BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.2.2 Uji Multikolinearitas
Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah di dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel independen (bebas). Model regresi yang
baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independennya, dan untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas dapat dilakukan dengan melihat toleransi variabel dan variance inflation factor (VIF). Ketentuan suatu model regresi tidak terdapat gejala multikolinearitas adalah jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) < 10 dan tolerance > 0,1.
Tabel 4. 4
Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
Model Collinearity Statistics Tolerance VIF
1 SIZE ,549 1,820
DK ,578 1,730
ROA ,892 1,122
DER ,998 1,002
PROFILE ,915 1,093
a. Dependent Variable: CSRD
Sumber: data olahan SPSS versi 25, 2020
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa nilai tolerance dari variabel independent Ukuran Perusahaan (SIZE) senilai 0,549, Dewan Komisaris (DK) senilai 0,578, Profitabilitas (ROA) senilai 0,892, Leverage (DER) senilai 0,998, dan Tipe Industri (PROFILE) senilai 0,915, sedangkan nilai VIF dari variabel independen Ukuran Perusahaan (SIZE) senilai 1,820, Dewan Komisaris (DK) senilai 1,730, Profitabilitas (ROA) senilai 1,122, Leverage (DER) senilai 1,002, dan Tipe Industri (PROFILE) senilai 1,093, sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10, sehingga data tersebut terbebas dari multikolonieritas.
60 4.2.2.3 Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah dalam suatu model regresi linier terdapat korelasi antara pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Alat analisis yang digunakan adalah uji Durbin-Watson Statistic dengan ketentuan sebagai berikut.
1. Bila nilai Durbin-Watson (DW) terletak antara batas atas atau Upper Bound (DU) dan 4 – DU, maka koefisien autokorelasi sama dengan nol, berarti tidak ada autokorelasi.
2. Bila nilai DW lebih rendah daripada batas bawah atau Lower Bound (DL), maka koefisien autokorelasi lebih besar dari nol, berarti ada autokorelasi positif.
3. Bila nilai DW lebih besar daripada (4-DL), maka koefisien autokorelasi lebih kecil dari nol, berarti ada autokorelasi negatif.
4. Bila nila DW terletak diantara batas atas (DU) dan batas bawah (DL) atau DW terletak antara (4-DU) dan (4-DL), maka hasilnya tidak dapat disimpulkan.
Tabel 4. 5 Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1 ,606a ,367 ,362 ,19239685 1,851
a. Predictors: (Constant), PROFILE, DER, DK, ROA, SIZE b. Dependent Variable: CSRD
Sumber: data olahan SPSS versi 25, 2020
Penelitian ini menggunakan n= 126 dan k=5,sehingga sesuai dengan tabel Durbin Watson pada level of significance 0,05 diketahui DL= 1,6276 DU=1,7923, (4 – DU) = 2,2077 dan (4 – DL) = 2,3724. Berdasarkan tabel 4.5, diperoleh nilai DW sebesar 1,851. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai DL dan DU pada tabel Durbin-Watson. DW terletak antara batas atas atau Upper Bound (DU) dan (4 – DU), yaitu 1,7923 < 1,851 < 2,2077, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi dalam data.
4.2.2.4 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah model regresi yang tidak terjadi gejala heteroskedastisitas. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatter plot antara SRESID pada sumbu Y dan ZPRED pada sumbu X, dimana Y adalah nilai residual dan X adalah nilai prediksi. Dasar analisis adalah jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur, maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik- titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2013:139).
62
Sumber: data olahan SPSS versi 25, 2020
Gambar 4. 2 Uji Heterokedastisitas
Berdasarkan gambar 4.3, diketahui bahwa titik-titik tidak membentuk pola yang jelas. Titik-titik menyebar secara acak, di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Regression Standardized Residual. Oleh karena itu, maka berdasarkan uji heteroskedastisitas dapat disimpulkan bahwa pada model regresi yang terbentuk tidak terjadi gejala heteroskedastisitas.
