasi (Trigan, 2011). Teori ini juga berkembang dalam manajemen strategik dan keunggulan kompetitif dalam perusahaan yang diyakini bahwa perusahaan akan mencapai keunggulan apabila perusahaan memili sumber daya yang bermutu. Pokok yang mendasari teori ini adalah bahwa suatu organisasi atau

perusahaan dapat berhasil jika mencapai maupun mempertahankan keunggulan kompetitifnya. Keunggulan kompetitif ini tercapai apabila perusahaan dapat mengimplementasikan strategi penciptaan nilai yang tidap dapat ditiru oleh para pesaingnya serta tidak ada penggantinya. Resource based theory ini dipelopori oleh Penrose (1959) yang mengemukakan bahwa sumber daya perusahaan adalah heterogen, tidak homogen, jasa produktif yyang tersedia berasal dari sumber daya perusahaan yang memberikan karakter unik bagi tiap-tiap perusahaan.

Resource based theory membahas mengenai sumber daya yang dimiliki perusahaan dan bagaimana perusahaan tersebut mampu mengelola dan memanfaatkan sumber dayanya dengan baik. Kaitannya dengan penelitian ini, bahwa resource based theory ini menjelaskan bahwa kemampuan perusahaan dalam mengelolah sumber intelektual tersebut dengan baik mampu menciptakan keunggulan bersaing sehingga dapat menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Agar dapat bersaing dalam dunia ekonomi sekarang ini, maka organisasi atau perusahaan membutuhkan dua hal utama.

Pertama, memiliki keunggulan dalam sumber daya yang dimilikinya baik berupa aset yang berwujud maupun aset yang tidak terwujud. Kedua, kemampuan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki secara efektif (Pratama, 2015).

Susanto menjelaskan bahwa teori ini memiliki hal yang paling utama yaitu menenntukan sumber daya kunci yang potensial bagi perusahaan untuk meraih keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan identifikasi terlebih dahulu terhadap berbagai jenis sumber daya yang dimiliki perusahaan yang meliputi seluruh aset, proses organisasi, pengetahuan, kapabilitas,

atribut-atribut dan sebagainya yang dikendalikan oleh sebuah yang memungkinkan perusahaan tersebut memperbaiki tingkat efisiensi dan ativitasnya.

Teori berbasis sumber daya (RBT) ini merupakan pengembangan atas teori Ricardo’s Economic Rent, dan structure-performance-conduct Porter (Barney dan Clark, 2007). Teori ini muncul karena adanya pertanyaan mengenai mengapa sebuah organisasi atau perusahaan mampu mengungguli perusahaan lain serta mempunyai kinerja superior yang berkelanjutan. Kumpulan sumber daya yang unik yang dimiliki dan dikendalikan oleh perusahaan memungkinkan untuk mencapai dan mempertahankan kinerja superior yang berkelanjutan. Adapun sumber daya unik yang dimaksud dalam teori ini yaitu sumber daya yang bernilai (valuable), langka (rare), tidak dapat ditiru (inimitable), dan tidak tergantikan (non-subtitutable) (Widyaningdyah dan Aryani, 2013). Jenis sumber daya ini dapat mengantarkan perusahaan pencapaian keunggulan yang kompetitif sehingga Resource Based Theory sangat tepat untuk menjelaskan penelitian ini tentang Intellectual Capital, terutama dalam konteks hubungan antara kinerja intellectual capital dan kinerja perusahaan.

C. Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan merupakan kondisi tertentu yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan setelah melalui suatu proses kegiatan selama beberapa tahun yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan sampai saat ini (Sudiyatno, 2010). Menurut (Irawati, 2016) nilai perusahaan merupakan konsep penting bagi investor karena nilai perusahaan merupakan indikator bagaimana pasar menilai perusahaan secara keseluruhan. Nilai perusahaan dapat

mencerminkan nilai aset yang dimiliki perusahaan seperti surat-surat berharga. Saham merupakan salah satu aset berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan.