4.2.3 Analisis Regresi Linear Berganda
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda untuk mengetahui gambaran mengenai pengaruh ukuran perusahaan, dewan komisaris, profitabilitas, leverage dan tipe industri terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Hasil analisis regresi untuk penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut.
Tabel 4. 6
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -,874 ,467 -1,871 ,064
SIZE ,038 ,018 ,218 2,120 ,036
DK ,001 ,014 ,005 ,054 ,957
ROA 1,077 ,211 ,413 5,105 ,000
DER -,002 ,029 -,004 -,059 ,953
PROFILE ,078 ,052 ,120 1,499 ,137
a. Dependent Variable: CSRD
Sumber: data olahan SPSS versi 25, 2020
Berdasarkan tabel 4.6 tersebut maka dapat disusun persamaan regresi untuk mengetahui pengaruh profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, kepemilikan saham publik, dan pengungkapan media terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan :
CSRD = -0,874 + 0,038 SIZE+ 0,001 DK+ 1,077ROA – 0,002DER + 0,078 PROFILE + e
Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Dalam koefisien regresi diatas, nilai konstanta (a) adalah sebesar -0,784 menunjukkan bahwa jika variabel-variabel independen yaitu ukuran perusahaan, dewan komisaris, profitabilitas, leverage dan tipe industri diasumsikan nol maka nilai variabel dependen yaitu pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan adalah negatif senilai -0,784.
64 b. Nilai Koefisien X1 (b1) = 0,0358, menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan (X1) memiliki pengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (Y). Hal ini mengindikasikan bahwa setiap kenaikan Ukuran Perusahaan sebesar 1% maka besarnya pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan akan mengalami peningkatan sebesar 3,58% dengan asumsi bahwa variabel independen yang lainnya dianggap konstan (tetap).
c. Nilai Koefisien X2 (b2) = 0,001 menunjukkan bahwa variabel variabel dewan komisaris (X2) memiliki pengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (Y). Hal ini mengindikasikan bahwa setiap kenaikan Dewan Komisaris sebesar 1% maka besarnya pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan akan mengalami peningkatan sebesar 1% dengan asumsi bahwa variabel independen yang lainnya dianggap konstan (tetap).
d. Nilai Koefisien X3 (b3) = 1,077 menunjukkan bahwa variabel profitabilitas X3
memiliki pengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (Y). Hal ini mengindikasikan bahwa setiap kenaikan Profitabilitas sebesar 1% maka besarnya pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan akan mengalami peningkatan sebesar 107,7% dengan asumsi bahwa variabel independen yang lainnya dianggap konstan (tetap).
e. Nilai Koefisien regresi X4 (b4) = -0,002 menunjukkan bahwa variabel leverage (X4) memiliki pengaruh negatif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (Y). Hal ini mengindikasikan bahwa setiap kenaikan Leverage sebesar 1% maka besarnya pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan akan mengalami penurunan sebesar 0,2% dengan asumsi bahwa variabel independen yang lainnya dianggap konstan (tetap).
f. Nilai Koefisien regresi X5 (b5) = 0,078, menunjukkan bahwa variabel tipe industri (X5) memiliki pengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (Y). Hal ini mengindikasikan bahwa setiap kenaikan Tipe Industri sebesar 1% maka besarnya pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan akan mengalami peningkatan sebesar 7,8% dengan asumsi bahwa variabel independen yang lainnya dianggap konstan (tetap).
4.2.4 Uji Hipotesis
4.2.4.1 Uji Koefisien Determinasi (R2)
Pengukuran koefisien determinasi (Adjusted R2) dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan variabel independen dalam menerangkan variabel dependen. Hasil analisis koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut.
Tabel 4. 7
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 ,606a ,367 ,362 ,19239685
a. Predictors: (Constant), PROFILE, DER, DK, ROA, SIZE b. Dependent Variable: CSRD
Sumber: data olahan SPSS versi 25, 2020
Berdasarkan Tabel 4.7, diperoleh hasil analisis koefisien determinasi (Adjusted R2) sebesar 0,367. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa besarnya variasi variabel independen yang terdiri dari ukuran perusahaan, dewan komisaris,
66 profitabilitas, leverage dan tipe industri dalam mempengaruhi pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan adalah sebesar 36,7 % dan sisanya sebesar 63,3
% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam model regresi.
4.2.4.2 Uji F (Simultan)
Uji F digunakan untuk melihat pengaruh seluruh variabel independen terhadap variabel dependen (Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) secara simultan. Pengaruh ini perlu diuji untuk melihat apakah model regresi ini dapat dilanjutkan dengan melakukan uji t (parsial) atau tidak. Jika hasil uji F berpengaruh negatif maka model regresi ini dapat dilanjutkan dengan melakukan uji t (uji secara parsial), sebaliknya jika tidak berpengaruh, maka uji t (uji parsial) tidak dapat dilakukan, karena semua variabel independen tidak ada yang mempengaruhi variabel dependen. Berikut ini tabel hasil uji F.
Tabel 4. 8 Hasil Uji F (Simultan)
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 3,111 5 ,622 10,336 ,000b
Residual 7,225 120 ,060
Total 10,337 125
a. Dependent Variable: CSRD
b. Predictors: (Constant), PROFILE, DER, DK, ROA, SIZE Sumber: data olahan SPSS versi 25, 2020
Berdasarkan tabel 4.8, dapat dilihat bahwa hasil uji F menunjukkan nilai signifikan 0,000 dan nilai F hitung sebesar 10,336, sedangkan nilai Ftabel sebesar
2,29, sehingga F hitung > F tabel (10,336> 2,29) dan signifikansinya 0,000 < 0,05.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel ukuran perusahaan (SIZE), dewan komisaris (DK), profitabilitas (ROA), leverage (DER), dan tipe industri (PROFILE) secara bersama-sama atau simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSRD).
4.2.4.3 Uji t (Parsial)
Uji t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen. Hipotesis dirumuskan sebagai berikut.
• H0: Xi ≠ 0, artinya tidak ada pengaruh secara signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.
• Ha: Xi = 0, artinya ada pengaruh secara signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.
Penerimaan atau penolakan hipotesis dalam suatu penelitian dapat dilakukan dengan kriteria sebagai berikut.
a. Bila tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 (Sig < 0,05) maka Ha diterima dan H0 ditolak, variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat.
b. Bila tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 (Sig > 0,05) maka Ha ditolak dan H0 diterima, variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel terikat.
68 Tabel 4. 9
Hasil Uji t (Parsial)
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
Sumber: data olahan SPSS versi 25, 2020
Berdasarkan Tabel 4.9, maka dapat dianalisis pengaruh parsial variabel independen terhadap variabel dependen sebagai berikut:
1. Variabel ukuran perusahaan (SIZE) memiliki nilai thitung sebesar 2,120 dengan nilai signifikansi sebesar 0,036, sedangkan nilai ttabel sebesar 1,97897, sehingga thitung > ttabel (2,120 > 1,97897) dan nilai signifikansinya 0,036 < 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan secara parsial berpengaruh signifikan dan positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Adanya pengaruh ukuran perusahaan yang signifikan dan positif ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi ukuran perusahaan maka akan semakin tinggi pula pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Sebaliknya, semakin rendah ukuran perusahaan maka akan semakin rendah pula pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
2. Variabel dewan komisaris (DK) memiliki nilai thitung sebesar 0,054 dengan nilai signifikansi sebesar 0,957, sedangkan nilai ttabel sebesar 1,97897, sehingga thitung <
ttabel (0,054 < 1,97897) dan nilai signifikansinya 0,957 > 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa dewan komisaris secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Tidak adanya pengaruh yang signifikan ini mengindikasikan bahwa besar kecilnya total dewan komisaris tidak berdampak tajam pada pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
3. Variabel profitabilitas (ROA) memiliki nilai thitung sebesar 5,105 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000, sedangkan nilai ttabel sebesar 1,97897, sehingga thitung >