Hermuningsih dan Wardani (2009) menyatakan bahwa nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang digunakan umumnya mengacu pada harga penutupan (closing price) dan merupakan harga yang terjadi pada saat saham diperdagangkan di pasar. Harga saham di pasar modal terbentuk berdasarkan kesepakatan antara permintaan dan penawaran para investor sehingga harga saham merupakan fair price yang dapat dijadikan sebagai proksi nilai perusahaan.

Harga saham yang cenderung meningkat merefleksikan adanya peningkatan terhadap nilai perusahaan tersebut, hal tersebut memicu meningkatnya kepercayaan pasar terhadap reputasi perusahaan. Penilaian mereka tidak hanya dari aspek kinerja perusahaan namun juga berkaitan dengan prospek perusahaan di masa mendatang.

Sumarsono dan Hartediansyah (2012) berpendapat jika harga saham meningkat berarti nilai perusahaan meningkat dan kesejahteraan pemilik meningkat pula. Hal tersebut mungkin saja benar, tetapi dalam realita bahwa tidak semua perusahaan menginginkan harga saham yang tinggi karena adanya anggapan bahwa harga saham yang terlalu tinggi akan mengurangi minat investor untuk membelinya dan menyebabkan saham tidak laku dijual. Pernyataan itu dapat dibuktikan dengan adanya berbagai perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia yang melakukan stock split (memecah saham) itulah sebabnya harga saham harus dapat dibuat seoptimal mungkin, artinya bahwa

harga saham tidak boleh terlalu tinggi dan terlalu rendah. Harga saham yang terlalu murah atau rendah dapat berdampak buruk pada citra perusahaan di mata investor.

Nilai perusahaan dapat diukur menggunakan indikator Price Book Value (PBV).

Price book value merupakan perbandingan antara nilai pasar per lembar saham dengan nilai buku per lembar saham. Arindita (2015) menyatakan bahwa PBV memiliki beberapa keunggulan, yaitu: (1) menghasilkan nilai yang relatif stabil dan dapat dibandingkan dengan harga pasar; (2) memberikan standar akuntansi yang konsisten pada seluruh perusahaan; (3) perusahaan yang tidak dapat diukur dengan PER karena pendapatan yang negatif, dapat dievaluasi menggunakan PBV. Penggunaan PBV sebagai proksi nilai perusahaan salah satunya karena PBV merupakan salah satu rasio keuangan yang ditampilkan dalam ringkasan kinerja perusahaan dan cenderung lebih mudah dihitung dan dipahami.

Suatu perusahaan dikatakan mempunyai nilai yang baik jika kinerja perusahaan juga baik. nilai perusahaan dapat tercermin dari harga sahamnya, jika nilai sahamnya tinggi maka dikatakan nilai perusahaan juga baik (Rachmawati, 2007). Hal tersebut dapat dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur‟an Surah Al-Qashash ayat 77 yang berbunyi:

ُهللَّٱ َنَس ۡحَأ ٓاَمَك ن ِس ۡحَأ َو َۖاَي ۡنُّدلٱ َنِم َكَبي ِصَن َسنَت َلَ َو ََۖة َرِخٓ ۡلۡٱ َراهدلٱ ُ هللَّٱ َك ٰىَتاَء ٓاَميِف ِغَت ۡبٱ َو ِف َداَسَد ۡلٱ ِغ ۡبَت َلَ َو ََۖك ۡيَلِۡ

َنيِد ِس ۡدُم ۡلٱ ُّبِحُي َلَ َ هللَّٱ هنِۡ َۖ ِض ۡرَ ۡلۡٱ Terjemahnya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash:77).

Menurut Tafsir A. Ghani, ayat tersebut menyatakan bahwa Allah SWT menerangkan nasihat dan petunjuk yang ditunjukan kepada Karun oleh kaumnya.