ttabel (5,105 > 1,97897) dan nilai signifikansinya 0,000 < 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa profitabilitas secara parsial berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Adanya pengaruh profitabilitas yang signifikan dan positif ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi profitabilitas maka akan semakin tinggi pula pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Sebaliknya, semakin rendah profitabilitas maka akan semakin rendah pula pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
4. Variabel leverage (DER) memiliki nilai thitung sebesar -0,059 dengan nilai signifikansi sebesar 0,953, sedangkan nilai ttabel sebesar 1,97897, sehingga thitung <
ttabel (-0,059 < 1,97897) dan nilai signifikansinya 0,953 > 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa leverage secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Tidak adanya pengaruh yang signifikan ini mengindikasikan bahwa tinggi rendahnya utang perusahaan dilihat dari rasio leverage tidak berdampak pada nilai pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
70 5. Variabel tipe industri (PROFILE) memiliki nilai thitung sebesar 1,499 dengan nilai signifikansi sebesar 0,137, sedangkan nilai ttabel sebesar 1,97897, sehingga thitung <
ttabel (1,499 < 1,97897) dan nilai signifikansinya 0,137 > 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa tipe industri secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Tidak adanya pengaruh yang signifikan ini mengindikasikan bahwa besar kecilnya tipe industri tidak berdampak pada nilai pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
4.3. Pembahasan
4.3.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah Ukuran Perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan program SPSS diperoleh variabel ukuran perusahaan memiliki nilai thitung sebesar 2,120 dengan nilai signifikansi sebesar 0,036, sedangkan nilai ttabel sebesar 1,97897, sehingga thitung > ttabel (2,120 > 1,97897) dan nilai signifikansinya 0,036 < 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan secara parsial berpengaruh signifikan dan positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan Ukuran Perusahaan berpengaruh positif terhadap tanggung jawab sosial perusahaan diterima. Adanya pengaruh yang signifikan dan positif ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi ukuran perusahaan maka akan semakin tinggi pula pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan. Sebaliknya, semakin rendah ukuran perusahaan maka akan semakin rendah pula pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Ukuran perusahaan merupakan suatu skala yang berfungsi untuk mengklasifikasikan besar kecilnya entitas bisnis. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan nilai total aset yang diproksikan dengan logaritma natural total aset sebagai alat untuk menilai ukuran perusahaan. Pada umumnya perusahaan besar lebih banyak mendapatkan sorotan dari publik dan masyarakat, sehingga pengungkapan tanggung jawab sosial akan menjadi sangat penting bagi perusahaan karena dengan melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial akan meningkatkan image perusahaan. Hipotesis ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan manufaktur diterima dimana selama periode pengamatan tahun 2016-2018 total aset dari perusahaan manufaktur meningkat diiringi dengan peningkatan tanggung jawab sosial perusahaan.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sembiring (2005), Zulfaida dan Zulaikha (2012), Sari (2012), Felicia dan Rasmini (2015), dan Indraswari dan Astika (2015) yang menemukan adanya hubungan ukuran perusahaan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Lovink dan Etna (2013) dan Karina dan Yuyetta (2013) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
72 4.3.2 Pengaruh Dewan Komisaris Terhadap Pengungkapan Tanggung
Jawab Sosial Perusahaan
Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah Dewan Komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Berdasarkan hasil perhitungan dengan program SPSS diperoleh variabel dewan komisaris memiliki nilai thitung sebesar 0,054 dengan nilai signifikansi sebesar 0,957, sedangkan nilai ttabel sebesar 1,97897, sehingga thitung < ttabel (0,054 < 1,97897) dan nilai signifikansinya 0,957 > 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa dewan komisaris secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Tidak adanya pengaruh yang signifikan ini mengindikasikan bahwa besar kecilnya total dewan komisaris tidak berdampak tajam pada pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan dewan komisaris berpengaruh positif terhadap tanggung jawab sosial perusahaan ditolak.
Dewan komisaris adalah wakil shareholder dalam perusahaan yang berbadan hukum perseroan terbatas yang berfungsi melakukan pengawasan dan pemberian nasihat kepada manajemen (direksi) untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud serta tujuan perseroan. Komposisi individu yang bekerja sebagai anggota dewan komisaris merupakan hal penting dalam memonitor aktivitas manajemen secara efektif. Semakin besar jumlah anggota dewan komisaris, maka akan semakin mudah untuk mengendalikan CEO dan monitoring yang dilakukan akan semakin efektif. Dalam penelitian ini dewan komisaris diukur dari banyaknya jumlah anggota dewan komisaris dalam sebuah perusahaan.
Hipotesis dewan komisaris berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan manufaktur ditolak dimana selama periode pengamatan tahun 2016-2018 jumlah dewan komisaris dari perusahaan manufaktur rata-rata sama setiap tahunnya dan tidak berpengaruh terhadap peningkatan tanggung jawab sosial perusahaan.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zulfaida dan Zulaikha (2012) dan Dewi (2015) yang menyatakan dewan komisaris tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Sembiring (2005) yang menyatakan dewan komisaris berpengaruh positif signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
4.3.3 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah Profitabilitas berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Berdasarkan hasil perhitungan dengan program SPSS diperoleh variabel profitabilitas memiliki nilai thitung sebesar 5,105 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000, sedangkan nilai ttabel
sebesar 1,97897, sehingga thitung > ttabel (5,105 > 1,97897) dan nilai signifikansinya 0,000 < 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa profitabilitas secara parsial berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Adanya pengaruh profitabilitas yang signifikan dan positif ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi profitabilitas maka akan semakin tinggi pula pengungkapan
74 tanggung jawab sosial perusahaan. Sebaliknya, semakin rendah profitabilitas maka akan semakin rendah pula pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. nilai t hitung ukuran perusahaan sebesar 5,105 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 artinya profitabilitas secara parsial berpengaruh signifikan dan positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan Profitabilitas berpengaruh positif terhadap tanggung jawab sosial perusahaan diterima.
Profitabilitas perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Profitabilitas dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan rasio Return On Asset (ROA) yaitu perbandingan antara laba bersih setelah pajak yang diperoleh dalam satu periode dengan total aktiva perusahaan. Semakin tinggi laba bersih dan aset yang ada di perusahaan, maka akan semakin lengkap penyajian, pelaporan dan pengungkapan informasi yang terjadi di perusahaan. Profitabilitas yang tinggi menunjukkan bahwa kinerja perusahaan baik dan target yang dicapai telah berhasil. Perusahaan yang memiliki laba yang tinggi maka memiliki dana yang tinggi pula sehingga akan berpengaruh pada biaya pengelolaan dan pelaporan informasi secara menyeluruh dan terbuka termasuk informasi CSR. Hipotesis profitabilitas berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan manufaktur diterima dimana selama periode pengamatan tahun 2016-2018 laba bersih dari perusahaan manufaktur meningkat diiringi dengan peningkatan tanggung jawab sosial perusahaan.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Linda dan Erline (2012), Sari (2012), Karina dan Yuyetta (2013), Felicia dan Rasmini (2015) dan Indraswari dan Astika (2015) yang menyatakan profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Sembiring (2005), Zulfaida dan Zulaikha (2012) dan Dewi (2015) yang menyatakan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
4.3.4 Pengaruh Leverage Terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Hipotesis keempat dalam penelitian ini adalah Leverage berpengaruh negatif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Berdasarkan hasil perhitungan dengan program SPSS diperoleh variabel leverage memiliki nilai thitung sebesar -0,059 dengan nilai signifikansi sebesar 0,953, sedangkan nilai ttabel
sebesar 1,97897, sehingga thitung < ttabel (-0,059 < 1,97897) dan nilai signifikansinya 0,953 > 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa leverage secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Tidak adanya pengaruh yang signifikan ini mengindikasikan bahwa tinggi rendahnya utang perusahaan dilihat dari rasio leverage tidak berdampak pada nilai pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan Leverage berpengaruh negatif terhadap tanggung jawab sosial perusahaan ditolak.