Barangsiapa mengamalkan nasihat dan petunjuk itu akan memperoleh kesejahteraan di dunia dan di akhirat kelak. Nasihat tersebut adalah seseorang harus berbuat baik sebagaimana Allah SWT berbuat baik kepadanya dan janganlah berbaut kerusakan di atas bumi. Allah SWT tidak akan menghormati mereka yang berbuat kerusakan bahkan Allah SWT tidak akan memberikan ridho dan rahmat-Nya.

Oleh karena itu, jika dikaitkan dengan sebuah perusahaan kita diajarkan berbuat baik terhadap masyarakat, jangan berbuat kerusakan di bumi agar tidak membuat masyarakat kecewa dan menumbuhkan citra yang bai untukmendapatkan kepercayaan masyarakat terutama kepercayaan dari pihak investor.

D. Intellectual Capital

Septiana (2018) mendefinisikan intellectual capital sebagai sumber daya pengetahuan dalam bentuk karyawan, pelangang, proses atau teknologi yang dapat digunakan untuk membantu menciptakan nilai dan meningkatkan keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Menurut Jayanti dan Binastuti (2017) bahwa intellectual capital adalah jumlah dari semuanya, semua orang di perusahaan yang memberikan keunggulan kompetitif di pasar. Intellectual capital dianggap sebagai jumlah dari apa yang dihasilkan oleh tiga elemen utama organisasi (human capital, structural capital, customer capital) yang berkaitan dengan pengetahuan dan teknologi yang dapat memberikan nilai lebih atau nilai tambah bagi perusahaan berupa keunggulan bersaing

organisasi. Prasetyanto dan Chariri (2013) mendefinisikan intellectual capital sebagai aset tidak berwujud perusahaan yang berupa pengetahuan, informasi, pengalaman yang dimiliki oleh manusia, sumber daya dan organisasi perusahaan. Pengertian dari beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa intellectual capital adalah jumlah dari semua informasi, pengetahuan dan teknologi yang dapat memberikan nilai dan keunggulan dalam bersaing bagi suatu perusahaan.

International Federation of Accountant atau IFAC telah mengklasifikasikan intellectual capital menjadi 3 kategori yaitu organizational capital, relational capital dan human capital. Leif Edvinsson menyatakan bahwa nilai modal intelektual suatu -perusahaan merupakan hasil penjumlahan komponen human capital dan structural capital. Brinken kemudian menambahkan komponen ketiga dengan memasukkan customer capital sebagai komponen modal intelektual (Muna dan Prastiwi, 2014).

Kinerja intellectual capital yang diukur berdasarkan value added yang dibentuk oleh phsycal capital (VACA), human capital (VAHU), dan structural capital (STVA).

Perpaduan dari ketiga value added tersebut disimbolkan dengan nama VAIC yang dikembangkan oleh Pulic (1998,1999,2000).

Intellectual capital ada pada tahun 1980-an ketika Tom Stewart menulis sebuah artikel “Brain powe –How intellectual capital is becoming America’s most valuable assets”. Definisi mengenai intellectual capital dalam artikl Stewart yaitu:

“The sum of everything everybody in your company knows that gives you a competitive edge in the market place. It is intellectual maerial –knowledge, information, intellectual property, experience-that can be put to use to create wealth”.

Artiket tersebut mendefinisikan intellectual capital sebagai jumlah semua orang dan segala sesuatu di perusahaan yang memberikan keunggulan kompetitif di pasar (Ulum, 2009:19). Tidak akan tercapai suatu keunggulan kompetitif di ruang lingkup pasar jika sumber daya di dalam perusahaan tidak memiliki pengetahuan. Modal intelektual merupakan sesuatu yang penting yang harus dimiliki oleh perusahaan untuk mendorong menjalankan bisnisnya. Dengan demikian ilmu pengetahuan sebagai modal intelektual sangat dibutuhkan.