76 Leverage merupakan alat untuk mengukur seberapa besar perusahaan bergantung kepada kreditur dalam pembiayaan aset perusahaan. Dalam penelitian ini leverage diukur dengan rasio Debt to Equity Ratio (DER) yaitu perbandingan antara total liabilitas dibagi dengan total ekuitas. Perusahaan dengan tingkat leverage tinggi adalah perusahaan yang sangat bergantung pada pinjaman luar untuk membiayai asetnya sehingga perusahaan sebisa mungkin akan melaporkan laba yang tinggi dan mengurangi biaya-biaya termasuk biaya untuk melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial untuk memprioritaskan dana yang tersedia memenuhi kewajiban yang ada. Sedangkan perusahaan dengan tingkat leverage rendah adalah perusahaan yang lebih banyak membiayai sendiri aset perusahaannya sehingga perusahaan memiliki biaya yang cukup untuk melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Hipotesis leverage berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan manufaktur ditolak dimana selama periode pengamatan tahun 2016-2018 rasio leverage dari perusahaan manufaktur rata-rata sama setiap tahunnya dan tidak mempengaruhi nilai pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zulfaida dan Zulaikha (2012) dan Karina dan Yuyetta (2013) yang menyatakan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Dewi (2015) dan Felicia dan Rasmini (2015) yang menyatakan leverage berpengaruh positif signifikan dan Sembiring (2005) yang menyatakan leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
4.3.5 Pengaruh Tipe Industri Terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Hipotesis kelima dalam penelitian ini adalah Tipe Industri berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Berdasarkan hasil perhitungan dengan program SPSS diperoleh variabel tipe industri memiliki nilai thitung sebesar 1,499 dengan nilai signifikansi sebesar 0,137, sedangkan nilai ttabel
sebesar 1,97897, sehingga thitung < ttabel (1,499 < 1,97897) dan nilai signifikansinya 0,137 > 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa tipe industri secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Tidak adanya pengaruh yang signifikan ini mengindikasikan bahwa besar kecilnya tipe industri tidak berdampak pada nilai pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan Tipe Industri berpengaruh positif terhadap tanggung jawab sosial perusahaan ditolak.
Tipe Industri merupakan pandangan masyarakat tentang karakteristik yang dimiliki perusahaan berkaitan dengan bidang usaha, resiko, karyawan yang dimiliki dan lingkungan perusahaan. Dalam penelitian ini variabel tipe industri diproksikan dengan variabel dummy yang akan digunakan untuk mengklasifikasikan high-profile dan low-high-profile. High-high-profile akan diberi nilai 1 yaitu untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang: perminyakan dan pertambangan, kimia, hutan, kertas, otomotif, agrobisnis, tembakau dan rokok, makanan dan minuman, media dan komunikasi, kesehatan, transportasi, dan pariwisata. Nilai 0 diberikan untuk perusahaan yang low-profile, yang meliputi bidang bangunan, keuangan dan perbankan, suplier peralatan medis, retailer, tekstil dan produk tekstil, produk
78 personal, dan produk rumah tangga. Hipotesis tipe industri berpengaruh terhadap
78 personal, dan produk rumah tangga. Hipotesis tipe industri berpengaruh terhadap