Allah SWT. Memerintahkan umat-Nya untuk senantiasa menuntut ilmu dan menerapkan ilmu yang dimiliki dalam kebaikan serta dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini telah dikuatkan dalam salah satu ayat Al-Qur‟an Suarh Al-„Ankabuut ayat 43 yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yaitu sebagai berikut:

َنوُمِل َٰع ۡلٱ هلَِۡ ٓاَهُلِق ۡعَي اَم َو َِۖساهنلِل اَهُب ِر ۡضَن ُلَٰث ۡمَ ۡلۡٱ َكۡلِت َو Terjemahnya: “Dan perumapamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang orang yang berilmu” (QS. Al-Ankabuut: 43).

Menurut tafsir A. Ghani, ayat tersebut menyatakan bahwa demikianlah Allah mengumpamakan sesuatu sesuatu perumpamaan bagi manusia. Hanya orang berakallah yang dapat memikirkan perumpamaan tersebut. Selain itu, juga dimaksudkan untuk menerangkan segala keraguan mereka selama ini. Bagi orang yang selalu menggunakan hati dan pikirannya dan bagi ahli-ahli ilmu pengetahuan, pastilah dapat memahami perumpamaan seperti tersebut dan akan semakin banyak mengetahui rahasia-rahasia Allah yang terkandung dalam ayat-ayat-Nya. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan yang

kita miliki akan sangat menolong kita bahkan akan menjadi bekal ketika diakhirat kelak.

E. Keputusan Pendanaan

Keputusan pendanaan merupakan suatu kebijakan yang sangat penting bagi perusahaan karena menyangkut perolehan sumber dana untuk kegiatan operasi perusahaan. Kebijakan ini akan berpengaruh terhadap struktur modal dan faktor leverage perusahaan, baik leverage operasi maupun leverage keuangan. Leverage keuangan merupakan menggunaan sumber dana yang memiliki biaya tetap dengan harapan bahwa akan memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar daripada biaya tetapnya sehingga akan meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi para pemegang saham, tetapi jika perusahaan menetapkan kebijakan untuk menggunakan sumber dana dari utang berarti leverage keuangan perusahaan akan meningkat dan perusahaan akan menanggung biaya tetap berupa bunga terhadap uang tersebut.

Menurut Wijaya dan Wibawa (2010) bahwa terdapat dua pandangan mengenai keputusan pendanaan. Pandangan pertama dikenal dengan pandangan tradisional yang menyatakan bahwa struktur modal memengaruhi nilai perusahaan. Pandangan tradisional ini diwakili oleh dua teori yaitu trade off theory dan pecking order theory.

Menurut Rakhimsyah et al (2011) pecking order theory menetapkan suatu keputusan pendanaan dimana para manajer pertama kali akan memilih menggunakan laba ditahan, hutang dan penerbitan saham sebagai pilihan terakhir. Fenandar et al (2012) pecking order theory menyatakan bahwa:

a. Perusahaan lebih menyukai internal financing (pendanaan yang berasal dari hasil operasi perusahaan)

b. Perusahaan mencoba menyesuaikan rasio pembagian dividen yang ditargetkan dengan berusaha menghindari pembayaran dividen secara drastis.

c. Kebijakan dividen yang segan untuk diubah, disertai dengan fluktuasi profitabilitas dan kesempatan investasi yang tidak biasa diduga mengakibatkan bahwa dana hasil operasi kadang-kadang melebihi kebutuhan dana untuk investasi meskipun pada kesempatan lain mungkin kurang. Apabila dana hasil operasi kurang dari kebutuhan investasi maka perusahaan akan mengurangi saldo kas atau menjual sekuritas yang dimiliki.

d. Apabila pendanaan dari luar diperlukan, maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih dahulu yaitu dimulai dari penerbitan obligasi kemudian diikuti oleh sekuritas berkarakter opsi (obligasi konversi), kemudian penerbitan saham baru apabila masih belum mencukupi.

Pendapat kedua dikemukakan oleh Modiglani dan Miller yang menyatakan bahwa struktur modal tidak memengaruhi nilai perusahaan. Terdapat kenaikan abnormal returns sehari sebelum dan sesudah pengumuman peningkatan proporsi hutang, sebaliknya terdapat penurunan abnormal returns pada saat perusahaan mengumumkan penurunan proporsi hutang. Harga saham perusahaan naik apabila diumumkan akan diterbitkan pinjaman yang digunakan untuk membeli kembali saham perusahaan tersebut.

Keputusan pendanaan yang baik hanya mampu meningkatkan nilai perusahaan bila keputusan pendanaan tersebut mampu menurunkan resiko perusahaan. Tingkat DER yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan lebih melakukan pendanaa melalui utang dibandingkan melalui ekuitas. Perusahaan yang melakukan pendanaan melalui utang kemungkinan akan lebih tinggi nilai perusahaannya karena dengan adanya utang maka peruahaan mempunyai kewajiban untuk membayar bunga pinjaman dan dengan adanya bunga pinjaman tersebut akan mengurangi jumlah pemotongan pajak sehingga pajak yang dikeluarkan lebih sedikit dan laba yang dihasilkan akan lebih besar. Namun, penggunaan utang pada pendanaan suatu perusahaan memiliki batas optimal, jika batas optimal itu terlewati maka nilai perusahaan akan menurun karena penggunaan utang yang berlebihan akan mengakibatkan bunga pinjaman yang besar sehingga akan terjadi resiko gagal bayar. Hal seperti itu akan menurunkan nilai perusahaan karena investor tidak berinvestasi pada perusahaan yang terlalu banyak utang dan ekuitasnya tidak mampu untuk menutupnya.

Hal yang dikelola dalam kegiatan produktif merupakan modal usaha (pendanaan usaha). Setiap pelaku usaha memerlukan adanya modal sebagai alat penggerak dan pengembang usahanya. Pemakaian modal harus disesuaikan dengan jenis usaha yang dilakukan karena setiap usaha memerlukan jumlah yang berbeda. Selain itu, pelaku usaha juga harus menyesuaikan sumber modal dengan jumlah modal yang diperlukan.

Dalam sistem ekonomi islam, terdapat beberapa sumber modal atau pendanaan yang dapat digunakan (Najmudin, 2011;231) yaitu sebagai berikut:

a. Modal/pendanaan utang

Islam memperbolehkan adanya transaksi uttang-piutang yang sesuai dengan prinsip syariah yang akan mendatangkan manfaat bagi kedua belah pihak sehingga pelaku usaha perlu berpegang pada kaidah syariah islam.

b. Modal/pendanaan sendiri

Peraturan yang berlaku pada operasi bank konvensional tersebut berbeda dengan bank syariah yang mampu melakukan investasi dalam bentuk saham biasa pada ekuitas perusahaan mereka. Perbankan syariah menawarkan produk-produk tambahan yang berbasis ekuitas yaitu skema mudharabah dan musyarakah. Dengan penggunaan modal sendiri, pelaku usaha dapat meminimalisir beberapa ancaman yang muncul karena modal atau pendanaan sendiri tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi modal utang.

F. Kebijakan Dividen

Dividen merupakan bagian dari laba bersih yang dibagikan kepada para pemegang saham. Ramkisyah dan Gunawan (2011) menyatakan bahwa dividen adalah pembagian keuntungan yang diberikan oleh perusahaan yang menerbitkan saham tersebut atas profit yang dihasilkan oleh perusahaan kepda para pemegang saham perusahaan. Kieso et al (2010) menjelaskan bahwa terdapat tipe-tpe dividen yaitu sebagai berikut:

1. Cash dividend adalah dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham dam bentuk uang tunai (kas). Pembagian dividen berupa kas ini diputuskan pada rapat umum pemegang saham dan diberikan kepada pemegang saham yang tercatat

1. Cash dividend adalah dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham dam bentuk uang tunai (kas). Pembagian dividen berupa kas ini diputuskan pada rapat umum pemegang saham dan diberikan kepada pemegang saham yang tercatat

Dalam dokumen PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL (Halaman 38-0)

Dokumen terkait